Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
19. Our plan


__ADS_3

Happy reading")


Hari ini libur natal dan tahun baru resmi dimulai besok. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding libur bagi kaum pelajar terlebih di musim salju begini. Ong mengumpulkan para akrabnya di restoran dekat sekolah. Berniat merencanakan liburan tahun baruan ini.


"Pokoknya kita harus pergi liburan bareng. Oleh karena itu gue ngumpulin lo pada disini. Tenang kalian bisa pesan apa aja, gue yang bayarin." Laki laki dengan paras manis itu ngotot.


Jihoon dan Daehwi saling berpandangan. Mereka terkejut mendengar pernyataan Ong kalau dia akan membayari pesanan kali ini. Jihoon maju mendekat kemudian menempelkan telapak tangannya di dahi laki laki yang kini mendelik bingung. Ya, barangkali dia terkena demam musim dingin.


"Normal sih." Desis Jihoon setelah benar benar memastikan kalau Ong tidak sedang demam. Daehwi manggut manggut sambil kini membolak balik menu kafe.


"Ini nih. Gue minta dibayarin salah, gue yang bayarin salah." Sungut Ong dengan wajah kecut.


"Ya kan aneh aja Ong. Biasanya lo kan ngemis minta dibayarin kaya pejabat negara ngemis sama rakyat jelata." Daehwi membalas tanpa mengalihkan tatapan dari buku menu.


"Mumpung gajian nih dari bokap." Balasnya santai, menepis prinsip hidup hematnya.


"Oke, jadi kita liburan kemana?" Tanya Airish membuka sesi debat tempat liburan ketika dirinya telah selesai memesan. Karin mengambil ponselnya, kemudian mulai mencari destinasi wisata yang cocok dikunjungi di musim dingin. Daehwi melakukan hal yang sama. Berbeda dengan Jihoon yang lebih memilih bermain game.


Guanlin ikut-ikutan bermain game bersama Jihoon ketika ia mendengar suara familiar yang sangat ingin ia hindari.


"Guan!!!"


Itu Jennie cs. Gadis dengan rambut sepinggang itu melangkah ceria sambil mendekati meja Guanlin cs berada. Laki laki itu menghela nafas kasar sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. Rusak sudah mood baiknya.


"Kalian disini? Kok ga ngajak sih?"


Gadis itu memasang wajah sinis ketika tatapannya jatuh pada Karin yang lebih memilih tak mengacuhkannya dan asyik dengan ponselnya. Ia kesal pada Karin kenapa ia selalu saja menempeli Guanlin.


"Ya ini kan bukan bisnis makanya kita harus ngajak ngajak." Jihoon menjawab santai sambil tetap serius dengan gamenya.


"Karin, minggir dong. Gue mau duduk di samping Guan." Jennie menitah penuh penekanan. Karin tak mau ambil pusing. Ia bangkit berdiri berniat pindah sebelum tangan Guanlin menariknya kasar hingga ia kembali terduduk. Jennie memasang wajah kesal.


"Yang pacar gue Karin. Bukan lo!"


"Guan, lo kok gitu sih sama gue?"


"Udah, biar gue pindah." Karin melepaskan genggaman tangan Guanlin dan berpindah ke meja disamping mereka. Airish mengikutinya, tak lupa ia melemparkan tatapan sebal pada Jennie. Sementara Jennie dengan senang hati duduk disana, sebelum Guanlin lebih memilih pindah kembali ke dekat Karin.


"Guan, lo tuh nyebelin banget deh." Jennie merengek kesal. Jihoon memukul meja kasar membuat semua terkejut.


"Tim noob, telaso!"


"Idih, sianjing!"


Jihyo duduk di dekat Daehwi, Seon Yu di dekat Ong. Mereka asyik membicarakan entah apa sampai tertawa-tawa. Tak lupa Daehwi menawari 2 gadis itu memesan dengan menambah embel-embel "Ong yang bayarin."


Sementara Jennie lebih memilih mengecek akun instagramnya daripada pusing melihat Guanlin dan Karin yang kini saling melempar tawa sambil melihat ponsel. Rasanya hatinya dongkol sekali. Ingin ia melempar wajah Karin dengan ponselnya, tapi ia urungkan.


Jihyo menghentikan tawanya ketika ia melihat Daniel, Woojin, dan Jinyoung memasuki area restoran kemudian sibuk mencari tempat.


"Daniel!!!" Ia bersuara keras membuat si empunya nama menoleh ke arah mereka. Jihyo tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Mengajak Daniel cs agar bergabung dengan mereka.


Daniel awalnya menolak ketika Woojin mengajaknya. Namun akhirnya ia menurut saja ketika 2 temannya itu menyeretnya.


"Kalian mesan gih, Ong yang bayarin." Tawarnya pada 3 orang yang baru bergabung."


