
Happy reading")
Brugggh....
Karin menutup mata rapat-rapat karena berpikir setelah ini dia akan mati setelah jatuh dari ketinggian 2 meter. Tapi, tunggu. Kenapa dia masih hidup? Kenapa dia tak merasakan sakit sedikit pun? Kenapa dia terasa jatuh di sesuatu yang tidak keras?
Tersadar, Karin berteriak panik kemudian buru-buru berdiri. Pantas saja dia tak merasakan sakit apapun saat jatuh ke lantai. Ia menimpa tubuh Guanlin sehingga laki-laki itu yang merasakan akibatnya. Guanlin berteriak kesakitan. Baru saja kakinya ditendang hingga lebam, kini bagian tubuh belakangnya harus remuk redam karena terjatuh dari tangga. Rasanya kepalanya akan pecah.
"Astaga, jangan mati, Guanlin. Tolong jangan mati." Karin berucap cemas.
"Sialan lo! Bantuin gue lah bodoh!" Guanlin membentak. Karin buru-buru membantunya duduk. Guanlin meregangkan otot-otot lehernya. Kemudian meliukkan pinggangnya kanan-kiri.
"Masih baik gue ga patah tulang."
Karin hanya diam sambil memandang cemas pada kaki Guanlin yang ia tendang tadi sore. Ia tak dapat membayangkan rasanya terjatuh dari tangga. Itu terasa menyakitkan dan mengerikan di saat yang bersamaan.
"Puas lo?!" Bentaknya saking kesalnya ia pada gadis yang mengenakan piyama pink itu. Karin yang awalnya kasihan jadi berubah emosi.
"Lo mau nyalahin gue?"
"Terus, mau nyalahin siapa? Nyalahin tangganya gitu?"
"Ya salah lo, lah! Ngapain lo ngejar gue kaya om-om penculik? Lo pikir gue ga takut?!"
"Ya siapa suruh lo lari? Kan itu minta dikejar namanya!"
"Siapa suruh lo datang kesini?! Gue kan udah bilang jangan usik hidup gue lagi!"
Karin langsung pergi ke meja makan karena ia tak menjamin dia bisa menahan diri untuk tidak memukul Guanlin. Pasalnya, laki laki itu sangat kelewatan tingkat menyebalkannya.
"Yak! Ga punya rasa terimakasih lo sama gue?! Kalau bukan karena gue, udah masuk rumah sakit lo Karin!"
Karin berhenti. Kalau dipikir-pikir yang dia katakan ada benarnya juga. Karin kembali dan mengulurkan tangan untuk menolong Guanlin. Namun, Guanlin malah menarik tangannya dengan keras sehingga lagi lagi dia terjatuh pada laki laki tinggi itu, dan Guanlin kembali menyapa lantai karena tubuh Karin menabraknya.
Karin menahan tangannya di dada Guanlin agar mereka tak bersentuhan. Ia terdiam dan gugup seketika ketika menatap Guanlin sedekat ini. Tolong, jarak mereka hanya sekitar 5 cm. Gerak sedikit bisa berbahaya. Ia merutuki jantungnya yang berdetak lebih cepat dibanding biasanya, sama halnya dengan Guanlin. Laki laki itu jadi cemas. Mudah-mudahan Karin tak mendengar detak jantungnya yang menggila ini.
"Yak! Kim Karin, lo *****-***** cowo?!"
Karin terkejut setengah mati begitu ia kepergok berada diatas Guanlin saat ini. Ia buru buru bangkit berdiri sambil merapikan pakainnya. Guanlin menyusul, walau ia harus menahan pusing di kepalanya. Belum lagi kakinya yang terasa sakit luar biasa.
Tak apa-apa kalau itu hanya Kim Jaehwan, tapi bagaimana bisa senior Hwang Minhyun dan dua orang yang tak Karin kenal ada bersama sepupunya itu?
"Hm, ada peningkatan." Jaehwan melangkah mendekat padanya. Minhyun dan dua orang yang tak Karin kenal itu ikut masuk. Karin jadi benar-benar ingin segera menghilang sesegera mungkin dari sini. Ia berusaha menghilangkan gugupnya.
"Kok lo ada disini?" Tanyanya pada Jaehwan tanpa embel-embel 'bang'.
"Tante Tiffany yang nyuruh gue. Dia sibuk. Jadi dia suruh gue buat jagain lo. Ternyata udah ada yang jagain. Gih, kenalin pacar lo sama gue."
Karin membelalakkan matanya. Ia ingin sekali menguliti Jaehwan hidup-hidup.
"Dia bukan—"
"Kenalin bang, Guanlin anak kompleks sebelah." Guanlin langsung memperkenalkan dirinya dengan sopan. Jaehwan tersenyum sementara Karin menatap Guanlin tajam seakan ingin menguliti laki laki itu juga.
"Pacarnya si jorok ini, ya? Gue Jaehwan sepupu dia. Kok lo mau sih sama dia?" Jaehwan jadi bersikap menyebalkan.
