Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
33. Farewell party


__ADS_3

Happy reading")


Author POV


"Gue ga bisa ikutin rencana Jennie, Seon." Jihyo mengutarakan isi hatinya pada Seon Yoo. Seon Yoo menatapnya tidak menyangka.


"What?! Berarti lo belain Karin dibanding belain sahabat lo dari lama? Hebat ya, lo!"


"Gue ga belain Karin. Tapi gue cuman ga tega berbuat kaya gitu. Itu terlalu berlebihan."


"Jihyo, lo kok **** gini sih? Sekarang gue tanya sama lo. Lo suka sama Daniel kan?"


Jihyo mengangguk.


"Tapi lo liat dong! Karin malah genitin Daniel. Lo ga sakit hati? Gue juga sama. Dia selalu aja deketin Ong. Itu buat hati gue sakit."


"Tapi ga gini caranya. Lo pikir rencana Jennie ini hanya rencana kecil? Lo bakal bersalah seumur hidup Seon Yoo. Gue ga bisa lakuin ini."


"Lo pengecut, Jihyo!"


"Seon Yoo, harusnya lo sadar secepatnya. Apa yang bakal Jennie rencanain ini benar-benar diluar batas. Sumpah. Gue ga bisa. Maaf, kalau gue harus hianatin kalian. Tapi gue ga mau dikejar rasa bersalah seumur hidup. Harusnya lo juga pertimbangin resikonya. Kita bakal dipenjara kalau sampai ketahuan."


"Sayangnya Jennie bukan orang **** kaya lo! Dia pasti udah persiapin ini dengan matang. Termasuk masalah polisi."


"Maaf, tapi gue tetap ga bisa. Gue harap lo juga ngubah keputusan lo Seon Yoo. Gue pergi dulu."


Seon Yoo kembali mengingat perdebatannya dengan Jihyo kemarin sore setelah pengumuman kelulusan. Jujur saja dia mulai bimbang. Yang Jihyo katakan ada benarnya juga. Rencana Jennie kali ini terlalu memiliki resiko yang besar. Dia oke-oke saja kalau mereka hanya melakukan pembullyan walau itu juga termasuk hal salah. Tapi rencana Jennie kali ini lebih dari itu. Dia mulai berpikir ulang. Cukup lama, gadis itu beranjak dari tempat tidurnya dan menelfon Jihyo. Dia tak peduli walau ini sudah jam 10 malam. Ia harap Jihyo belum tidur.


Panggilan tersambung.


"Kenapa, Seon?"


Seon Yoo menghela nafas, "Oke Hyo. Gue bakal ikutin kemauan lo. Besok pagi lo siap-siap. Gue bakal jemput lo. Kita harus ketemu sama seseorang."


◐◐◐


Jumlah siswa yang datang ke sekolah hari ini hanya beberapa. Bahkan tak sampai setengahnya. Hanya terlihat pihak OSIS sekolah yang sibuk menata panggung di aula super luas sekolah untuk persiapan farewell party pukul 3 sore nanti.


Sementara Ong dan yang lain tengah sibuk mencari pasangan mereka di farewell party nanti. Airish geleng-geleng kepala. Kenapa coba mereka baru mencarinya sekarang?


"Itu mah urusan gampang buat gue. Orang gue kece badai gini." Sombong Jihoon sambil menyugar rambut.


Guanlin malah mendapat banyak chat dari gadis-gadis di sekolahnya yang memintanya sebagai pasangan nanti sore. Guanlin tak merespon. Ia malah tengah menimbang apakah ia harus menelfon Karin untuk memintanya sebagai pasangan nanti. Tapi ia sangsi. Barangkali gadis itu sudah memiliki pasangan. Atau belum, tapi dia malah menolak dirinya.


Iya, Lin. Jadi ganteng mah susah")


"Lo mau pergi sama Karin kan?" Airish tiba-tiba menghampiri dirinya sambil tersenyum jahil. Guanlin mematikan ponselnya. Gawat kalau Airish sampai mendapati kontak Karin yang sedang tampil di layar ponselnya.


"Ngga."


"Halah, Guanlin. Bohong aja terus, biar jerawatan tuh muka."


"Sok tahu!"


"Oh, berarti gapapa dong kalau Karin bareng sama Daniel?"


"Ga bisa!!"


[Diam]

__ADS_1


"Kenapa lo sewot gitu?"


"Tau ah. Gue pusing."


