
"What a bad feeling!"
___ooOoo___
Ting tong.... Ting tong...
Degg
Hampir pukul 6, dan tidak ada seorang pun dirumah kecuali dirinya, ditambah dengan Guanlin yang mengejarnya sedari tadi. Bagus!! Karin jadi berfirasat buruk kalau yang datang adalah si psycho. Dengan mengendap endap, Karin melangkah pasti menuju pintu utama dan mengintip lewat jendela siapa yang berada diluar sana. Harap harap takut kalau itu Guanlin. Ternyata bukan. Diluar sana berdiri seorang kurir go food. Bicara tentang go food, memangnya siapa yang memesannya? Karin tak merasa memesan makanan lewat go food semenjak sampai di rumah. Karin akhirnya memutuskan membuka pintu untuk menanyai si kurir go food.
"Iya? Bapak cari siapa ya?" Tanya Karin berusaha sopan. Kurir dengan setelan rapi dan mengenakan masker itu berbalik dan menatap Karin sekilas sebelum kemudian membuka maskernya.
"Hai, Kim Karin." Karin terbelalak melihat siapa yang tinggi menjulang dengan kantongan go food di tangannya. Hey, siapa lagi jika bukan Lai Guanlin terhormat. Karin dengan sigap menutup pintu sebelum Guanlin masuk, namun seketika itu juga Guanlin balas mendorong pintu agar tidak terkunci diluar.
Namun, mari berpikir logika. Tenaga seorang Karin dengan badan kecil tentu tak akan menang melawan Guanlin dengan badan bongsor. Karin menyerah saja sebelum dia benar benar terpelanting karena terdorong pintu.
Karena gaya dorong yang luar biasa, Guanlin jatuh ke depan dan menabrak Karin hingga....
Cupp...
Loading... Loading... Loading....
Baik Guanlin dan Karin terkejut dengan mata melebar saling dan bertatapan dan posisi yang ambigu.
Karin segera menyudahi kebodohannya dan bangkit berdiri. Dua insan itu diam terpaku dan membisu. Karin merasa amat sangat malu. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya dirinya ingin langsung menghilang saja darisini. Atau adakah jin yang dapat membantunya untuk mengecil? Tolonglah. Guanlin menatapnya datar berusaha meredam euphoria dalam dirinya karena ia tak sengaja mencium Karin.
Oke, sebenarnya ini bukan pertama kali bagi dirinya yang bad boy. Guanlin pernah melakukannya beberapa kali dengan mantan pacarnya yang bejibun. Tapi tetap saja Guanlin merasa kalau Kim Karin adalah yang paling spesial.
Karin berlari menuju kamar mandi terdekat dan membasuh bibirnya berkali kali. Semua jenis sabun yang berbaris rapi di kamar mandi tersebut, Karin gunakan untuk membasuh bibirnya. Gadis itu campur aduk antara kesal dan malu. Ia menghentak-hentakkan kakinya sambil menutup mulut menahan teriakan marah.
"Engga, engga. Masih suci kok gue." Ucapnya berkali kali sambil mencuci bibirnya. Gadis itu nampak repot sendiri. Ia merengek kesal.
15 menit kemudian....
Karin keluar dari kamar mandi dan menuju ruang tengah dimana Guanlin dengan gaya santai sedang menonton TV dan ngemil dari makanan yang dia bawa tadi. Dua kakinya yang masih mengenakan kaus kaki dia taruh tanpa segan diatas meja. Karin mendecak sebal. Yang punya rumah siapa sih woi?!
"Ehem!!" Karin berdehem untuk menyadarkan Guanlin yang kekurangajarannya diambang batas. Guanlin menatapnya sekilas. Cuek. Kembali matanya menatap TV dan meneruskan acara ngemilnya. Karin memutar bola mata jengah. Kalau ia punya tongkat peri, akan ia ubah laki laki kurang ajar itu menjadi ikan.
"Btw, yang tadi bukan apa apa. Gausah dibawa hati."
"Maksudnya?" Tanya Guanlin sok tidak tahu. Guanlin makin menyebalkan.
"Yang itu. Karena itu terjadi secara ga sengaja, maka itu ga masuk hitung sebagai ciuman." Balas Karin frontal pada akhirnya. Guanlin mendecih pelan.
"Terus ngapain lo pikirin? Baperan amat jadi cewe!" Sarkasnya. Karin diam. Guanlin sering mengucapkan kalimat itu dulu. Apa hanya Karin yang merasa, jika kalimat itu membuat dirinya seakan hina sekali?
"Tapi gue seneng sih." Guanlin berucap kembali. Matanya masih setia menatap layar TV.
