
Happy reading!
Karin POV
Pagi ini, aku cukup dikejutkan dengan Guanlin bersama dengan mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumahku. Laki laki itu tersenyum ketika melihatku keluar dari rumah. Kemudian melambaikan tangannya.
"Selamat pagi, Kim Karin."
Aku tak menjawab. Sebenarnya ingin melemparnya dengan pot di sekitar rumahku karena perbuatannya semalam. Tapi aku sadar pot kan berat, huhuu.
"Ngapain lo pagi pagi depan rumah gue?" Tanyaku jutek. Laki laki itu masih tetap tersenyum. Senyum paling menjengkelkan sealam raya.
"Nge-jemput." Ia menjawab masih dengan senyuman terkutuk itu. Aku menahan diri untuk tidak melakukan niatku.
"Gausah. Gue naik bus kok." Balasku lalu kemudian mulai berjalan meninggalkan laki laki itu dibelakang. Namun kemudian tanganku ditarik olehnya. Spontan aku menendang tulang keringnya hingga laki laki tinggi itu mengaduh kesakitan. Wajahnya memerah. Laki laki itu menutup mulutnya ketika mengucapkan kata kata kasar. Aku tertawa mengejek. Rasakan! Aku melanjutkan jalanku tanpa peduli dengannya. Sialnya ia kembali menarik tanganku.
"Pokoknya lo pergi sama gue! Awas kalo nolak." Aku melepaskan genggaman tangannya sambil memasang wajah kesal.
"Ngga!" Aku langsung berjalan dengan terburu buru setelah berucap cukup keras, kemudian menunggu bus di halte. Ini masih terlalu pagi hingga mungkin bus akan tiba dalam waktu yang cukup lama. Aku mengambil novel yang kubawa dari rumah dan membacanya untuk mengusir rasa bosan.
15 menit berlalu. Halte mulai ramai dan aku masih tetap asyik membaca. Aku tahu seseorang duduk di sampingku tapi aku pura pura tak tahu. Masalahnya aku terlalu segan untuk menyapa siapa pun itu. Aku menarik nafas lega setelah kudengar klekson bus yang biasa kutumpangi telah datang.
Seseorang yang berada di sampingku melangkah pertama, ketika aku masih sibuk memasukkan novel kembali ke tasku. Hingga akhirnya aku sadar kalau dia adalah Guanlin. Aku tak tahu kenapa perasaan kesalku muncul kembali ketika melihat laki laki dengan seragam keluar itu menungguku sambil memasukkan tangannya ke saku. Aku melanjutkan langkah dan kulewati dia begitu saja.
Setelah duduk dengan nyaman di kursi, aku melihat Guanlin masuk. Otomatis aku bergeser ke dekat jendela agar dia bisa duduk. Tapi, bukannya duduk disana, Guanlin malah duduk di kursi seberang. Bolehkah kutakan ini sangat sangat memalukan? Sungguh. Lagipula kenapa aku harus bergeser? Itu seakan akan aku mengharapkan ia duduk disampingku. Astaga!
Aku bersikap bodo amat, dan mengeluarkan ponsel bersama headset -ku. Aku memilih mendengarkan musik hingga tiba di sekolah. Ini juga merupakan cara cara menghilangkan rasa malu.
Bus kembali berhenti di halte berikutnya. Aku melirik sekilas ke kaca. Dua pria dengan setelan preman. Aku bergidik ngeri membayangkan kalau salah satu dari mereka duduk di kursi kosong di sampingku.
Ketika dua pria itu masuk, aku dikejutkan dengan Guanlin yang tiba tiba berpindah kesampingku kemudian menarik satu headset dan memasangnya di telinganya. Aku speechles dan bersyukur disaat bersamaan.
"Hah! Lagu apaan nih?" Guanlin berkomentar. Aku diam saja, tak memedulikan omelannya. Memang apa salahnya memutar lagu tahun 90an?
***
Aku menghela nafas kesal dan berbalik menunggu orang yang memanggilku beberapa menit lalu. Guanlin. Siapa lagi? Bukannya berlari, dia malah berjalan santai.
"Apasih lo? Pagi pagi ini udah bikin emosi tau ga?!" Kesalku.
Guanlin mendecih, kemudian bersedekap dada, "Lo aja kali yang emosian. Liat tuh, kerutan dimana mana." Ia menunjuk wajahku tak sopan. Segera kutepiskan tangannya.
"Buruan. Lo mau bilang apa, pake segala manggil manggil gue? Gue terlalu sibuk sih sebenarnya untuk ngadepin pasien rumah sakit batin."
"Nanti siang, lo pulang sama gue."
