Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
08. Just a step


__ADS_3

Happy reading")


:If me can.....


Gadis itu tersungkur diantara lantai yang tertutupi dedaunan kering. Kang Daniel panik dan segera menghampiri kemudian menaruh kepalanya di pahanya.


"Karin, lo gapapa kan?"


Penglihatan Karin berkunang-kunang. Ia merasa dunia berputar. Berusaha bangkit namun tak dapat, Karin merasa bahwa udara disekitarnya mulai menipis. Mendadak dia tak dapat berucap. Bahkan tak dapat mendengar Daniel berteriak memanggil teman temannya sedari tadi.


Tap... Tap... Tap...


Guanlin. Dan sesuatu ditangannya.


Segera laki laki jangkung itu mengalihkan Karin ke pangkuannya dan memasangkan inhaler pada Karin. Daniel sebenarnya tak suka melihat kedatangan Guanlin, namun di sisi lain dia juga bersyukur melihat keadaan Karin yang mulai baik baik saja.


Karin berusaha duduk.


"Lo udah gapapa kan?" Tanya Daniel namun gadis itu tak menjawab. Netra hitam kelamnya memandang dalam pada wajah Guanlin yang juga berbuat sama.


Daniel merasa kesal.


"Woii!! Apaan sih lo berdua? Ada gue loh disini."


Karin melepas pandangannya. Gadis itu menundukkan kepala berusaha menahan air matanya agar tidak turun.


"Udah deh. Gausah nangis. Dasar cengeng." Guanlin berucap.


Daniel memasang wajah bingung. Mereka ngomongin apa deh? Batinnya.


"Oke deh. Mending sekarang kita cari jalan keluar disini. Serius, daritadi gue digigitin sama nyamuk. Kan kesel." Omel Daniel, lantas laki laki itu bangkit berdiri. Guanlin pun turut.


Karin menatap dua laki laki yang berdiri menjulang didepannya. Gadis itu memasang wajah memelas.


"Ehm, maaf nih. Gue agak sedikit encok." Daniel berpura-pura memegangi pinggangnya membuat Guanlin mendecak.


"Ayo, naik." Ucapnya kemudian.


Karin terdiam sebentar. Agak aneh kalau Guanlin yang harus menggendongnya. Rasanya sedikit... Hah, sudahlah.


"Gausah deh. Gue bisa jalan sendiri." Tolaknya kemudian berusaha berdiri, namun Guanlin menarik pergelangan tangannya hinga dirinya terjatuh tepat di punggung laki laki itu.


Karin terkejut. Ia berontak berusaha turun dari punggung Guanlin. Namun susah. Sengaja ia menjauh agar dadanya tak kena ke punggung laki laki itu.


"Ck! Bagus dikit napa sih? Gue ga tertarik kali sama dada rata lo!"


Mata Karin membola. Ia jelas saja merasa terhina sebagai perempuan. Dengan tanpa perasaan, Karin menggigit leher Guanlin bagai vampir. Guanlin memekik kesakitan karena merasa tak lama lagi gigi tajam Karin akan merobek lehernya. Ia segera menurunkan gadis itu dari punggungnya lalu mengaduh kesakitan. Karin tertawa lebar. Mengejek. Membuat Guanlin menyumpahi gadis menyebalkan itu.


Sementara itu, Daniel nampak memasang wajah malas. Laki laki itu sudah terlalu bosan melihat modus yang biasa Guanlin lakukan pada gadis di sekolahnya. Pura pura dingin padahal ia adalah playboy level atas. Cara busuk, bukan?


"Choding, ayo! Tinggalin si brengsek ini." Karin menggenggam tangan Daniel kemudian menariknya pergi. Tak sadat kalau kini Daniel merasakan perasaan aneh dalam hatinya.


"Choding?"


***


Selama kurang lebih 15 berputar putar di dalam ghost house, akhirnya tiga remaja itu menemukan jalan keluar. Karin bernafas lega lalu kemudian segera melepaskan genggaman tangannya pada Daniel. Dia dapat melihat wajah Airish yang begitu khawatir sebelum kemudian gadis itu menyadari kedatangannya.


"Karinn!!!! Lo gapapa kan?" Tanyanya langsung. Karin menggeleng singkat.


"Jahat nih ya. Pake ninggalin gue!"


"Ih ngga gitu kali. Tadi pas lampunya mati gue kan pan-"


"Iya iya tahu kok. Lo gausah jelasin." Potong Karin cepat sebelum gadis itu berubah cerewet. Bisa bisa ceritanya tak habis sampai matahari terbenam.


"Nih, punya lo." Guanlin menyerahkan kantong kresek pada Karin. Karin menerimanya kemudian mengucapkan terimakasih. Guanlin tersenyum manis hingga matanya menjadi segaris. Karin entah kenapa ikut tersenyum kecil.


Airish plongo.


Hey, Guanlin itu jarang senyum. Bahkan pada semua gadis yang dipacarinya. Tapi kenapa pada Karin yang baru dia kenal selama kurang dari sebulan dia tersenyum manis.


