
Happy reading")
Untuk kesekian kalinya, Guanlin kembali menghapus mulutnya dengan pinggiran kemeja yang ia kenakan. Ia bergidik jijik mengingat beberapa menit lalu ia mencium tangan mbak-mbak pegawai KFC dengan terpaksa agar tak bertemu dengan Jennie. Tak tanggung tanggung, mereka memaksa Guanlin meminta selcam dengannya. Hanya butuh mbak KFC memanggilnya "Oppa, oppa!!" Maka ia akan berasa artis Kpop.
"Ngeri banget satu harian ini." Omelnya sambil melanjutkan jalannya. Oh iya, Guanlin memutuskan tak membawa mobilnya karena berpikir bagaimana teman temannya bisa pulang kalau Guanlin naik mobil. Alhasil ia memutuskan berjalan. Masih baik salju belum turun sore ini.
"Sialan si Jennie. Ngerusak weekend gue aja *****."
"Lepasin gue brengsek!"
Guanlin menghentikan langkahnya begitu mendengar suara familiar itu.
"Karin?"
Berlari cepat, Guanlin menuju ke arah jalan buntu dimana suara itu berasal. Dan benar saja! Itu Karin. Gadis yang menamparnya tadi malam itu tengah berhadapan dengan seorang pria tua berperut buncit. Emosinya kian mendidih melihat pria tua itu meraba tangan Karin.
"Woi anjing! Minggir gak lo!"
Karin terkejut namun ia juga bernafas lega disaat bersamaan. Guanlin, laki laki itu ada disana.
"Atau lo pura pura gatau kalau gue selalu ada buat lo?"
Kalimat yang Guanlin ucapkan malam itu, apakah artinya adalah ini?
"Hey, bocah! Jangan suka mencampuri urusan orang! Kau ini seperti tidak dididik orangtua mu saja!"
Tangan Guanlin mengepal kuat, "Emang gue ga didik orangtua gue! Pergi sebelum lo mati disini!"
"Bocah kurang ajar!"
Karin menahan nafas ketika menyaksikan Guanlin dan pria itu baku hantam. Terlebih lagi saat pukulan pria itu menyapa sudut bibir Guanlin. Karin mengernyit nyeri. Guanlin terluka. Tentu saja. Laki laki itu banyak terluka karena harus menolongnya. Satu hal yang membuat Karin bernafas lega adalah ketika Guanlin berhasil mengalahkan pria itu. Ia terkapar menyedihkan. Guanlin memang terluka namun pria itu lebih memiliki banyak luka.
Setelahnya, Guanlin berbalik. Pergi menjauh tanpa mengucapkan apa apa. Ia bahkan tak menoleh ke arah Karin ketika ia pergi. Karin melongo tak percaya. Apa apaan sih dia? Ia tentu tak diam saja disana.
"Guan! Tunggu!"
Ia tak berhenti.
"Guan! Lo denger ga sih?"
Tetap saja tak berhenti.
"Loy!"
Nah, kenapa sekarang dia berhenti? Orang aneh. Tak membuang waktu, Karin berlari mendekat.
"Kenapa ga nungguin gue sih?" Tanya Karin ketika ia berhenti tepat di depan Guanlin. Gadis itu menghela nafas membuang lelahnya.
"Lo manggil gue 'Loy'?"
Karin mengangguk, "Emang kenapa? Boleh dong, kan yang buat nama itu gue."
"Iya. Terserah."
Karin menatap tak percaya pada Guanlin. Laki laki itu sok cuek dan kini berjalan duluan meninggalkannya di belakang. Yang pantas marah itu kan dirinya. Kenapa Guanlin jadi bertingkah aneh sih? Karin berlari menyejajari langkah Guanlin.
"Eh, orang aneh! Lo marah sama gue?"
"Pikirin aja sendiri."
"Geli ih, liat lo sok cuek. Biasanya juga repot nyerocos kaya tante tante komplek."
"Lo mau gue cium?" Karin melayangkan tatapan membunuh pada Guanlin. Nyatanya, ia ingin tertawa melihat raut lucu gadis pendek di hadapannya ini. Namun menurutnya, itu sangat tidak cool.
"Awas lo kalo macam macam lagi sama gue."
"Makanya jangan ngatain gue tante komplek. Emang pernah tante komplek nyium lo? Ngga kan."
"Makanya jangan cuek sama gue."
"Gue males ah, ketemu sama lo."
"Dih, padahal lo rindu kan sama gue!"
"Sembarangan kalo nuduh. Si Komo tuh yang rindu sama lo."