◐◐◐


Semua pasang mata menatap pada Karin dan Airish yang baru turun dari mobil mereka. Hal itu membuat Karin jadi salah tingkah. Ia merasa malu. Berbeda dengan Airish yang memanfaatkan keadaan dengan baik. Terbukti ia tersenyum centil kepada laki-laki seangkatannya. Gadis bermarga Jung itu memang sangat anggun dengan gaun peach dan polesan make up yang cocok dengan warna gaunnya.


"Wah, kalian berdua kok cantik gini sih?" Tanya Soobin dengan wajah melongo. Si ketua kelas itu tampak terpukau.


"Gila, gue takjub deh." Tambah Yohan mengaku jujur.


Karin tersenyum canggung. Ia merasa kalau dirinya agak berlebihan. Walau hanya menggunakan polesan make-up tipis, ia merasa kalau pakaiannya agak berlebihan. Gaun berwarna soft pink yang ia kenakan bukanlah pilihannya. Airish yang memilihkan untuknya. Awalnya Karin menolak tapi Airish bilang itu sangat cocok dengan kulit putih Karin.


"Gue ngerasa kalau gue aneh banget deh, Ai." Bisiknya pada Airish membuat gadis itu mendecak. Sungguh ia tak habis pikir dengan pemikiran Karin. Dia saja jatuh cinta dengan penampilan Karin hari ini.


"Lo tuh **** ya. Apanya yang aneh coba? Lo ga liat yang lain? Udah deh, gausah risih gitu." Omelnya.


Karin tak membalas. Ia mencoba agar tak canggung dan malu lagi. Ia berbalik ketika mendengar para teman seangkatannya mulai saling berbisik dengan nada kagum.


Karin menahan nafas ketika melihat Guanlin datang bersama dengan teman-teman satu gengnya. Sungguh, mereka bak kumpulan pangeran sekolah. Namun, fokusnya lebih jatuh pada Guanlin. Degupan jantungnya makin menggila ketika mereka saling bertatapan. Demi Tuhan, Guanlin luar biasa tampam dengan balutan jas yang ia kenakan.


"Gila, ini kalian?" Airish juga tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.


"Ya iyalah, Jung Airish."


"Wah, bangga gue punya brother kaya kalian." Airish memuji penampilan mereka membuat Jihoon sok menyugar rambut coklatnya.


"Kalian juga beda banget. Gila, kok pada cantik sih? Jadi pengen nyubit." Ujar Ong dengan muka lucu.


"Awas aja lo kalo berani nyubit kita. Kena pukulan baru tahu rasa!"


Menurutnya, Jennie sangat cantik dengan gaun hitam elegan yang dia kenakan. Jihyo dan Seon Yoo juga sama. Jennie manatapnya dengan pandangan tidak bersahabat. Karin langsung melihat ke arah lain. Malas menciptakan masalah.


Acara dimulai tepat pukul 3 sore. Ketua OSIS dan wakilnya mulai mengucapkan kata pembukaan. Karin lumayan bosan hingga ia memutuskan melihat-lihat ponselnya. Ia tak tahu kalau Guanlin jadi pindah duduk ke sampingnya. Karin sama sekali tak menyadari hingga laki-laki tinggi itu berbisik pelan padanya.


"Lo cantik."


Karin melonjak pelan karena kaget. Matanya bertemu pandang dengan Guanlin. Ia mencari-cari keberadaan Daehwi yang tadinya berada di sampingnya. Laki-laki pendek itu ternyata sudah berada di barisan kursi belakang.


"Kok lo disini?"


"Kenapa? Ga boleh?"


"Gaboleh."


"Gue serius, Kim Karin. Lo cantik banget malam ini."


Karin tak menjawab. Ia kembali berusaha fokus pada ponselnya. Hingga tiba giliran Guanlin maju ke depan untuk mengucapkan kata-kata pembuka sebagai perwakilan kelasnya.


Disaat yang bersamaan, Karin mendapat sebuah notifikasi dari nomor yang tidak ia kenal. Sebuah pesan yang mengatakan kalau orang itu ingin berbicara, jadi dia harus menemuinya di parkiran sekolah.


Karin ingin mengabaikan pesan itu, namun akhirnya ia tetap pergi. Sebelumnya, ia izin pada Airish dengan dalih ke toilet. Karin sampai di parkiran dan tak mendapati seorangpun disana. Ia mencoba mencari, barangkali orang itu terhalangi karena banyaknya kendaraan disini.