"Dasar cowo kurang ajar." Karin bersuara sepelan mungkin agar Guanlin tak mendengar.
"Lo banyak berubah ya, Kim Karin."
"Yaiyalah bodoh! Yakali gue tetap 150 cm." Karin menjawab dengan tatapan kesal.
"Ck! Lo paling cuman nambah 6 cm tapi gayanya sok banget."
"6 cm itu juga perjuangan."
"Halah, perjuangan apaan. Gue yang nambah 23 cm biasa aja."
Karin memberenggut kesal. Ini namanya secara tak langsung Guanlin menghina dirinya sebagai partikel tak tumbuh.
Oke, Karin tak peduli. Setiap kata kata Guanlin memang selalu pedas. Menyakitkan hati. Karin bergegas menuju kamarnya. Suara Guanlin menginterupsi. Karin berhenti di tangga menunggu apa yang akan laki laki itu ucapkan. Bisa saja Karin tak peduli, namun dia tak mau memperpanjang masalah. Tujuannya hanya satu. Menyelesaikan masalah dengan Guanlin agar hidupnya tenang dan bebas dari si psycho.
__ADS_1
"Mau kemana lo?"
"Tidur."
"Lo ninggalin tamu sendiri? Ga sopan banget jadi cewe!"
"Hmm."
"Eh, kalo orang ngomong tuh, dijawab! Emang ga ada sopan ya lo."
Mata Karin menyipit memandangi Guanlin dengan raut kesal. Andai dia bisa menemukan sebilah kapak yang digunakan Rose di film Titanic saat ini, dia akan mengayunkan pedang itu tepat sasaran di leher Guanlin. Btw, kok jadi Karin yang mirip psycho sih? Gadis itu menarik nafas sejenak.
"Iya ada yang bisa saya bantu? Apa lo kesulitan cari pintu keluar? Makanya liat pake mata jangan pake lobang idung. Itu otak digunain dikit kenapa sih? Lo pikir otak lo bakal habis gitu kalau dipake mikir? Apa gunanya Tuhan ciptain memory besar otak kalo lo gabisa make? Buat orang ribet aja lo!"
"Wow!!" Guanlin ternganga.
Karin mendecak. Iya sih, kenapa dia jadi ngawur. Ah, salah Guan nih.
Guanlin berdehem singkat, "Lo belum makan kan? Makan dulu baru tidur. Gue bawain makanan buat lo."
"Udah deh, sok baik lo. Pasti ada batu dibalik udang nih."
"Udah dibalik batu woi!"
"Terserah gue dong! Oohh, jangan jangan lo campur sianida lagi di makanan ini. Wahh, ga bener ini mah. Kudu gue lapor ke komnasham nih."
"Apaan sih kutu lompat! Gue baek baek bawa makanan, malah mau dilaporin ke komnasham. Emang beneran ngawur deh lo."
"Bodo dehh. Pokoknya keluar lo sana. Gue mau tidur. Ayo, buruan!"
"Kalo gue ga mau?"
"Wahh, ngundang war nih."
"Maksa banget! Heran gue!"
"Kimbab."
Krikk krikkk....
Bagaimana si bodoh ini bisa tau kalau sejak siang Karin ingin sekali makan kimbab. Kan kalo gini jadi ga bisa nolak. Curang si Guanlin.
"Mau ga?"
"Mau deh." Final Karin pada akhirnya setelah menimbang nimbang rasa ego dengan rasa laparnya. Guanlin geleng geleng kepala heran.
"Pas dibilang kimbab langsung mau lo. Dasar anak setan."
"Iya, dan lo bapak setannya." Balas Karin acuh dan sibuk membuka kresek bawaan Guanlin. Guanlin tak sadar kalau ia tersenyum kecil melihat wajah serius Karin ketika membuka kresek. Anak itu bagai anak ayam yang sedang makan.
"Lo banyak berubah ya."
"Daritadi lo ngomong gitu." Karin membalas dengan mulut penuh.
"Iya. Lo banyak berubah."
"Maksud lo apaan sih? Gausah nambah-nambahin pusing yang lagi bersarang di kepala gue deh."
Guanlin tak menjawab. Ia lebih memilih bungkam dengan jawaban yang sebenarnya sangat ingin ia utarakan. Karin banyak berubah. Gadis yang pernah menjadi masa lalunya itu tak seperti dulu lagi. Kim Karin yang dulunya penurut, lemah, dan mau disuruh-suruh. Dia banyak berubah.
***
"Jennie, maju kamu."