Karin mengerucut kesal. Komo itu nama anjing paling galak yang dimiliki oleh salah satu satpam sekolah. Ia suka kesal melihat anjing itu. Pasalnya, pernah suatu saat ketika ia berniat meminta kunci laboratorium biologi pada pak satpam, anjing itu malah menggonggonginya. Karin serta merta lari ketakutan. Oke, kalian tentu tau apa kejadian selanjutnya. Hal itu adalah penyebab mengapa Karin kesal melihat anjing bernama Komo itu.
"Btw, anterin gue dong."
__ADS_1
"Males. Pulang aja sendiri."
Karin mendengus kesal. Ia berhenti membiarkan Guanlin berjalan sendirian. Karin masih menunggu cukup lama. Berharap laki laki itu akan berbalik. Namun, nihil. Alhasil, Karin memutuskan berjalan ke halte. Ia ingin marah. Tapi biarkan sajalah. Mulai hari ini ia tak mau lagi peduli lagi dengan laki laki jangkung itu. Bodo amat dengan semua urusan yang berkaitan dengannya.
Tapi jujur, ia takut menunggu sendirian di halte. Tolong, ini malam minggu. Ia takut ia akan diculik om om preman seperti tadi. Karin mengambil ponsel di sakunya dan mendial nomor Airish. Satu satunya orang yang dapat ia mintai tolong adalah gadis itu. Sialan! Airish bahkan tak mengangkat panggilannya.
30 minute laters...
Siapapun tolong jemput Karin! Ia tak sanggup lagi dengan nyamuk nyamuk yang mengisap darahnya daritadi. Ia juga tak tahan dengan cuaca dingin karena salju mulai turun.
Karin menoleh cepat ketika sayup sayup ia mendengar deruman motor dari kejauhan. Bukan, Karin yakin ini bukan gank motor. Tapi suara motor preman. Karin panik. Matanya mencari suatu tempat yang cocok dijadikan tempat sembunyi. Ia terlalu panik hingga tak sadar kalau motor itu kini berhenti tepat di depannya. Ia menahan nafas seraya menutupi wajahnya dengan sling bag miliknya. Cukup lama ia hanya mendengar suara motor itu berhenti di dekatnya.
"Mau sampai kapan lo begitu?"
Jderrrr!!!!!
Guanlin?!
Karin buru buru menormalkan posisinya sambil berusaha menghindari tatapan Guanlin. Oke, stay cool.
"Ayo buruan."
"Gausah. Duluan aja."
"Sok banget sih lo! Buruan deh naik."
"Gue bilang gausah! Ngerti gak lo?"
Bujuk lagi dong.
"Oke. Gue pergi."
Yaelah. Ga peka banget sih, Loy!
Baru saja Guanlin menyalakan mesin motornya dan bersiap pergi, Karin berteriak panik. Guanlin mendecih sambil memandang sebal.
"Katanya gausah. Yaudah buruan naik."
Karin menghilangkan rasa gengsinya. Ia menaiki motor besar Guanlin dengan dua tangannya memegangi bahu lebar laki laki itu.
"Modus banget elah."
"Terserah gue dong."
Karin memutuskan diam. Ia semakin mengeratkan mantelnya karena salju lumayan kencang. Guanlin melihat itu dari spion motornya.
"Pegangan. Gue mau ngebut."
"Lo cari mati?!"
"**** lo! Gue tau lo kedinginan. Gue ngebut biar cepat nyampe."
Karin ingin buka suara namun Guanlin terlebih dahulu menambah kecepatan motornya. Otomatis ia memeluk pinggang laki laki itu. Guanlin tersenyum tipis. Hatinya sedikit menghangat karena gadis pendek itu memeluknya.
Karin membuka mata sejenak dan berubah panik ketika sadar kalau ini bukan jalan menuju rumahnya.
"Eh Guan! Lo ngejebak gue ya!"
Bukannya menjawab, Guanlin malah tertawa kencang. Karin mencubit pinggang laki laki itu.
"Berhenti ga lo?!"
"Lo sendirian kan di rumah? Mending kita ke rumah gue aja." Usulnya. Sebenarnya ini bukan usul, melainkan kewajiban karena laki laki itu tak menerima usul Karin.
"Mau ngapain gue ke rumah lo? Lo mau macem macemin gue ya?!"
"Gila aja! Gue ga nafsu kali, Rin sama body tepos lo!" Guanlin tertawa meremehkan. Karin mencubit lagi pinggang laki laki itu. Hak apa dia menghina dirinya tepos?
"Cari mati lo ya?!"
"Gue lagi butuh pembantu. Rumah gue berantakan parah. Tapi dingin-dingin gini sih enaknya buat debay."
Karin mencubit pinggang laki laki itu untuk kesekian kalinya. Setelah ini Guanlin harus memeriksa apakah kulit pinggangnya baik baik saja.
"Dasar om mesum! Buruan putar balik ke rumah gue!"
"Gue ga mau. Gimana dong? Pokoknya ke rumah gue."
