
Happy reading")
"Mama ga mau kamu ikut-ikutan gank motor lagi. Tolong turutin kemauan mama sekali aja."
"Kenapa harus?"
"Mama ga mau kamu terluka, nak."
Guanlin tertawa sarkas, "Buat apa saya menghargai tante kalau tante ga bisa hargain anak tante sendiri?"
Taeyeon diam membisu. Air matanya mulai meluruh perlahan.
"Tante bisa rasain tidak, apa yang anak kandung tante itu rasain? Dia jadi benci setengah mati sama saya, karena tante lebih sayang sama saya! Saya tahu tante mengetahui hal itu. Tapi tante tutup mata! Saya mengatakan ini bukan karena saya peduli sama Daniel. Maaf saja, saya hanya peduli pada diri saya sendiri. Tapi lama-lama saya jadi kasihan pada dia. Dia punya ibu, tapi dia merasa ibunya sudah mati."
Taeyeon menangis semakin kencang. Walau dia tetap tak bersuara.
"Saya akan menghormati setiap omongan tante, kalau tante juga koreksi diri tante. Saya permisi."
Guanlin pergi menjauh darisana. Meninggalkan Daniel dan ibunya yang kini menangis menyedihkan. Daniel ingin memeluk ibunya. Sangat. Tapi ia tahu, sampai kapanpun, Taeyeon tak akan pernah bisa menerima kehadiran dirinya. Sampai kapanpun.
Alhasil, ia lebih memilih pergi ke kamarnya. Menetralkan pusing yang kian menjadi-jadi di kepala. Laki-laki bongsor itu selalu ceria dan kuat di mata teman-temannya. Tapi, banyak luka yang ia simpan sendiri. Luka yang ia rasa akan membunuhnya secara perlahan.
Sementara Taeyeon berusaha meredam suaranya. Kenapa baru sekarang ia sadar kalau dia sudah meracuni dua anak muda itu dengan perbuatannya? Kenapa dia selalu menyakiti perasaan Kang Daniel yang adalah anak kandungnya? Ia memang hanya menjalankan perintah, tapi ia sadar bukan ini yang dia inginkan. Bukan ini.
◐◐◐
[Author saranin dengarin round and round-ost Goblin]
Guanlin dan Daniel benar-benar melakukan pertempuran antar gank seperti yang mereka sepakati 2 hari laku. Dua ketua gank itu kini saling menatap penuh kebencian.
"Lo berani juga ternyata!" Guanlin membuka pembicaraan diantara mereka.
"Cih! Lo kira gue bocah apa?!"
"Gausah banyak bacot! Serang mereka!"
Perkelahian menjurus tawuran itu tak dapat terelakkan. Bandara sepi yang kini terbengkalai menjadi ramai dan ribut dalam hitungan menit. Tak ada yang tahu perbuatan yang mereka lakukan ini. Yakin saja, tak akan ada polisi yang menemukan mereka di lapangan luas bekas bandara ini.
Guanlin masih diam saja diatas motornya. Melihat semua anak buah yang ia bawa mati-matian melawan anak buah Daniel. Ia tersenyum bak psikopat. Daniel pun sama. Ia masih duduk diam diatas motornya. Menanti kapan waktu yang tepat untuk membalas Guanlin.
Setelah ia rasa waktu cukup tepat, Daniel turun dari motornya. Membawa tongkat kasti yang akan dia gunakan untuk menyerang Guanlin. Katakan saja dia licik. Tapi, sungguh, dia sama sekali tak peduli. Guanlin menangkap pergerakan Daniel. Ia turun dari motornya dan menghampiri saudara tirinya itu. Berbeda dengan Daniel, ia lebih memilih menggunakan tangan kosong.
"Ck! Pake senjata!" Ia membatin.
Suasana masih seperti sebelumnya. Belum ada yang mengaku kalah. Semua asyik saling memukul satu sama lain. Dua ketua gank itu saling melemparkan tatapan tajam.
