Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
34. Don't say goodbye


__ADS_3

Happy reading")


🎧 [Round and round-OST Goblin instrumental]


Guanlin semakin menambah kecepatan mobil yang ia kendarai karena tak ingin terlambat barang sedetik pun. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya kalau Karin sampai kenapa-napa.


Ia dan Daniel memutuskan berpencar setelah Daniel mengucapkan dua tempat yang kemungkinan menjadi tempat Karin disekap sekarang. Ia mengambil ponselnya dari dashboard dan segera mengangkat panggilan dari Daniel.


"Ingat, Guanlin. Kalau lo sampai disana dan ga ketemu apa-apa padahal lo udah mencari kemana-mana, lo harus langsung datang ke tempat gue!" Titah Daniel.


Guanlin mengiyakan, "Kapan Ong dan yang lain bakal nyampe?"


"Mungkin mereka sekarang udah berangkat. Karena bisa aja yang lain curiga kalau mereka keluarnya samaan. Gue juga udah suruh mereka buat bawa polisi."


"Oke. Gue kabarin lagi nanti."


Guanlin melemparkan ponselnya kembali ke dasboard. Ia mengakui kalau rencana Daniel cukup hebat.


Guanlin memarkirkan mobilnya asal begitu ia sampai di pantai yang jaraknya sangat jauh dari sekolah mereka. Pantai ini sepi. Tidak ada pengunjung meskipun ini baru pukul 4 sore lewat 30 menit dan matahari yang bersinar terang mulai memancarkan cahaya oranye.


Ia berlari secepat mungkin ke sebelah timur pantai dan memeriksa keadaan dimana kemungkinan Karin disekap. Cukup lama ia disana, hingga ia tak menemukan apa-apa. Firasatnya mengatakan kalau mereka berada di sebelah barat pantai. Dimana tebing laut berada.


Gotcha! Ia akhirnya menemukan Karin yang tengah meronta-ronta agar bisa terbebas dari ikatan tali. Tapi dimana Jennie? Dia tak melihat gadis itu disana. Tak buang waktu, Guanlin berlari ke arah Karin yang keadaannya lumayan parah.


"Karin, lo gapapa kan?"


Gadis itu menggeleng, ia malah memohon agar Guanlin segera membantunya membuka tali yang mengikat pergelangan tangannya. Guanlin membuka tali itu dan melepaskan lakban hitam yang menutup mulutnya.


Setelahnya Karin memeluknya erat sambil menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Guanlin mencoba untuk menenangkannya.


"Guanlin!"


Seon Yoo dan Jihyo datang menghampiri mereka setengah berlari.


"Untung lo ga terlambat. Kita harus segera pergi darisini sebelum Jennie datang." Ujar Seon Yoo. Mereka semua bergegas bersamaan dengan Jennie yang datang bersama anak buahnya. Karin semakin takut mengetahui kalau anak buah Jennie sangat banyak jumlahnya. Kira-kira mereka 15 orang dengan badan tinggi tegap.


Jennie tersenyum iblis.


"Gue udah tau kalau kalian bakal mengkhianat!" Ujarnya dingin sambil menatap tajam Seon Yoo dan Jihyo bergantian. Dua perempuan itu saling memandang gugup.


"Bisa-bisanya kalian khianatin gue!"


"Lo harus sadar Jen! Tindakan lo ini salah!" Seon Yoo memberanikan diri untuk bicara.


"Cih! Peduli apa gue?"


"Lo emang benar-benar udah gila, Jen!" Guanlin tak dapat menahan amarahnya. Rahang dan tangannya mengepal.


"Iya, gue emang udah gila. Dan itu karena lo Guanlin! Karena lo!"


"Jangan bawa-bawa gue dalam masalah lo, sialan!"


"Gimana caranya, hah? Dengarin gue ya, kalau lo bisa nerima gue sedikit aja, gue pasti ga akan senekat sekarang ini."


"Perempuan jahat kaya lo bener-bener ga pantas buat diterima!"


