
Happy reading")
"Rin, nih ada surat buat lo." Daehwi memberi sebuah amplop ketika mereka bertemu di kantin. Karin menerimanya dan membolak balikkan amlop itu. Saat ini mereka berada di toko buku karena Airish mengajaknya membeli beberapa novel. Karin mengiyakan mumpung ia sedang tidak bekerja.
"Kok tau gue disini?"
"Taulah."
"Ini surat apaan lagi?"
"Gatau deh. Gue pergi dulu ya."
Karin memandang sebal melihat kesoktidaktauan Daehwi. Namun ia tak terlalu memikirkan apa isi surat itu. Segera ia memasukkan benda tipis itu ke tasnya sebelum Airish melihatnya.
"Karin gue dapet novel yang gue cari!!" Airish berbisik heboh sambil menunjukkan novel dengan cover biru gelap di tangannya. Itu adalah novel yang diterbitkan dari *******. Airish membaca ******* itu sebelumnya namun kesal karena tak bisa membaca semua. Pasalnya, cerita itu dihapus untuk kepentingan penerbitan. Itulah sebabnya ia memburu novel itu.
---
"Huhuu, banyak banget sih soalnya. Jadi mules ah." Karin menggerutu melihat banyaknya soal yang adalah PR nya untuk besok. Tak salah memang kalau malam Senin itu dibenci kaum pelajar. Karin menyalakan layar ponselnya.
11.55
Hari Senin dimulai 5 menit yang akan datang dan Karin masih setia stand bye dengan PR nya yang bertumpuk ini. Sungguh, ia sudah terlalu pegal mengerjakan PR hingga ia memutuskan tiduran sebentar.
"Eh iya. Daehwi kan ngasih gue surat." Karin gerak cepat turun dari queensize nya dan segera mengambil tas yang ia gunakan ketika pergi ke toko buku bersama Airish. Ia duduk kembali dan membuka amplop berisi surat yang Daehwi maksud.
Jangan lupa buka radio.
00.00
Karin meraih ponselnya, menyalakan kemudian segera memasang earphone. Satu menit kurang adalah tengah malam. Ia sibuk menggulir siaran radio mana yang masih aktif di jam segini. Dan...ketemu!!
....Masih ada Yoo Na yang bakal nemenin kalian selama 30 menit ke depan. Jadi buat kalian yang masih melek mungkin karena ngerjain tugas atau lembur buat presentase besok, atau bahkan lagi gabut karena insomnia, kalian ga kesepian dong ya.
Oh, iya. Hari ini Yoo Na kedatangan tamu dari Black Raven SHS. Ayo, siapa nih anak BRS yang masih dengerin Yoo Na?
Karin bangun dari posisi tidurnya bersamaan dengan pengingat kalender yang memberi tahu bahwa hari ini adalah ulang tahunnya. Karin mematikan pengingat itu dan kembali mendengar radio. Demi Tuhan, ia sungguh penasaran.
".....Oke, makasih buat Yoo Na noona yang udah ngasih gue kesempatan..."
Karin membelalakkan matanya lebar. Suara ini tak lain dan tak bukan adalah suara Guanlin. Ia menambah volume suara ponselnya agar mendengar lebih jelas apa yang akan laki laki itu katakan.
"...Hari ini Senin, 15 Desember 2014. Pukul 00.07. Oke mungkin udah lewat 7 menit. Tapi bakal tetap gue ucapin. Happy birthday buat yang ulang tahun hari ini."
"Wah, so sweet ya." Penyiar bernama Yoo Na itu tertawa.
"...Gue tau dimasa lalu gue udah buat kesalahan besar. Gue juga paham kenapa lo susah maafin gue. Gue minta maaf. Gue ga pernah ga cinta sama lo, hei nona Kim. Happy sweet seventeen. I love you, more than world."
"Wahh. Romantis banget. Jadi ini buat siapa sih sebenarnya?"
"Ini tuh buat pacar, eh ralat calon pacar gue." Penyiar Yoo Na dan Guanlin tertawa.
"Jadi buat gadis bermarga Kim yang Guanlin maksud tadi, selamat ulang tahun ya kamu. Jangan lupa peluk Guanlin setelah ini."
