Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
31. Happy graduate


__ADS_3

Happy reading")


"Gila aja sih bro, masa matematika gue 80. Dapat pencerahan dari mana coba pas gue ngerjainnya." Ong heboh melihat nilai ujian kelulusan matematikanya sesuai harapan. Jihoon memukul pelan kepalanya karena gemas.


"Ogeb lo Ong! Orang lo nyalin punya Guanlin, malah sok-sok an ngomong pencerahan! Yang ada bentar lagi hidup lo tuh yang dikasih pencerahan sama malaikat pencabut nyawa!"


"BT ah sama Jihun, pengen pindah sekolah ah." Jawab Ong.


Daehwi tertawa, "Pindah matamu."


"Kyaa, senangnya para brother gue pada lulus. Hyung bangga sama kalian. Sini gue ciumin satu-satu." Woojin mendapat tempelengan di pipinya dari Baejin karena memonyong-monyongkan bibirnya.


"Lama-lama gue silat tuh bibir." Omelnya.


"Jangan dong bang, nanti bibir eyke ga seksi lagi gimana dong."


"Anak ayam diam aja dong, nilainya memantul semua." Ong berkomentar pada Guanlin yang menatap puas pada nilainya yang nyaris sempurna.


"Apaan memantul?" Jihoon merasa agak ada kejanggalan dalam kalimat Ong.


"Gatau, bang,"


"Yeuh, pertololan lo!"


"Eih, adik-adik kakak lulus semua. Sini peluk dulu, peluk." Kata Airish yang baru datang dan melihat semua teman-temannya mendapat nilai bagus.


Karin tak heran lagi melihat mereka yang kini berpelukan bak teletubbies.


"Sumpah gue punya temen kok idiot semua sih. Member ogeb squad semua."


"Yee, si Karinun mah ga asyik. Sini gabung dong." Jihoon menarik tangan Karin dan Guanlin bersamaan dan mereka berpelukan. Airish jadi baper. Agak bagaimana gitu rasanya, kalo setelah ini kemungkinan besar ia tak dapat lagi bertemu dengan semua teman-temannya. Ga sanggup, tolong.


"Tanggung jawab nih kalian! Gue jadi ga rela pisah deh." Sungutnya sambil melap air matanya dengan gaya centil.


"Duh, nuna bantet gue, sini gue peluk, sini." Woojin memeluk Airish kembali membuat ia mendapat pukulan di tangan.


"Bantet? Penghinaan lo Ujin!"


"Yaudah sih, gue panggil si semok aja."


Semuanya tertawa.


Guanlin dan Daniel asyik berbisik-bisik. Mereka seperti tengah membicarakan sesuatu. Karin terheran-heran. Pertanyaan apakah mereka sudah berdamai mengitari otaknya. Tapi malah teman-temannya yang lain tidak membahas hal itu. Oke, ia akan bertanya pada Airish nanti.


"Lagi ngomongin apasih? Asyik banget kayanya." Jihoon kepo.


"Lo ga perlu tahu, Jihun. Ini urusan anak cowok." Ujar Daniel mengundang tawa.


"Gue juga cowok *****." Jihoon membalas sewot.


"Udahlah ini urusan anak muda, Hun. Orangtua mah diem aja." Guanlin menambahi.


"Songong banget dah anak ayam! Beda 4 bulan doang jing! Gue kulitin juga nih."


"Nanti malam minum-minum dong kita. Udah lama ga minum soju."


"Eh, kalo mau masuk penjara jangan ngajak join dong, Ujin!"


"Siapa yang mau minum soju?!"


Airish melotot pada teman-temannya yang berencana minum soju.


"Awas ya, kalian. Gue bakal ikutin kalian, gue panggil polisi juga nih."


"Yeuh, baperan deh si bantet, eh si semok. Bercanda lah. Di bawah umur semua nih."


"Si Ai perhatian banget sama si Ujin eh. Jangan-jangan suka lagi." Ong memanas-manasi.


"Uuuu," Baejin ambil bagian.


"Dih, najong! Amit! Mustahil! Gue sukanya sama si Jay woi!"


"Si Jay mana? Di sekolahan ada emang yang namanya si Jay?"


"Hah? Jay Park?"


"Jaymaluddin?"


"Jaysuroto?"


"Jaybang bayi?"


"Jaylangkung?"


"*****, buset. Nista banget deh kalian! Lemes lutut gue dengernya."