"Hah? Ngga, ngga. Ga mau pokoknya!"
"Harus mau." Laki laki itu tetap menjawab santai dengan wajah bodo amat berbanding terbalik dengan aku yang emosian. Kenapa aku selalu emosi kalau berada didekatnya?
"Loh, kok lo malah maksa? Pokoknya sekali ngga, tetap ngga." Tegasku.
"Nyokap gue yang nyuruh." Balasnya singkat kemudian pergi dari hadapanku.
"Hah?" Gumamku.
"Cowo aneh." Dengusku kemudian melangkah cepat menuju kelas.
"Kim Karin!!" Panggil seseorang, aku berbalik dan mendapati seorang Daniel berlari ke arahku. Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Baru saja satu orang menyebalkan pergi, orang menyebalkan lainnya malah datang.
"Pagi." Sapanya. Aku mengangguk.
__ADS_1
"Pagi Kareun." Woojin datang bersama Jinyoung yang hanya tersenyum padaku. Aku tak masalah dengan Woojin yang memanggilku dengan nama aneh. Cowok itu memang sifatnya begitu. Kalian harus tahu seberapa jahilnya Woojin ini.
"Kita duluan." Lanjutnya meninggalkan aku dan Daniel.
"Emm, nanti jam istirahat, ngantin bareng kuy. Gue traktir." Ucap Daniel membuka pembicaraan. Aku memandangnya sekilas.
"Ga bisa. Gue sama teman gue."
"Yaudah sama temen lu. Sekalian gue yang traktir."
"Tau nih gue. Pasti lo ada maunya."
Baru saja aku ingin membalas perkataan Daniel, tiba tiba Jennie bersama teman-temannya datang. Jihyo berjalan di samping Daniel sementara dua temannya di belakang.
"Pagi Daniel." Sapanya tersenyum. Daniel balas tersenyum seraya mengangguk.
"Oh, pagi juga Kim Karin." Sapanya padaku kemudian kubalas.
"Oh iya. Gue ke teman teman gue dulu ya. Bye." Aku mengangguk. Kulihat senyum di wajah Jihyo memudar.
***
Suasana kelas nampak gaduh setelah beberapa menit lalu Pak Donghae keluar meninggalkan kelas. Guanlin dan teman temannya sedang tidak dikelas karena bersamaan dengan perginya pak Donghae, mereka dipanggil untuk berlatih olimpiade. Duh, tak usah heran. Guanlin dan teman temannya memang tidak seperti diriku yang bodoh dalam segala hal ini.
Demikian halnya dengan Daniel dan teman teman akrabnya, mereka lebih memutuskan latihan basket daripada bertahan di dalam kelas. Lama kelamaan terasa bosan juga berada dalam kelas. Aku mengajak Airish ke kantin namun anak itu sedang sibuk dengan drama yang baru ia download di laptopnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendiri.
"Kim Karin!!" Aku menoleh ke arah lapangan basket ketika mendapati Daniel memanggilku. Aku menghela nafas. That's a new problem.
"Nanti pulang sekolah, lo pulang bareng gue ya."
"Hah? Apaan sih? Ngga ngga."
Baru saja aku berniat pergi, tangan kekar Daniel menarik tanganku keras.
"Apaan sih! Ngatur banget lo kambing!"
"Oh, gue tau. Lo mau pulang sama si troublemaker ya!" Tuduhnya menyebut troublemaker. Siapa sih maksudnya?
"Gaje lo. Minggir!"
"Engga! Pokoknya pulang bareng gue!"
"Ga mau! Pokoknya ga mau!"
"Harus!"
"Ga!"
"Hei! Ada apa ini ribut ribut?!"
Sontak aku dan Daniel menjawab suara itu bersamaan, "DIEM!!"
Hingga aku sadar, bahwa itu adalah....
Pak Donghae, si guru fisika yang super killer. Aku cengengesan ketika kutatap wajah marah pak Donghae. Setelah ini akan kupukul Soobin yang mengatakan kalau pak Donghae tidak akan datang lagi ke kelas. Awas saja!
"Eh, bapak." Ucapku.
"Berani beraninya kalian membentak saya. Keliling lapangan 50 kali sekarang!" Titahnya wajib. Aku membulatkan mulut seketika. 50 kali? Ini hukuman atau hukuman? Eh, ralat. Ini hukuman atau tindakan pembunuhan. 5 kali saja aku tak sanggup.
"Duh, Pak. Bapak segitu amat. 10 kali aja deh pak. Ya?" Kurasa aku sudah level maksimal ketika membuat wajahku terlihat imut. Daniel mengerjap aneh, bukannya membantu demi kelancaran negosiasi ini. Mengesalkan.
