Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
21. Bad feeling


__ADS_3

Happy reading")


Liburan musim dingin masih tersisa kurang lebih sebulan lagi. Jika pada biasanya siswa lain akan berdiam diri di rumah menikmati liburan musim dinginnya, maka hal ini tak berlaku untuk anak tahun akhir di SMA yang akan menjalani suneung a.k.a SBMPTN.


Begitu juga dengan Karin dan Airish. Dua sahabat akrab itu belajar bersama setiap hari. Tak mau liburan musim dingin ini berakhir sia-sia. Mereka butuh usaha lebih untuk masuk Black Raven University. Walaupun termasuk perguruan tinggi swasta, namun bukan berarti Black Raven University adalah perguruan tinggi abal-abal. Mahasiswa disana adalah mahasiswa hebat yang terpilih diantara ratusan ribu bahkan jutaan pendaftar. Tentu saja Karin dan Airish ingin menjadi salah satu diantara mereka. Karin bahkan harus rela membayar mahal untuk les privat beberapa mata pelajaran yang lumayan susah.


Ada satu hal kebahagiaan baru yang ia ketahui dari mamanya beberapa hari lalu. Ternyata, butik yang mamanya kelola dulu masih tetap berjalan tanpa Karin ketahui. Oleh karena itu, mamanya meminta ia berhenti menjadi pegawai kafe, namun Karin menolak. Rasanya bekerja disana adalah kenyamanan tersendiri untuknya.


"Duh, pegal banget belajar seharian." Airish mulai mengeluh ketika mengerjakan banyak soal selama hampir lebih dari 2 jam tanpa henti. Karin merasakan hal yang sama, hingga ia ikut-ikutan berbaring di ranjang empuk Airish.


"Break dulu deh."


Bukannya istirahat, Airish menyempatkan dirinya membuka akun resmi boygrup kesukaannya. Setelahnya ia sibuk bernostalgia dengan melihat-lihat dua mantan personil boygrup yang ia stand itu.


Karin tersenyum ketika membaca satu pesan masuk dari Guanlin. Ia membalas secepat mungkin.


"Gue ga sabar masuk sekolah." Gumamnya sambil meletakkan ponselnya di nakas.


"Halah, gue tau. Lo pengen ketemu sama Guanlin, kan?"


Karin tak mengelak. Sejak mereka kembali dari Hongcheok, mereka belum pernah bertemu kembali karena papa dari pacarnya itu menyuruh Guanlin pergi ke LA. Guanlin berkata bahwa ia ada sedikit urusan serius. Karin tak mau bertanya banyak. Ia tak mempermasalahkan hal itu. Ia cukup tau dengan seluk beluk keluarga Guanlin.


Rencananya mereka hanya ingin istirahat sambil tiduran selama 15 menit tak lebih. Namun entah karena daya gravitasi kasur yang sangat kuat di hari libur, dua remaja itu malah asyik tidur-tiduran hingga hampir sejam lamanya. Memang rasanya tak ada yang menarik akhir-akhir ini kecuali tidur dan berbaring seharian di tengah-tengah musim dingin.


"Anjirr! Udah berapa lama kita rebahan?!" Panik Karin begitu sadar.


◐◐◐


Akhirnya liburan musim dingin berakhir. Semua siswa kembali masuk sekolah seperti biasa. Karin memulai hari ini dengan wajah berseri-seri. Tiffany tak bertanya. Ia tahu alasannya. Sesampainya di kelas, semuanya sibuk mengungkapkan rindunya satu sama lain. Tak terkecuali Karin. Ia begitu merindukan teman-teman sekelasnya.


"Hai, Kim Karin." Guanlin datang dengan senyum terbaik yang pernah Karin lihat. Ia balas tersenyum. Ia menahan diri untuk tidak memeluk laki laki tinggi berstatus pacarnya itu di tengah keramaian kelas.


"Nanti pulang sekolah, ada waktu?" Tanya Guanlin.


"Gue harus belajar buat persiapan suneung. Sama Airish juga."


"Belajar sama gue." Cegat Guanlin seketika. Airish memandangnya dengan sorot kesal. Hei, apa maksud nada bicara laki laki itu?!


"Airish kan menarik ke kesesatan. Jangan tertipu dengan daya pikatnya." Guanlin lanjut berbicara dengan nada penuh drama. Airish melemparkan majalah yang ia bawa ke muka laki laki itu.


"Sepupu laknat! Nyesal gue besarin lo selama ini. Gaada akhlak!"


