Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
32. The hesitation


__ADS_3

Happy reading")


Guanlin POV


Aku membuang nafas entah untuk kesekian kalinya sambil mengubah kembali posisi tidurku. Pada akhirnya kami semua lebih memilih tidur di rumah Airish daripada harus pulang ke rumah. Para cecunguk itu mengeluh malas. Dan sialnya, kini dengkuran keras Woojin mulai membuatku tak nyaman.


Dalam suasana remang-remang di kamar, pikiranku berkelana pada kejadian sebelumnya. Ah, sungguh gadis bermarga Kim itu benar-benar akan membuatku gila setelah ini.


Bagaimana tidak? Aku mati-matian menghindari dirinya di sekolah karena dia mengatakan membenciku, tapi ujungnya aku harus bertemu kembali dengannya di kamar sialan ini beberapa jam lalu dengan cara yang sungguh tidak nyaman.


Aku tahu teman-temanku sudah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Setelah kejadian di bandara itu, mereka kerap kali membuatku kesal. Selalu saja mereka pura-pura membicarakan Karin ketika kami sedang berkumpul. Bahkan di group chat mereka juga membahas gadis itu. Tidak di kantin, tidak di kelas, tidak di basecamp mereka selalu saja membahas itu. Hal yang paling membuatku muak adalah ketika mereka membahas kedekatan Karin dengan senior Hwang Minhyun. Astaga, senior menyebalkan itu selalu membuatku naik darah ketika mengingatnya.


Ia memang terlihat sangat terpelajar. Aku tahu itu sejak berada di JHS. Dia juga merupakan orang yang bijak, tegas, dan baik hati. Sungguh semua orang pasti akan memberi nilai lebih padanya. Tapi itu tidak berlaku untukku. Karena sebagai sesama lelaki aku tahu kalau dia menaruh perasaan pada Karin.


Dia bahkan dengan kurang ajar mengikuti kami di malam dia datang bersama Jaehwan hyung. Aku muak melihat sikapnya yang sok. Maka ketika kulihat dirinya bersedekap dada memantau kami dari arah teras rumah, aku pura-pura berlagak mencium Karin, padahal aku hanya mencium jariku yang berada di bibirnya. Aku tersenyum puas terlebih saat Karin tak berbuat apa-apa dan si senior itu memasang wajah terkejut.


Sejak saat itu, aku lebih suka duduk di pojokan kelas, mengusir si pemilik meja, Yeonjun, agar tak usah mendengar celotehan mereka. Karena aku tak janji tak memukul mereka kalau aku terus disana.


Tapi lama-kelamaan, aku mulai penasaran juga dengan perasaan Kim Karin padaku. Maksudku, apa dia benar-benar membenciku seperti yang pernah dia katakan? Tapi kalau memang iya, kenapa dia sering sekali celingak-celinguk mencari seseorang ketika berada di kantin? Aku tak akan sepercaya diri itu mengatakan kalau ia mencariku. Tapi begitu beradu pandang denganku, dia akan mulai memakan makan siangnya dengan tenang. Tak seperti sedang mencari-cari seseorang lagi.


Bukankah itu mencurigakan? Menurutku, sangat. Oleh karena itu, aku meminta bantuan teman sekelasku Jeon Somi, si gadis yang terkenal tomboy dan petakilan, untuk mengetahui apakah gadis itu mencintaiku atau tidak. Ia mau-mau saja setelah kusogok dengan traktiran ayam goreng.


Aku menggoogling banyak artikel untuk mencari jawaban paling efektif untuk pertanyaan 'bagaimana ciri-ciri jika seseorang mencintai kita?'


Jawabannya sangat banyak, tapi aku sangat tertarik dengan jawaban 'ia akan cemburu apabila kamu dekat dengan pria/wanita lain'.


Aku melakukannya. Aku mendekati Somi ketika dia juga sedang berada di kelas. Kami pura-pura belajar bersama, dan kadang kami tertawa untuk sesuatu yang lucu. Ketika kulirik ke arahnya, dia malah terkesan tak peduli. Dia asyik dengan novel yang ia baca sementara di telinganya tersumpal earphone.