Woojin yang mendengarnya langsung berbinar. Sifat anak ini memang 11 12 dengan Ong. Selalu lebih memilih dibayarin daripada harus bayar sendiri.


Setelah pesanan mereka semua sampai, semua remaja itu nampak makan dengan tenang. Woojin dan Jihoon menyempatkan memoto makanan mereka kemudian mengupload ke instastory, tak lupa memasang caption "Tq traktirannya @osw.onge"


"Oke, jadi buat ngisi liburan sebelum tahun baru tiba, gue mau kita pergi liburan bareng." Ong membuka suara sesaat setelah mereka semua selesai makan.


"Ini tuh wajib?" Airish bertanya sambil mengangkat tangannya. Ong memandang sebal.


"Iya. Wajib! Orang lo pada udah gue bayarin." Laki laki itu kemudian bersedekap dada. Angkuh.


"Oke deh. Gue setuju." —Guanlin.


"Me, too." —Jihoon.


"Okay deh." —Daehwi, Jinyoung, Airish.


"Selalu di depan." —Woojin.

__ADS_1


"Pasti ikut." —Seon Yoo.


"Aku juga." —Jihyo.


"Pasti dong." —Karin, Jennie. Jennie mendelik sebal.


"Kok lo ngikutin bahasa gue, sih?"


"Idih, PD amat lo!"


"Berarti tinggal..." Ong mengabsen satu per satu peserta yang hadir dan matanya menatap Daniel. Begitu juga yang lain. Daniel memasang wajah malas. Terlihat tidak tertarik.


"Lo harus ikut!" Woojin memaksa.


"Ga ah. Males." Balasnya cuek dan lebih memilih serius dengan ponselnya. Jihyo memasang wajah masam.


"Lo ikut dong, Niel."


Diam...


Loading...


Sepi....


Mereka semua mengerjap. Masih berusaha mencerna mengapa Jihyo berucap demikian sambil memasang wajah yang terlihat memohon. Daniel juga. Matanya mengerjap beberapa kali melihat gadis yang terlihat polos dan kekanakan itu. Mata besarnya memandang penuh harap. Namun kemudian ia buka suara membuat semua orang menganga heran.


"Oke. Terserah lo pada deh."


What the hell!!!! Mereka tidak salah dengar? Daniel yang sebelumnya sudah dibujuk Woojin —si teman akrabnya— lebih memilih mengiyakan permintaan Jihyo? Baik, ada sesuatu yang terlihat tidak beres.


"Oke-oke. Menurut gue ini agak aneh. Tapi lupain aja deh."


"Jadi, silahkan usulin tempat mana yang bakal kita kunjungi. Gue selaku dewan kepala rapat berharap tidak ada KKN disini." Ong berlagak sok bijak.


"Yeu, KKN pala lo!"


Satu per satu remaja yang mengenakan seragam siswa Black Raven SHS itu mulai mengeluarkan pendapat. Ong yang memang sedari awal mengatakan kalau ia adalah dewan kepala rapat hanya diam sambil menimbang-nimbang pendapat teman temannya.


Cukup memakan waktu yang lama hingga akhirnya diputuskan liburan kali ini mereka akan ke Vivaldi park ski resort. Jihoon nampak agak murung setelah usulnya ke Mall of emirates di Dubai akhirnya kalah oleh usul Woojin.


"Asyik nginap!!" Woojin bersorak ceria.


"Uwu, gue ga sabar main salju sepuasnya." Jinyoung menambahi.


---


Guanlin mengantarkan Karin segera setelah rapat kecil mereka selesai. Oke, Guanlin cukup bingung kenapa gadis itu bersikeras ingin cepat pulang sebelum pukul 5. Padahal, ia berniat mengajaknya jalan-jalan sebentar. Tapi ia juga bersyukur, karenanya Jennie tidak menyeretnya untuk pulang bersama.


"Makasih, udah dianterin." Karin tersenyum tulus sambil berterimakasih setelah ia sampai di depan rumahnya. Gadis itu melepas helm dan memberikannya pada Guanlin. Ia berniat menanyakan sesuatu yang selalu mengganjal hatinya ketika ia melihat motor Guanlin setiap kali laki laki itu mengantarnya.


"Loy, ini tuh logo apasih?" Karin bertanya sambil telunjuknya menunjuk logo hitam berbentuk ular hitam atau entah apapun itu yang berada di motor Guanlin. Tak hanya di motor, Guanlin kadang memakai jaket yang terdapat logo itu.


Guanlin nampak gugup setelah Karin menanyakan hal itu. Karin menatap laki laki itu, menunggu jawabannya.


"Em, ini tuh, ini logo, logo organisasi gue. Iya, logo organisasi gue." Jawabnya sedikit terbata. Karin tentu tak dapat percaya secepat itu. Terlebih karena laki laki itu menjawab dengan gelagat aneh.