"Apaan lo! Gue ga—"
__ADS_1
"Gue ga butuh penolakan, Kim Karin."
Karin mendecak kesal. Buru buru ia melepaskan pelukannya dan turun dari motor Guanlin begitu mereka sampai di depan rumah Guanlin. Awalnya Karin berniat kabur, namun seakan tau niatnya, Guanlin segera menarik tangan Karin menuju rumahnya.
Rapi.
Satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan rumah Guanlin.
"Tadi katanya rumah lo berantakan."
"Sebenarnya bukan hati gue yang berantakan, tapi hati gue." Balasnya pelan sambil melepaskan sepatunya. Laki laki itu nampak tak serius namun Karin merasa bahwa ia mengucapkan isi hatinya yang sebenarnya.
"Mau ramen?" Tawar Guanlin. Karin mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi lo yang masak dong. Lo kan masih bisa masak ramen."
Karin menuju dapur. Ia membuka lemari makanan dan mengambil 2 bungkus ramen dari dalamnya. Gadis itu kemudian sibuk memasak.
Selang 15 menit, Karin selesai dengan tugasnya dan berjalan ke ruang tamu mencari cari dimana Guanlin. Laki laki itu tak nampak dimana mana. Karin menaiki tangga menuju lantai dua.
"Guanlin?"
"Gue disini." Suara Guanlin dari kamarnya.
Karin tak melihat laki laki itu di dalam kamarnya. Yang ia temui justru sebuah tenda sederhana namun terasa nyaman di balkon kamar ini. Tak lama, laki laki itu keluar dari tenda yang ia buat.
"Kreatif ga gue?" Karin menatap Guanlin tak habis pikir. Wajah Guanlin tersenyum cerah bak anak TK yang berhasil membuat sesuatu dan tersenyum bangga akan karyanya.
"Ini nih Guanlin ketika gabut."
---
Karin mengambil snack berikutnya ketika ia menghabiskan bungkus berikutnya. Dua orang remaja sepantaran itu menghabiskan saturday night di atas balkon. Oke, Karin mengakui kekreatifan Guanlin ketika gabut. Guanlin membuat tenda itu dari selimut. Ia juga memasang tumblr sehingga nampak semakin nyaman.
Salju reda membuat langit memamerkan bintang bintang terangnya. Guanlin masih setia dengan game online di ponselnya sementara Karin membaca komik detective conan yang berbaris rapi di rak buku Guanlin. Oke, sekarang Karin tahu maksud Guanlin ketika ia berkata,
"Iya, gue Shinichi."
"Dan lo Ran Mouri."
Ia terinsipirasi oleh komik ini. Karin menggeleng sambil menoleh pada laki laki itu sebentar.
"Anjirr! Telaso! Malah defeat! Tim gue noob semua ah. Ga asik."
Karin mengernyit heran melihat Guanlin bertingkah gila kemudian melempar ponsel dengan logo apel di belakangnya itu ke atas ranjangnya.
"Autis ih." Protesnya. Guanlin mengambil sekaleng soda dan meminumnya.
"Game ngebosenin."
Karin membuka mulut ingin bicara namun dering ponsel Guanlin membuatnya kembali tutup mulut.
"Ambilin dong." Pinta Guanlin. Karin menurut saja daripada harus membuat keributan.
Mama
"Nyokap lo nelfon nih."
Karin sadar kalau air muka Guanlin berubah begitu Karin menyebut 'nyokap'. Guanlin menerima ponselnya dari tangan Karin kemudian menolak panggilan itu dan menonaktifkan ponselnya.
"Lah kok dimatiin? Siapa tau nyokap lo mau ngomong penting."
"Nyokap gue udah mati."
Karin diam sejenak, "Lo ngomong apaan sih? Itu yang nelfon barusan kan nyokap lo."
"Nyokap gue udah mati." Ulangnya tanpa menatap Karin. Ia malah sibuk menatap langit dengan bintang terangnya.
"Lo ada masalah? Coba cerita sama gue."
Guanlin menghela nafas sebelum ia berbicara kembali, "Kim Karin, gue udah ga punya siapa siapa di dunia ini." Guanlin menatap Karin dalam. Sorot sendu laki laki itu membuat hati Karin teriris. Guanlin sering tertawa menutupi luka yang ia punya. Ia nakal. Ia anak berandalan. Ia playboy. Tapi hidupnya menyedihkan.
"Terus?"
"Ya gitu aja. Semuanya pada ninggalin gue. Yang gue punya cuman temen temen gue."
Karin bingung harus menjawab apa. Laki laki di depannya ini bagai lautan rahasia yang dalam. Terlalu membingungkan. Terlalu membuat penasaran.
"....Dan lo."
__ADS_1
TBC")