Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
25. Real devil


__ADS_3

Happy reading")


Author POV


Di keesokan harinya, Karin dan Airish benar benar tak pergi sekolah. Mereka meminta si ketua kelas, Choi Soobin agar mengatur izin mereka. Dua remaja itu menghabiskan hari di mall. Menjelejahi toko toko novel dan toko merchandise. Serta menikmati banyak kuliner di berbagai restoran sebagai penutup. Sambil menikmati mocha floatnya, Karin asyik berselancar di sosial media. Tak lain dan tak bukan memantau perkembangan comeback boygrup kesukaannya.


"Eh, Rin. Gue ke toilet bentar ya. Kebelet parah nih." Izin Airish karena perutnya terasa melilit sesaat sebelum mereka memutuskan untuk pulang.


"Oke. Buruan sana. Gue tunggu diluar ya." Karin memberitahu. Setelah Airish pergi, Karin membereskan sling bagnya dan segera pergi darisana. Ia melirik jam tangannya sekilas. Pukul 4 sore kurang lebih. Langit tampak mendung. Jadi ia lebih memilih memesan taksi online dibanding naik bus.


"Airish kok lama bener?" Ia mulai menggerutu. Akhirnya dia lebih memilih masuk kembali dan menyusul Airish ke toilet dibanding harus menunggu seperti orang bodoh di luar.


Langkah Karin semakin melambat ketika ia tak sengaja melihat dua orang yang berlawanan jenis tengah berciuman di depan toilet wanita. Karin bergidik ngeri melihat pemandangan itu. Ia segera berbalik namun sialnya mereka berdua menyadari kedatangan Karin.


"Yak! Kau pikir kau akan kabur saja tanpa meminta maaf terlebih dulu pada kami?" Suara si perempuan membentak nyaring.


Karin berbalik takut-takut seperti seorang anak yang kedapatan mencuri uang orangtuanya. Matanya membola begitu mengetahui siapa dua orang itu. Eh, ralat. Begitu mengetahui siapa si laki laki tadi. Karin bersiap-siap kabur namun langkahnya tak secepat laki laki itu. Ia menarik baju yang Karin kenakan dari belakang. Karin meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


"Lo boleh pergi. Bayaran lo udah gue transfer." Titah orang itu membuat perempuan tadi menggerutu kesal namun ia tetap pergi darisana. Meninggalkan dirinya dan Karin berdua. Di depan toilet wanita. Karin berusaha bernafas normal karena ia agak takut.


"Bagus ya. Setelah putus dari gue, sekarang lo berubah jadi nakal. Cewe apaan keluyuran sampai jam segini?"


Karin diam saja. Ia terlalu malas meladeni Guanlin.


"Kenapa lo ga sekolah tadi?"


Karin tetap bungkam. Ia bahkan melihat ke arah lain, seakan dia tak punya teman berbicara saat ini.


"Eh, Kim Karin, kalau orang nanya tuh dijawab!" Guanlin mulai kehabisan kesabaran karena merasa diabaikan.


"Masa bodoh sama lo! Lepasin, gue mau pulang."


Karin menarik tangannya dari cengkraman Guanlin. Namun tidak akan segampang itu karena tenaganya tak lebih kuat dari Guanlin.


"Eh, lo kira setelah ganggu acara gue tadi lo bakal lolos secepat itu? Ngga lah. Lo harus gantiin dia."


Mata Karin membelalak mendengar ucapan Guanlin. Maaf, dia bukan bocah lagi untuk tidak mengerti maksud Guanlin tadi itu apa.


"Lo gila?! Lepasin gue bodoh!"


"Iya, gue gila karena lo, Kim Karin!"


"Lepasin gue, sialan! Gue mau pulang!"


"Peduli amat gue. Lo harus ganti rugi. Ayo ikut gue." Ia menarik tangan Karin kasar. Karin jadi ingin menangis saat ini. Dimana Airish? Astaga ini gara-gara dia. Ia akan mengomeli perempuan itu nanti. Lihat saja.


"Lo mau bawa gue kemana?!"


"Hotel."


"Astaga, Guanlin! Lo gila ya!"


Guanlin berhenti. Ia memandangi wajah Karin lekat dengan senyum smirknya.


"Gue kan udah bilang sama lo sebelumnya. Gue akan dapatin lo gimana pun caranya. Termasuk dengan cara yang salah." Ia menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tersenyum bak psikopat yang senang mendapat mangsa. Kemudian kembali berjalan menyeret Karin paksa. Karin merasa sangat marah. Dia tak boleh bersikap lemah.


"Berhenti gue bilang, sialan!"


Buggh...


Ia berucap marah sambil menendang tulang kering laki laki tinggi itu. Karin tersenyum puas melihat Guanlin terjatuh dengan wajah memerah menahan sakit. Mulutnya seakan menahan umpatan. Kalian harus tahu seberapa kuat Karin menendangnya. Guanlin bahkan sampai tak bisa berdiri menahan sakit.