"Ujin, bantuin istri lo tuh. Keknya mau lahiran deh." Baejin angkat bicara membuat mereka kembali tertawa heboh. Tak peduli akan sorot aneh dari teman-teman seangkatan mereka yang kian ramai memadati mading.


"Jangan gitu dong kalian, gue kan orangnya mudah baper. Kalo nanti gue beneran suka sama dia dan jadi nikah sama dia, mau kalian punya keponakan bobrok dan ga bisa tenang kalo ga jahil? Mau?" Airish pura-pura sedih.


"Duh, mau gimana dong?"


"Yeuh, Dewi! Belain kek kakak lo lagi di bully kaum pertololan nih!"


"*****? Sorry, bro. Fisika gue 95, btw." Jihoon pamer nilai fisikanya.

__ADS_1


"Eh masa sih bro? Gue sih oh aja."


[Tertawa lagi]


"Anak autis lo, Ong!" Dumel Jihoon yang kesal pada Ong. Ong memeletkan lidahnya.


"Nah, berhubung si Guan nilainya beres semua tanpa titik hitam kaya nilai si Ujin, berarti fix dia traktir kita makan siang."


Semua bersorak mendengar penuturan Daniel. Guanlin hanya terbengong-bengong mencerna situasi.


"Starbak lah, starbakk!!" Usul Woojin.


"Kiefci dongg, lama nih ga makan chikin!!" Ujar Ong.


"Mekdii woi, lama ga makan berger 3 lapis." Airish tak ketinggalan.


"Pizza hat dongg woi!" Kini Jihoon angkat suara.


Daehwi dan Karin yang tengah duduk hanya memasang wajah malas melihat mereka asyik berdebat.


"Kaya monyet goa yang ga dikasih makan seminggu deh. Malu-maluin." Bisik Daehwi pelan. Ia yakin hanya Karin yang dapat mendengar omongannya.


"Eh, kayanya ada dewi ular yang ngomongin kita deh."


Daehwi sontak terkejut mendengar omongan Park Woojin. Ia bangkit dari duduknya dan menendang betis Woojin cukup kuat. Jihoon dan Ong terbahak setengah mati melihat nasib Woojin yang naas.


"Sekali lagi ngatain gue, kaki lo gue jahit biar nyatu!" Ancamnya dengan raut lucu. Karin bahkan sampai gemas.


"Yah, nanti dia jadi Woojin si putra duyung dong."


"Syaland ya kalian! Ujin ngambek nih."


"Tobat Ujin! Daku melihat malaikat pencabut nyawa di belakangmu." Baejin terbahak, disusul yang lain.


"Jadi ke mekdi ga?"


[Sunyi senyap. Loading.]


"Wahahaa, jadi dong bang. Gaskeun lah." Woojin dan Ong saling berangkulan dan berjalan terlebih dahulu begitu mendengar tawaran Daniel.


"Woi, gue ga ada duit nih."


"Najis, sok miskin kau esmeralda!"


"Aku memang miskin zulkifli!"


"Zulkifli siapa jingan?"


"Anak gang sebelah."


"Tolong jangan memperbesar ketidakwarasan kalian wahai kaum gembel! Aku lapar kini, karenanya cepat bawa aku ke mekdi, atau akan kupaksa kalian membelikanku sling bag channel terbaru." Airish berucap dengan logat puitis. Membuat Daehwi tertawa heboh. Karin juga.


"Jangan roro, uang kami banyak."


"Anak setan, pamer banget woi!"


"Eh bentar gue di SMS bokap. Dia nanya apa uang jajan hari ini pake blackcard udah habis atau belom. Plis, bantuin gue habisin, gue takut dihukum," Jihoon berlagak dramatis.


"Woi, Niel! Pentungan yang lo bawa pas tawuran dimana? Gue lagi butuh nih." Guanlin bertanya.


"Lawak lo badut!"


"Woi, unta tak berpunuk! Syaland ya kalian, kita hampir sampe di mekdi lo semua masih aja molor disini! Lo kirain naik-turun tangga ga cape?!"


Lagi-lagi tawa mereka pecah melihat wajah kesal Ong dan Woojin. Siapa suruh mereka pergi duluan? Salah sendiri.


