
"Are you know how much i love you?"
___ooOoo___
"Woi, murid baru! Ayo naik."
Karin terkejut setengah mati ketika suara bass seseorang menyapa pendengarannya. Masih baik ponselnya tak jatuh dan menyapa aspal jalan raya ini. Namun, bukannya menjawab, Karin malah tetap diam menahan kesal.
"Denger ga sih lo? Mau ikut ga?"
"Ngga. Makasih." Balasnya pada akhirnya dengan tujuan agar laki laki dengan seragam sekolah yang sama dengannya itu pergi segera.
"Sok sok an banget sih, lo Kim Karin! Mending lo ikut gue deh. Hujan bakalan turun. Ga takut lo jalan sendirian?"
Karin planga plongo. Hey, darimana laki laki ini tahu namanya? Iya, Karin tahu kalau mereka satu sekolah.
"Gue teman sekelas lo ****. Yang duduk di belakang Airish. Masa iya lo kaga inget. Astaga pikun banget, muka seganteng ini dilupain. Kenalin, Kang Euigeon, tapi panggil aja Kang Daniel biar singkat dan mudah diingat." Omelnya panjang lebar sambil berdecak kesal. Karin hanya beroh-ria asal karena tetap saja dia tak pernah ingat kalau laki laki ini ada di kelasnya tadi.
"Mau ikut ga?" Tanyanya sekali lagi memastikan. Karin menggeleng menolak. Daniel makin kesal dibuatnya. Pasalnya, dia sudah rela bicara panjang lebar daritadi, menawari tumpangan pada Karin, dan waktunya yang banyak terbuang sia sia hanya karena perempuan itu. Hey! Tunggu dulu. Yang nawarin siapa yang merasa terdzolimi siapa?
Karin kembali berjalan sendirian setelah pengendara motor besar dengan nama Kang Daniel itu melaju pergi. Karin heran kenapa sekolah sebagus Black Raven SHS harus berada jauh dari jalan raya. Kendalanya bila ingin pulang seperti ini harus rela jalan kaki 1 km sampai halte.
Mendadak timbul rasa penyesalan karena menolak tawaran Airish dan Daniel yang mengajaknya pulang bersama tadi. Setidaknya, kakinya tak akan sepegal ini kan?
***
"Aku pulang."
Suara kecil Karin bergema didalam rumah yang bagaikan mansion itu. Walau tahu dirinya tinggal sendirian tanpa siapapun disana, dia tetap mengucapkan 'aku pulang' setiap masuk kerumah itu. Bukan berarti dia adalah seorang orphan. Hanya saja kedua orangtuanya jarang berada di rumah. You know workaholic? Sang mama pernah menawarkan untuk mempekerjakan seorang atau bahkan banyak pembantu rumah tangga, namun dia tolak dengan alasan ingin mandiri saja. Namun alasan sebenarnya bukan itu. Dia hanya tak mau keluarga pembantu itu nantinya akan merasakan hal yang sama dengannya. Sendirian. Itu juga alasan mengapa pak Ryan dipekerjakan hanya sampai pukul 5 sore dengan gaji yang tetap sama.
Saking lelahnya, gadis itu tertidur di sofa ruang utama dengan seragam yang masih basah kuyup karena kehujanan.
***
Karin POV
Lima gadis dengan setelan seragam abu abu itu, menyiksa gadis yang mengenakan setelan sama. Di sudut ruangan, nampak seorang laki laki dengan wajah datar memandang kosong kedepan. Bagaikan hanya sebagai patung hiasan yang menyaksikan acara bully.
"Hahaa, tau rasa lo sekarang!"
"Pliss, lepasin gue."
"Ckck, lepasin? Hari ini lo harus mati, anjingg!"
Kembali mereka mencelupkan kepala gadis itu kedalam larutan sabun di wastafel sambil tertawa senang. Sementara yang lain memotong rambutnya, lalu menggoresi kulitnya dengan silet. Suara tawa kembali terdengar di ruangan pengap yang bagai neraka itu. Dirasa puas, lima gadis berwajah seram bak psikopat itu menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Eh, inget ya! Kalo lo sampe bilang, siapa yang udah nyiksa lo, gue pastiin keadaan lo lebih parah dari ini. Bukan hanya lo, semua keluarga lo juga bakal kena imbasnya." Ancam gadis dengan surai kemerahan sambil menjambak rambut gadis itu.
Kemudian lima gadis itu pergi. Dengan raut tanpa bersalah. Mereka bahkan membicarakan bagaimana penderitaan gadis itu sewaktu mereka menyiksanya. "Ayo, Lin." Ajaknya centil pada laki laki yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan. Laki laki itu menurut bagaikan robot tanpa berbuat apa apa.
Ctarrrr....
Bersamaan dengan suara petir aku terbangun dari mimpi burukku. Sudah hampir setahun lebih mimpi itu tak menghantuiku, namun kini mimpi itu kembali lagi. Seluruh tubuhku basah oleh keringat dan air hujan karena aku bahkan belum mandi.
