Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
06. Monster


__ADS_3

"I'm a sad gurll!"


___ooOoo___


Dengan nafas terengah engah Karin memunculkan kepalanya kembali keatas air. Catat, ini adalah percobaan bunuh diri ke 5 yang dia lakukan sejak kematian ayahnya dengan cara menenggelamkan diri didalam air.


Karin melangkah menjauhi kolam berenang dan segera mandi di kamar mandi di lantai atas. Pagi hari yang sepi kembali dia rasakan saat ini. Gadis itu termenung.


Tahukah kalian siapa siapa saja orang yang hidupnya menyedihkan? Jawabannya orang yang tetap menganggap dirinya rumah, meski ia tahu tak akan ada yang pulang.


Hidupnya sunyi. Tak ada yang lebih menyedihkan ketika satu satunya laki laki yang mencintaimu memilih untuk meninggalkanmu. Sosok papa yang tinggi jangkung. Sosok papa yang begitu tampan dan menjadi idola pertamanya. Sosok papa baik hati yang selalu membawanya ke taman bermain di Sabtu sore dulu. Sosok papa yang selalu menasehatinya agar selalu berpikir maju. Sosok papa yang kian keriput seiring berjalannya waktu. Karin rindu. Karin kehilangan semua itu.


Gadis itu menulis semua kesedihan hatinya di diary hitam yang sudah lama tak ia sentuh. Ia menangis membuat mata bengkaknya semakin bengkak. Rasanya ia sudah kehilangan arah.


"The best dad ever. Bahagia selalu papa, i love you~~


***


Karin tengah menonton drama kesukaannya ketika seseorang menekan bel rumahnya. Dengan langkah gontai, Karin membukakan pintu dan melihat seorang dengan setelan jas rapi tengah tersenyum padanya.


"Selamat siang nona Kim." Sapanya ramah. Karin tersenyum sambil menunduk.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"


---


Karin kembali membolak balikkan surat surat yang tadi siang ia terima dari seorang yang adalah pengacara papanya. Surat surat itu kini membuatnya pusing dan makin merasa putus asa.


"Jadi begini nona, saya adalah pengacara papa kamu. Perkenalkan saya Choi Seungyoon. Ketika almarhum papa kamu bertugas keluar negeri, beliau telah ditipu oleh lawan bisnisnya dan menyebabkan kerugian besar pada perusahaan. Dan mungkin satu hal yang belum nona tahu. Saat ini perusahaan telah bangkrut dan tak beroperasi lagi. Dan surat surat ini berisi warisan papa kamu yang masih tersisa. Hanya rumah ini, dan uang tunai sebesar 50 juta karena sebagian besar uang telah digunakan untuk membayar hutang perusahaan."


Sekolah di sekolah swasta, mamanya yang kini terbaring di rumah sakit, dan masih banyak lagi. Semua hal itu butuh uang yang banyak. Bagaimana uang 50 juta dapat memenuhi semuanya itu. Karin bingung. Dia berjanji tak akan menjual rumah ini. Hanya ini satu satunya tempat yang menyimpan banyak kenangan semasa papanya masih hidup. Karin tak akan melakukan itu.


Lama terlarut dalam pemikirannya, Karin memutuskan untuk bekerja part time. Di negeri ibukota ini tentu banyak kafe atau restoran atau bahkan swalayan yang bisa mempekerjakan dirinya. Karin tersenyum penuh semangat. Selamat menjalani hari hari penuh perjuangan.


***


"Kariiiiinnnnnn!!"


Karin menutup telinga sedalam mungkin untuk meminimalisir gelombang suara gadis bermarga Jung yang mendominasi ruangan kelas. Setelahnya ia pasrah ketika Airish memeluknya erat sambil mengucapkan kata kata rindu yang terdengar cringe.


"Lo kok lama banget ga masuk sekolahnya? Gue rindu tau ga. Gue kesepian. Ga ada teman buat gosip." Sungutnya dengan wajah yang diimut imutkan. Karin memutar bola mata jengah.


"Iya, tapi gausah peluk peluk. Gue tau gue yang imut ini ngangenin."


"Dihh pede amat. Btw, gue turut berduka ya. Lo jangan lama lama sedihnya. Gue ga mau lo sedih terus. Lo harus kembali ceria, cerewet, tukang marah kaya dulu. Oke?"


