Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
18. I'm OK


__ADS_3

Happy reading")


Guanlin pergi ke kantin dengan ogah-ogahan begitu mendapat pesan dari Jennie. Tak lupa dia izin pada Karin sebelum pergi dengan alasan ingin membeli beberapa minuman.


"Langsung to the point aja Jen. Gue lagi sibuk nih."


Jennie tersenyum sarkas sembari melipat tangannya di depan dada, "Ada hubungan apa lo sama Karin?"


Guanlin menatap datar gadis di hadapannya ini. Ia ingin berucap namun gagal karena Jennie terlebih dulu menyabotase.


"Lo pacaran sama dia kan?"


"Ayo jawab!" Gadis itu mulai membentak keras. Guanlin berusaha menahan emosi agar ia tak sampai memukul perempuan. Ia kesal dengan Jennie yang seenaknya membentak dirinya.


"Emang kalo iya kenapa? Salah kalo gue pacaran? Tolong ya Jennie Pue, lo bukan siapa siapa gue. Bahkan nyokap gue ga pernah ngatur ngatur gue. Ada hak apa lo, hah?"


Jennie mengepalkan tangannya, "Lo lupa kalo gue itu calon tunangan lo?! Separah apa cewe murahan itu nyuci otak lo?!"


"Jaga omongan lo ya! Harusnya lo sadar disini yang murahan itu siapa!"


"Oh, lo mau bilang kalo gue yang murahan? Iya?!"


"Gue ga perlu ngejudge. Yang lo butuhin hanya intropeksi diri sendiri!" Ketusnya kemudian melangkah pergi. Namun sebelum Guanlin benar benar pergi laki laki itu kembali berbalik.


"Dan ingat satu hal! Jangan pernah macem macem lo sama Karin! Gue juga ga pernah nganggep lo sebagai calon tunangan gue. Ga sama sekali!"


Jennie menatap kepergian Guanlin. Perempuan dengan tubuh semampai itu berteriak kesal. Emosi menguasai dirinya.


"Awas lo Kim Karin!"


***


Pulang sekolah, Karin pulang bersama Guanlin. Ia kembali berbohong bahwa ia ingin belajar dengan Airish kepada mamanya. Sesungguhnya ia tak terlalu berbohong. Karena memang benar kalau ia ingin belajar, tapi dengan Guanlin.


Jujur, sejak Tiffany mengatakan bahwa ia tak boleh dekat dekat dengan Guanlin, Karin jadi tak mau lagi membahas Guanlin di depan mamanya. Ia bahkan menyembunyikan hubungannya saat ini dari mamanya. Apakah ia salah? Tolong seseorang beri alasan kalau memang ini salah!


"Gimana tadi test dari guru BK?" Tanya Guanlin ketika mereka berada diatas motor. Sengaja dirinya membawa motor dengan kecepatan sedang, tak ngebut seperti biasanya karena ia ingin berlama lama diatas motor dengan Karin. Ia merasa sangat bahagia luar dalam ketika Karin memeluknya.


"Lancar. Makasih ya Loy, kalau bukan gara gara lo ngajarin gue, gue pasti gagal."


"Gausah bilang makasih. Kaya ke siapa aja."


"Oh iya, kita mampir ke supermarket dulu deh. Gue mau beli bahan masakan."


"Hah? Ga salah denger nih gue? Emang lo bisa masak?"


Karin mencubit pinggang Guanlin pelan, "Gue udah bisa masak kok!"


"Wah, lo emang paket sempurna buat dijadiin calon istri."


Karin tertawa, "Emang gue mau jadi calon istri lo?"


"Pasti lo maulah. Siapa sih yang ga mau sama orang seganteng gue?"


"Gue lah."


Guanlin tertawa, "Ah, gue di PHP in nih berarti."


---


"Mau masak apa hari ini, nyonya?"


Karin tertawa, "Hm, beef teriyaki."

__ADS_1


"Lo tau masak beef teriyaki?" Guanlin bertanya meyakinkan. Karin mengangguk.


"Sebenernya gue tahu udah dari lama sih. Tapi males aja kasih tau sama lo."