"Eh, emang Karin noona ulang tahun?" Seong woo bertanya dengan wajah polos minta ditampol.


"Udah deh, Ong. Gausah berisik, mending kita cari jajanan." Ajak Jihoon karena entah kenapa dirinya sangat ingin makan beberapa mangkuk ramyeon. Kemudian mereka bersama dengan Daehwi pergi mencari jajanan terdekat. Disusul dengan Woojin dan Jinyoung yang ketularan merasa lapar.

__ADS_1


Kang Daniel memandang mereka kesal. Matanya menatap sinis pada Guanlin yang ia rasa selalu suka merebut semuanya. Tak usah terkejut. Seharusnya kalian paham dengan apa yang pernah Jinyoung katakan.


||Biasanya mereka ganggu cewe, karena mereka suka.||


Dengan hati dongkol, Daniel pergi menyusul Woojin dan Jinyoung yang semakin menjauh. Jihyo mengikutinya


"Ternyata Karin itu ancaman buat lo." Jennie menatap Karin dengan tangan mengepal. Namun dia juga masih dapat mendengar ketika Seon yoo berbisik padanya.


***


"Jadi saya diterima kerja disini?" Karin bertanya dengan wajah harap harap cemas, sedang memastikan siapa tahu dia salah dengar.


Wanita dengan setelan elegan tersebut mengangguk sambil tersenyum pada Karin, dia Kwon Eun Bi, pemilik kafe paling terkenal di Seoul. Karin menahan diri untuk tidak berteriak karena senangnya. Bayangkan saja, seharian ini sudah enam kafe yang dia kunjungi, namun ini adalah satu satunya kafe yang menerimanya.


"Kamu boleh pulang, dan kembalilah untuk bekerja besok." Ujar Eun Bi sebelum wanita berusia akhir 20an itu pergi meninggalkan Karin.


Karin segera mengambil tasnya dan keluar dari kafe. Tak lupa gadis itu mengucapkan selamat malam pada para pekerja yang masih tersisa di kafe.


Mulai besok dia akan bekerja disini terhitung jam 5 sore hingga jam 9 malam. Tak apa. Dia rela bekerja, asal mamanya kembali sehat.


Sepanjang perjalanan menuju halte bus, gadis itu memasang senyum ceria, hingga selalu menyapa pada pejalan kaki yang ia jumpai. Gadis aneh.


Karin memutuskan membeli makanan sebelum menaiki bus karena dia akan mengunjungi mamanya di rumah sakit.


---


Klekk...


"Selamat malam, nona Kim." Suster yang biasa merawat mamanya menyapa ketika Karin membuka pintu.


"Ah, selamat malam, eonnie." Sapanya kembali. Karin memutuskan memanggil eonnie daripada dengan embel-embel 'sus' atau 'suster' karena usia keduanya cukup dekat.


"Em, gimana keadaan mama?"


Suster dengan wajah manis itu tersenyum, "Semakin membaik. Aku rasa bulan depan ibumu dapat pulang ke rumah."


"Oh ya?"


Suster itu mengangguk.


"Selamat malam."


Malam semakin larut. Gadis itu beralih pada kantong berisi makanan yang dia beli sebelum datang ke rumah sakit. Membukanya, kemudian Karin makan dalam heningnya ruangan.


Sebelum benar benar pulang, Karin tak lupa mencium pipi sang mama.


"Get well soon, mom."


Karin keluar dan menutup pintu ruangan mamanya. Semuanya masih baik baik saja hingga suara familiar menyapa telinganya dari jarak yang cukup dekat.


"Karin!" Nada suara terkejut meyapa pendengarannya. Karin menoleh cepat dan mendapati Guanlin dengan wajah bingung.


"Ngapain lo di rumah sakit jam segini?" Guanlin melanjutkan. Karin speechless. Dia merasa bahwa Guanlin tak perlu tahu untuk apa dia kesini. Dia tak perlu tahu kalau mamanya sedang terbaring di rumah sakit.


"Ehm, eh, gue lagi beli obat buat gue sendiri." Gadis itu beralasan. Masih baik otaknya dapat diajak bekerja sama.


"Obat? Buat lo?"


Gadis itu mengangguk ragu.


Guanlin menghela nafas ringan. Ia ingat kalau gadis itu memiliki asma yang cukup ekstrem.


"Terserah deh. Lo udah makan?"


Karin mengangguk cepat.


"Pasti lo bohong. Udah, ikut gue."


"Eehhh, serius gue udah makan." Jujurnya


"Yaudah kalo gitu temenin gue makan. Lo tega biarin gue kesepian?"


"Ya tega dong. Lagian gue harus ngejar bus terakhir malam ini. Kalo gue harus segala nemenin lo makan, gue bakal ketinggalan. Udah ya, bye."


Guanlin tak kehabisan cara. Ia harus bisa membuat gadis itu menemaninya makan. "Eits, tenang aja. Nanti gue anter. Ayo, buruan."