Karin melepas earphone dari ponselnya. Oke, ia tak tahan lagi mendengar kata kata Guanlin. Gadis itu menangis. Ia tak sedih. Tapi ia terharu. Ia sendiri bahkan tak terlalu peduli dengan ulang tahunnya kali ini karena rasanya tidak ada yang spesial.
Ia tak tahu seberapa lama ia menangis hingga ia mendengar suara ketukan pintu di lantai satu. Karin buru buru menuruni tangga setelah menghapus air matanya. Pintu terbuka.
"HAPPY BIRTHDAY!!!!!!!"
Suasana jadi mendadak riuh semenjak Karin membuka pintu. Satu hal yang membuatnya menangis lagi adalah ia bisa merayakan ulang tahunnya dengan mamanya.
__ADS_1
"Happy birthday, putri kecil mama." Ucap wanita paruh baya itu dengan suara kecil. Karin memeluk mamanya erat. Ibu dan anak itu menangis berbanjir air mata. Airish jadi ikut ikutan menangis membuat Jihoon mengambil kesempatan untuk memeluknya. Woojin dan yang lain geleng geleng kepala. Modus banget ga tuh?
Karin mendorong kursi roda sang mama setelah mengajak semua teman temannya masuk. Ada Woojin, Jinyoung, Daehwi, Jihoon, Ong, tapi dimana Guanlin? Oke, Karin lupa. Anak itu masih berada di stasiun radio, kan?
Karin menyukai suasana rumahnya yang berisik dan berantakan karena kehadiran teman temannya ini. Mereka semua seakan lupa kalau besok adalah hari Senin.
"Tenang aja. Gue udah nyuruh Dong Hyuk buat ngizinin kita ke guru." Ucap Airish dengan suara sedang disela sela acara makan mereka. Kemudian adalah hening. Airish menatap bingung pada teman temannya.
"Wae?"
Oke, ini adalah sesuatu yang cukup membingungkan. Airish adalah orang yang paling susah kalau diajak bolos, tidak sekolah, tidak mengerjakan PR, tidak mengikuti nasihat guru, dan masih banyak tidak tidak lainnya. Namun kali ini, justru gadis itu yang menyarankan agar mereka besok tidak sekolah.
"Gausah heran. Gue belom ngerjain PR soalnya. Lagian sekali kali gapapa lah ya ngga tante?"
Semua menyoraki Airish. Jadi dia mengusulkan tidak sekolah karena PR nya belum siap?
Tiffany yang tengah menikmati kue yang dibelikan teman teman putrinya tersenyum. Karin turut tersenyum melihat hal itu. Ia senang bukan main melihat mamanya bisa pulang dari rumah sakit.
"Orang ganteng is coming!!!!!"
Semua pasang mata melihat Guanlin yang datang dengan banyak kantongan plastik di tangannya.
"Nah datang juga nih montirnya. Ada motor yang rusak?" Woojin bertanya mengundang tawa temannya. Yakali Guanlin dikatai montir.
"Gue tampol beneran lo Ujin!"
"Cepet bener nyampenya bang?" Tanya Jihoon.
"Teleportasi dia mah." Airish menimpali.
"Asyik, BBQ-an skuy!!" Ong berteriak kegirangan setelah berhasil mengintip apa yang Guanlin bawa di dalam salah satu kantong plastik. Selain itu, ia juga membeli banyak makanan ringan dan minuman. Woojin memasang muka bahagia dan langsung membuka satu snack bawaan Guanlin.
"Ong, siapin arang gih." Titah Jihoon. Ong mengelak tak terima.
"Wah, parah nih Jin! Lo dikatain monyet beranak." Jihoon memanas-manasi keadaan. Daehwi menghela nafas melihat mereka malah saling lempar tanggung jawab.
"Udah udah!! Biar Jin Young aja yang nyiapin arangnya."
"Yeuu, kirain lo mau ngorbanin diri! Tapi tangan tangan mulus gue terlalu sayang kalo dibuat untuk megangin arang pliss deh." Jinyoung mengelak.