"Kenapa?"


"Males ah, nanti lo suruh suruh gue lagi."


"Tapi sekarang gue udah tau dan gue bakal terus-terusan nyuruh lo buat masakin gue, gimana dong?"


"Ga mau ah." Balas Karin bercanda.


"Eh, Rin. Lo ga beli pembalut?" Tanya Guanlin polos ketika tak sengaja mereka melewati rak pembalut. Karin menatap sebal.


"Apaan sih Loy! Malu-maluin aja!"


"Hah? Emang kenapa? Kan cewe itu ti—" Ucapan Guanlin terhenti ketika Karin menyumpal mulutnya dengan tisu. Gadis itu berjalan duluan menuju tempat daging sapi berada.


"Gue salah apa sih?"


***


Karin meletakkan sepiring beef teriyaki buatannya diatas meja makan kemudian merebut paksa ponsel dari tangan Guanlin ketika laki laki itu asyik main game online.


"Makan dulu baru main game!" Titahnya bak seorang ibu pada anak laki lakinya. Guanlin mencubit pipi Karin saking gemasnya membuat Karin berterial minta pipinya dilepaskan.


"Lo lagi latihan jadi ibu rumah tangga yang baik ya, Rin?" Tanyanya sejenak setelah ia melepaskan cubitannya.


Karin masih memandang sebal sambil memegangi pipinya yang memerah karena cubitan Guanlin. Bekas cubitan Guanlin yang memerah begitu kontras dengan kulit Karin yang putih bersih.


"Ngomong apaan sih? Buruan makan. Gue udah cape masakin lo. Kalo sampe lo ga makan, gue bakal ngasih lo hukuman."


"Karin ngambekan ah."


Guanlin tersenyum. Hatinya menghangat melihat sikap perhatian Karin padanya. Ia jadi mengingat mamanya setiap Karin memedulikan dirinya. Rasanya ia ingin memeluk gadis ini erat. Tapi Guanlin tahu, itu sama saja dengan cari mati.


"Gue jadi ingat nyokap tiap lo cerewet sama gue."


Karin menghentikan suapannya lalu menatap laki laki itu lekat. Tersirat jelas kalau ia sedih. Karin mendekati Guanlin kemudian memeluk laki laki itu hangat.


"Lo pasti butuh pelukan gue kan?"


"Kok lo tau sih?" Tanyanya heran, namun tak urung untuk membalas pelukan laki laki itu.


"Gue orangnya peka."


"Makasih karena lo udah peduli sama gue, Rin. Gue jadi berasa punya nyokap, kakak, dan adek diwaktu yang sama. Gue seneng punya lo."


Karin tersenyum. Ia tak menjawab. Ia bisa merasakan bahwa laki laki yang tengah memeluk dirinya ini bicara tulus.


"Kalo gue minta biar lo jangan pernah ninggalin gue mau ga?" Tanya Guanlin sambil mengelus lembut rambut kecoklatan Karin. Gadis itu mengangguk cepat.


"Iya. Selama lo juga selalu ada buat gue, gue pasti selalu bersama lo kok."


Guanlin tahu bahwa Karin memang benar benar mencintainya saat ini. Ia senang perasaannya berbalas. Sungguh. Ia kira Karin tak akan pernah memaafkannya karena kesalahannya di masa lalu.


"Udah ah. Gue kan masih harus beresin rumah lo. Liat nih. Ini rumah apa kapal pecah sih? Berantakan banget."


Guanlin terbahak melihat Karin kembali ke sifat cerewetnya. Ia kemudian makan dengan lahap karena masakan Karin memang pantas diacungi jempol. Satu hal yang membuat Guanlin sebal pada Karin. Gadis itu ternyata dulu hanya pura pura tidak tahu memasak agar Guanlin tidak menyuruhnya memasak. Maklum saja, saat itu ia masih benci dengan dirinya.


Guanlin terus memperhatikan gerak gerik Karin ketika gadis itu membersihkan setiap sudut rumahnya. Ia merasa kecantikan Karin meningkat ketika gadis itu menggelung rambutnya dan mencepolnya asal.


