
🎧 Can you see my heart ~ Heize
Happy reading")
Guanlin tak salah lihat. Dua orang yang sedang berpelukan itu memang Karin dan Daniel. Si brengsek itu berani beraninya! Guanlin memukul pohon disampingnya untuk menetralkan emosinya. Luka yang kini menciptakan luka baru diatas luka tadi siang.
Tak tahu kenapa, hatinya sakit saat melihat Karin dipeluk orang lain. Bisa saja dia menghampiri mereka dan melayangkan tinjuan pada Daniel. Namun, ia yakin hal itu akan semakin memperkeruh suasana. Terlebih hubungannya dengan Karin saat ini sedang tidak baik.
Guanlin memutuskan pulang bersamaan dengan turunnya salju pertama di bulan Desember. Sialan! Kenapa Desember kali ini sangat menyakitkan?
Karin terkejut begitu salju mengenai punggung tangannya. Ia melepas pelukannya dan tanpa sengaja melihat sosok Guanlin yang berjalan menjauhi area taman. Pertanyaan apakah laki laki itu melihat dirinya berpelukan dengan Kang Daniel berputar putar mengisi otaknya. Karin ingin mengejar tapi ingat, ia juga ingin bersikap bodo amat.
"Karin."
Suara serak Daniel membuatnya tersadar. Laki laki itu nampak parah. Ia berusaha berdiri namun susah. Sempoyongan.
"Gue anter lo pulang." Putus Karin pada akhirnya. Daniel tak menjawab membuat Karin mendengus dan langsung menuntun laki laki itu. Fyi, Karin sudah tahu dimana rumah Daniel ketika suatu kali Airish mengajaknya mengantar hoodie kerumah Daniel. Jaraknya memang lumayan jauh dari taman, tapi akan lebih jauh jika ia hanya menunggu taksi yang kemungkinan besar tak akan datang. Ingat, ini hampir tengah malam.
Karin berusaha membuka gerbang dengan salah satu tangannya tetap memegangi Daniel. Laki laki bongsor ini sungguh merepotkan dan menguras tenaga. Karin tak bohong.
Kembali dengan langkah terseok seok Karin memapah Daniel menuju rumahnya. Kali ini dewi fortuna berbaik hati padanya. Pintu rumah ini tidak dikunci. Dengan usaha keras Karin berhasil memapah Daniel dan melemparkannya ke sofa tanpa perasaan.
"Ngerepotin banget lo!" Omelnya kemudian keluar dengan langkah gontai. Sesekali Karin menelengkan kepalanya kanan-kiri guna mengurangi rasa pegal. Sayup sayup Karin mendengar suara tangis. Bukan ini bukan hantu karena ini lebih terdengar seperti tangisan cool. Karin berputar menuju bagian belakang rumah Daniel. Salahkan rasa keponya yang menggebu gebu.
Guanlin?
"Guanlin? Ngapain lo disini?"
Karin memasang wajah bingung. Bagaimana bisa Guanlin berada di rumah Kang Daniel? Setaunya dua laki laki ini adalah rival abadi. Oh, apa jangan jangan Guanlin ingin memukuli Daniel? Karin tidak boleh membiarkan hal ini terjadi!
"Gue tau, lo mau apa apain Daniel kan? Gabisa gabisa. Mending lo sekarang pulang!" Titah Karin keras.
Guanlin meremas kaleng soda ditangannya membuat kaleng itu remuk mengenaskan. Karin bergidik ngeri. Terlebih saat Guanlin bangkit dari duduknya dan menghampiri dirinya. Wajah laki laki itu memerah. Karin otomatis mundur seiring dengan Guanlin maju mendekatinya. Bodoh! Kenapa otaknya seakan terlalu lambat untuk melarikan diri. Ia kenal dengan sosok lain Guanlin saat ini. Laki laki ini sedang dalam kondisi marah.
"Harusnya gue yang nanya ngapain lo disini?" Ucapnya dengan nada dingin. Karin meneguk saliva kasar. Ia takut.
"Gu, Gue abis nganterin Da—"
Guanlin mendecih, "Murahan!"
Karin menahan air matanya. Gadis itu selalu sakit bila dikatai murahan. Niatnya hanya ingin mengantar Kang Daniel. Hanya kebaikan karena rasa kemanusiaan. Tak lebih.