"Tolong, kenapa jadi ricuh gini sih? Kalian tega biarin princess Airish megangin arang? Ong buruan lo buatin sana! Lo mau gue tampol?"
"Ah, ga asyik si Ai!!" Ong dengan langkah lemas pergi darisana dan mulai mempersiapkan arang untuk BBQ-an. Yang lain tak diam saja. Mereka turut mempersiapkan makanan lain.
Okey, that's be a beautiful night with so many little star.
Woojin, Ong, dan Jihoon sibuk mengipasi arang agar tetap menyala. Kadang 3 laki laki seumuran itu saling melemparkan hinaan hinaan satu sama lain. Sementara Daehwi dan Jinyoung menyiapkan tikar dan menata makanan diatas tikar. Mereka terlihat sangat akrab. Berbeda dengan Woojin cs. Airish dan tante Tiffany tengah melihat ponsel Airish. Entah apa yang mereka lihat. Pokoknya mereka berdua tertawa lebar. Karin tersenyum melihatnya. Dia sangat merindukan senyum itu.
"Lo seneng banget ya nyokap lo udah sehat?" Guanlin datang dan mengambil posisi duduk di samping Karin. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Guanlin tersenyum melihat gadis di sampingnya tersenyum.
"Seberapa enak sih akrab sama nyokap?" Tanya nya tiba tiba.
"Gue gabisa deskripsiin sih. Cuman ya gitu. Rasanya nyaman banget. Kalo gue punya masalah terus cerita ke nyokap, perasaan gue langsung plong. I love her more than everything."
Guanlin tersenyum paksa. Ia rindu ibunya. Andai saja....
"Lo lagi ada masalah sama nyokap lo ya?" Karin bertanya hati hati.
"Nyokap gue udah meninggal, dan gue ga pernah ada masalah sama dia. Sama kaya lo, i love her more than everything."
"Lo kok ngomong kaya gitu sih? Kepala sekolah nyokap lo kan? Kenapa lo selalu bilang nyokap lo udah mati? Itu tuh kaya lo ga ngehargain nyo—"
__ADS_1
"Dia bukan nyokap gue, Kim Karin." Potong Guanlin dengan suara pelan. Laki laki itu bahkan tak menatap matanya ketika berucap. Karin jadi makin bingung apakah ingatannya tentang masa kecilnya kalau ibu Guanlin memang benar sudah tak ada adalah nyata.
"Maksud lo apa sih?"
Guanlin tak menjawab. Karin menghela nafas pelan.
"Oke oke. Lo berutang cerita sama gue, Guan."
"Kok?"
Gadis itu mengangkat bahu acuh.
"Oh, iya. Selamat ulang tahun ya." Guanlin tersenyum manis penuh ketulusan. Karin mengangkat sudut bibirnya. Ia merasa sungguh bahagia.
"I love you more than world."
"Maafin kesalahan gue di masa lalu ya. Gue ga mau lagi kalau harus kehilangan lo."
Karin terdiam sejenak.
"Iya. Gue maafin kok."
"Serius?"
Gadis itu berdehem menahan senyum.
"Makasih, Kim Karin."
"Apasih? Berlebihan lo!"
"I love you."
Karin tertawa.
"Malah ketawa. Balas dong."
"Males ah."
"Ya, gue digantungin nih."
Karin tertawa lagi.
"Iya iya."
"Iya apaan?" Goda Guanlin.
"Ya gue juga."
Senyum Guanlin semakin mengembang, "Juga apaan?"
"I love you, too! Ih nyebelin banget sih sok ngga tau!" Karin berteriak kesal.
"CIEE CIEEEE!!!! ADA YANG BARU JADIAN NIH!!! UHUUUUU!!" Woojin berteriak menyoraki mereka berdua mewakili tiap mulut orang yang berada disana.
Karin menutup wajah malu. Namun disaat yang bersamaan, ia juga senang. Guanlin tertawa terbahak melihat wajah memerah gadis itu.
"Parah banget kalian! Jadian kok tengah malem sih." Jihoon tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Biar epic bro." Balas Ong.
"Udah udah jangan gangguin yang baru jadian woi! Mending kita makan." Woojin menyudahi.
__ADS_1
"SKUYY!!!"
TBC")