"Ampun, mak, ampunn!" Guanlin menangkupkan telapak tangannya sambil meminta ampun pada Airish. Airish mencebik kesal. Hal itu membuat Karin tak bisa menahan tawa.


"Yo, mamennnn!!!!!" Ong tiba dan langsung membuat keributan. Laki laki itu menyapa dengan cara abnormal. Woojin memukul-mukul meja menambah kegaduhan. Jihoon melakukan hal yang sama. Sungguh, hanya Daehwi yang bertingkah normal dan segera duduk di kursinya. Cuek dan bodo amat dengan tingkah memalukan mereka bertiga.


"Loh, Daniel sama Jinyoung mana?" Karin bertanya begitu tak mendapati mereka berdua datang bersama yang lain.


"Nangkring di kantin. Ga sarapan katanya." Daehwi membalas tanpa mengalihkan tatapan dari majalah yang ia dapati di meja Guanlin. Tentu saja itu majalah yang tadi Airish lempar pada Guanlin.


"Jinyoung juga?" Kini giliran Airish bertanya. Tak biasanya laki laki dengan wajah imut itu tak sarapan. Ia sampai sehapal itu. Tak salah Jihoon mencapnya sebagai nuna yang baik.


"Koperasi. Mau beli buku katanya."


"Oh, kirain."


Setelah guru yang akan mengajar di jam pelajaran pertama masuk, belajar pun dimulai. Sebenarnya, mereka lebih banyak membahas tentang liburan dibanding belajar. Toh, ini juga masih hari pertama sekolah setelah liburan musim dingin.


◐◐◐

__ADS_1


Karin melambai pada Airish begitu mobil yang menjemput gadis itu melaju jauh. Tak seperti biasanya, gadis berdarah Jepang itu tak lagi mengajak Karin pulang bersama semenjak ia pacaran dengan Guanlin. Karin masih menunggu di depan gerbang sekolah sendiri karena sebelumnya Guanlin berkata ada sesuatu yang harus ia urus di ruang guru.


Cukup lama ia berdiri, hingga akhirnya gadis itu merasa pegal. Beberapa kali ia menolak ajakan siswa lain yang menawarinya tumpangan. Lama lama ia mulai kesal. Oke, tak masalah kok ia menunggu 30 menit. Tapi ini bahkan sudah hampir sejam semenjak laki laki itu pergi dan tak kembali.


Karin berniat menyusul ke kantor guru, sebelum ia mendapat telfon dari Guanlin. Segera gadis itu menggeser tombol hijau tanda terima panggilan.


"Karin, lo masih disana?"


"Iya. Lo dimana?"


"Maaf ya, kita ga bisa belajar bareng hari ini. Urusan gue belum kelar soalnya. Lo belajarnya sama Airish aja ya. Lo juga bisa pulang sendiri kan?"


Karin tak menjawab. Alih alih sedih, ia lebih merasa kesal dan marah. Tapi berusaha ia tahan.


"Oke deh. Gue matiin ya telfonnya."


"Maaf, ya. Lo ga marah kan?"


"Ngga kok."


"Oke, deh. Hati hati ya."


Karin memasukkan kembali ponselnya ke saku seragam sekolahnya. Gadis itu berjalan lesu menuju halte bis yang jauhnya hampir 1 km lebih. Tentu saja ia kesal, tapi ia tetap berusaha mempercayai laki laki itu.


"Duh, kok ga ada satupun kendaraan lewat sih. Lama lama kaki gue putus nih." Sungutnya setelah berjalan cukup lama. Ini kali keduanya ia berjalan dari sekolah menuju halte bis dengan penyebab yang sama. Tak lama gadis itu mendengar deru mobil yang datang dari arah belakang. Karin menoleh sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang ke arahnya. Karin menghilangkan gengsi untuk menghentikan mobil itu. Kesejahteraan kakinya lebih penting saat ini.


Pemilik mobil menghentikan mobilnya kemudian menurunkan kaca.


"Maaf, saya bisa numpang sampai halte ngga?" Karin berucap sopan. Namun ia segera menutup mulut rapat rapat melihat siapa si pemilik mobil. Matanya membola.


"Baik, tak apa. Silahkan masuk."


Good boy and soft boy in one time!!


"Anak Black Raven SHS, juga ya?" Seniornya itu bertanya lembut dan tetap fokus menyetir. Karin mengangguk sebagai balasan.


"Rumah lo dimana? Biar gue anter langsung."


"Hah? Gausah, kak. Saya di halte aja."


"Ini udah sore. Lo yakin berani duduk sendirian di halte?"


Tolong, Karin bahkan pernah berjalan sampai malam dari sekolah sampai rumah.