"Iya-iya. Lagian siapa yang cerewet? Lo kali, kok malah bilangin gue."


Airish tersenyum cerah lalu kembali memeluk tubuh mungil Karin. Ia memilih tak membalas omongan Karin. Karin balas memeluk tubuh yang lebih tingi 5 cm darinya itu.


"Udah deh reuninya. Lebay banget deh kalian. Kaya bocah SD."

__ADS_1


Suara bass yang memekakkan telinga itu mengusir suasana mellow diantara keduanya. Karin memasang wajah malas ketika dia tahu kalau itu adalah Kang Daniel bersama Woojin dan Jinyoung tentu saja.


"Eh, Niel. Bisa ga sih, sehari aja lo ga rusak suasana hati gue ini?"


"Ooo, ga bisa dong." Balasnya santai sambil memasukkan tangannya ke saku. Daniel tersenyum membuat Airish kesal.


"Wow apa nih?" Suara tanya Woojin mengalihkan mata tiap orang. Airish membelalakkan mata melihat Woojin menyentuh bekal yang dia bawa.


"Ehh!! Sembarangan aja lo!" Teriaknya sambil memukul pelan tangan Woojin yang hampir membuka kotak makan berwarna peach itu. Jinyoung tertawa. Dia dapat menebak kalau saja mereka tak melihat Woojin membuka kotak makan itu. Pastinya isinya habis tak bersisa.


"Ciee bawa kotak makan untuk aku. Makasih beb." Ujar Daniel kemudian sambil berusaha meraih kotak makan tersebut dari tangan empunya. Airish mengelak.


"Huss. Sembarangan." Airish memukul tangan Daniel seperti yang ia perbuat pada Woojin.


"Beb bub pala lo! Gue laporin Jihyo nih." Jinyoung pura pura ingin mengambil ponselnya.


"Hah?! Lo pacaran sama Jihyo?" Airish memasang wajah terkejutnya.


"Apa sih. Percaya aja lo sama ucapan tikus kurang belaian." Daniel memasang wajah sebalnya.


Airish mengalihkan tatapan pada Jinyoung dan Woojin. Dua cowo itu tengah menggeleng-gelengkan kepala dramatis. Airish gemas dan menempeleng kepala keduanya.


"Pagi semua." Jennie datang dan menyapa sekelas dengan suara riang yang membahana. Bersamaan dengan itu, Jihoon datang bersama teman temannya, Seong woo dan Daehwi, eh tapi dimana Guanlin. Biasanya laki laki itu datang dengan mereka.


"Guanlin mana?" Tanya Jennie kepo. Jihoon memandang kepadanya sebentar namun segera memalingkan muka.


"Kaya lo gatau aja." Balasnya cuek.


Namun segera dia menepis pemikirannya dan fokus pada apa yang tengah dia kerjakan kini. Haduh, kenapa dia harus peduli?


---


Saat guru mata pelajaran Bahasa Inggris tengah serius mengajar di depan kelas, konsentrasi Jihoon bubar karena getaran dari ponsel yang ia taruh di saku bajunya. Dengan diam diam dan waspada, laki laki itu mengambil ponselnya dan melihat satu notif dari Guanlin.


@Officiallaikuanlin


Nanti pulang sekolah, otw rumah gue.


Sejenak laki laki itu menggelengkan kepalanya, sebelum kemudian memasukkan ponselnya kembali ke sakunya.


***


"Eii, Guan, ma menn!!!" Seru Seong woo setengah teriak begitu Guanlin membukakan pintu apartemennya. Guanlin memasang wajah malas. Laki laki tinggi itu masih mengenakan kaus oblong polos dan celana pendek dengan rambut yang masih acak-acakan. Tak ada rapi-rapinya sama sekali namun itu tak mengurangi pesonanya. Matanya melirik bingkisan buah yang dibawa oleh para teman laknatnya itu. Apa-apaan? Mereka kira dirinya sakit?


"Buah? Buat siapa nih?" Tanyanya dengan alis mengerut.


"Buatlo lah, masa iya buat dewi."


"Sekali lagi typo nama gue, gue tabok beneran lu." Sungut Daehwi. Laki laki yang tengah nge fanboying di ponselnya itu memasang wajah kesal.


"Yaudah sih, masa kita ga dibolehin masuk."