●●●


Karin tersenyum sendiri ketika melihat snapgram teman-temannya hari ini. Semuanya didominasi ucapan 'Happy Graduate'. Juga snapgram Ong dan beberapa yang lainnya yang menandai Guanlin untuk mengucapkan terimakasih karena sudah di traktir. Karin pikir mereka semua benar-benar teman yang spesial. Astaga, dia juga jadi tidak rela kalau harus berpisah.


Karin mengakui kalau Guanlin itu memang anak yang loyal dalam hal pertemanan seperti yang pernah ia katakan dulu. Karena ia bahkan rela mengeluarkan uang yang tak sedikit hanya untuk meneraktir temannya hari ini. Jelas tak sedikit! Woojin dan Ong saja makan untuk porsi 5 orang seperti anak yang tidak diberi makan selama seminggu.


Ngomong-ngomong tentang Guanlin, ia benar benar berubah drastis. Laki-laki itu tak pernah lagi mengganggunya selepas kejadian di bandara waktu itu. Karin agak merasa sesuatu hilang dari hidupnya. Ia bahkan sering mencek ponsel hanya untuk mengetahui apakah laki-laki itu menelfon atau mengiriminya pesan. Ternyata tidak. Ia tak pernah lagi melakukan itu. Ponselnya sepi.


Bahkan ketika mereka berjumpa di sekolah, ia selalu menghindari kontak mata. Karin terlalu gengsi mengakui kalau dia, merindukan itu semua. Sungguh.


"Bengong terus lo, Rin! Biar kesambet! Banyak jin tuh di belakang lo!" Ong membuyarkan lamunannya. Laki-laki itu tengah sibuk mengipasi api agar daging yang mereka panggang segera matang.


"Wah, ga bener nih! Lo ngatain gue jin?" Woojin tak terima.


"Lah, nama lo kan emang jin, Ujin!"


"Gausah mulai deh kalian. Gue cekokin soda deh tuh mulut satu-satu!" Airish menengahi karena kebetulan ia memang sedang memegang soda.


"Galak banget deh nuna! Nanti cepat keriput loh!"


"Kalau gue keriput kan ada kalian yang bakal bawa gue perawatan."


"In your dream!"


"Ah, om Ujin mah tega."


"Hahaa!" Ong tertawa heboh mendengar Airish menyebut Woojin 'om'.


"Woi, bantuin gelarin tikar dong. Lambe mulu kalian kaya tante komplek!" Sewot Daniel.

__ADS_1


"Iri aja si chodding!"


"Sini lo Hun! Santai aja kerjaan lo kaya mak-mak hamil." Guanlin tak rela kalau hanya dia yang menggelarkan tikar selebar ini bersama Daniel.


"Iya-iya. Sewot banget. Heran gue."


#Iamlivingwell


Karin melihat tagar itu di snapgram Airish dengan kegiatan mereka saat ini sebagai background. Karin merasa kalau itu sedikit menyentuh. Astaga, kenapa detik-detik perpisahan selalu membuat baper?


Mereka memulai party kecil-kecilan mereka ketika semuanya telah selesai dihidangkan. 9 remaja itu merayakan kelulusan mereka di halaman depan rumah Airish dengan menyenangkan. Malam ini juga langit lumayan cerah, walau tetap saja suhunya dingin.


Guanlin dan Daniel memetik gitar ketika Ong mulai bernyanyi. Woojin menyusul ketika bagian rap tiba.


"Giliran gue nih." Ujarnya.


Baejin dan Daehwi lebih memilih bermain kembang api yang mereka beli sebelumnya. Kadang mereka mengambil foto menggunakan kamera Guanlin. Sementara Jihoon fokus bermain game.


"Kita cobain baju-baju yang kita beli tadi yuk." Airish mengajak Karin.


"Besok aja kali."


Gadis itu merengek, "Sekarang aja. Ayo dong, Karin."


Karin mencebik kesal. Ia memang tak bisa menolak keinginan Airish kalau gadis itu sudah memaksa sambil merengek seperti itu. Mereka pergi darisana.


Baju-baju yang mereka beli random di mall dekat sekolah tadi sore kebanyakan gaun. Pasalnya, besok sekolah mereka akan mengadakan farewell party untuk pelepasan anak tahun ketiga yang resmi lulus. Oleh karena itu, ketika melewati mall, Airish heboh mengajaknya belanja baju.


"Lo di kamar situ aja. Gue di kamar gue. Nanti kalo udah beres, kita keluar barengan." Titah Airish begitu ia mengambil tumpukan paper bag miliknya di sofa.