Aku jadi berpikir, kalau dia memang tak mencintaiku, tapi justru membenciku. Aku merasa sangat tidak terima dengan hal itu.

__ADS_1


Aku hampir putus asa tapi tidak jadi setelah suatu sore Airish menelfonku dan bertanya kenapa aku bisa dekat dengan Somi. Aku tak tahu dia tahu kabar itu darimana, karena aku mendekati Somi ketika dia sedang tidak berada di kelas.


"Karin. Dia tadi curhat sama gue. Katanya lo makin aneh."


Apa kalian tahu perasaanku setelah Airish mengatakan itu? Tentu saja, aku luar biasa bahagia. Ini seakan aku baru saja kalah bermain judi tapi aku menemukan uang yang lebih banyak dari taruhan judi di tengah jalan. Sejak saat itu aku mulai semangat lagi. Aku sering cari perhatian di depan semua anak kelas berharap dia melirikku. Ya itu sedikit berhasil. Aku melihat dia tertawa ketika aku membuat lelucon yang menurutku malah terlihat cringe.


Aku juga membuntutinya ketika dia pulang bersama Airish. Akhir-akhir ini mereka jadi lebih sering naik bus umum untuk pulang, hal itu semakin membuat niatku lebih mudah.


Dua gadis itu sangat sering ke mall hanya untuk memburu merchandise dari idol yang mereka gemari. Tapi, sungguh. Aku tak mengerti barang-barang apa saja yang mereka beli itu. Aku tahu EXO, kalau tidak salah itulah namanya. Maaf saja, aku sedikit tidak peduli dengan dunia boygrup. Aku tahu itu dari Daehwi. Bahkan aku pernah menemani Karin dan Airish nonton konser mereka ketika kami masih berpacaran dulu. Aku hanya banyakan diam saja ketika mereka teriak histeris.


Hal sial mulai terjadi ketika aku mengikuti mereka ke sebuah toko buku. Aku memang terlihat sangat mencurigakan dengan mengenakan jaket hitam, topi hitam, kacamata hitam, dan masker. Karin secara tak sengaja melihat ke arahku. Ia bahkan sempat menatapku beberapa menit dengan alis berkerut. Aku panik luar biasa. Dengan langkah yang kubuat sesantai mungkin aku keluar darisana dan pulang. Mudah-mudahan dia tak menyadari kalau itu adalah aku.


Sorenya Airish mengirimi pesan padaku. Ia memintaku untuk pulang bersama dengan mereka besok karena mereka diikuti oleh seseorang berpakaian serba hitam. Aku skakmat saat itu. Sungguh.


Hingga saat aku mengetahui bahwa papa adalah pembunuh mama yang sebenarnya, aku ambruk. Malam itu aku benar-benar demam tinggi. Airish dan Daniel bahkan merekamku ketika mengingau nama Karin dalam tidurku yang tak tenang. Aku panik tentu saja. Itu sungguh memalukan. Sangat. Terlebih ketika mama Taeyeon ikut mendengarnya. Masih beruntung mereka tak memanggil Karin ke rumah.


Lalu hari pengumuman kelulusan tiba. Aku senang nilaiku nyaris sempurna. Hanya dia bidang biologi aku mendapat nilai 96, selebihnya aku mendapat nilai sempurna. Maaf, aku bukannya sedang pamer. Aku juga bangga melihat nilai teman-temanku yang sesuai harapan. Tak terkecuali nilai Karin. Kalau aku mendapat posisi urutan pertama nilai tertinggi, dia di nomor 8. Itu sudah lebih dari cukup mengingat kami ada kurang lebih 550 orang satu angkatan.


Ketika semua sedang asyik dengan kegiatannya, mulai dari Jihoon, Ong, Woojin, dan Daniel yang bermain game online, serta Daehwi dan Jinyoung yang asyik dengan kamera dan kembang api, aku merasa kalau badanku gerah sekali. Aku masuk kerumah dan menuju kamarku. Maksudku, aku sering menginap di sini jadi kamar paling sudut adalah kamarku.


Aku membuka pintu dan ketika berbalik aku mendapati Karin disana. Ia sepertinya tengah mencari sesuatu. Dan yang lebih membuatku gugup adalah dia hanya mengenakan tanktop putih tipis yang nyaris transparan.