"Pengecut! Bisa-bisanya lo pake alat!" Guanlin tersenyum meremehkan.
Daniel mendecih, "Peduli apa gue?"
"Ingat, Kang Daniel! Kalau lo kalah, jangan pernah dekatin Karin lagi! Gue pikir lo cukup loyal dalam perjanjian."
"Oke! Deal!"
Guanlin dengam cepat menendang perut Daniel keras, membuat laki laki itu terdorong ke belakang. Guanlin tersenyum mengejek. Daniel tak buang-buang waktu ia bangkit berdiri dan mengarahkam pukulan tongkat yang ia bawa pada Guanlin.
Dua laki-laki itu saling melemparkan serangan satu sama lain tanpa peduli resiko. Cukup lama, hingga akhirnya Daniel terjerembab untuk kesekiam kalinya. Nafasnya ngos-ngosan tak teratur. Sungguh, ia merasa tak dapat memberi penyerangan lagi.
Guanlin pun sama. Laki laki itu bernafas cepat, sambil menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya. Ia tersenyum penuh kemenangan. Walaupun kondisinya termasuk memiliki banyak luka, kondisi Daniel jauh lebih parah.
Pasukan gank motor Daniel melarikan diri. Meninggalkan mereka yang terluka parah bersama ketuanya. Daniel mendecih. Kesetiaan itu memang tak ada di dunia ini. Pikirnya.
"Gimana? Masih berani lo ngelawan gue?"
"Ck! Harusnya gue biarin lo mati bersama nyokap lo hari itu! Gue nyesal!" Daniel berucap pelan penuh penekanan.
__ADS_1
Perkataannya membuat Guanlin diselimuti amarah. Tangannya mengepal karena emosi.
"Kurang ajar lo!" Ia menendang Daniel tanpa perasaan membuatnya menggeram menahan sakit.
"Kasih tau gue siapa yang udah bunuh nyokap gue!" Guanlin tak peduli kalau dia benar benar membunuh Daniel di tempat ini. Ia meraih tongkat kasti di dekatnya sambil memperingati Daniel.
Daniel tersenyum smirk.
"Siapa yang udah bunuh nyokap gue, sialan!" Guanlin berteriak tapi matanya menangis.
"Kenapa gue harus jawab? Ayo, bunuh aja gue disini. Gue ga peduli Lai Guanlin!" Daniel menjawab dengan santai. Guanlin gelap mata. Ia mengangkat tongkatnya tinggi, bersiap memukul tubuh rapuh Daniel sekarang juga.
"Guanlin berhenti!"
Guanlin tercekat. Ia menurunkan tongkat di tangannya dan menoleh ke sumber suara.
Kim Karin?
Gadis yang mengatakan kalau ia membenci dirinya itu berdiri dengan mata sembab tak jauh darinya. Ia bersama sepupunya, Jung Airish.
"Lo mau jadi pembunuh?!" Karin berteriak menyadarkan dirinya. Namun, Guanlin berpikir kalau itu adalah salah satu usaha Karin untuk melindungi Daniel.
"Kenapa, Kim Karin? Lo ga sanggup lihat orang yang lo cintai gue bunuh?"
Karin menggeleng tak menyangka. Guanlin benar benar menyeramkan kalau ia marah.
"Kenapa lo diam Kim Karin? Pacar lo ini, selalu buat gue emosi. Gue benci! Gue jijik lihat dia. Jadi kalo lo ga mau terluka, diam aja disitu. Lihat pacar lo ini mati!" Ujar Guanlin. Ia kesal dan sedih di saat bersamaan. Ia tak rela kalau Karin harus bersama Daniel. Ia sama sekali tak rela.
"Lo gila Guan! Dia juga saudara lo!" Airish tak sanggup melihat dua orang yang sudah ia anggap saudaranya itu harus saling melukai. Terlebih Daniel. Ia terluka sangat parah. Dan setelah ini, Guanlin akan dicap sebagai pembunuh? Karin tak sanggup membayangkan itu.