"Ya gimana ya bang. Udah kodrat gue kali. Ga bisa diganggu gugat." Guanlin bicara ngawur membuat semua yang ada disana tertawa kecuali Karin. Ia mencubit punggung laki-laki itu dari belakang tanpa ada yang tahu. Guanlin tetap tersenyum menyembunyikan nyeri di punggungnya.
"Oh iya. Kenalin ini teman-teman gue." Jaehwan beralih memperkenalkan teman-temannya.
"Minhyun."
"Jisung."
__ADS_1
"Sungwoon."
Mereka saling berjabat tangan. Guanlin menatap Minhyum agak tak suka karena ia terus-terusan menatap Karin dengan tatapan aneh. Ia menahan diri untuk tidak menonjok pria bermarga Hwang itu.
"Kok bisa temanan sama mereka? Kuliahnya kan beda." Karin bertanya.
"SMA nya kan sama." Jisung menjawab sambil tertawa.
"Btw, ada makanan ga? Gue laper nih." Sungwoon langsung berucap jujur.
Karin tertawa, "Ada kok bang," Ia menunjukkan sekotak ayam pedas dan sekotak ayam goreng yang Guanlin bawa tadi. Guanlin tak terima sebenarnya. Tapi tak enak juga kalau harus berkata bahwa itu miliknya.
"Bang, gue mau ngomong sama Karin sebentar di luar boleh ya?" Guanlin bersuara membuat Jaehwan tersenyum usil. Karin mengode pada Jaehwan agar dia tak memperbolehkan hal itu.
"Tolong, jangan." Ia berucap dengan gerakan mulut.
"Boleh lah."
"Lah, ga mau bang. Gue ga mau. Dia bukan siapa-siapa gue." Tolak Karin frontal.
"Gausah malu-malu lu badak! Gue senang lo punya pacar. Gue kira lo ga laku loh." Jaehwan ngasal.
"Mau lanjutin yang tadi, ya?" Jisung bertanya dengan tatapan usil. Sungwoon dan Jaehwan malah tertawa. Berbeda dengan Minhyun yang diam saja sedari tadi.
"Iya nih, bang." Guanlin menjawab tak kalah menyebalkan.
"Yaudah. Permisi sebentar."
Guanlin menarik tangan Karin menuju halaman belakang rumah Karin. Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Guanlin.
"Diam aja, kenapa sih?"
"Diem kata lo?! Gimana gue bisa diem kalau gue lagi berada dalam bahaya?"
"Maksud lo gue bawa bahaya gitu?" Nadanya dingin.
"Iya! Kenapa? Lo mau ngelak? Guanlin, gue udah bilang sama lo, jangan pernah ganggu hidup gue lagi! Gue muak lihat kelakuan lo! Gue benci liat—"
Karin bungkam ketika lagi lagi Guanlin menciumnya. Ia seharusnya memberontak tapi otaknya tengah mencerna kenapa Guanlin meletakkan ibu jarinya di bibirnya, dan malah mencium ibu jarinya sendiri.
Ia tak bereaksi apa-apa hingga Guanlin menghentikan ciuman bohongan itu. Sungguh, bukannya Karin berharap. Tapi biasanya laki laki itu akan bertindak langsung, bukan setengah-setengah seperti sekarang ini.
Ia kemudian tersenyum manis sambil menatap Karin. Laki laki itu menunduk menyamakan tingginya dengan Karin yang hanya sebatas bahu, kemudian berbisik pelan.
"Masalah kita belum selesai! Awas lo besok!" Setelah mengucapkan ancaman yang bahkan tak membuat Karin takut, ia kembali berdiri tegak.
"Oke, ya. Gue balik. Bye." Guanlin berlebihan sekali karena ia berucap dengan nada keras.
Ia pergi bersama motornya setelah ia mengusap rambut Karin lembut. Karin masih diam di tempatnya bahkan ketika laki laki dan motornya itu tak lagi kelihatan.
"Kerasukan!" Karin membatin. Sesaat setelah ia berbalik, ia mendapati senior Hwang yang berdiri lumayan jauh dari tempatnya berada. Pria itu salah tingkah kemudian masuk ke rumah kembali.
Karin pikir, ia menyadari sesuatu, "Jadi tadi,"
◐◐◐
"Hai, Kim Karin."
Guanlin menyapa gadis yang mengatakan sangat membencinya kemarin malam. Kali ini dia sendirian di loker seakan dewi fortuna memberi kesempatan pada Guanlin. Cuaca mendung membuat suasana loker yang tanpa penerangan menjadi cukup gelap. Ia tak lagi khawatir tentang keberadaan Airish, karena barangkali gadis itu sudah pulang duluan.
"Mau ngapain lagi sih, lo?! Minggir!" Karin mulai was-was. Dia pikir Guanlin hari ini tak masuk sekolah. Ya, wajar saja. Si tinggi itu tak masuk ke kelas seharian. Santai sekali dia muncul di loker setelah pulang sekolah tiba.
Dan memang benar saja gadis itu benci padanya. Terbukti dengan sikapnya yang selalu marah-marah tiap mereka bertemu. Karin mendorong laki-laki itu agar tak menghalangi langkahnya namun gagal. Guanlin malah balik menyudutkannya ke barisan loker di belakang mereka.