Jennie tertawa, "Gue kasih lo kebebasan Guanlin. Karena gue sayang sama lo, lo bisa bebas. Sini, datang ke gue. Biarin Karin mati. Lalu setelahnya kita bisa hidup bahagia berdua."


"Cih! Najis! Itu sama aja dengan mimpi buruk. Sekarang lo minggir. Jangan sampai lo nyesal Jennie!"


"Kenapa lo harus selalu milih dia?!"


"Karena gue cinta sama dia! Dan lo, gue benci lihat lo!"

__ADS_1


Jawaban Guanlin membuat Karin tercekat. Ia menatap laki-laki tinggi itu. Apakah laki-laki itu serius dengan ucapannya?


Namun sebaliknya, Jennie meneteskan air mata karena jawaban Guanlin. Hatinya terasa sangat tersakiti. Ia sungguh mencintai laki-laki itu. Tapi karena seorang Kim Karin, ia ditolak. Ia benci Karin. Sangat. Niatnya untuk melenyapkan Kim Karin meningkat drastis.


"Gue ga bakal biarin Karin ngerebut lo dari gue, Guanlin!"


"Gue juga ga akan biarin lo nyentuh Karin!"


"Jen, lo harus hentiin ini sekarang juga, kalau lo ga-"


"Diam lo pengkhianat!" Jennie memotong ucapan Jihyo.


"Beresin dua pengkhianat itu!" Titahnya pada anak buahnya. Dua dari mereka maju dan segera menarik Seon Yoo bersama Jihyo dengan kasar. Mereka berontak namun tenaganya tak akan mampu melawan pria berbadan besar itu. Guanlin ingin menghentikan hal itu namun dia sadar kalau Karin akan dalam bahaya.


"Pisahin mereka berdua!" Titah Jennie gelap mata. Ia tak peduli lagi melihat Guanlin yang kini mati-matian melawan anak buahnya demi melindungi Karin. Gadis dengan gaun hitam itu bersedekap dada sambil menatap puas.


Karin tak bisa berbuat apa-apa selain menangis dalam diam melihat Guanlin terkena pukulan pria-pria itu. Ia berdoa agar Guanlin bisa mengalahkan mereka.


Tiba-tiba Daniel datang entah darimana dan segera membantu Guanlin melawan mereka. Karin merasa sedikit lega. Guanlin dan Daniel bahkan lebih unggul melawan 10 orang anak buah Jennie.


Jennie yang melihat itu mulai panik. Namun ia tetap bersikap tenang. Masih menunggu Guanlin dan Daniel akan kalah. Atau anak buahnya yang akan kalah, ia tak khawatir sama sekali. Senyuman licik tak lekang dari wajahnya.


15 menit berlalu. Semua anak buah Jennie terkapar dengan luka parah. Guanlin dan Daniel berusaha menetralkan nafas mereka yang tersengal-sengal. Mereka juga nampak kacau dengan memar di wajah.


"Akan gue buat lo menyesal karena melakukan ini Jennie!" Daniel berseru marah. Ia menghampiri perempuan itu namun sebelum ia sampai, Jennie menodongkan pistol dengan senyum bak iblis. Ia memamerkan senyum kemenangan.


Daniel, Guanlin, dan Karin tak dapat berucap apa-apa. Mereka tak menyangka kalau Jennie benar-benar perempuan licik. Kalau sudah bermain dengan pistol, apa yang dapat mereka lakukan? Mereka pasti akan kalah.


"Kenapa lo berhenti? Ayo kemari." Gadis itu sangat santai mengatakannya. Daniel mengepalkan tangan dan menatapnya bagai ingin menghabisinya segera.


"Kalian semua tahu? Gue bukan orang bodoh! Gue udah tahu ini semua bakal terjadi."


"Sadar lo, Jen!!" Guanlin kembali memperingati. Gadis itu hanya tertawa dengan nada sarat akan kebencian.


"Guanlin, Guanlin. Gue harap lo jangan ada penyesalan setelah ini karena ini salah lo! Ini semua salah lo!" Teriaknya penuh penekanan.


"Gila lo! Lo pikir cinta bisa dipaksa?"