"Lah, kenapa ga dikamar yang sama aja?" Tanya Karin bingung.


"Karin, itu namanya ga surprise!" Ujar Airish meyakinkan.


"Udah deh. Itu juga kamarnya kosong kok. Ga ada yang pake. Ayo sana masuk." Ia mendorong Karin masuk ke kamar paling sudut di lantai 2, sementara ia masuk ke kamarnya sendiri.


Karin tak mau ambil pusing. Ia masuk ke toilet setelah memilih baju pertama yang akan ia coba.


"Duh, lebih baik gue iket rambut deh." Gumamnya karena ia merasa rambut panjangnya sedikit menyusahkan. Karin kembali keluar kamar dengan hanya mengenakan celana piyama dan tanktop putih sebagai atasan.


Bersamaan dengan dirinya yang sedang mencari karet gelang atau apa saja yang dapat mengikat rambutnya, pintu terbuka. Karin tak tahu siapa yang datang karena ia membelakangi pintu, ia yakin itu Airish yang nyelonong masuk.


Ketika suara pintu tertutup terdengar, Karin melirik ke belakang.


Deggg....


Karin membeku di tempat. Begitu juga Guanlin. Karin menyilangkan tangan di dada panik ketika Guanlin malah melihat badannya dari atas hingga pinggang. Guanlin buru-buru berbalik ke arah pintu agar Karin tak salah paham.


"Karin, ngapain lo disini?" Ia bertanya. Nadanya terdengar tercekat.


"Gue, gue mau ganti baju." Balasnya gugup.


"Yaudah sana buruan. Ini kamar gue, astaga kok lo sembarangan masuk?," Desis laki-laki itu.


Karin buru-buru masuk kembali ke kamar mandi. Ia menutup pintu rapat-rapat dan mulai sibuk menetralkan detak jantungnya. Ia merutuki Airish yang berkata kalau tak ada yang menghuni kamar ini.


"Gila. Gue emang bener-bener udah gila."


Karin yang awalnya mulai dapat menenangkan diri, berteriak heboh lalu keluar dari kamar mandi. Ia meronta-ronta membuat Guanlin yang sebelumnya menunggu di luar kamar memutuskan untuk masuk kembali.


"SELAMATIN GUE DARI LABA-LABANYA TOLONG!!" Teriak gadis itu memekakkan telinga. Ia menarik ujung baju Guanlin saking paniknya.


"Dimana?! Ga ada laba-laba disini?" Jawab Guanlin.


"TOLONG, DI RAMBUT GUE. TADI DIA LOMPAT KE RAMBUT GUE, TOLONG! GUE BELUM MAU MATI!!" Bukannya tenang, ia malah mulai mengacak-acak rambutnya histeris.


Guanlin memang sama-sama panik. Terlebih saat gadis itu menarik-narik ujung kaosnya dengan brutal.


Brughh...


Dua remaja itu terjatuh ke lantai karena ulah Karin yang seperti kesetanan. Guanlin maupun Karin sama-sama tak bisa berkata apa-apa. Justru yang terdengar adalah detak jantung mereka berdua yang saling sahut-sahutan.


Airish dan yang lain yang datang karena panik ke kamar langsung menutup mata dan mulut mereka karena ini terlihat agak sedikit errr. Aku harap kalian tahu maksudku.


Bagaimana tidak. Karin hanya mengenakan tanktop putih tipis yang nyaris tembus pandang. Dan ia berada di bawah Guanlin.


"Kalian ngapain?" Ong bertanya saking bingung terlalu dalam membuat dua remaja itu segera tersadar. Mereka buru-buru berdiri. Guanlin membuka kaosnya dan menutupi bagian tubuh depan Karin yang agak tercetak.


Ia tak rela kalau mata-mata buaya di depan sana harus melihat itu.


"Ngapain masih disini, sih? Ayo, buruan keluar." Titahnya.


"Kita ga mau keluar kalau—"


"Besok gue traktir burger sebanyak yang lo mau."


"Skuy, woi. Keluar, buruan." Woojin memimpin pasukan untuk keluar. Jadilah ia mendapat tempelengan di kepala dari Daehwi. Kalau soal makanan langsung saja dia manggut-manggut.


"Laba-labanya ga ada. Mending lo pindah ke kamar Airish sana."


"Tapi, gue—"


"Jangan ngebantah, inget gue laki-laki."


TBC")

__ADS_1


__ADS_2