"Gue ga peduli, Ai! Terserah gue mau dicap apa setelah ini. Gue bakal habisin si brengsek ini sekarang juga!!"
Guanlin berbalik dan dengan secepat kilat mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Tak peduli teriakan Karin dan Airish bahkan anak buahnya yang melarangnya melakukan itu.
Takk....
"Jangan jadi pembunuh, gue mohon."
Guanlin berbalik. Menatap kosong pada Karin yang menangis terisak-isak. Mata gadis itu makin sembab. Guanlin ingin bicara, tapi ia sada kalau banyak pasang mata disini. Ia menarik tangan gadis itu menuju motornya dan membawanya pergi darisana.
Semuanya tetap diam bahkan ketika mereka tak terlihat lagi di area bandara. Airish segera menghampiri Daniel disusul dengan Jihyo. Yang lain membantu orang-orang yang terluka. Jennie dan Seo yoo tetap berada di tempatnya. Gadis tinggi semampai itu menitikkan air mata. Ia sakit hati. Ia benci. Sangat.
"Gue harap lo baik-baik aja." Seon yoo mengelus lengan sahabatnya itu memberi ketenangan. Jennie menepisnya kasar. Segera ia kembali ke mobilnya dan pergi darisana. Kenapa dunia ini sangat tak adil padanya? Seminggu yang lalu ia harus kuat mendengar kabar kalau orangtuanya resmi bercerai. Ia juga harus menerima kenyataan kalau Guanlin tak mencintainya. Lalu kemarin, Kim Taeyeon, kepala sekolah yang adalah ibu tiri Guanlin akhirnya membatalkan niatnya untuk menjodohkan dirinya dengan Guanlin.
Semua bagian dunia terasa menolaknya. Ini tak adil! Kenapa malah Kim Karin yang harus selalu bahagia?
"Gue benci lo, Kim Karin!" Ia berteriak sambil menambah kecepatan mobilnya. Melewati semua mobil yang ia rasa menghalangi jalannya. Ia tak peduli kalau harus mati.
Sementara Airish dan yang lain membawa Daniel kerumah sakit. Laki laki itu sempat menolak namun ia langsung luluh dan menurut ketika Jihyo memaksanya. Ong seakan mewakili rasa penasaran yang lain ketika ia menanyakan, "Kalian pacaran, ya?"
Jihyo dan Daniel menggeleng serempak. Mereka semua hanya manggut-manggut dan kemudian meninggalkan bandara.
"Gila bro! Masih baik kalian ga berurusan sama polisi!" Woojin berucap salut.
"Masa sih, bro? Gue sih oh aja!" Ong menyahut.
"Jangan mulai deh, kalian!" Jihoon memperingati.
"Gausah peduliin mereka Hun. Mending lo fokus nyetir." Titah Airish.
◐◐◐
"Kenapa lo meluk gue tadi?"
Karin pura-pura tak dengar ketika Guanlin bertanya.
__ADS_1
"Gausah sok budeg deh, Kim Karin!"
"Hah? Lo ngomong apa? Motor lo berisik sih. Ga denger."
Guanlin mendecak ia menghentikan motornya. Menitahkan Karin agar turun. Gadis itu waspada. Pasalnya tempat dimana mereka berhenti sangat sepi. Ini hanya jalan lurus dengan lautan di sisi kanan-kiri. Tidak ada siapa-siapa disini kecuali mereka berdua.
"Kenapa lo meluk gue tadi?"
"Gue, gue kan udah bilang, jangan jadi pembunuh. Gue ga mau lihat lo jadi pembunuh."
Guanlin berpikir sejenak, "Kenapa harus ngelak? Bilang aja lo mau lindungin Daniel."
"Jangan sembarangan kalau nuduh!"
"Kim Karin, gue tahu lo suka sama Daniel! Lo buat gue sakit hati tahu ga!"