Karin panik ketakutan ketika mulutnya ditutup dengan sapu tangan bertabur alkohol dengan bau menyengat yang membuatnya pusing dan pandangannya menjadi buram. Gadis itu pingsan. Hal terakhir yang ia dapat rekam adalah ia melihat 2 orang pria berbaju hitam.


◐◐◐


Sementara di tempat pesta, Guanlin mulai mencari-cari keberadaan Karin ketika ia tak mendapati gadis itu duduk di tempatnya. Bahkan ketika ia turun dari panggung dan menunggu hingga 30 menit, gadis itu tak kunjung kembali.

__ADS_1


"Ai, Karin mana?" Ia memutuskan bertanya karena merasa khawatir.


Airish yang memang sedang sibuk berbicara dengan Woojin memasang wajah kaget.


"Lah, tadi dia izin ke toilet. Tapi kok belum balik sih?"


Guanlin mulai berkeringat dingin. Curiga. Entah kenapa ketika sejak datang ke pesta ini, dia sudah merasa ada yang aneh. Maksudnya, ia merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ia pergi dengan langkah tergesa darisana. Airish ingin menyusul tapi ketika ia bertemu pandang dengan Kim Taeyeon selaku kepala sekolah yang akan menyampaikan pidatonya, ia kembali duduk di kursinya. Merasa segan.


Guanlin berlari dengan terburu-buru menuju toilet. Ia memeriksa satu persatu bilik toilet tapi ia tetap tak menemukan gadis itu disana. Tak putus asa, Guanlin memeriksa ruang kelas, laboratorium, kantin, dan semua penjuru sekolah tapi hasilnya tetap nihil. Tempat terakhir yang menjadi tujuannya adalah parkiran sekolah. Ia terkejut mendapati sepasang sepatu perempuan disana. Maksudnya, itu adalah sepatu milik Karin. Ia ingat jelas ketika gadis itu memakainya.


Guanlin mengambil ponselnya dan segera menelfon Karin. Berkali-kali hingga panggilan itu terhubung.


"Karin lo dimana?" Tanyanya setengah teriak karena panik. Bukannya mendapati jawaban gadis itu, Guanlin malah seseorang bicara dengan alat pengubah suara.


"Hai, Lai Guanlin. Senang deh lo nelfon. Gimana kejutan dari gue? Suka?"


"Sialan! Siapa lo?! Dimana Karin?!"


"Hahaa! Kasihan ya lo. Tadi itu adalah hari terakhir lo bisa lihat Karin. Karena besok, dia udah ga ada di dunia ini."


Suara misterius itu tertawa menyeramkan. Guanlin menelan saliva susah payah.


"Kurang ajar! Jangan berani-berani lo nyentuh Karin! Gue bakal laporin lo ke polisi!"


"Haha! Polisi? Lo bahkan ga tau Karin dimana! Mungkin kalau udah ketemu, dia bukan lagi Karin yang lo kenal."


"Awas kalo—"


Panggilan terputus sebelum Guanlin selesai berucap. Laki-laki itu berteriak kesal sambil menendang dinding parkiran. Ia bingung. Tak tahu apa yang harus ia perbuat. Kepalanya mendadak pusing bersamaan dengan darah yang menetes dari hidungnya.


"Sialan! Kenapa harus sekarang?"  Ia membatin.


"Guanlin!"


Ia berdiri ketika melihat Daniel datang dengan panik, "Lo ngapain disini?" Tanyanya setelah membersihkan darah di hidungnya dengan cepat.


Daniel menormalkan deru nafasnya, "Karin dalam bahaya!"


"Gue tahu. Dia diculik oleh seseorang. Tadi orang yang culik dia nelfon gue. Tapi gue gatau siapa karena dia pake pengubah suara." Jujurnya.


"Jennie. Jennie yang culik dia!"


Ia bagai dihantam batu keras ketika mendengar penjelasan Daniel. Otaknya dapat membaca apa yang akan dilakukan Jennie pada Karin. Sudah jelas kalau dia ingin balas dendam dengan...


...Membunuh?...


"Lo tau darimana?!"


"Tadi Jihyo nelfon gue. Dia ceritain semua rencana Jennie ke gue. Tapi kayanya mereka ketahuan sehingga gue gatau jelas kemana Jennie menbawa Karin."


"Sialan! Harus gimana sekarang?"


"Gue tau dua kemungkinan tempat mereka berada sekarang. Karena Jihyo sempat bilang walau rada ga jelas. Kita harus berpencar!"


"Kemana?!"


TBC")

__ADS_1


__ADS_2