"Berhenti lo, sialan!"


Tak buang kesempatan, ia segera lari darisana. Secepat yang ia bisa. Bahkan dia harus menerima cacian dari orang-orang yang harus ia tabrak karena berlari. Karin bernafas lega karena tepat di depan gedung mall, ia melihat Airish dan supir taxi itu tengah menunggu dirinya. Ia segera menarik tangan Airish masuk ke mobil dan memerintahkan si supir agar segera melaju. Airish memborbardirnya dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


"Lo darimana aja sih? Tadi katanya lo nunggu depan mall. Gue telfonin juga ga bisa. Kirain lo udah pulang duluan loh!" Airish mengomel cerewet. Karin masih berusaha menetralkan deru nafasnya.


"Gue habis beli makan tadi. Laper." Ujarnya berbohong sambil pura pura tertawa. Airish tak percaya.


"Jujur sama gue. Masa iya lo harus pake lari lari gitu. Muka lo juga panik tadi."


"Eh, itu. Gue takut banget lo pergi duluan ninggalin gue. Padahal uang gue udah habis buat beli makan tadi." Jawabnya kembali berbohong.


"Serius?"


"Iyalah. Masa iya gue pulangnya jalan kaki. Kalau gue diculik preman gimana? Gue trauma tahu."


Gotcha! Akhirnya Airish manggut-manggut percaya. Karin bernafas lega. Bersyukur ia bisa lepas dari Guanlin, walau ia tak menjamin hari esok. Astaga! Mau jadi apa dia di masa depan kalau tak berhasil lolos tadi?


◐◐◐


Setelah mengantar Karin ke rumahnya, Airish pergi ke rumah Guanlin. Ia perlu tahu bagaimana keadaan sepupunya itu. Bukan hanya itu, ia juga sedikit tak percaya dengan pengakuan Karin. 85% ia percaya kalau sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan sepupunya itu. Ia membuka rumah dengan gampang karena Guanlin tak menguncinya. Suasana sepi dan rapi sepeti biasa. Tapi ia terkejut ketika mendapati Guanlin tengah mengoleskan salep di kakinya.


"Lo kenapa?" Airish berucap khawatir. Guanlin tak menjawab. Ia masih asyik dengan salep di tangannya. Gadis itu duduk di samping Guanlin. Lumayan terkejut melihat luka lebam kebiruan di kaki kanan Guanlin. Tepat di tulang keringnya. Airish bahkan merasa ngilu melihat luka itu.


"Woi! Sok budeg lo! Lama lama gue tendang juga nih!"


"Heran gue kenapa cewe suka nendang!"


"Hah? Maksud lo?"


"Ini nih, kerjaaan teman sialan lo itu!" Teriaknya kesal sambil menunjuk luka lebamnya. Otak Airish langsung menuju kejadian dimana Karin berlari terburu-buru dan bersikap aneh tadi sore. Ia paham sekarang. Lagian kan, temannya hanya Karin.


"Karin maksud lo?"


"Emang lo punya teman lain selain dia?" Tuhkan, sudah Airish duga. Bukannya kasihan, Airish jadi merasa geli sendiri. Ia tertawa terbahak. Guanlin mencebik kesal. Ia menjitak sepupunya tanpa perasaan.


"Emang sepupu laknat ya lo! Sama aja lo sama si Karin sialan itu!"


"Gausah sok deh Gualin! Dia ga mungkin nendang lo tanpa ada sebab lah bodoh!"


"Dia kenapa?"


"Dia mergokin gue ciuman sama cewe yang gue ajak kencan."


"Lo ajak kencan, apa bookingan lo?" Airish menatap Guanlin seakan ingin memukul. Guanlin jadi salah tingkah, tapi ia tetap menjawab dengan raut biasa saja.


"Iya sih. Bookingan." Jawabnya pelan.


"Wah bocah jahanam! Gue laporin sama om ya lo!" Dia memukul Guanlin berkali-kali dengan ritme cepat. Guanlin mengaduh kesakitan.


"Terus kenapa dia sampai nendang lo gini? Lo apain dia?" Kembali Airish bertanya. Kali ini dia sedikit ngegas.


"Ya gara-gara dia niat gue sama perempuan itu jadi hilang. Ya gue mau—"


"STOP! JANGAN DITERUSIN! GUE NGAMBIL IKAT PINGGANG DULU!"


"Lah, apaan sih? Lo mau mukul gue pake ikat pinggang?"


"Gue tau lo mau apain Karin! Emang bocah jahanam ya lo!"


"Apaan sih, lo? Dasar otak yadong! Gue bilang gitu cuman pengen nakut-nakutin dia doang. Sebenarnya gue mau ajak dia makan malam kok. Dia aja yang kebawa suasana."