Karin menelan saliva susah payah, seakan ada biji kedondong disana.
"Gue kecewa sama lo, Kim Karin."
Karin bingung semakin dalam. Sangat tidak mungkin Guanlin tengah mabuk. Tapi kenapa dia bicara aneh? Apa karena efek baku hantam dengan Daniel tadi?
"Lo tau ga? Gue berantem sama Daniel hanya gara-gara lo,"
"Hah?!" Karin membatin.
"Lo pura-pura buta sama perasaan gue ya?! Jawab Kim Karin!"
"Maksud lo apaan sih?!" Karin menjawab dengan marah. Kenapa Guanlin jadi bicara ngawur? Laki-laki itu seakan tengah menyudutkan dirinya.
"Lo ***** atau gimana, hah?! Gue cinta sama lo, Kim Karin!"
Semuanya diam.
"Gue jatuh cinta sama lo!" Lanjutnya seakan memberi kejelasan.
Karin speechless. Apa ia salah dengar?
"Tapi bisa-bisanya lo meluk gue buat lindungin Daniel tadi," Daniel mendecih, "Gue kecewa. Banget. Ga salah sih, gue cap lo murahan!"
"Kenapa lo selalu bilang gue murahan?!" Karin tersulut emosi. Namun ia tetap berusaha tenang ketika bicara. Walau keinginan menampar Guanlin amat besar.
"Kenapa nanya sama gue?! Lo bisa intropeksi diri sendiri dong!"
"Justru karena gue ga ngerasa deketin semua cowo! Emang lo aja yang seenaknya nilai gue!"
"Seenaknya kata lo? Harus gue sebut apa coba, cewe yang dulunya pacar gue, begitu putus dari gue langsung dekat sama saudara tiri gue?! Harus gue sebut apa?"
"Ck! Lo lupa kalau lo cuman jadiin gue bahan perjanjian?! Lo lupa kalau mulut lo ngomong ga pernah jatuh cinta sedikit pun sama gue? Hak lo buat ngelarang gue apa coba!" Karin tersenyum penuh kebencian.
Guanlin diam sebentar.
"Lo pikir disebut murahan itu enak apa?! Lo sama aja kaya samain gue sama cewe-cewe dugem di kafe sana!" Karin menekankan setiap ucapannya. Matanya berkaca-kaca.
"Kalau emang lo benci sama gue, cukup dengan lo jauhin gue! Gue juga udah nyuruh lo biar ngusik hidup gue kan? Guanlin, gue benci lihat lo! Sejak dulu lo emang selalu bawa sial buat hidup gue! Terlebih beberapa hari lalu ketika lo mau lecehin gue di laboratorium, gue jijik tau ga! Kalau aja gue lihat pistol atau pisau disana, gue bakal bunuh lo langsung. Gue ga peduli!" Karin menghapus air matanya kasar.
"Gue harap lo bisa ngerti seberapa besar kebencian gue. Lo punya otak cerdas kan?"
"TAPI GUE CINTA SAMA LO!" Guanlin berteriak meluapkan amarahnya. Ia muak mendengar kata-kata gadis itu yang mengaku benci padanya.
Karin tetap diam. Air matanya mewakili perasaannya saat ini. Ia berbohong. Ia banyak berbohong ketika mengucapkan itu.
"Gue udah bilang Kim Karin, gue bakal lakuin hal apapun itu asal gue bisa dapatin lo! Percuma lo ngelak. Takdir lo itu sama gue!"
"Gausah ngomongin takdir! Gue ga—"
__ADS_1
Guanlin membungkam mulut Karin dengan ciumannya. Dia tak melakukan apa-apa kecuali hanya menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Karin menutup matanya. Matahari terbenam dan suara burung-burung yang akan kembali ke sarangnya menjadi saksi kalau dia juga, sebenarnya mencintai laki-laki tinggi itu. Selalu.
TBC")