__ADS_1
Karin duduk dengan perasaan gelisah yang tertutupi sambil menunggu kertas ulangannya akan dibagikan. Iya, ulangan yang diadakan 3 hari lalu, hasilnya dibagikan sekarang. Karin merasa mimpi buruk.
Jennie yang dititahkan mrs. Sohye membagi hasil ulangan mulai bersuara memanggil satu satu nama sambil berjalan mengantar kertas mereka. Hingga akhirnya nama Karin disebut dengan sedikit nada sinis mengejek dari Jennie.
"Karin, it's yours." Karin segera memintanya dan melihat nilai yang terpampang dengan jelas diatas kertas A4 putih itu. Huh, that's a nightmare.
......45.....
Mengapa nilainya semakin anjlok sih? Sia sia saja dia belajar keras sampai mengabaikan segalanya beberapa hari lalu jika hasilnya seperti ini. Matematika emang jahat banget, serius. Tidak berakhlak!
Kang Daniel kepo dan berpindah dari kursinya yang berada dibelakang Airish dan mengintip kertas Karin. Kemudian suara tawa bass laki laki itu terdengar. Karin tak berbuat apa apa. Tentu saja itu sangat memalukan. Dia tetap bersikap poker face walau rasa malunya teramat besar. Tak lupa tangannya sibuk menutupi nilai buruknya.
Karin memasukkan kertas sialan itu kedalam lembaran bukunya. Menjejalkan benda tipis itu sedalam mungkin bagaikan sesuatu yang tak diinginkan. Ketika ujian matematika berprinsiplah 'Kerjakan, kumpulkan, lupakan' dan masalahnya beres.
"Hahaa, 45 ya? Kita hanya beda 5 Kim Karin. Lo ga malu kalau misalkan gue bisa ngejar nilai lo nanti? Kasian banget sih lo." Ejek Daniel membuat Karin semakin ingin menendang tulang kering laki laki itu. Anak anak lain jadi sok ikut ikutan kepo terhadap nilainya gara gara tawa Daniel yang menggelegar.
"Dan nilai sempurna didapatkan oleh Guanlin." Ucap Jennie dengan wajah cerah kemudian sambil menunjukkan kertas ulangan Guanlin yang mendapat nilai 100. Semua terpana. Laki laki itu selalu mendapat nilai sempurna dalam semua pelajaran. Gimana ga idaman coba?
Karin biasa saja. Ini bukan pemandangan langka. Guanlin memang pintar dan berbakat dalam hal apapun, terlebih lagi matematika. Kenapa harus heran? Dasar berlebihan.
"45 ya? Kayanya dibagian ini lo sama sekali ga berubah." Bisik Guanlin sekilas sebelum dia melangkah keluar kelas bersama Jihoon, Seong Woo, dan Daehwi. Laki laki itu mengerlingkan mata seakan mengejek. Karin meremas kertas di tangannya sadis membuat Airish memadangnya dengan bola mata membulat.
***
"Woi murid baru!! Lo dipanggil sama kepala sekolah." - Kang Daniel.
Karin menoleh sebentar. Namun dia tak yakin. Mungkin saja Daniel mengerjainya. Laki laki ini kan memang memiliki tingkah overdosis.
"Yaelah. Malah ga percaya sama gue."
"Pasti lo mau ngerjain Karin. Jujur lo!"
"Emang bener kok dia dipanggil sama kepsek. Kali ini gue jujur." - Park Woojin
"Yaudah deh. Rish, temenin gue ya."
Airisih mengangguk dan mereka segera keluar dari kantin dimana ratusan murid sedang menikmati masa merdeka sementara.
"Lo diluar dulu ya. Gue nemuin kepsek bentar."
"Oke."
Karin membuka pintu dan masuk untuk menemui kepala sekolahnya yang langsung memandangnya dengan raut tak biasa. Perasaan Karin agak sedikit tak enak. Tangannya berubah dingin entah untuk alasan apa.
"Kim Karin, silahkan duduk."
Karin tersenyum mengangguk kemudian duduk di kursi tepat di depan kepala sekolah.
"Ada apa ya, bu?"
"Ada yang pengen ibu bicarain sama kamu?"
"Iya bu. Silahkan."
"Tapi ibu mohon biar kamu tetap tenang. Oke?" Karin mengangguk ragu.
"Begini," Wanita berumur dan nampak bijaksana itu menjeda sebentar membuat Karin semakin penasaran.
"Papa sama mama kamu kecelakaan pesawat ketika ingin pulang ke Indonesia. Saat ini keadaan mama kamu kritis dan papa kamu dinyatakan meninggal dunia ditempat."
Jederrrrrrr!1!1!11
Tbc")
__ADS_1