"Lo kok manis banget sih, Kim Karin."  Batin Guanlin.

__ADS_1


Setelahnya, mereka berdua sibuk belajar. Kalau Karin bisa jujur, ia bisa paham lebih cepat kalau Guanlin mengajarinya. Laki laki ini memang supel. Ia punya trik khusus yang ia buat sendiri agar Karin mudah mengerti.


"Minggu depan ulangan matematika. Gue harap lo bisa tingkatin nilai lo." Kata Guanlin ketika dirinya mengantar gadis itu pulang. Guanlin kemudian melepas helmnya dan memberikan benda bulat itu pada Guanlin.


Guanlin sudah tahu tentang Tiffany yang tidak menyukainya sehingga ia menuruti permintaan Karin menurunkannya di gerbang komplek.


"Iya pasti. Lo hati hati ya dijalan."


Guanlin mengangguk dengan senyuman. Ia melambaikan tangan sebelum ia benar benar melajukan motornya. Karin melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Hari ini ia benar benar bahagia.


Namun, tak lama kemudian gadis itu tampak tergesa-gesa karena menyadari bahwa kurang lebih sejam lagi ia harus berangkat bekerja.


"Darimana aja kamu?"


Nafas Karin tercekat begitu ia sampai di depan rumahnya. Tiffany ternyata menunggu dirinya di depan pintu.


"Kan Karin tadi udah telfon mama. Karin belajar sama Airish buat persiapan ulangan matematika minggu depan." Bohongnya.


Mata Tiffany menatap tajam seakan dapat menguliti Karin hidup hidup.


"Kamu ga perlu bohong sama mama Karin. Tadi mama ketemu sama Airish di toko tante Seulgi. Kamu mau ngarang kebohongan apalagi sekarang?"


Karin menelan saliva kasar. Ia bingung kenapa ia bernafas manual sekarang. Gadis itu menunduk takut.


"Maafin Karin, ma. Tadi Karin habis dari rumah Guanlin."


Tifanny membuang nafas kesal. Ia heran kenapa Karin sekeras kepala ini.


"Guanlin itu bukan cowo baik baik kaya yang kamu pikirin, Karin. Mama ingetin ke kamu sekali lagi. Dia adalah orang yang udah bikin kamu punya trauma parah 3 tahun lalu. Kamu mau ngulang kesalahan yang sama?"


"Mama harus percaya sama aku, dia itu udah berubah, ma. Dia emang sayang sama aku dengan tulus."


"Sekarang aku tanya sama mama. Mama sayang ngga sama papa?"


"Mama ga perlu jawab, kamu pasti tahu jawabannya."


"Mama pasti pernah kan ngerasa takut kehilangan papa walau akhirnya mama ngalemin itu. Kaya gitu, ma. Kaya gitu juga perasaan aku kalo mama ngomong kaya gini. Ma, tolong ngertiin perasaan aku." Karin berucap parau banjir airmata membuat hati Tifanny terasa teriris. Ia menghampiri putri semata wayangnya itu kemudian memeluknya sayang sambil mengelus punggungnya menyalurkan kehangatan.


"Ma, tolong ngertiin perasaan aku."


Akhirnya, dengan berat hati ia terpaksa mengiyakan permintaan Karin. Ia mengangguk sebagai jawaban tanda setuju. Memaksa tersenyum walau hatinya berat.


"Yasudah. Mama ngizinin kamu dekat lagi sama Guanlin."


"Hah? Mama serius?"


Tifanny mengangguk sambil tersenyum lembut.


"Iya, Karin."


Karin bersorak bahagia ketika Tifanny mengizinkan dirinya. Ia kemudian memeluk mamanya penuh sayang.


"Makasih, Ma."


"Giliran gini aja kamu baru senang."


"Mama kaya ga pernah jatuh cinta aja, ih." Sungutnya dibuat buat.


"Halah, kamunya aja tuh yang bucin. Tapi kamu harus ingat satu hal, kamu harus janji sama mama. Kalau Guanlin buat kamu kecewa, kamu harus ngasih tau sama mama. Oke?"


"Iya, ma. Janji."


TBC

__ADS_1


__ADS_2