Kepalaku pusing, nampaknya aku akan demam. Kulihat seluruh ruangan masih gelap, tandanya belum satupun dari papa dan mama yang pulang ke rumah. Aku menangis. Duniaku benar benar kesepian. Tak ada satu orangpun di rumah sebesar ini, kecuali aku seorang. Kalau ada hantu yang mau datang, datang sajalah. Yang penting aku tak sendirian.
Perutku berbunyi. Aku lapar. Aku menyalakan lampu ruangan, kemudian menuju kamarku untuk mandi. Setelahnya menggunakan piyama, dan turun ke dapur untuk memasak hingga suara ponsel menghentikanku.
"Halo, ma?"
"Halo, Kar. Gini, mama sama papa ada jadwal ke LA selama seminggu. Mama udah isi rekening kamu. Kamu baik baik ya."
Aku diam saja tak menjawab. Oh, come on mom, i don't need money anymore!
"Iya."
"Kamu mau nitip oleh oleh?"
"Gausah, ma. Kan Karin punya banyak duit." Segera aku menutup panggilan. Aku kesal. Aku benci. Aku marah tiap mereka lebih mementingkan kerjaan daripada aku.
Akhirnya aku memutuskan turun kedapur. Setidaknya aku tidak akan tidur dengan kelaparan malam ini. Mataku masih asyik menatap ponsel sambil menuruni tangga menuju lantai satu. Salah satu drama Korea kesukaanku ternyata update di VIU.
"Anjirr!" Umpatku pelan. Hampir saja aku terpeleset ketika menuruni tangga berikutnya karena suara bass seseorang yang mengejutkanku. Kenapa satu harian ini aku sering terkejut? Astaga!
Oh, shit!
Mengapa si kuper ada disini? Aku menyesali perbuatanku yang tidak mengunci pintu sejak pulang tadi. Oke, kenalin. Laki laki dengan celana selutut dan kaus santai itu namanya Kim Jaehwan. Panggil saja Jae agar mudah. Dia sepupuku yang sekarang duduk di bangku kuliah semester 2. Laki laki dengan prinsip 'sing a song everytime everywhere'. Suaranya memang bagus, tapi jika dia tengah melakukan cover pada lagu yang akan dia post di akun youtube nya. Kalau bukan, suaranya akan membuat dokter THT banjir pasien keesokan harinya.
"Kok lo disini? Bolos kuliah ya? Gue laporin tante Doyeon lo!" Ancamku usil.
"Bolos pala lo! Fakultas gue emang lagi libur ******. Gue bukan kaya lo yang suka bolos. Plis, jangan samain, oke?" Curcolnya dengan gaya sok.
Jaehwan menerobos ke dapur tanpa permisi. Namun itu bukan hal langka untuk seorang mahasiswa yang tak menghargai pemilik rumah layaknya Jaehwan. Setelahnya, dia asyik mengobrak abrik isi kulkas dan mengambil banyak camilan kemudian menuju PS langganan yang selalu dia mainkan setiap pulang kampung. Berasa rumah milik sendiri, astaga.
"I miss you so much
이제서야 느껴 우리 공간 oh
I miss you so much
이렇게 눈물이 나는데 왜 난
__ADS_1
몰랐을까" Jaehwan mulai bernyanyi sambil menyetel PS nya. Tuh, kan baru aja dibilangin.
***
Author POV
Menyelesaikan acara masak dan makannya, Karin naik ke lantai dua dan masuk kekamarnya. Meninggalkan Jaehwan yang tengah ngemil sambil main PS serta tak lupa diselingi bernyanyi. Karin yakin setelah ini, dia akan masuk ruang karaoke dan menyanyi bagaikan bintang. Masih baik ruang karaokenya kedap suara. Kalau tidak...
Karin mulai asyik dengan PR nya sebelum suara notif ponselnya membuyarkan semua. Awalnya Karin berniat mengabaikan karena tak mau dia jadi keterusan main ponsel sebelum PR nya selesai. Namun, notif itu berbunyi terus menerus membuatnya mau tak mau menceknya.
From: +82......
P
P
P
Hai,,,
Salkeun
Buset, sombong banget murid baru
Woiii
Ada pr gak?
Busett di read aja kagak
Woiii
Karin mengerutkan kening tanda tak tahu siapa yang tengah spam dengannya ini. Karin berniat memblok tapi tak jadi. Pada akhirnya, Karin mengatur ponselnya pada mode silent hingga dia selesai belajar.
"Woi!!"
"sfxmskowlajink!"
Jaehwan terbahak begitu mendapat reaksi lucu dari sepupunya yang tengah terkejut.
"Jaehwan kuperr! Sialan lo! Kalau gue didiagnosa dokter punya riwayat penyakit jantung gimana? Pergi gak lo, pergi gak!!"
"Eh eh, jangan jahat jahat dong sama gue. Gue niatnya baik kok kesini."
"Mau ngapain sih lo tengil?!"
__ADS_1
"Karaokean yuk,"
Tbc")