__ADS_1
"Mau kemana sih? Lo itu masih punya masalah sama gue." Bisiknya tepat ditelinga Karin. Ia bahkan mengelus lembut sisi kanan wajahnya. Hal itu membuat Karin merinding.
"Lo emang mulai gak waras ya!"
Guanlin mendecih, "Berapa kali lagi sih gue harus ngomong sama lo? Gue mau lo. Gue ga bakal dapetin lo gimana pun—"
"Diem lo! Gue muak liat lo tau ga!"
"Gue juga muak liat lo, tapi gue ga mau lo jauh-jauh dari gue gimana dong?"
"Lama-lama gue tonjok juga ya lo!"
"Ayo, tonjok. Disini nih." Guanlin menyodorkan pipi kanannya. Karin menatap laki laki itu tajam. Kemudian ia menunduk. Merasa putus asa kenapa Guanlin selalu mengusik dirinya.
"Kenapa lo ga berhenti gangguin gue sih?" Ujarnya pelan.
Guanlin mendecih lagi, "Lo tau ga, gimana kehidupan manusia kalau oksigen ga ada?"
Karin tak menjawab. Malas.
"Nah, kira-kira gitu hidup gue kalau ga ngusik lo seharian. Kaya ada yang kurang rasanya."
"Lo bener-bener mau nyiksa gue?!"
"Iya."
Karin mengepalkan tangan emosi. Tapi Guanlin tetap menghadapinya dengan wajah senyum mengejek. Tak curiga akan hal apa yang akan gadis itu lakukan dalam beberapa menit ke depan.
Bughh...
Real savage! Karin menonjok perut Guanlin sekuat tenaga. Tak tanggung-tanggung ia menendang tulang kering bagian kiri laki-laki itu agar terlihat seimbang. Kemarin dia sudah menendang yang kiri bukan? Karin menutup aksinya dengan kabur. Ia berlari secepat mungkin ketika Guanlin mengaduh kesakitan.
Tapi Guanlin tak menyerah secepat itu. Ia mengejar Karin yang larinya cukup cepat walau dengan langkah terseok-seok dan perut ngilu. Bagaimana tonjokan perempuan lemah seperti Karin bisa sekuat itu. Guanlin salut.
Karin ketakutan. Lama-lama ia menangis dengan raut panik. Tak lupa berteriak minta tolong, walau tahu kemungkinan besar sudah tak ada lagi orang kecuali mereka berdua di sekolah ini. Sialnya, kakinya malah membawanya ke laboratorium tak terpakai di bagian belakang sekolah. Karin ingin berbalik, tapi ternyata Guanlin berada 50 meter di belakangnya.
"Dasar cewe sialan!"
Karin ketakutan mendengar laki laki itu berteriak dengan wajah marah. Ia bingung harus kemana. Perlahan, Guanlin maju mendekatinya. Karin masa bodoh dengan laboratorium yang kemungkinan terdapat banyak laba-laba di dalamnya. Ia masuk dan berniat menutup pintu. Tapi gagal. Gerak Guanlin lebih cepat dari yang ia bayangkan. Karin berlari menjauh bersamaan dengan Guanlin yang menutup pintu laboratorium.
Ruangan ini tak cukup luas. Bahkan tak ada tempat untuk bersembunyi. Jadilah dia hanya berdiri mematung menatap takut pada laki laki yang kini menatapnya penuh amarah.
"Gue udah coba sabar ya sama kelakuan lo! Tapi gue sadar, lo emang ga pantas dibaikin!"
Karin menepis rasa takutnya, "Gue udah bilang sama lo, jangan pernah ganggu gue lagi! Sial terus gue deket sama lo!"
Guanlin tak dapat menahan amarahnya. Ia mendekati gadis itu dan menarik kerah seragamnya kasar. Membenturkan tubuh kecilnya ke dinding laboratorium. Karin merasa punggungnya remuk. Air matanya menetes. Guanlin bisa-bisanya main kasar.
"Kenapa lo nangis? Takut sama gue, hah?!"
Karin diam. Tapi matanya tak berhenti memberi sorot dendam pada laki-laki itu.
"Ayo, coba bilang kalau gue pembawa sial! Ayo bilang!" Guanlin ingin tahu seberapa besar keberanian Karin.
Karin malah semakin emosi mendengar ucapan Guanlin. Ia merespon 'are you kidding me?' dalam diamnya. Ia mengumpulkan keberanian.
"Lo! Emang! Cowo! Pembawa! Sial!"
Karin menekankan setiap kata-katanya sambil menunjuk tepat di hadapan Guanlin. Ia juga mulai tak nyaman dengan kerah bajunya yang diremas laki-laki itu.
Nafas Guanlin bergemuruh menahan amarah. Ia jadi gelap mata. Dan dengan sadar ia mengepalkan tangan berniat membogem wajah perempuan di depannya. Karin pasrah. Ia memejamkan mata rapat-rapat sambil menolehkan wajah ke kiri.
Guanlin menahan pukulannya. Ia berusaha tak memukul Karin. Walau termasuk keterlaluan, ia merasa tak pantas memukulnya.
__ADS_1
TBC")