Airish memukul kepala Guanlin lagi, "Terbawa suasana kata lo? Siapa juga yang ga takut nengok tampang mesum lo?! Mirip om-om pedofil tahu ga!"


"Ya tetap aja dia salah. Dia nendang gue sampai lebam gini. Gue laporin polisi baru tahu dia."


"Enak aja lo! Itu termasuk usaha melindungi diri. Yang ada lo yang ketangkep dengan pelanggaran kekerasan pada perempuan!"


"Halah, kalian para cewe emang lebay. Ditakut-takutin aja nangis!"

__ADS_1


Airish memukul kembali kepala Guanlin dengan lebih keras. Laki laki itu berteriak kesakitan.


"Halah, kalian para cowo emang lebay. Dipukul aja nangis." Ejeknya. Guanlin menahan diri untuk tidak balas memukul sepupunya itu.


"Sepupu laknat!"


"Lagian lo juga ngapain jadi balik main cewe lagi, sih? Udah banyak dosa, malah nambahin dosa lo!"


"Ya, males lah. Ga ada kerjaan."


"Mulung sana, biar ada kerjaan!"


"Lo aja, gih. Btw, masakin gue dong. Gue laper." Guanlin memelas. Airish mengomel kembali tapi gadis itu tetap memasak makanan untuk Guanlin. Ia duduk di meja makan, sambil menunggu Airish selesai memasak.


Mendadak, ia jadi ingat Karin ketika melihat Airish memasak. Gadis itu sering datang tiap untuk memasak tiap ia meminta. Bahkan, tak keberatan juga untuk membersihkan rumahnya. Ia tersenyum miris. Ia gengsi hanya untuk mengakui kalau ia merindukan gadis itu.


Guanlin menggelengkam kepala. Menepis pemikirannya barusan.


"Gila! Rindu apaan? Males lah!" Batinnya.


"Lo jatuh cinta ya sama Karin?" Guanlin tersentak dari lamunannya begitu Airish bertanya. Gadis itu meletakkan semur ayam yang baru ia masak di depan Guanlin.


Guanlin mengernyitkan alis bingung, "Kesambet apaan lo?" Tanyanya.


"Lo mau gue pukul? Tinggal jawab apa susahnya sih?"


"Ya ngga lah. Kan gue udah bilang gue ga pernah suka sama dia. Bahkan ketika gue pacaran sama dia. Apalagi jatuh cinta." Guanlin mengelak.


Airish menatapnya curiga.


"Apa?"


"Lo mau bohongin gue, atau mau bohongin perasaan lo?"


Guanlin jadi sulit bicara.


"Kalau emang lo ga jatuh cinta sama dia, kenapa begitu putus lo langsung kembali jadi lo yang lama, yang suka main perempuan? Tapi begitu Karin mergokin lo, lo ga jadi sama perempuan itu? Itu tuh, jadi terkesan kaya pelampiasan tahu ga!"


"Apaan sih? Ambilin piring, sana! Gue mau makan!" Titah Guanlin berusaha mengalihkan pembicaraan. Airish tersenyum devil.


"Lo nyuruh-nyuruh siapa tadi?" Tanyanya datar.


Guanlin jadi sadar kalau ia berlagak bossy pada sepupunya yang kejam ini.


"Tolong, dong. Gue susah jalannya. Sakit tau."


◐◐◐


Karin menatap bahan masakan di kulkas dengan tatapan malas. Awalnya dia berniat memasak karena lapar, tapi sekarang ia jadi malas. Ia berpikir kalau hidupnya kembali seperti dulu. Ia merasa kalau mamanya jadi lebih mendahulukan butiknya dibanding dirinya. Seperti malam ini, mamanya tak pulang ke rumah karena harus menghadiri acara yang Karin bahkan tak mau tahu. Sungguh, dia kesal. Ini semua memusingkan.


Ia memejamkan mata karena pusing namun tiba-tiba bayangan Guanlin memenuhi pikirannya. Karin membuka matanya lebar-lebar.


"Sialan! Kenapa gue bisa bayangin dia sih? Gue mulai ga waras!"


Karin segera mencek ponselnya ketika benda pipih itu berdering. Sebuah pesan dari Airish.


"Keluar dulu deh bentar."


Tanpa curiga, Karin melangkah ke ruangan utama dan membuka pintu lebar lebar.


"Kenapa, Ai? Anjirr!"


"Hai, Kim Karin."


Buru buru Karin menutup pintunya agar Guanlin tak bisa masuk. Tapi terlambat, laki laki itu mendahuluinya. Karin panik, dia berlari menuju lantai dua. Guanlin mengejarnya. Mengabaikan sakit di kakinya.

__ADS_1


Saking terburu-buru karena panik, Karin jadi terpeleset hingga ia terjungkal ke belakang. Menabrak tubuh tinggi Guanlin yang berada di belakangnya secara otomatis. Hingga dua remaja itu jatuh dari tangga menuju lantai dasar.


TBC")


__ADS_2