Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
07. Overdose


__ADS_3

"Too much ego."


__ooOoo__


"Kita itung mundur nih. Hana, dul, set...."


Ting tong...


Semua pasang mata melihat ke arah pintu. Setelahnya empat orang remaja itu saling melirik satu sama lain seakan mengisyaratkan kepada yang lain untuk membuka pintu. Seong woo buang muka pura pura tak tahu.


"Eh, gue mau nge vlog di kolber dulu biar agak adem. Panas nih."


Daehwi dan Guanlin tersisa.


"Masa lo tega sama gue Guan. Gue udah cape keringetan gara gara coba kit olahraga baru lo, dan lo-"


"Iye iye, emang titisan setan lu pada."


"Kyaa, Guan oppa sarangheo." Seru Daehwi disusul Guanlin bangkit dari sofa dan membuka pintu. Seong woo yang berada disamping Daehwi sedari tadi menatap bengong pada Daehwi yang memanggil Guanlin dengan sebutan 'oppa'. Omo!!


Guanlin membuka pintu dan merutuki tamu yang menekan bel dengan tidak sabaran. Begitu pintu terbuka dua orang perempuan berdiri tepat di hadapannya.


"Anyeonghaseyo, Jung Airish imnida!!"


"Ngapain lo disini?!" Tanya Guan dengan nada setengah ngegas. Airish menutup telinganya untuk meminimalisir gelombang suara yang mendominasi. Gadis itu membuang nafas dengan gaya lucu sebelum kembali berucap.


"Ei ei ei, Guan, gue selaku pihak yang bertanggung jawab untuk memastikan lo terhindari dari pergaulan tidak sehat ya harus selalu berada disekitar lo dong."


"Lo ngomong apaan deh. Pulang lo sana." Usirnya.


"Gabisa! Ini perintah langsung dari kanjeng tante. Oh iya, mulai hari ini gue bawa partner gue, kenalin Kim Karin." Airish menarik tangan Karin yang sedari tadi bersembunyi dari Guanlin. Guanlin memasang wajah plongo seperti orang bodoh. Bukankah Airish sendiri? Namun bingungnya terjawab setelah melihat Karin berdiri tepat di depannya. Mata Guanlin membelalak sementara Karin berusaha mengalihkan pandangan. Ia menggaruk tengkuknya seperti orang salah tingkah.


"Ngapain lo disini?!"


"Eh eh! Gausah main bentak bentak dong! Gue kan udah bilang, Karin itu partner gue. Jadi lo gabisa protes."


Guanlin menghela nafas kesal. Ia berusaha meredam rasa kesal dalam dirinya. Ini agak sedikit keterlaluan menurutnya.


"Eiii, Karin noona, Airish noona hwanyeong hamnida." -Ong Seongwoo.


"Masuk, gih."


"Permisi, tuan." Airish masuk dengan santai sambil menarik pergelangan kurus Karin.


***


"Masa?! Lo serius? Beneran?!"


Airish mendecak.


"Apaan sih! Kalo nanya satu satu dong!"


"Iya iya. Tapi ini lo serius beneran?"


"Ya iyalah, Karinnn."


Karin akhirnya diam sambil mengambil satu french fries. Oke, Airish mengatakan Guanlin itu sepupunya. Ayah Guanlin dan ibu Airish itu saudaraan. Tapi selama ini, Airish juga yang selalu menghasut dirinya untuk tidak dekat dekat dengan Guanlin karena menurutnya Guanlin itu bukan laki laki baik. Katanya juga Guanlin itu anak berandalan.


"Terus ngapain lo selama ini ngejelek jelekin image dia sama gue."


"Ya karena kadang kadang gue suka kesal lah sama dia. Tapi gausah dipikirin kata kata gue mah. Gue orangnya suka khilaf."


"Khilaf pala mu."


"Eh tapi nih yaa. Gue mau nanya serius. Jadi lo juga harus jawab yang serius. Oke?"


Karin memutar mata jengah. Airish balik lagi ke sifatnya yang cerewet. Gadis itu mendehem singkat.


"Em, dulu pas zaman zaman SMP, gue kan ga tinggal disini-"


"Terus dimana?"


"Ih, Karin. Jangan nyela dong."


Karin cengengesan, "Hehe, iya, maaf."


"Gue tinggal di Incheon. Nah pas gue pernah liburan ke Seoul, kalo ga salah gue pernah liat lo deh di rumah orangtuanya Guan."


Karin tercekat.


"Iya, ga sih? Lo pernah ngerasa ketemu gue ga?"


Gadis itu diam. Gugup.

__ADS_1


"Kok lo diem sih? Kan gue udah bilang jawabnya serius." Gadis itu menggerutu.


"Eh, ehm, ngga tuh. Ga pernah deh."


