
Happy reading")
Aku menatap Airish bingung. Penjelasan apa yang dia maksud.
"Penjelasan apaan deh?"
"Kim Karin, lo jangan bohong sama gue kalau lo sama Guanlin ada sesuatu di masa lalu."
Aku speechless. Bagaimana dia bisa tahu?
"Jangan bahas dia deh, Ai! Namanya bikin gue badmood!"
"Gue tahu keadaan lo sekarang, tapi lo harus tetap cerita. Buruan."
Aku berusaha mencari topik lain agar dia tak usah membalas masalah itu, tapi gagal. Ia tetap mendesak agar aku bercerita. Ia bahkan sampai mengancam tak akan mau berbicara denganku kalau aku tak berkata jujur. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saat ini. Aku hampir bercerita namun Airish berkata kalau ia mau makan cemilan sambil mendengarkanku. Terlihat sangat berlebihan.
"Buruan cerita. Besok gue traktir di cafetaria dekat sekolah."
Aku diam sebentar, " Guanlin itu, mantan gue dulu."
"Hah? Kok bisa?"
"Gue sama dia temen dari kecil,"
"Nah, kan. Udah gue bilang juga. Pas gue datang ke Seoul dulu, gue pernah lihat lo. Ga jujur sih lo sama gue."
"Iya, tapi bisa ga sih lo jangan nyela tiap gue ngomong? Kan gue jadi lupa tadi udah sampai dimana." Aku bersungut-sungut. Pasalnya dari tadi ia bahkan tak memberiku kesempatan berbicara penuh. Ia malah cengar-cengir tak berdosa.
"Iya, maaf. Lanjut deh."
"Nah, lo tau dong persahabatan cewe sama cowo akhirnya bakal gimana. Dia jadi suka sama gue, dan gue ga bisa bohong kalau gue juga suka sama dia. Saat itu kita kelas 2 SMP, kita jadian. Semuanya lancar hingga 6 bulan kemudian."
Aku mendadak kesal kembali ketika harus menceritakan ini semua. Tapi demi Airish akan kulanjutkan.
"Dia berubah. Kaya yang dia lakuin beberapa minggu lalu. Persis. Dia jadi sering jalan sama cewe yang adalah teman sekelas kita juga. Gue jelas marah. Gue berniat ngelabrak cewe itu tanpa Guanlin harus tahu. Pas gue ngikutin dia ke laboratorium biologi yang udah ga kepake, ternyata Guanlin juga disana. Dia bahkan ga belain gue pas gue disiksa sama kawanan cewe itu. Dia diam sambil ngeliatin gue.
Air mataku sedikit menetes. Airish jadi seakan merasa bersalah.
"Kalau lo ga sanggup cerita lagi, masih ada hari esok kok."
"Gue gapapa kok."
Aku sedikit memperbaiki posisiku karena agak pegal juga.
"Lo ga bakal nyangka gimana sadisnya mereka. Mereka mukul gue, tampar gue, motong rambut gue, bahkan kulit gue mereka sayat pakai cutter. Mereka pergi setelah ngikat gue di kursi dan kasih lakban hitam di mulut gue. Gue lihat wajah Guanlin disana buat terakhir kalinya. Dia tetap ngeliatin gue dengan tatapan kosong bahkan ketika mereka ajak Guanlin pergi."
"Gue pikir saat itu gue bakal mati, Rish. Tapi ternyata ngga. Esoknya gue ditolong sama satpam sekolah. Orangtua gue marah besar sama pihak sekolah. Mereka juga desak gue buat kasih tau siapa yang udah berbuat gitu sama gue. Tapi gua bungkam karena mereka ngancam akan hancurin keluarga gue kalau gue bilang siapa pelakunya."
"Akhirnya gue pindah dari Seoul ke Gangnam. Dan parahnya, gue jadi punya trauma sejak itu, termasuk asma gue juga. Butuh waktu satu tahun buat hilangin trauma gue. Trauma gue sembuh, tapi asma gue ngga. Gue sekolah dengan damai di Gangnam, sampai papa harus pindah kerja lagi ke Seoul. Gue benar benar lupa sama kejadian itu. Lupa total."
"Tapi gue kembali ingat saat ngeliat dia di kelas waktu itu. Gue takut sama dia. Gue ngebayangin kalau dia itu psikopat yang bakal nyiksa gue. Tapi hati gue ga bisa bohong kalau gue masih tetap sayang sama dia. Itulah sebabnya gue nerima dia malam itu."