"Gue ga peduli! Jangan coba ngelawan gue, atau perempuan sialan itu bakal mati di tangan gue!Tangkap mereka berdua!" Ia berteriak marah. 3 anak buahnya yang sedari tadi berdiri di belakangnya menangkap Daniel dan Guanlin. Dua laki-laki itu sempat melawan namun gagal. Mereka kehabisan tenaga karena melawan 10 orang sekaligus tadi. Karin berteriak pilu melihat mereka memberi pukulan tanpa ampun pada Daniel dan Guanlin.


"Kenapa lo nangis Karin? Harusnya lo nangisin diri lo sendiri, karena besok pagi lo ga bakal rasain lagi matahari terbit itu gimana!"


"Bebasin mereka Jen! Masalah lo sama gue, ga ada sangkut pautnya sama mereka!"


"Oh jelas ada dong! Kalau lo ga pindah ke sekolah itu, lo pikir ini bakal terjadi? Dasar perempuan pembawa sial!" Ia menghakimi Karin.


"Jangan seenaknya lo lempar kesalahan! Harusnya lo bisa nerima fakta kalau Guanlin ga cinta sama lo!" Oke, Karin juga muak kalau dirinya terus-menerus di salahkan. Jennie menatapnya cukup lama sebelum gadis itu kembali bersuara.


"Ikat dia!"


Guanlin kembali berontak agar ia bisa terlepas. Namun untuk kesekian kalinya ia mendapat pukulan di perutnya. Laki-laki itu kehabisan tenaga. Ia tak sanggup bahkan hanya untuk berdiri.


"Lepasin gue!" Karin berusaha melepaskan cengkraman tangan pria dengan badan besar itu sekuat tenaga. Pria itu malah menamparnya agar diam. Karin diam membeku. Pipinya bahkam terasa kram saking kerasnya pria itu menamparnya.


"Sialan lo! Bedebah!" Daniel tak kuasa melihat Karin ditampar. Tapi dia juga tal berdaya untuk membebaskan dirinya dari anak buah Jennie yang mengunci tangannya ke belakang.


Tanpa perasaan, mereka memaksa Karin berdiri setelah tangan dan kakinya diikat dengan tali. Karin menangis. Ia takut setengah mati.Seluruh badannya bergetar bak orang terjangkit hipotermia. Yang dia khawatirkan bukan dirinya. Ia mengkhawatirkan Guanlin dan Daniel yang rela terluka hanya untuk menolong dirinya. Dia adalah penyebab semua ini.


"Apa ada kata-kata terakhir, Kim Karin? Ya, sebelum lo bergabung sama ikan dibawah sana."


Tangis Karin semakin deras. Apakah ia akan benar-benar mati setelah ini?


"Lo bener-bener ga punya perasaan!" Desisnya tajam.

__ADS_1


"Jangan bilang gue ga punya perasaan! Harusnya lo koreksi diri lo sendiri! Asal lo tau Karin, gue menyukai Guanlin sejak masuk ke sekolah itu. Gue deket sama dia. Semuanya baik-baik aja sebelum lo pindah kesini. Dasar perusak!"


"Gue ga pernah suka sama lo!" Guanlin tak terima mendengar ucapan Jennie yang selalu menyudutkan Karin.


Gadis itu mendecih, "Oke! Kalau gue ga bisa dapatin lo, maka orang lain juga ga bisa!"


"Bebasin dia Jennie!"


"Hahaa, lo pikir gue sebodoh itu?!"


"Gue akan lakuin apapun yang lo mau, asal lo lepasin dia!"


"Gue udah ga peduli! Bahkan kalaupun setelah ini gue harus busuk di penjara, gue udah ga peduli. Semuanya ninggalin gue. Padahal gue berharap banyak sama lo, Guanlin. Sekarang lo juga udah ga peduli sama gue. Biarin aja gue dipenjara. Persetan dengan semua itu!"


Jennie berteriak frustasi. Gadis itu memang tak pernah mendapat kasih sayang dari orangtuanya semenjak orangtuanya resmi bercerai.


