Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
35. Airplane girl


__ADS_3

🎧 [Hayd-superhero]


Happy reading")


September 2015


Aku meneguk susu kotak yang terpaksa kubawa karena suruhan mama tadi. Seperti biasa aku hanya akan duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa seperti biasanya sambil memandangi ombak yang selalu menabrakkan dirinya pada karang.


Kalian tahu? Pergi sekitar pukul 4 sore ke pantai menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. Aku akan menyetir sendiri kesini kalau Airish atau Daniel tak dapat menemaniku. Wajar saja, mereka cukup sibuk setelah menjadi anak kuliah. Kalian masih mengingat Airish bukan? Gadis bermarga Jung yang memiliki darah Jepang itu berhasil masuk Black Raven University. Kami merayakannya dengan membeli merchandise EXO seperti yang selalu kami lakukan di masa SHS. Daniel, Daehwi, dan Woojin juga diterima disana.


Sungguh, aku sangat bangga dengan teman-temanku. Walau fakta mereka sering menyalin ketika ulangan adalah benar, mereka dapat menanggungjawabi nilai itu dengan masuk perguruan tinggi favorit di Korea Selatan. Kalian ingat laki-laki humoris bermarga Ong itu? Dia masuk Seoul University bersama Jihoon dan Jinyoung. Aku sungguh kagum pada mereka.


Tapi terkadang itu membuatku sedih, karena setelahnya kami jarang berkumpul seperti dulu. Hanya Airish dan Daniel yang menemaniku sekali setiap minggunya.


Aku juga kesal pada diriku sendiri. Kejadian ketika farewell party kurang lebih 6 bulan lalu membuatku tak bisa kuliah seperti teman-temanku. Maksudku, aku tetap kuliah tapi dengan metode homeschooling. Karena hal itu juga aku harus ketinggalan comeback stage EXO bulan April lalu. Kabar yang begitu pahit harus kuterima karena salah satu personil mereka, Tao, memutuskan untuk hengkang dari group. Kau tahu perasaanku setelah kubaca berita itu? Aku jadi sering menangis selama hampir sebulan. Kadang ketika aku dan Airish bertemu, kami juga akan menangis ketika membahasnya. Aku galau siang malam. Hidupku jadi terasa hambar. Kalian tidak boleh menyebutku lebay. Harusnya kalian mengerti perasaan seorang fangirl EXO garis keras.


Karena kejadian itu juga, aku tak dapat ikut serta mengantarkan kepergian Guanlin ke London. Kalian juga masih ingat Lai Guanlin kan? Anak itu diterima di Oxford University. Dia memang sangat hebat. Patut diacungi jempol. Aku sangat kagum. Sungguh.


Maaf kalau daritadi aku banyak bertanya 'apakah kalian masih ingat', aku hanya ragu kalian mengingatnya. Aku saja nyaris lupa pada mereka semua setelah tidur panjang karena koma selama 3 bulan lebih. Itulah sebabnya aku homeschooling. Mama ingin yang terbaik karena aku masih dalam proses penyembuhan. Mama bilang kemungkinan besar, di semester ke 3 nanti aku sudah bisa kuliah seperti layaknya teman-temanku. Aku senang mendengar itu.


Setiap melihat matahari terbenam, aku suka kepikiran pada Guanlin. Kalian tahu kan, kalau aku ehm, menyukainya? Ralat, aku mencintainya. Aku menyayanginya. Airish bilang Guanlin berjanji akan kembali secepatnya dari London ketika universitasnya libur. Airish juga bilang kalau Guanlin juga mencintaiku. Sebenarnya tanpa ia beritahu, aku sudah tahu hal itu. Tak perlu aku menjelaskannya. Hal itu terlalu panjang untuk dibahas.


Kami bahkan lost contact. Airish bilang kalau Guanlin seperti berada di asrama. Ia tak bisa memegang ponsel kecuali ketika liburan tiba. Aku sedikit kesal mendengarnya, tapi aku akan tetap bersabar.