Airish mengerucutkan bibirnya, "Ih, masa sih?"


"Iya. Gue se-"


"Eh, Rin, Rish, jalan yuuu."


Daehwi datang bersama Jihoon dengan beberapa cemilan di tangannya. Heran, dua laki laki itu dapat cemilan darimana sih? Daritadi loh ini.


"Apaan sih? Ganggu lo pada."


"Gabut nih. Mumpung weekend. Ke Lotte kuy." Ajak Jihoon.


"Mager ih."


"Lo cewe ko mageran sih. Masih jam 2 siang nih. Buruan." Jihoon menitah bak bos.


Airish mendecak, "Emang susah bener lo ngalah sama gue! Gue itu kakak lo! Gue kutuk jadi anjing jalanan baru tau rasa!" Kesalnya.


"Jangan mamii. Aku mohon ampunmu."


Daehwi dan Karin tertawa melihat tingkah absurd Airish dan Jihoon.


"Udah udah! Jadi ga nih?" Daehwi melerai.


***


Setelah sedikit percekcokan, disinilah mereka berenam sekarang. Jihoon dan Seongwoo tampak berdebat tentang apa yang harus mereka kunjungi lebih dulu. Daehwi menghela nafas jengah.


"Berisik amat lu pada. Malu maluin tau ga! Mending sekarang kalian ambil jalan masing masing aja. Gausah ribut. Oke?"


Baru saja Guanlin akan bersuara, netranya menangkap sosok Daniel dan teman temannya membuatnya harus mengurungkan perkataannya.


"Guanlin!!"


Itu Jennie, bersama dengan dua temannya juga, Jihyo dan Seon Yoo. Mereka datang bersama Daniel dari arah yang berlawanan.


Jennie berlari ke arah Guanlin dengan wajah ceria.


"Lo disini juga?" Tanyanya senang.


Guanlin tetap memasang wajah datarnya.


Jennie memasang wajah garang, "Diem lo."


"Nah, oke. Karena kebetulan kita semua disini, gimana kalo kita jalan bareng aja." Usul Seon Yoo.


"Setuju!!." Ujar Jihyo semangat.


Karin dapat melihat ada sesuatu yang aneh antara Guanlin dan Daniel. Daritadi dua orang itu sesekali melemparkan tatapan tajam bak tatapan permusuhan. Rasanya ada petir yang selalu menyambar-nyambar diantara mereka.


"Tapi please deh. Ini kita bisa gak makan dulu. Seriusan gue laper daritadi."


"Perasaan daritadi lo ngemil mulu loh Ong! Karet banget deh tuh perut. Tapi iya juga sih, gue laper nih."


"Yeuuu!" Seong woo dengan semangat menempeleng kepala Airish, sementara gadis itu mendecak sebal.


---


Remaja seumuran itu melanjutkan perjalanan mereka setelah menghabiskan kimchi, kimbap, bibimbap, jjajangmyeon, ramyeon, dan bulgogi tentu saja dengan porsi yang sangat banyak. Lebih kejamnya lagi mereka memaksa Woojin membayar tagihan yang membuat wajah laki laki itu terlihat masam kini. Kalau membayar untuk 2-3 orang sih masih lumayan, tapi ini untuk 12 orang. Terlebih lagi mereka semua makan dengan porsi manusia yang tak makan seminggu. Tapi, tenang. Untuk seorang Woojin yang baik hati ini bukan masalah kok. Woojin strong.


"Kita kemana dulu nih?" Jinyoung yang sedari tadi kebanyakan diam mulai buka suara.


"Hm, bungee jump gimana?"


"Setuju."


---


Mulai dari bungee jump, gyro spin, roller coaster, the hounted house, hingga zombie war, semuanya telah mereka kunjungi.


Airish asyik menelusuri google, mencari wahana bagus dan ekstrem yang masih tersedia di tempat ini. Wajahnya kemudian sumringah melihat satu lagi wahana paling menarik yang belum mereka kunjungi. Matanya memandang temannya yang kini tengah asyik mengeluarkan pendapat, dan sebagian ngemil. Tak usah heran itu Jihoon dan Daehwi dan ditambah satu member lagi, Park Woojin. Sebut saja mereka tim ngemil.


"Gue tau kita harus kemana lagi."


"Kemana?"


"Ghost House!!!!"


"Hah? Seriusan?" Karin terkejut. Dirinya kurang suka dengan sesuatu yang berbau horor.

__ADS_1


"Iya. Serius."


"Ga ah. Gue ga mau." Tolaknya.


Seong woo mendecak. Kali ini dia sangat semangat untuk masuk ke ghost house, "Ayolah, Kim Karin. Ga seram seram amat kok."


"Iya. Bener. Ga serem kok." Jihyo berusaha mendukung. Ia nampak imut alami ketika mata lebarnya nampak memohon. Karin jadi tak tega.