"Lo bakal ngelakuin hal yang sama kan kalo gue di posisi Daniel? Juga cowo cowo diluaran sana. Lo bakal ngelakuin hal yang sama kan? Itu tuh defenisi murahan." Guanlin menekan setiap ucapannya, dan menunjuk tajam ketika mengatakan 'murahan'.
Punggung Karin menyapa dinding dingin rumah besar ini. Ia merasa bahwa jantungnya berdetak begitu cepat. Bahkan dirinya keringat dingin.
"Gue cuman mau nolong dia."
"Halah! Gausah ngelak Kim Karin. Murahan tetap murahan!"
Plakkk...
__ADS_1
Air mata Karin turun bersamaan dengan dirinya menampar Guanlin. Kemarahannya meningkat ketika laki laki itu terus mengatainya murahan.
"Iya! Gue bakal nolongin Daniel kalau dia mabuk. Gue juga bakal nolongin cowo cowo diluaran sana kalau mereka mabuk. Tapi kalau lo yang mabuk, gue bakal biarin lo. Biar lo mati sekalian." Cerocosnya dengan air mata terus mengalir. Tangan Guanlin mengepal kuat. Ia meninju dinding di belakang Karin membuat lukanya kembali berdarah. Karin menutup mata dalam dalam.
"Kenapa? Kenapa lo ga mukul gue aja? Ayo pukul gue! Gue lebih baik mati daripada berurusan sama cowo breng—"
Karin menghentikan ucapannya ketika bibir laki laki itu menyapa kasar bibirnya. Guanlin menuangkan kemarahannya lewat ciumannya. Ia tak peduli lagi apakah setelah ini Karin kembali menamparnya atau bagaimanapun itu. Karin mendorong kuat dada laki laku itu. Berusaha melepas ciuman mereka. Namun nihil. Guanlin meraih tangannya dan menggenggamnya keras. Karin tentu tak tinggal diam, ia semakin berontak hingga akhirnya ia bisa lepas dari Guanlin. Guanlin dapat melihat bekas luka di bibir gadis itu.
"Brengsek lo!" Ucapnya emosi berurai air mata.
"Kenapa lo ga nampar gue?"
Karin tak menjawab. Dengan langkah cepat ia pergi darisana sebelum suara parau Guanlin menghentikan langkahnya.
"Jangan tinggalin gue, Kim Karin."
"Setelah mama, papa, sekarang lo juga mau ninggalin gue? Gue sendiri. Gue sepi setiap hari. Tolong jangan tinggalin gue."
Air mata Karin mengalir semakin deras. Suara laki laki itu terdengar putus asa. Kata katanya membuat hatinya terenyuh.
"Gue usil sama lo tiap hari, gue selalu caper sama lo tiap hari, karena gue ga mau lo pergi lagi. Gue ngerasa setengah jiwa gue yang hilang balik ke gue, semenjak lo datang kesini."
Karin tau laki laki itu menangis, sama seperti dirinya.
"Lo gabisa liat hati gue? Lo ga sadar perasaan gue ke lo? Semua yang gue lakuin semenjak lo datang kesini, karena gue ga mau lo pergi lagi. Lo gatau seberapa hancur gue dulu pas lo ninggalin sekolah."
"Atau mungkin lo pura pura gatau kalo gue selalu ada buat lo?"
"Gue mulai cape, Rin. Sekarang semuanya terserah lo. Gue mau istirahat. Hati hati di jalan. Jangan lupa ngobatin bibir lo. Selamat malam."
Karin berbalik dan menatap kepergian Guanlin. Ia tak tahu kemana laki laki itu akan pergi. Ia justru keluar dari halaman rumah ini dan menghilang di tikungan jalan. Air mata Karin menetes. Kenapa hatinya serasa ditusuk tusuk? Rasanya sakit sekali. Ia menutup mulutnya dalam agar tangisnya tak bersuara. Tak tahu bahwa sedari tadi Daniel mengintip dan mendengar semua percakapan mereka dari balik jendela.
Can you see my heart, too?
***
Karin melangkah gontai menuju kelasnya. Hari ini seakan sangat berbeda dengan hari lain. Ia kesal dengan hari ini yang begitu dingin. Mengeratkan mantel yang ia kenakan, Karin melihat Guanlin berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Bahkan laki laki itu tak menyapa atau bahkan menatapnya ketika mereka berpapasan. Ia tetap berjalan maju, sambil menatap kosong ke depan. Mengacuhkan dirinya. Karin menahan sesak di dadanya. Mata gadis itu berkaca kaca. Ia benci dengan dirinya yang cengeng. Kenapa juga ia harus menangis? Bukannya ini yang dirinya inginkan?