Kalau Guanlin kembali nanti, aku akan menjadi orang yang paling bersemangat ketika menjemputnya ke bandara. Lalu aku akan memeluknya erat untuk memuaskan rindu yang kini makin berat. Jadi kalau timbanganku naik, sebenarnya yang bertambah itu bukan berat badanku. Tapi kapasitas rinduku.


Untuk mengisi waktuku yang banyak luangnya. Aku akan berkebun. Akhir-akhir ini aku jadi sangat menyukai bunga mawar. Aku banyak menanam mereka di taman belakang rumahku. Kalau bosan, aku akan mendengar lagu-lagu EXO sambil tiduran. Aku sangat menyukai lagu mereka yang berjudul Universe. Kalau kalian penasaran akan lagunya kalian bisa mendengarkannya di youtube. Kalian akan merasa sangat tersentuh ketika tahu arti lagu itu. Kadang, aku bisa menangis ketika aku terlalu menghayatinya.


Suatu saat, ketika Airish dan Daniel mengunjungiku di akhir pekan, aku sedang mencoba membuat bolu red velvet di dapur. Mama saat itu tak di rumah karena mengurus butiknya. Bahkan aku harus kelewatan momen saat cabang butik mama resmi dibuka karena koma itu. Sangat menyebalkan kan?


Ketika mereka bertanya kenapa aku mencoba membuat bolu red velvet, kujawab dengan jujur kalau aku ingin memberinya pada Guanlin ketika ia pulang ke Seoul nanti. Dia pernah memberitahu padaku kalau dia sangat menyukai bolu itu. Dia juga pernah memintaku membuatnya tapi aku sama sekali tidak tahu. Jadilah kami membelinya di toko kue. Meski kepulangannya dari London masih lama, tapi aku harus tetap latihan agar rasanya tak mengecewakan.


Ketika kukatakan itu untuk Guanlin, Daniel dan Airish malah saling berpandangan. Tiba-tiba juga Airish mengatakan ingin menelfon dan kembali ke dapur dengan mata sembab. Gadis Jung itu mengatakan kalau dia mengingat Tao makanya dia menangis. Aku tiba-tiba jadi ingin menangis juga. Mengingatnya selalu membuatku berakhir dengan menangis.

__ADS_1


Setelah mereka pulang, rumahku jadi kembali sepi karena mama belum pulang juga. Aku mulai memaklumi hal itu dan tak lagi mempermasalahkannya. Saking sepinya rumah, bahkan suara tetesan keran air di wastafel sampai terdengar kuat menurutku.


Aku membuka laptop. Awalnya aku berniat menonton drama yang sudah ku unduh beberapa hari lalu. Tapi aku jadi asyik melihat-lihat beberapa foto-foto kenangan masa SHSku dulu. File foto itu sangat banyak. Ada lebih dari 5000 foto dan 300 video bersama mereka. Namun, lebih didominasi dengan foto dan videoku bersama Guanlin. Astaga, aku jadi sangat merindukannya. Aku selalu merasa sesak ketika rindu padanya. Rasanya sudah hampir setahun kami tidak bertemu. Aku rindu marah-marah padanya. Aku rindu ketika dia mengusiliku. Sungguh aku merindukan Guanlin. Kenapa juga dia harus memilih perguruan tinggi asrama? Kan setidaknya kami bisa saling bertelfonan tiap harinya.


Kututup laptopku karena itu membuatku bad mood. Akhirnya aku tak jadi menonton. Aku mengambil ponsel dan membuka salah satu website novel online. Ada satu cerita yang belum selesai kubaca. Akhirnya aku menyesal telah memilih membaca novel online. Bagaimana tidak?! Cerita ini sad ending karena tokoh utama perempuannya meninggal. Aku jadi semakin galau. Kalau seperti ini aku akan menangis berhari-hari tiap mengingatnya. Aku merasa hancur lebur. Segera saja ku spam penulis novel itu dan menyuruhnya agar menghidupkan kembali si perempuan.


Kira kira hidupku akhir-akhir ini hanya seputar itu saja. Dari pukul 8 pagi sampai pukul 3 sore aku akan homeschooling. Setelahnya aku akan melakukan hal-hal yang kusuka sebebas mungkin.