Aku selesai bercerita. Sungguh, rasanya sangat lega dan plong ketika aku selesai bercerita. Entah kenapa kebencianku pada Guanlin jadi meningkat 100 kali.
"Harusnya gue disana pas mereka nyiksa lo! Biar gue botakin mereka sekalian. *****, gue kesel banget loh!" Airish berdecak kesal sambil menyeka air matanya yang sedikit keluar. Aku tertawa melihatnya. Ia lucu ketika bergerutu.
__ADS_1
"Emang bisa lawan 5 orang sekaligus?" Aku tertawa mengejek.
"Lah, lo lupa gue wonder woman?"
Aku berlagak sok mual.
"Tapi gue ngerti kok kenapa Guanlin ngelakuin ini."
"Maksud lo?"
"Nyokap dia. Nyokap dia mati mengenaskan di atas salju pas salju lagi turun lebat. Gue lihat sendiri karena saat itu gue lagi sama dia."
"Lo tau siapa pembunuhnya?"
Demi Tuhan, aku jadi kepo. Ini terasa seperti sebuah kasus pembunuhan yang mengerikan. Aku bahkan sampai merinding. Gadis itu menggeleng lesu sebagai jawaban.
"Bahkan polisi menyimpulkan kalau itu emang murni bunuh diri. Tapi Guanlin ga bisa percaya. Dia bilang ada yang ganjil dalam kasus itu. Papanya malah bilang kalau dia kebanyakan baca komik detektif."
Aku jadi ingat kalau laki laki itu sangat menyukai komik detektif. Banyak sekali yang ia punya di kamarnya. Bahkan dia pernah bilang aku Ran Mouri dan...
Tidak! Kenapa juga aku harus mengingat itu! Aku harus melupakan semua hal tentang dia mulai saat ini.
"Itu terjadi kira kira 3 hari sejak kalian pindah ke Gangnam, Rin. Saat itu Guanlin juga jadi aneh banget. Dia jadi banyak bengong, kadang nangis, kadang tertawa tidak jelas. Dia jadi berhenti makan dan sulit tidur. Gue selaku sepupunya ga bisa berbuat apa apa. Papanya terkesan ga peduli. Dia malah langsung pergi ke luar negeri untuk bisnis setelah pemakaman nyokap Guanlin."
"Kira kira sebulan kemudian dia nikah sama perempuan lain. Dan lo pasti tahu kan siapa perempuan yang gue maksud?"
Aku menggeleng. Kenapa juga aku bisa tahu?
"Kepala sekolah. Dia nikah sama kepala sekolah kita."
"Gue jadi makin bingung sumpah!"
"Tapi lo harus tetap dengerin gue, Rin. Ada banyak hal yang harus gue ceritain ke lo tentang siapa Guanlin sebenarnya." Airish berujar dengan nada serius.
"Kok lo cerita baru sekarang?"
"Karena Guanlin ngelarang gue lah. Tapi bodo amat sama itu. Ada satu hal lagi yang pasti buat lo kaget!"
"Apa?"
"Sebelum papanya Guanlin nikah lagi, dia kan pergi ke luar negeri. Disitu, gue jadi akrab banget sama Guanlin. Gue jadi berasa kakak buat dia. Bahkan dia pernah panggil gue nuna. Kita juga akrab sama Kang Daniel."
"Hah? Kalian juga kenal sejak kecil?"
"Iya. Kita malah jadi akrab banget sama dia. Jadi berasa 3 bersaudara gitu. Mereka berdua panggil gue nuna. Hingga fakta kalau papanya Guanlin nikah sama kepala sekolah membuat hubungan Guanlin dan Daniel hancur. Guanlin jadi benci sama mama barunya itu, termasuk sama Daniel."
"Kenapa?"
"Daniel itu anak kepala sekolah."
"Apa?! Maksud lo apaan sih? Tapi selama ini pihak sekolah tahunya Guanlin yang anak kepala sekolah."
"Daniel itu hidupnya menyedihkan, Rin. Dia itu lahir di luar nikah. Makanya kepala sekolah benci lihat dia. Sebaliknya, dia malah sayang banget sama Guanlin. Tentu hal itu buat Daniel juga benci sama Guanlin. Tapi Guanlin ga peduli, dia tetap ga pernah nganggap kepala sekolah itu mamanya. Ga pernah sekalipun. Dia ngerasa hidupnya hancur berantakan. Sejak itu dia jadi badboy. Dia gonta-ganti pacar tapi ga pernah jatuh cinta sama mereka satu orang pun. Kepala sekolah jadi habis akal untuk membuat Guanlin kembali jadi anak yang baik, makanya dia bakal dijodohin sama Jennie. Guanlin tentu menolak. Dia tak mau diatur-atur."