"Gausah. Nanti ngerepotin lagi." Karin tetap menolak walau sebenarnya ia mau. Ayolah, ini termasuk kesempatan emas dan tak boleh disia-sia kan.


"Ga kok. Gue lagi senggang."


Karin tertawa canggung, "Ya udah deh, kalo maksa."


"Oh iya. Gue Hwang Minhyun. Ketua BEM Black Raven University. Sebelahan sama sekolah lo kan? Nama lo siapa?"


Udah tau, bang!!


"Saya Kim Karin. Panggil aja Karin."


"Ya ampun, bisa ga lo-gue aja ngomongnya. Geli gue dengernya." Minhyun protes. Karin tertawa, karena merasa lucu saat melihat Minhyun bicara dengan ekspresi itu.


"Iya-iya."

__ADS_1


"Lo niat lanjut ke Black Raven University ngga kalo udah lulus nanti?"


Karin melirik sekilas ke arah Minhyun yang masih tetap fokus menyetir. Laki laki dengan tampang dan sikap dewasa itu benar benar sangat Karin idolakan sejak dulu. Kulitnya bahkan lebih putih dari Karin, matanya sipit, hidungnya mancung, dan tentu saja badan tinggi tegap. Karin masih tak dapat menghilangkan rasa sukanya pada seniornya itu.


"Niatlah."


Minhyun beroh-ria, "Kalo lo butuh soal soal masuk universitas, lo bisa minta dari gue." Tawarnya.


Karin menatap berbinar, "Boleh?"


"Kan gue udah nawarin. Ya pasti bolehlah."


Karin menahan untuk tidak berteriak saat ini. Minhyun you're really good boy and soft boy in one time.


"Mau lah," Jawab Karin pasti.


"Oke deh. Siniin nomer ponsel lo."


Mereka segera saling bertukar nomer ponsel. Tak lama kemudian, mereka sampai dengan selamat di depan rumah Karin.


"Makasih, udah dianter."


"Oke."


"Ga mampir dulu?" Tanya Karin sekedar basa-basi.


"Kapan-kapan deh. Gue pergi ya."


Mobil si senior melaju dengan kecepatan normal. Meninggalkan Karin dengan senyum bahagia karena diantar oleh si senior idaman. Ia memasuki pelataran rumah dengan langkah semangat.


◐◐◐


Karin menenggelamkan dirinya diantara lautan kapas setelah ia menyelesaikan makan siangnya. Tak lama ia beranjak mengambil ponsel dan mendial nomor Guanlin. Ia perlu menanyai apakah Guanlin sudah selesai dengan urusannya di kantor guru.


Karin menghela nafas kesal karena Guanlin tak menjawab panggilannya meski panggilan itu tersambung. Ia segera menyetel ponselnya ke mode silent saking sebalnya. Setelahnya ia lebih memilih tidur siang daripada harus pusing dengan Guanlin. Padahal sejak malam ia sudah merancang quality timenya hari ini bersama dengan laki laki itu setelah terpisah lama akibat liburan musim dingin.


"Kenapa sih, dia banyak ngeselin hari ini?!" Karin menggerutu sebal. Pada akhirnya ia memang tak bisa tidur. Ia keluar dari kamar dan mengambil beberapa makanan ringan dari lemari pendingin dan menonton drakor di laptopnya.


Bukannya membuka dokumen drama yang akan ia tonton, Karin malah asyik melihat history chatnya bersama Guanlin. Gadis labil itu kembali galau. Ia berguling-guling diatas ranjangnya. Kemudian memukul-mukul bantalnya tanpa perasaan.


"Nyebelin anjirrr!!!"


"Jadi pengen nabok!!"


Ia uring-uringan sendiri sampai suara pintu kamar yang terbuka menginterupsi kegiatannya. Ia segera bangkit dari posisinya dan mendapati Airish di depan pintu tengah berdiri menatapnya bingung.


"Lo ketempelan setan?"


"Sembarangan!"


"Lah terus ngapain lo guling-guling kaya lagi gelud sama setan?"


"Gue juga bingung."


Airish geleng-geleng kepala. Kemudian berbicara untuk mengutarakan niatnya datang ke rumah sahabatnya itu.


"Rin, temenin ke toko buku dong." Pintanya merengek. Karin menghela nafas lega.


"Mau beli buku atau beli merchandise EXO?" Tanyanya langsung. Ia memang sudah hapal dengan perilaku Airish selama 3 bulan terakhir. Gadis itu malah cengengesan.

__ADS_1


"Dua-duanya."


TBC")


__ADS_2