"Gue mulai cape,Rin...."
*Note: Matiin musiknya yaa")
***
"KFC kuy." Usul Daehwi. Ayolah, sangat membosankan sore sore pada weekend begini hanya berdiam diri di rumah.
"Ada promo 4 pieces chicken HCC/O.R/MIX, 3 rice, 3 coca cola med, 2 KFC sundae, 3 pieces ayam varian original recipe sama hot and crispy chicken, 2 mocha float, dan kita bisa dapat masing masing satu mainannya."
Guanlin, Ong, dan Jihoon melongo mendengar Daehwi menjelaskan promo itu. Daehwi sampai sehapal itu. Coba kalau menghapal tata senyawa biner, dia pasti tak sanggup.
"Gue curiga lo karyawan KFC."
__ADS_1
"Masa bodoh. Kuylah. Gabut banget *****." 4 Laki laki itu akhirnya lebih memilih menyudahi acara main PS dan mengikuti saran Daehwi.
"Ong yang nyetir. Ga pake koma." Jihoon langsung berucap ketika Ong ingin membantah.
---
Jihoon melempar sekaleng cola ke arah Guanlin yang sedang melamun, namun Guanlin dengan gerakan cepat menangkapnya. Daehwi tepuk tangan terpukau.
"Mantul bang. Lo emang benar benar calon intel."
"Hubungannya apa bege." Ong menempeleng kepala Daehwi. Laki laki pendek itu komat kamit mengomel, tak lupa tangannya mencubiti Ong. Ong tak tinggal diam. Ia balas menarik rambut Daehwi.
"Jangan siksa dewiku." Jihoon menengahi mereka berdua tak lupa berlagak sok dramatis. Guanlin tertawa melihat tingkah absurd temannya itu.
"Amit amit jabang bayi. Ini nih ciri ciri cowo kurang belaian." Daehwi memukul kepalanya pelan sambil menjauh dari Jihoon.
"Sembarangan kalo ngomong."
"Ya maap bang, salah siapa situ jomblo." Ong membalas sambil memakan chicken hot and crispy pesanan Guanlin. Guanlin menatap Ong sebal.
"Lah, kok tau ngana?!"
"Keliatan banget tuh mukanya jonesable." Ong menjawab enteng disusul tawa Daehwi. Guanlin pun tertawa mendengar penistaan terhadap Jihoon.
"***** lo Ong! Mending jomblo kaya gue daripada lo yang cintanya ditolak mentah mentah!"
Daehwi dan Guanlin kembali tertawa. Mereka ingat bagaimana suatu kali Ong curhat sambil menceritakan dirinya yang ditolak oleh seorang gadis berstatus adik kelas. That's so ashame.
"******* lo semua ah!"
"***** baperan si Ong." Guanlin meledek disusul tawa Jihoon dan Daehwi. Tempat ini jadi mendadak ribut sejak 4 orang itu datang. Setelah tawa mereka mereda, Jihoon melihat Jennie cs.
"Loy, Jennie tuh." Guanlin berubah panik seketika.
"******, gimana nih gue."
Laki laki itu repot sendiri. Daehwi dan Ong tertawa keras untuk membuat Jennie cs sadar kalau Guanlin berada disini. Satu satunya teman yang dapat diharapkan adalah Jihoon.
"Mending lo pulang lewat pintu belakang. Lo rayu kek lo apain kek karyawannya. Yang penting lo bisa keluar darisini." Saran Jihoon. Yang benar saja. Masa Guanlin harus pake acara merayu sih?
"Awas ya kalian berdua. Hun, jangan bayarin mereka. Biar mampos tuh si Ong." Ancam Guanlin kemudian dengan sembunyi sembunyi pergi darisana.
"Jangan dong, Hun. Gue berantem sama bokap nih. Ga punya duit." Bohongnya. Ong ini memang terlalu malas untuk membayar makanan. Bukan, bukan karena dia pelit. Namun prinsip hidupnya adalah hemat.
"Halah sok miskin lo. Jam tangan lo tuh, jual sana!" Daehwi menunjuk jam tangan rolex yang Ong kenakan.
"Jangan bang, hasil nyopet nih."
"Kalian disini? Guanlin mana?"
Saolloh, repot amat sih nekkk:"(
__ADS_1
TBC")