"Padahal lo tahu? Jennie itu cewe yang Daniel suka. Ia mengakui itu dihadapan kepala sekolah dan Guanlin saat itu. Tapi kepala sekolah sama sekali ga peduli. Dia bodo amat dengan perasaan anaknya sendiri."
__ADS_1
Aku bersandar pada sofa untuk menetralkan kepalaku yang mendadak pusing. Bagaimana hidup mereka berdua bisa serumit ini? Pantas saja aku pernah melihat foto berdua Guanlin dan Daniel ketika kecil di malam dimana aku mengantar Daniel pulang karena ia mabuk.
"Terus, kenapa masalah tentang siapa pembunuh nyokapnya dia jadi disangkutpautin ke gue?" Aku bertanya kembali.
"Daniel itu emang ga kenal sama lo sebelumnya. Tapi sejak lihat lo di sekolah, dia jatuh cinta sama lo. Lo pasti bisa ngerasain."
Aku tahu itu. Aku sadar bagaimana perasaan laki laki bongsor itu padaku, "Lah terus?"
"Dia tidak terima ketika tahu kalau ternyata lo itu mantannya Guanlin dulu. Guanlin yang kasih tau sendiri sama dia. Daniel mungkin jadi mikir kalau Guanlin selalu merebut sesuatu yang dia sukai. Dia jadi nantang Guanlin apa dia bisa buat lo luluh lagi. Awalnya Guanlin ga peduli, tapi karena Daniel bilang dia akan kasih tau siapa pembunuh nyokapnya dia, Guanlin jadi mau."
"Emang Daniel beneran tahu siapa pembunuh nyokapnya Guanlin?"
Airish menggidikkan bahunya sambil memakan cookies yang ia bawa tadi.
"Ga tau deh. Hanya Tuhan yang tahu entah dia serius atau ngga."
Semuanya jelas. Termasuk rahasia tentang Guanlin dan Daniel. Hari ini aku tahu tentang seluk beluk mereka berdua. Kesal kali kenapa Airish haru memberi tahunya sekarang.
"Jadi lo udah putus sama Guanlin?"
Aku memasang wajah malas sambil berbaring untuk memeriksa berita comeback dari boygrup kesukaanku.
"Udahlah. Amit-amit jalan terus sama dia."
"Hah? Segampang itu?" Airish berujar seakan dia tahu kalau Guanlin mengatakan sesuatu yang bahkan membuat aku merinding. Aku mengangguk walau aku tahu Airish sulit percaya.
"Semoga aja deh." Gumamnya pelan. Aku dengar tapi malas membahas itu.
"Ai, izinin gue besok ya. Bilang aja gue sakit."
"Hah? Lo besok ga sekolah?"
"Ga. Malas buat liat muka-muka orang munafik di kelas."
Aku berkata jujur. Aku tak mau menemui Guanlin, Daniel, dan Jennie untuk sementara waktu ini. Aku bisa saja pindah sekolah. Tapi mengingat waktu kelulusan yang hanya satu bulan kurang lebih, aku urungkan niatku.
"Yaudah deh. Gue juga besok ga sekolah." Putus Airish membuatku mengalihkan pandangan padanya.
"Lah, kok?"
"Yak! Lo tega gue kaya kambing congek di kelas? Ga ada teman ngomong?"
Aku tertawa terbahak, "Kan bisa ajak Daehwi, atau Ong, atau Jihoon." Aku menyarankan.
"Iya bisa. Tapi ga se seru sama Karin unni." Balasnya dengan senyum 12 jari. Aku tertawa melihat rautnya.
"Padahal besok gue pengen ke cafetaria." Ujarku sok lesu.
"Tenang. Mumpung orangtua gue ga disini, kita bisa pergi ke mall kok. Gue juga mau berburu novel yang ada unsur EXO nya." Airish semangat ketika merencanakan itu.
Aku setuju saja ketika dia minta pendapatku. Sepertinya bolos sekali tidak apa-apa. Lagian mama tidak akan tahu mengingat dia lebih sibuk di butik akhir-akhir ini.
Aku kembali fokus dengan ponselku hingga aku terkejut setengah mati mendengar teriakan Airish. Aku menatapnya kesal. Gadis itu malah berguling-guling di ranjang queensizenya.
"EXO BAKAL COMEBACK!!!!!"
__ADS_1
TBC")