Hingga akhirnya liburan musim dingin di pertengahan Desember tiba. Aku selalu bersemangat ketika menghiasi rumah dengan pernak-pernik natal. Rumah yang ramai dengan pernak-pernik natal, sebuah pohon natal berukuran sedang, lampu-lampu natal yang kerlap-kerlip selalu menjadi kesukaanku. Agar rumah tak terlalu sepi aku akan memasang musik-musik khas natal. Lagu miracle in Desember milik EXO juga akan selalu menjadi favoritku.


Kau tahu? Aku tak sabar mendengar kabar kalau Guanlin akan kembali dari London. Aku selalu menantikan ini setiap hari selama beberapa bulan terakhir. Aku juga sudah handal membuat bolu red velvet. Airish bahkan sampai ketagihan ketika kujadikan ia pencoba pertama. Karena semua universitas di Seoul sudah libur, semua teman-temanku pulang kampung. Kami jadi sering berkumpul lagi. Suasananya tak pernah berubah. Mereka selalu menjadi teman yang asyik.


Oh iya, aku sampai lupa. Apa kalian masih ingat Jennie? Saat ini dia mendekam di rumah sakit jiwa di Gangnam. Ketika kutanya teman-temanku kenapa bisa separah itu, mereka menjawab tidak tahu. Aku tak pernah dendam padanya. Sama sekali tidak. Justru aku kasihan padanya.


Saat ini kami berada di rumah Jihoon. Setiap hari kami akan bergantian sebagai tuan rumah. Oh, iya. Aku ingin mengatakam kalau Airish dan Jihoon sudah bertunangan. Apa kalian terkejut? Iya, aku juga. Jihyo dan Daniel juga berpacaran. Kalau itu aku tak terlalu heran. Itu sangat wajar. Seon yoo dan Ong juga berpacaran. Banyak yang sudah berubah dengan mereka, bukan? Tentu. Kami sudah beranjak dewasa.


Kami akan melakukan hal-hal menyenangkan selama berkumpul di setiap rumah. Lalu keesokan harinya kami akan berkumpul di rumah yang berbeda. Ini semacam reuni yang menurutku sangat indah. Aku selalu menikmati quality time bersama mereka.


Aku bertanya kapan Guanlin akan kembali Seoul. Mereka semua malah diam dan saling berpandangan. Ketika kulirik Airish dia malah menatap ke sekitar menghindari tatapanku. Daniel dan Jihyo juga sama. Mereka jadi sok fokus dengan ponselnya seakan tak mendengarku.


Melihat itu, Jihoon menghela nafas dan berkata kalau Guanlin akan kembali dalam beberapa hari. Kemungkinan besar sebelum natal tiba. Aku bertanya apakah ia serius. Jihoon mengangguk. Dan entah kenapa wajah mereka jadi mendadak aneh setelahnya. Bahkan suasana juga terasa sangat canggung.


Esok harinya, ketika jadwal di rumah Ong tiba, kami berangkat lebih cepat. Mereka sepakat akan datang jam 9 pagi agar memiliki waktu yang lebih lama untuk berkumpul. Ketika sudah sampai disana, aku melepaskan mantel yang kukenakan dan menaruhnya di sofa. Sepertinya belum banyak yang sudah tiba disini. Tak kudapati mereka di ruang tamu. Aku berniat ke ruang makan mencari mereka sambil menyesap coffe latte hangat yang kubeli dalam perjalanan kesini. Dan benar saja, mereka berada di ruang makan. Aku memperlambat langkahku ketika kudengar mereka tengah membicarakan hal yang sangat serius. Airish bahkan sampai sesegukan.


"Gue udah gatau lagi harus gimana. Ini semua terlalu membingungkan." Dia berujar sendu. Jihoon berusaha menenangkan dirinya. Aku makin penasaran apa yang tengah mereka bicarakan. Apa mereka merahasiakan sesuatu dariku?


"Gue juga ga sanggup kalau harus bohong lagi." Giliran Daniel yang angkat bicara.


