Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
03. (un)Lucky day


__ADS_3

"Like diamond."


___ooOoo___


KARIN POV


Aku turun dari mobil Jaehwan setelah sampai tepat di gerbang sekolah. Hari ini dengan baik hati dia mau mengantarku setelah semalam menemaninya adu karaoke. Well, it's not bad. Akhirnya, aku bisa tertawa lepas ketika adu nyanyi dengan Jaehwan.


"Yang baek lo sekolahnya. Ketauan pacaran gue geprok lo!" Euh, itu ancaman yang terdengar jadul menurutku. Aku berdecih pelan. Ingin balik mengatainya, namun dia memang tak sedang pacaran. Kalau Jaehwan bilang 'Ga lah. Gamau pacaran gue. Lebih enakan jadi playboy' aku hanya mengangguk paham. Pasalnya, jika dibahas lebih lanjut, Jaehwan akan memaparkan seluruh kelebihannya. It's too bored.


"Nanti jam 3 jemput gue! Awas kalo lo ga datang, gue usir lo dari rumah gue!"


"Iye iye. Cerewet bener pantas lo ga laku laku." Omelnya sarkas.


"Eh, kodok! Yang tadi ngatain jangan pacaran siape sihh? Gue tabok juga lo!"


Jaehwan cengengesan menampilkam wajah bodohnya yang minta ditampol.


"Udah ah. Gue mau cabut. Ntar temen temen lo liat gue, mereka malah suka lagi. Kan berabe kalo gue jadi artis dadakan dan lo jadi tukang ngirim barang dadakan."


"Dih pede banget dahh! Sana lo!"


Jaehwan menjalankan mobil hitam metaliknya dengan kecepatan normal. Sebelumnya, dengan jelas aku bisa dengar kalau dia menyanyikan lagu milik salah satu penyanyi terkenal. Nah, kan. Sebutan 'sing a song everytime everywhere' itu ga salah sama sekali.


"Woi, murid baru!" Aku berbalik ketika mendengar suara seorang siswa laki laki memanggilku. Kulihat sebentar. Aku tak kenal. Laki laki itu berlari mendekat.


"Mau ke kelas kan? Kuy bareng." Ajaknya langsung menarik tanganku dan berjalan melintasi sorot mata siswa lainnya yang menatap dengan penuh tanya. Aku risih.


"Eh, lepasin dong. Siapa sih. Sok kenal banget lo!" Protesku kesal. Cowo tanpa dasi itu melongo heran. "Lo ga inget siapa gue? Busett!"


"Ga. Ga kenal. Permisi." Aku pergi begitu saja melewati ramainya lorong sekolah di pagi hari ini. Sesaat setelah masuk ke kelas aku tak melihat sosok Airish disana. Padahal baru saja aku ingin mengajaknya menemaniku ke ruang loker. Mau tak mau aku pergi sendiri, karena harus mengambil buku matematika.


Sambil bermain ponsel, aku melihat notif chat dari grup kelas yang asyik membicarakan adanya ulangan matematika hari ini. Aku berdecak kesal. Kenapa mereka baru membicarakannya sekarang? Aku yang belum punya persiapan, pasti akan gagal. Jangankan tak punya persiapan, mau belajar semalaman pun belum tentu aku bisa mendapat nilai bagus.


"Liatin apaan lo?"


"Chat grup. Masa katanya ulangan matematika sekarang. Gue yakin kalo gue bakalan gagal."


"Oh, need some help?"


Aigooo!!


Sadar, aku mengangkat kepalaku dan terkejut setengah mati melihat sosok seorang siswa laki laki jangkung dihadapanku. Aku mundur beberapa langkah karena jarak yang kurasa terlalu dekat. Good heaven!!! Bagaimana aku bisa bodoh begini sih? Kenapa aku bahkan tak sadar kalau aku sendirian kesini.


"Hai, Kim Karin." Sapanya datar dengan sedikit senyum yang nyaris tak terlihat di wajahnya. Jantungku berdebar kencang. Bukan, ini bukan berarti aku jatuh cinta layaknya seorang gadis seperti di novel novel. Jantungku berdebar karena takut. Entah kenapa aku jadi bernafas manual.

__ADS_1


Mimpiku semalam nyata! Dia disini. Di tempat yang sama denganku. Di hadapanku.


Aku berbalik arah dan pergi dengan tergesa gesa. Cowo jangkung itu mengejarku hingga aku berlari menuju sebuah lorong sempit bertangga. Aku tak tahu kemana aku pergi intinya aku harus menghindari cowo berbahaya itu. Sialnya, dia tetap mengejarku hingga aku sampai di tempat dimana kau bisa melihat seluruh penjuru kota darisana. Welcome to rooftop.


Ketika aku sedang terkesima menatap pemandangan, laki laki itu sampai di belakangku dengan nafas tersengal sengal. Aku beringsut mundur ketakutan.


"Gue ga berniat jahat."


Aku menggeleng dengan perasaan kalau stok oksigen yang dapat kuhirup semakin sedikit. Aku meraih inhaler dari saku tasku dan memakainya hingga aku dapat lega.


"Lo kenapa?" Tanyanya lagi dengan suara datar namun sama sekali tak menghilangkan aura angkuh miliknya. Aku hanya diam memandangi laki laki psycho di depanku. Suasana jadi awkard karena pada akhirnya tak ada yang berbicara. Beberapa menit kami hanya saling memandang hingga akhirnya dia buka suara lagi.


"Kenapa lo ada disini?"


Aku diam.


"Lo tahu gue disini, makanya lo ikutin gue kesini?"


Tetap diam.


"Lo bukannya benci banget ya liat gue? Tapi lo kok malah ikutin gue kesini?"