"Organisasi apaan?"


Guanlin kembali berpikir, sebelum kemudian ia bernafas lega karena Karin berteriak panik sambil melihat jam tangannya.


"Gue masuk dulu ya. Lo hati hati di jalan. Bye." Karin melambai sambil berlari memasuki pelataran rumahnya. Guanlin membalas, menyalakan motornya, dan pulang. Tapi bukan pulang ke rumahnya. Ia berniat mengunjungi suatu tempat karena intruksi sang papa.


***


Karin mengantar kopi ke meja pengunjung langganan kafe tempat ia bekerja. Ia tersenyum kemudian pergi setelah perempuan yang sepertinya seumuran dengannya itu mengucapkan terimakasih.


"Duh, Chanyeol oppa kenapa makin gemesin aja sihh. Huhuu, suami onlineku."


Karin geleng geleng kepala ketika melihat Airish tengah ngefangirling pada salah satu member yang baru debut 2 tahun lalu.


"Gausah ngehalu deh."


"Ga asyik lo Rin! Sahabat itu di dukung, bukan ditikung loh."

__ADS_1


"Aigoo! Siapa yang mau nikung. Gue mah Xiumin garis keras."


"Gatau ah. Bingung banget milihnya. Heran kenapa mereka cakep gitu sih. Gantengnya gadak akhlak, tolong!!" Airish nampak galau. Karin melanjutkan aktivitasnya, mengacuhkan Airish yang masih saja meracau tak jelas dengan ponselnya.


Tengah sibuk, Karin sampai tidak menyadari kalau pemilik kafe —Kwon Eun Bi— sedang melangkah ke arahnya sambil bercakap-cakap ramah dengan seorang laki laki tinggi yang masih mengenakan seragam Black Raven SHS. Langkahnya terhenti kemudian ia memanggil gadis yang adalah pekerjanya itu.


"Kim Karin."


"Iya, bu. Ada yang bisa saya bantu?"


Jderrr....


"Karin!!"


"Guan!!"


Airish melonjak kaget saat dua sejoli itu saling berteriak. Ia bernafas lega karena ponselnya tak harus menyapa lantai.


Mata Guanlin mengerjap tak percaya melihat Karin yang adalah pacarnya itu tengah berdiri sambil mengenakan seragam karyawan kafe.


"Loh, kalian udah saling kenal?" Eun Bi bertanya. Ia menatap Karin dan Guanlin bergantian.


"Eh, dia, dia teman saya, bu." Jawab Karin berbohong membuat Guanlin menatapnya horor. Airish cengo.


"Oh yaudah. Nak Guanlin, saya tinggal dulu ya." Pamitnya ramah. Mereka bertiga terdiam cukup lama. Airish komat kamit berharap agar Guanlin tak menceramahinya di tempat umum ini.


"Parah ya lo, Rish!"


Tuh, kan.


Airish hanya cengengesan. Ia tak memberitahu hal ini pada Guanlin karena Karin melarangnya. Karena isyarat dari Guanlin, ia berangsur pergi meninggalkan pasangan yang kini saling diam diaman. Tak lama kemudian, Guanlin duduk di salah satu kursi disana.


"Lo kenapa ga kasih tau sama gue sih Karin?" Guanlin menatap Karin serius. Karin salah tingkah. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Lo belum cukup percaya ya sama gue?"


"Ya, ga gitu."


"Terus?"


"Duh, susah ngejelasinnya."


"Oke oke. Gue tau kenapa lo harus kerja disini. Gue ga marah. Tapi harusnya lo cerita dong kalo lo kerja partime."


"Gue cuman ga mau lo repot nantinya."


"Maksudnya?"


"Susah ngejelasinnya."


"Susah mulu, heran gue."


"Lo tau alasan gue partime?" Tanyanya, yang dibalas anggukan oleh Guanlin.


"Loh, kok tau?"


"Kan gue detektif. Detektif Guanlin Edogawa." Laki laki itu berpose sok keren membuat Karin tertawa.


"Lo stalker ya?"


"Yaelah. Udah dibilangin gue detektif bukan stalker."


"Iya deh terserah. Terus kenapa lo disini? Malah akrab banget lagi sama bu Eun Bi."


"Yaampun Kim Karin. Ini itu kafe punya bokap gue."


"Hah?" Karin plongo. Ia yakin laki laki ini pasti sedang bercanda.


"Gausah becanda deh."


"Kim Karin, lo lupa kalo calon suami lo ini anak sultan?" Guanlin memasang wajah sombong yang dibuat-buat. Karin lagi lagi tergelak melihatnya. Tawanya berhenti ketika ia merasa ponselnya bergetar. Buru-buru ia mengambil ponselnya di saku dan mendapat sebuah pesan dari bosnya.


"Iya, boleh. Asal dengan satu syarat."

__ADS_1


TBC")


__ADS_2