Dia kemudian melihat ke arah pintu dan sangat terkejut ketika melihatku. Dia menyilangkan tangannya di dadanya dan buru-buru aku berbalik ke arah pintu agar dia tak mencapku aneh-aneh lagi.


"Karin, ngapain lo disini?" Tanyaku. Aku merutuki diriku yang sulit berucap.


Dia panik ketika mengatakan kalau ia ingin mengganti baju. Aku sedikit membentaknya untuk segera menyelesaikan ganti bajunya. Maaf saja, aku juga tetap laki-laki. Walaupun Karin tak memiliki tubuh yanv terlalu berisi, itu tetap saja mengganggu konsentrasi.


Aku memutuskan keluar dari kamar sejenak dan yang kudengar berikutnya adalah dia berteriak histeris. Aku masuk lagi ke dalam untuk menemuinya, dan dia berlari ke arahku sambil berucap kalau ada laba-laba di rambutnya. Aku mencari-cari dimana letak laba-laba itu, tapi dia malah menarik ujung kemeja yang kugunakan dengan brutal membuat kami terjatuh ke lantai. Aku menaruh tanganku di kepalanya agar ia tak kesakitan.

__ADS_1


Bukannya langsung berdiri, kami malah saling bertatapan dalam waktu yang lumayan lama. Untung saja suara teman-temanku menginterupsi kegiatan kami. Kalau tidak aku bisa saja khilaf.


Aku mengacak rambut frustasi. Aku akan gila kalau terus memukirkan itu. Aku turun dari tempat tidur, dan keluar kamar. Aku merasa agak haus.


Aku menuruni tangga satu per satu dan sangat terkejut ketika melihat pintu terbuka. Aku berlari keluar setelah memeriksa sekitar. Siapa tahu ada maling yang masuk.


Yang kudapati malah Karin yang tengah duduk bersandar pada tiang besar rumah. Dia sendirian. Gadis itu malah hanya mengenakan piyama tanpa jaket padahal udara luar sangat dingin.


Aku menghampirinya dan malah mendapati dia tengah setengah tidur. Maksudku, dia dalam kondisi mabuk. Bagaimana dia bisa mabuk? Padahal kami tidak minum-minum tadi. Airish tidak mengizinkannya.


"Karin, lo ngapain disini?" Tanyaku sambil menggoyangkan bahunya. Dia membuka matanya. Dia berusaha berdiri. Tapi namanya juga gadis mabuk, dia sempoyongan. Aku membantunya berdiri.


Ia mulai meracau tak jelas. Kadang dia tertawa lalu merengek. Aku malah geli melihat tingkahnya seperti ini. Dia juga memukul-mukul dadaku karena aku berusaha membantunya berdiri.


"Jangan deket-deket gue. Gue males lihat muka lo!" Ujarnya dengan nada khas orang mabuk.


Aku diam saja.


"Kenapa lo masih disini, hah? Tinggalin gue." Lanjutnya lagi. Aku masih diam menunggu dia akan meracau apalagi.


Lalu dia mulai merengek seperti orang putus asa, "Kenapa lo deketin Somi? Lo ga sayang ya sama gue?" Tanyanya lagi. Hal itu membuatku tercekat. Selanjutnya gadis itu mulai mencakar wajahku dengan kukunya yang lumayan tajam.


Ketika berusaha menghentikan aksinya, dia malah mual dan kemudian muntah di bajuku. Aku diam saja. Pasrah. Tidak mungkin aku melepaskan peganganku padanya. Dia akan terjatuh karena itu.


"Lo punya gue ya Guanlin. Awas kalo deket-deket sama yang lain." Dia kembali meracau.


Aku tak terlalu memedulikan racauannya barusan meski itu sedikit memengaruhi diriku. Aku menaruhnya di punggungku dan membawanya masuk ke kamar di lantai 1.


Setelah memberinya minum dan membersihkan sedikit bekas muntahan di bajunya, aku menyelimutinya. Lalu aku pergi. Niatku untuk minum tak jadi. Aku kembali ke kamar, dan kata-kata gadis itu tadi membuatku tak bisa tidur sampai pagi.

__ADS_1


TBC")


__ADS_2