"Jen-"


"Dorong dia ke laut!"


"JENNIE, JANGAN!!"


Byurrr....


"KARIN!!"


Daniel dan Guanlin berteriak histeris ketika pria berbadan besar itu mendorong Karin sekuat tenaga membuat tubuhnya yang terikat terjatuh menghantam laut.


Entah mendapat kekuatan darimana, Guanlin menendang pria yang mengunci pergerakannya dan segera berlari ke arah tebing laut.


Jennie panik dan dia mengarahkan pistol yang ia genggam sedari tadi pada Guanlin. Ia bahkan tak sadar ketika ia menekan pelatuk pistol itu hingga tepat mengenai punggung atas Guanlin.


Dorrr!!


Demi Tuhan, Guanlin merasakan sakit yang luar biasa. Ia rasa badannya remuk semua. Namun diatas itu, ia tetap melompat ke laut. Karin jauh lebih penting dibanding rasa sakit yang ia rasakan.


Byurr...


Guanlin menghilang dari pandangan ditelan ombak yang saling bersahut-sahutan dibawah sana. Menepis rasa sakit berjuta kali lipat yang mungkin akan ia rasakan saat tubuhnya yang rapuh menyatu dengan air laut.


Jennie berteriak histeris. Ia menangis dan bergetar hebat ketika ia sadar kalau ia telah melukai orang yang sangat ia cintai. Gadis itu ambruk sambil meremas rambutnya frustasi. Ia menangis meraung-raung sambil meneriakkan satu nama yang selalu mengisi relung hatinya selama 3 tahun terakhir. Laki-laki yang bahkan deminya ia terlihat seperti penjahat paling keji.


"GUANLIN!!" Ia memanggil nama itu berulang kali. Tak peduli pita suaranya akan putus sekalipun.


Kang Daniel juga terdiam membisu di tempatnya. Semuanya berlalu begitu cepat sampai ia tak dapat mencerna apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu, ia kehilangan dua orang yang ia sayangi sekaligus hari ini. Padahal baru saja menerima Guanlin sebagai saudaranya. Baru saja ia bisa mengikhlaskan Karin untuk saudaranya. Baru saja ia menemukan kenyamanan setelah 18 tahun hidup di bumi. Laki-laki itu bangkit perlahan. Lututnya bahkan terasa sangat lemas. Ia menangis diam menatap laut yang merebut orang-orang yang ia cintai dengan tatapan putus asa.


Byurr...


"DANIEL!!"


Jennie semakin gila ketika melihat Daniel ikut menceburkan diri ke lautan yang berada 3 meter di bawah tebing. Ombak sore itu lumayan besar. Terlebih mengingat tepat dibawah sana terdapat banyak batu karang yang siap menghantam siapapun yang terjatuh.


Jihyo beserta yang lain tiba disana bersamaan dengan melompatnya Daniel ke laut. Gadis bermarga Park itu terjatuh lemas menyaksikan Daniel terjun ke laut. Ia tak bisa menahan tangisnya. Seon Yoo memeluk berusaha memberi ketenangan.


Airish bahkan tak sadarkan diri begitu mulai bisa menangkap apa yang sedang terjadi. Ia menangis meraung-raung sebelum jatuh pingsan.


Tak ada yang menyangka kalau farewell party mereka benar-benar pesta perpisahan yang sesungguhnya. Kesannya sungguh buruk. Kalau perpisahan yang dimaksud adalah ini, persetan dengan kehadiran. Mereka lebih memilih tak akan datang daripada harus benar-benar kehilangan.


Sinar oranye matahari dan burung-burung sore itu menjadi saksi bisu akan bukti cinta seorang Lai Guanlin pada gadis bermarga Kim yang selalu dia usik beberapa bulan terakhir. Menjadi saksi bisu akan banyaknya hati yang harus terluka di masa depan ketika mengingat hari ini. Menjadi saksi bisu kalau pertemanan tak selamanya berakhir bahagia. Menjadi saksi bisu kalau tak selamanya...


T A M A T


T A P I B O H O N G ")

__ADS_1


__ADS_2