"Iya deh, iya." Putusnya.


"Yes, good." Jinyoung tersenyum dan kemudian melangkah mendahului teman temannya.


Jennie mendekat ke arah Guanlin dan menggandeng tangannya. Guanlin bersikap biasa saja. Laki laki itu tak menolak. Tak usah heran. Seantero sekolah sering mengatakan keduanya cocok. Guanlin yang tampan dan unggul dalam segala bidang dan Jennie yang memiliki paras bagai ulzzang, bukannya mereka sangat cocok?


Karin melihatnya. Bila boleh jujur, sedikit perasaan tak suka muncul dalam dirinya. Airish berjalan bersama dengan Daehwi dan Jihoon. Jangan kaget. Tiga orang itu ditambah dengan Guanlin dan Seong woo adalah sahabat semenjak mereka kecil. Mereka bahkan sudah menganggap Airish sebagai kakaknya. Sementara Bae Jinyoung, Woojin, Seong woo, Jihyo, dan Seon yoo berjalan bersama menyisakan Karin dan Daniel berdua.


Tak lama setelah antrian yang membosankan, 12 orang itu memasuki wahana ghost house. Penerangan yang remang remang, ruangan yang dihiasi sarang laba laba, sekeliling yang dipenuhi patung patung hantu, ini yang katanya ga serem? Are you kidding me, huh?


Karin tak sengaja melihat wajah Daniel yang berjalan disampingnya. Karin plongo melihat wajah laki laki itu yang berubah pucat. What the hell!


Laki laki sebongsor Daniel bisa takut dengan ghost house ini?


Klikkk....


Lampu disegala penjuru ruangan mati. Karin terkejut setengah mati. Gadis itu berteriak keras. Suasana berubah berisik. Panik. Namun suara yang lebih mendominasi adalah suara Daehwi. Sepertinya ia berlarian kesana kemari karena kaget.


"Shit! Buset deh suara lo!" Omel Daniel disebelahnya. Karin berusaha menggapai apa saja yang dapat dia gunakan untuk tetap berpegang. Daniel berinisiatif untuk menyalakan senter di ponselnya. Karin mendesah lega. Setidaknya saat ini lebih terang.


Daniel menyorot kearah depan dimana temannya berada.


"Damn! Kemana mereka semua!"


Rasanya baru saja suara Daehwi yang memekakkan telinga berada disini. Namun sekarang mereka semua menghilang bak ditelan bumi. Daniel mengarahkan ponsel ke segala arah. Dan dia tahu wahana rumah hantu ini memiliki pola seperti labirin. Tepat di depannya, terdapat empat pintu menyerupai terowongan panjang.


"Bisa ga gue pingsan aja disini?" Karin memasang wajah kesalnya. Kalau dia bertemu dengan Seong woo dan Jihyo, akan dia pastikan dirinya mencubit dua orang itu.


"Udah. Ikut gue."


"Ga deh. Lo kan membawa kesesatan." Tolaknya. Daniel mencebik kesal.


"Dih, kalo ngomong. Emang lo berani sendiri?"


"Berani lah."


"Oke, awas aja kalo lo ngikutin gue." Daniel berjalan mendekati pintu terowongan paling kanan.


"Choding, tungguin dong."


Daniel terdiam sejenak sebelum kemudian menoleh ke belakang dan memandang gadis itu dengan tatapan heran. Karin berjalan dengan cepat menuju Daniel.


"Tadi lo manggil gue apa?"


Karin memandang laki laki di depannya dengan alis berkerut, "Emang gue manggil lo apaan?"


"Buset. Gue nanya, malah ditanya balik."


"Ya kan gue gatau. Emang gue manggil lo apaan?"


Daniel mendecak, "Udah ga jadi." Sungutnya kemudian mulai berjalan menelusuri terowongan.


10 menit...


25 menit...


30 menit...


"Gila apa!! Kenapa kita ga keluar keluar sih?" Daniel menggerutu kesal.


"Daniel, lo punya inhaler ga?"


Daniel berbalik dan mendapati Karin dengan wajah seputih salju. Gadis itu pucat parah. Daniel panik. Bingung. Tak tahu harus melakukan apa. Masa dia harus berteriak panik seperti ibu ibu komplek?


"Lo kenapa?" Tanyanya mendekati gadis itu. Tangannya gemetaran entah karena apa.


"Gu-Gue susah nafas."


"Masa sih? Lo sakit apaan coba?"


"Banyak nanya. Lo punya ga?" Gadis itu bersuara lemah.


"Ya ngga lah, bambang."


Karin meremas kuat jaketnya hingga kakinya melemas.

__ADS_1


Brukkk!!!


Tbc")


__ADS_2