__ADS_1


"Udah lo pada masuk aja." Pimpin Jihoon mendahului masuk. Guanlin geleng geleng kepala melihat mereka mulai mengacaukan rumahnya. Memang tak ada gunanya dia membereskan rumah.


"Yang punya rumah siapa sih woii!"


"Btw, siapa yang nyuruh lo pada buat datang ke rumah gue?"


"Lo mau gua pukul?" -Jihoon.


"Atau lo mau gue bumbuin pake saos?" -Daehwi.


"Atau sekalian om telantarin di sungai Han? Kamu tinggal milih kok." -Ong.


Guanlin cengengesan melihat raut sebal mereka bertiga. Mendudukkan dirinya di sofa, Guanlin mencari siaran TV yang bagus untuk siang hari yang terik ini. Panas ini membuatnya pusing dan mengantuk.


Seong woo dan Jihoon asyik dengan dapur. Hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka berdua ketika berkunjung kerumah Guanlin. Sementara Daehwi? Laki laki itu lebih fokus menikmati area gym milik Guanlin, dan ruangan karaokenya.


"Daebak daebak!!" Jihoon berseru riang ketika melihat isi kulkas Guanlin yang dipenuhi banyak sekali makanan. Seong woo komat kamit mengucap syukur kepada Tuhan, karena akhirnya dia dapat makan gratis dengan bebas.


"Gue gatau lagi kata kata apa yang bisa gue ucapin untuk ngungkapin rasa cinta gue sama lo Guan. Serius gue kali ini mah." Ujarnya sambil mengaduk bumbu ramen.


Jihoon asyik mencari cari cemilan lain di kulkas, yang bisa dia santap sambil mageran di sofa nantinya. Dalam sekejap saja semenjak kedatangan tiga curut tersebut, ruangan nyaman itu berubah ambur adul. Namun, Guanlin tak marah. Dia sudah biasa. Bahkan sangat terbiasa.


"Halah, si kadal. Sok cinta lo sama gue. Biasanya lo juga dzolimin gue. Gue terkhianati, bang." Guanlin berucap sok sedih.


"Ya mangkanya gue gatau, kenapa hari ini gue secinta ini sama lo."


"Najis lo pada!"


"Punya gue mana woi?" Daehwi dengan sedikit keringat di dahinya datang. Seong woo yang memang sudah terbiasa menyiapkan makanan Daehwi, memberi ramen yang dia buat sebelumnya. Segera saja dia menyantap ramennya dengan lahap.


"Eitss, gue mah berdoa dulu." Seong woo berdoa selama 5 detik. Entah apa yang dia doakan, biar dia dan Tuhan saja yang tahu.


"Oke, guys. Hari ini gue bakalan nyobain ramen yang gue buat sendiri dengan hasil kerja keras gue bersama beberapa dessert yang udah gue buat."


Seong woo memasang wajah malas. Apa yang dia maksud dengan kalimat 'dengan hasil kerja keras gue'? Bukannya yang membuat ramen itu Seong woo. Ia mencari-cari keberadaan sendal untuk memukul kepala Jihoon.


"Tapi untuk hari ini gue bakalan ubah sedikit gaya makan gue." Jihoon menyamankan cara duduknya dengan satu tangan tetap memegang tripod bersama kamera. Anak itu sedang nge vlog. Ya, walau dia sebenarnya vlogger abal abal.


"Pengen tahu? Ini dia." Jihoon menunjukkan beberapa bungkus cabai bubuk di depan kamera.


"Gue bakal naikin level pedas gue jadi 3 kali lebih pedas." Setelah asyik berceloteh tak jelas, ia mulai membuka kemasan dan menuangkan tiga bungkus cabai bubuk kedalam ramen yang masih mengepulkan asap tersebut. Tangannya asyik mengaduk aduk dan kemudian beberapa saat sebelum mulai memakannya.


Seong woo dan Daehwi nampak berbisik. Guanlin memasang wajah serius menonton sesuatu di TV.


"Tamat deh Jiun kali ini. Belum tau dia. Gue campur satu setengah aja, gue udah berasa stroke dan kerasukan secara bersamaan, apalagi kalau nyampe tiga bungkus."


"Maunya di event gini, air di rumah Guan pada abis. Kan seru tuh. Biar dia minum air kolam sekalian."


Dua laki laki dengan balutan seragam SMA itu tertawa jahat.


"Kita itung mundur nih. Hana, dul, set..... "

__ADS_1


Tbc")


__ADS_2