__ADS_1


Guanlin menarik lengan Karin dan membawanya keluar rumah sakit. Guanlin menggenggam tangan Karin erat hingga mereka sampai di restoran terdekat. Karin hanya bisa diam menahan semua kekesalannya.


"Lo kenapa sih suka maksa?!" Omel Karin kesal.


"Karena gue suka maksa." Balas Guanlin santai. Karin memilih untuk diam tak membalas ucapan Guanlin. Laki laki itu memesan makanan kemudian makan dengan tenang. Sementara itu, Karin memilih membuka ponsel dan bermain game di ponselnya.


"Lo mau ga?" Tanya Guanlin beberapa menit kemudian. Laki laki itu menyodorkan sepiring seafood padanya. Sebenarnya walau lapar, Karin tak dapat menolak seafood. Namun entah kenapa, dia agak merasa tak nyaman jika harus menerimanya.


"Ngga. Kan gue udah bilang, gue baru makan."


"Yeu, biasanya lo juga karet kalo soal ginian." Nada suara Guanlin berubah mengejek.


"Mau ga nih? Kalo ga, gue yang habisin."


"Ga."


"Oke deh." Guanlin memakan satu persatu seafood di piring. Nampak menggiurkan. Karin memandang sambil menelan ludah. Kenapa terlihat sangat enak ketika Guanlin memakannya? Tuh, kan. Jadi ngiler.


"Sisain dong!" Gadis itu berucap tanpa memandang pada Guanlin dengan nada ngegas.


Guanlin tersenyum kemudian mengambil salah satunya dan menyodorkannya ke mulut Karin.


"Ayo, makan."


"Gue bisa sendiri!" Ia mengambil udang yang sebelumnya Guanlin sodorkan.


Karin membuka mulut dan memakan udang tersebut. Disaat bersamaan Guanlin mendekatkan wajahnya dan memakan setengah udang yang ukurannya lumayan besar tersebut sebelum kemudian Karin menelan setengahnya. Mata gadis itu membulat. Cukup terkejut, dan juga jantungnya berdegup begitu kencang.


Lain halnya dengan Guanlin, laki laki itu malah tersenyum smirk. Ia kembali duduk di kursinya dan melanjutkan makan dengan senyuman.


"Udangnya enak banget, gila." Gumamnya pura pura.


Karin menggeleng singkat, "Sialan ya lo! Kesempatan dalam kesempitan!"


"Untung tadi ga kena bibir, ups." Guanlin tertawa-tawa.


Karin hanya terdiam di tempat. Dibalik meja ia menyiapkan kuku-kuku tajamnya dan kemudian secepat kilat ia berdiri dan meraih lengan Guanlin. Perempuan itu mencubiti Guanlin tanpa perasaan hingga ia mengaduh kesakitan. Puas, Karin melanjutkan makannya.


"Lo tega bener! Bagian yang gue makan tadi itu ada cabenya. Lo kan ga bisa makan yang pedasnya keterlaluan." Guanlin mencebik sambil mengusap usap lengannya. Ia cukup terkejut melihat lengannya kini dipenuhi bekas cubitan yang memerah. Karin tak peduli. Ia hanya menggidikkan bahunya karena makanan di depannya ini terlalu sayang untuk diabaikan karena mendengar keluhan Guanlin.


"Yahh, lengan gue ga mulus lagi. Tanggung jawab lo!" Guanlin bersungut-sungut.


"Rasain! Siapa suruh sok jadi fakboy! Yaudah deh. Pulang yuk. Gue ngantuk." Gadis itu melap tangannya dengan tisu dan meraih tasnya. Meninggalkan Guanlin sendirian.


"Tungguin, woi!"


---


"Makasih udah dianter." Ucap Karin tersenyum palsu sebelum gadis itu turun dari motor Guanlin. Guanlin berdehem singkat. Ia masih kesal. Sungguh.


"Eh, Karin. Tunggu dulu."


Karin berhenti. Menunggu laki laki itu kembali berucap.


"Sini bentar deh."


"Ah, ngga mau. Nanti om nyulik aku."


"Sianjir! Lo kira gue om-om?!"


"Emang!"


"Sini deh bentar." Karin akhirnya mendekati motor laki laki itu kembali. Tentu saja dengan terpaksa.


"Apaan sih? Ini tuh ud—"


Karin hampir mati jantungan ketika Guanlin menyela perkataannya dengan mencium bibirnya cepat. Kemudian ia pergi kabur dengan memacu motor cepat. Karin segera sadar dari kagetnya dan buru buru ia melempar tasnya kearah Guanlin. Sayangnya tak kena. Karin bersungut sungut menyumpahi Guanlin.


"Guanlin emang sejak dulu titisan jin! Mati lo Guan!" Geramnya pada dirinya sendiri. Dengan langkah terburu-buru gadis itu membuka gerbang dan segera masuk ke rumahnya.


Tanpa ia sadari....


Ada sepasang mata sinis yang melihatnya sedari tadi.


Tbc")

__ADS_1


__ADS_2