__ADS_1
"Kamu pikir ini sayur obral makanya kamu nawar? Ayo cepat sana! Sebelum saya tambahin hukumannya!"
Author POV
Karin tetap berusaha berlari meski dirinya sudah kelewat ngos-ngosan. Oke, ini masih putaran ke 4, tapi andai kalian tau seberapa luas halaman SMA Black Raven. Sesekali gadis kurus itu berhenti dan kemudian lanjut berlari. Matanya menatap sekitar, mengecek keadaan barangkali pak Donghae masih berjaga jaga. Gadis itu berniat kabur. Tapi, sialnya....
"Hei, Kim Karin. Mau kemana kamu?!"
Pak Donghae ternyata masih mengawasi mereka. Karin bersumpah serapah sebal dalam hati. Dengan terpaksa gadis itu lanjut berlari, dengan langkah lambat tentu saja.
Memandang remeh, terbersit ide jahil di pemikiran seorang Daniel. Laki laki bongsor itu berlari mendekati Karin dan dengan kencang menarik tangannya kemudian memaksanya ikut berlari bersamanya. Karin mau tak mau mengikuti langkah super cepat Daniel. Dengan segala kekuatan yang ia miliki, ia berusaha melepas cengkraman Kang Daniel. Gadis itu merasa sesak. Panas bercampur sakit menyebar luas hingga wajahnya.
Brugh...
Daniel berubah pucat begitu Karin terjatuh lemas menampar lapangan. Panik menguasai dirinya. Gadis itu pingsan.
"BERANINYA LO ANJING!"
Daniel yang tanpa persiapan terhuyung ke belakang begitu mendapat bogeman mentah Guanlin. Dua remaja itu saling menatap dengan sorot kebencian membuat Daehwi merinding. Daniel tak ingin melawan karena dia memang salah. Dengan sigap, Guanlin menggendong Karin dan membawanya pulang.
"Jangan pernah main main sama sesuatu yang berkaitan dengan gue! Lo kenal kan siapa gue!" Guanlin berucap dingin sebelum ia melangkah pergi dengan Karin di gendongannya. Jihoon membantu Daniel berdiri, namun laki laki itu mengacuhkannya. Tak lama ia pergi darisana.
***
Guanlin memasang sorot kesal karena daritadi tak dapat membuat gadis dengan netra tertutup itu terbangun. Usaha terakhirnya adalah mendekatkan botol minyak kayu putih namun tetap saja hasilnya nihil.
Ia kemudian berbaring di ranjang kosong di samping Karin dan memandang wajah gadis itu dalam.
"Cantik."
Remaja itu kemudian menggelengkan kepalanya, dan menepuk pipinya.
"Gaboleh *****. Harus fokus sama tujuan." Ucapnya pada diri sendiri.
Five minute laters...
Guanlin terkejut ketika melihat pergerakan dari gadis yang sedang tertidur di sampingnya. Ia tersenyum cerah ketika sebuah ide jahil terlintas di pikirannya.
Duduk, remaja itu melepas satu persatu kancing kemeja kebesaran Black Raven yang masih ia kenakan. Kemudian, ia pura pura tidur ketika gadis itu mulai bergerak gelisah dan meletakkan tangannya di dada telanjang Guanlin. Loading...
"KYAAAAA!!!!!"
"Anjirrr!!!"
"Brengsekkk!!! Apa yang lo lakuin sama gue, hah?!"
"Lo kenapa sih? Bangun bangun teriak kaya toa lo!"
"Guan brengsekkk!!! Lo apain gue hahhh?!!!!"
Guanlin tersenyum smirk.
"Karin, lo ga ingat apa yang udah kita lakuin tadi?" Tanya nya berpura pura. Karin pucat tiba tiba. Tangannya berubah dingin. Sementara itu, Guanlin mati matian menahan tawa demi kelancaran misi ini.
"Em, emang kita ngapain tadi?" Tanyanya parau.
"Lo tuh, nyium nyium gue. Terus lo ***** ***** gue. Gue kan gabisa nolak, ya gue bales lah. Lagian lo pingsan apa mabuk sih? Sampe segitunya."
Karin meremas tangannya kuat. Tak kuasa menahan air mata, gadis itu menangis tanpa suara. Ia ketakutan. Serius.
Guanlin terbengong. Rahangnya jatuh melihat gadis yang baru ia bodoh bodohi itu menangis. Hey, ayolah. Apa gadis itu tak bisa dibercandain sedikit saja?
__ADS_1
Tbc")