"Terus kita mau gimana? Kita bakal jujur ke dia kalau sebenarnya Guanlin udah ga ada?! Lo harus pikirin perasaan Karin. Gue aja sesak bayangin kalau sebenarnya Guanlin udah ga ada. Apalagi dia. Dia cinta mati sama Guanlin. Kalian harus ingat!"


Jantungku berdegup sangat kencang mendengar ucapan Ong. Tempatku berpijak rasanya seperti berputar dengan tempo cepat membuatku pusing. Aku juga mulai merasa tubuhku tiba-tiba dingin dan pandanganku berkunang-kunang.


Brakk...

__ADS_1


Kopi yang berada di tanganku jatuh menyapa lantai. Membuat 4 orang yang berada di meja makan menoleh cepat ke arahku. Mereka memasang wajah super kaget. Mereka langsung memucat dan membeku di tempat ketika beradu pandang denganku.


Dengan terbata aku berusaha meloloskan kalimat dari mulutku. Sungguh, jantungku serasa sakit bak ditusuk-tusuk benda tajam.


"Guanlin udah ga ada? Kalian, maksud kalian apa?"


Mereka tak bisa menjawab. Airish malah menangis tanpa suara sambil menghindari tatapanku. Ia tak kuasa melihatku.


"Dimana Guanlin?" Aku kembali bertanya. Kali ini pandanganku benar-benar kabur karena air mataku. Tolong, hatiku nyeri luar biasa.


"Kalian bohongin gue?!"


"KENAPA KALIAN DIAM?!" Aku mulai berteriak histeris. Pertahananku luruh. Aku menangis sekuat mungkin untuk mengurangi sakit di hatiku. Aku terjatuh ke lantai karena tak sanggup berdiri sambil memegangi dadaku yang makin sakit.


"GUANLIN!!" Teriakanku memenuhi ruangan ini. Airish berlari ke arahku dan memelukku erat. Ia berusaha membuatku tenang padahal ia sendiri juga menangis.


Semua orang yang ada di rumah itu tak ada yang bisa menahan air mata. Bahkan mereka yang baru datang. Daehwi juga langsung memelukku erat. Laki-laki itu menangis tertahan sambil berusaha menenangkanku. Aku terus-terusan memanggil nama Guanlin. Aku merasa hancur lebur saat ini.


Tidak! Ini rasanya seperti mimpi. Kenapa mereka tega membohongiku? Aku merindukan dirinya setiap malam. Aku selalu melihat fotoku bersama dirinya. Aku selalu melihat video-video yang ada dirinya. Aku menulis banyak hal di diary ku tentang dia. Aku curhat pada simsimi tentang aku yang merindukan dia. Aku membuat wishlist yang akan kuwujudkan bersama dia kalau dia sudah kembali ke Seoul. Aku mendoakan agar dirinya baik-baik saja disana. Aku meningkatkan kemampuan bahasa inggrisku agar bisa menyamai kemampuan bahasa inggrisnya. Aku berharap akan menonton konser EXO bersama dirinya. Aku memimpikan dia setiap malam. Aku bahkan berlatih membuat bolu red velvet setiap akhir pekan agar dia bisa menikmati bolu kesukaannya yang kubuat sendiri.


Aku terlihat menyedihkan, bukan?


Kupikir aku bisa hidup dan tumbuh menua bersama dia. Kupikir kami akan selalu bersama. Kupikir aku dapat menghadiri wisudanya kelak. Kupikir dia tak akan meninggalkanku secepat ini.


7 bulan aku hidup dengan banyak angan-angan bersama dirinya. 7 bulan aku hidup bersama bayangan dirinya. 7 bulan aku membangun banyak harapan yang kelak akan kuwujudkan bersama dia.


Aku benar-benar sudah jatuh cinta sangat dalam padanya. Sangat dalam. Saking dalamnya, rasanya benar-benar aku tak akan menemukan dasarnya.


Tega sekali mereka membohongiku. Mereka jahat sekali.


Guanlin, tolong kembali...


TBC')

__ADS_1


__ADS_2