Ingin aku membantah, namun pilihanku tetap bungkam. Laki laki itu berdecak. Aura kesal nampak dari dalam dirinya. But, ***** please, i don't care anymore!


"Jawab! Untuk apa lo disini?" Tanyanya sarkas bersamaan dengan bunyi ponselnya berdering. Meraih ponselnya dibalik kantung celana belakang, laki laki itu berbalik dan menjawab telfon.


"...."


"Ga peduli."


"....."


"Sialan lo! Iya deh bentarann!"


"...."


"Hmm."


Tuttt...


"Lo gak mau balik ke kelas? 5 menit lagi ulangan dimulai." Jelasnya datar dan kemudian pergi terlebih dulu dari rooftop. Aku mendesah lega setelah sosok tinggi jangkung itu hilang dibalik pintu rooftop. Setelahnya aku menyusul mengingat ulangan yang akan diadakan 5 menit lagi.


***


"Sebelum saya mengadakan ulangan, saya akan menjelaskan beberapa materi yang kemungkinan besar belum kalian pahami." Guru yang aku tahu bernama mrs. Sohye itu mengambil spidol dan mulai menjelaskan materi di whiteboard semua siswa asyik menyimak tak terkecuali aku. Aku ingin segera paham materi ini agar tak mendapat nilai jelek nantinya.

__ADS_1


Ketika tengah asyik menulis materi, aku merasa ada seseorang yang memandangiku. Aku mulai merasa risih karena sedari tadi merasa diperhatikan. Aku memberanikan menoleh ke belakang di seberang barisan kursiku, yang dengan langsung aku mendapati seorang Kang Daniel menengok kearahku. Laki laki itu langsung mengalihkan pandangannya ke papan tulis. Seperti baru kepergok mencuri kucing tetangga.


Aku tak terlalu memikirkan hal itu.


"Baik, saya harap kalian semua paham. Sekarang harap mejanya dikosongkan. Kita akan segera ulangan."


Aku membuang nafas kesal. Aku harap soalnya tak begitu sulit. Atau barangkali soalnya bentuk penjumlahan bilangan bulat saja seperti layaknya anak SD agar nilaiku bagus.


Mrs. Sohye mulai membagikan kertas soal satu persatu bersama dengan kertas buram untuk coretan. Semua asyik mengerjakan soal yang sebanyak 35 soal itu.


"Waktu kalian hanya 40 menit. Siap tidak siap nanti kalian harus mengumpul. Paham?"


"Paham, mrs."


Ruangan kelas hening. Sesekali terdengar suara decakan siswa yang mungkin kesal dengan soal ini. Lalu bagaimana aku? Hanya lima dari soal ini yang bisa aku jawab. Tapi aku tak pantang menyerah. Aku berusaha fokus mengerjakan soal.


AUTHOR POV


Mrs. Sohye hanya memberikan waktu 40 menit untuk soal ulangan sebanyak 35 butir ini. Semua siswa nampak serius mengerjakan kecuali yang sudah selesai di menit ke 13. Siapa? Tentu saja laki laki jangkung yang selalu menjuarai setiap olimpiade matematika, Lai Guanlin.


"Psst." Seongwoo yang tak mampu lagi menghadapi cobaan mulai mencari bantuan pada Guanlin. Guanlin menoleh dan langsung tahu apa mau sahabatnya sejak masih taman kanak kanak itu. Dengan santai dia memberikan lembar jawabannya membuat Seongwoo memuji kebaikan Tuhan. Guanlin hanya menggeleng menatap kelakuan temannya.


"Eh, habis lo oper ke gue, oke?" Tawar Daehwi yang sama sama memilih menyerah dengan soal itu.


"Cheese burger jumbo, deal?"


Daehwi mendecak kesal. Hey, yang punya kertas siapa, yang sok siapa? "Buset si Hongsengwu, oke dehh buruann!"


Seongwoo hanya cengingiran bahagia. Daehwi menatap Jihoon di depannya yang nampak serius.


"Hun, lu ga mau kertasnya Guan?" Tanyanya menawarkan dengan suara sepelan mungkin. Ya kali saja Jihoon mau, maka ia akan menegosiasikan hal yang sama dengannya. Jihoon berbalik dan menggeleng. "Ga. Kali ini gue mau mandiri."


"Halah, upil kuda lo. Sok sok an mau mandiri. BAB aja gue yang cebokin!" Omelnya asal. Jihoon berusaha menahan tawanya. "Gue serius kamfankk!"


Daehwi berbinar menatap keseriusan Jihoon. Oke, Daehwi memang tahu kalau Jihoon itu juga temannya yang pandai dalam segala hal. Tapi biasanya, Jihoon tak mau ambil pusing dan ikut ikutan mengemis jawaban dari Guanlin yang supell.


"Baik, waktu kalian tersisa 15 menit lagi. Yang merasa selesai silahkan cek jawabannya." Komando mrs. Sohye dari depan membuat siswa nampak urung uringan. Terlebih Karin yang baru mengerjakan 8 soal. Otaknya mendadak buntu seketika. Ingin minta bantuan pada Airish, namun dia merasa gengsi untuk menyusahkan cewe yang baru dikenalnya itu. Duh, kok ribet gini.


Di sisa sisa waktu yang sangat sedikit, Karin tetap berusaha hingga berhasil mengerjakan 2 soal lagi.


"Baik kumpulkan." Suara komando mrs. Sohye bersama dia yang mulai menghitung mundur dari lima, membuat siswa mau tak mau menyerahkan kertas jawabannya tak terkecuali Karin yang berhasil mengerjakan 10 soal saja.


"Baik. Nilai kalian akan ibu berikan 3 hari terhitung sekarang. Selamat pagi."


"Pagi, mrs."

__ADS_1


"Huh, capeknya!!!"


Tbc")


__ADS_2