Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
04. Flower bomb


__ADS_3

"Aku bersedia menjadi hujan di musim keringmu, namun mengapa begitu aku turun, kau memilih berteduh?"


___ooOoo___


Karin menemani Airish ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku biologi referensi. Tak hanya menemani, Karin juga berniat meminjam beberapa buku matematika darisini hingga mereka berada di tempat berbeda.


"Nanti kita ketemu di pintu utama, ya." Ucap Airish sebelum berpisah mengingat ruangan perpustakaan ini sangat sangat luas. Karin mengiyakan dan mulai berjalan menuju rak matematika. Tengah asyik memilih milih buku, Karin tak sengaja melihat sosok Guanlin yang tengah memilih buku di rak yang tak jauh darinya. Laki laki itu nampak serius. Karin menatapnya lama. Menatap sosok jangkung dengan wajah datar itu. Hingga tanpa ia sadari Guanlin balas melihatnya.


"Ngapain liatin gue?" Tanyanya membuat Karin terkesiap. Mulutnya kelu. Sungguh, ia sangat malu.


"Em, sebaiknya kita kita pergi." Jihoon berucap mewakili dua temannya, Seongwoo dan Daehwi. What the hell! Kenapa Karin baru sadar kalau ternyata Guanlin bersama tiga temannya. Karin kenal mereka semua. Mereka pernah berada di JHS yang sama dulu.


"Hai, Karin. Lo makin cantik aja." Sapa Seongwoo dengan senyumnya yang selalu khas. Karin malas mananggapi cowo manis yang terkenal playboy sejak SMP itu.


"Siapa sih?" Tanyanya sok tidak kenal.


"Oh, kenalin. Gue Ong Seongwoo bukan Hong seong woo. Gue Ong Seongwoo bukan Ung Seongwoo. Gue Ong Seongwoo bukan Gong Seongwoo. Menjabat sebagai happy virus dikelas 12 IPA 2. Sekian terimakasih."


Daehwi dan Jihoon tepuk tangan riuh. Sementara Seongwoo membungkuk bangga seperti yang pernah kulihat di drama musikal. Gaya receh segerombolan ini memang tak pernah berubah sejak dulu.


"Kuy deh pergi." Ajak Jihoon pada akhirnya. Kini tinggal aku dan laki laki itu disini. Maksudku, khusus di rak matematika ini. Dia berdehem singkat sebelum berbicara.


"Oke, gue rasa masalah kita belum sele-"


"Gue rasa masalah kita udah selesai. Gue permisi."


"Berhenti lo!"


Aigoo! Aku sedikit terkejut. Ingat, hanya sedikit. Suara bass Guanlin memang selalu terdengar mengerikam ketika ia setengah membentak.


Suara dan aura psycho milik Guanlin nampak mendominasi ruangan ini. Aku berhenti dan kembali berbalik menghadap dia. Berusaha melawan takut.


"Gue nanya, maka lo harusnya jawab."


"Nanya apa sih lo?" Aku berusaha berani berbicara agar dia tak merasa dirinya berhasil membuatku takut.


"Kenapa lo ada disini? Lo ngikutin gue?" Tanyanya percaya diri sambil bersedekap dada. Angkuh.


"Dih, berasa kurang kerjaan banget gue harus ngikutin lo kesini." Aku bersedekap dada, mengikutinya. Guanlin memadang datar.


"Terus ngapain lo disini?"


"Emang sekolah ini punya lo ya? Makanya gue ga boleh sekolah disini?"


"Cih! Sekolah disini tapi ternyata lo gatau apa apa tentang sekolah. Gimana sih?!" Balasnya dengan nada seperti anak kecil yang menyatakan hak kepemilikan. Tiba tiba aku mengingat ucapan mrs. Yeon yang pernah membahas tentang kepala sekolah yang memiliki seorang anak. Eh, apa dia si psycho ini? Seingatku ibunya sudah meninggal ketika dia masih berusia 5 tahun. Atau mungkin aku sedikit lupa?


"Eh Guan. Tolong ya. Gue cuman pengen sekolah dengan nyaman disini. Gue ga berniat mau berbuat jahat kaya yang mungkin lo pikirin. Jadi, anggap aja kita kaya ga kenal. Lo atur hidup lo. Gue atur hidup gue."


"Kalo gue ga mau?"


Aku mendecak, " Terus lo maunya apaan, hah?"

__ADS_1


"Lo."


"Hah?" Aku planga plongo loading mendengar ucapan Guanlin.


"Maksud lo?"


"Iya, gue maunya lo."


"Ngaco! Gue mau balik. Permisi."


"Nanti pulangnya, lo harus sama gue."


Aku berhenti lagi karena ucapan Guanlin yang sangat terkesan bossy kemudian memandangnya sinis. Aku merasa sangat malas untuk berbicara dengannya.


"Ga. Gausah. Nanti gue dijemput sama supir gue. Makasih." Balasku acuh dan berangsur pergi.


"Bukannya pak Ryan lagi pulang kampung karena urusan keluarga ya?"


What the hell! Dia ini stalker yaa?


"Hah! Lo, lo stalker?!"


"Gue ga mau tau. Nanti lo pulang sama gue. Kalo lo kabur, liat aja apa yang gue lakuin." Ancamnya. Cih! Emang dia pikir aku akan takut lalu menurut? Tolong ya Guanlin, aku bukan orang lemah yang selalu kalian bully dulu.


***


"Yakin nih ga mau pulang sama gue?" Tanya Airish sekali lagi untuk membuatku menurut. Aku menggeleng pertanda menolak. Bukannya tak mau, tapi aku sudah menyuruh Jaehwan menjemputku. Sepupuku yang songong itu akan marah bila ternyata aku pulang bersama yang lain.


"Bye, Karin!!!" Aku melambaikan tangan melihat Airish yang semakin jauh bersama dengan mobilnya.


Sambil menunggu Jaehwan yang katanya akan tiba 15 menit lagi. Aku memutuskan membaca komik series kesukaanku di salah satu situs web.


"Woi, murid baru."


Tanpa melihat saja, aku tahu siapa yang tengah berada didepanku dengan motornya itu. Sudah pasti itu si menyebalkan Kang Daniel. Aku meliriknya singkat. Dia bersama dua temannya. Kalau tidak salah mereka adalah Park Woojin dan Bae Jinyoung. Tiga serangkai yang menurutku selalu menyebalkan. Mereka termasuk siswa idaman siswi sekolah. Dan kalau boleh jujur, mereka memang tampan dan memiliki senyum yang manis. Terlebih lagi Woojin karena memiliki gingsul. Namun, kesan pertama yang kudapat dari mereka sudah tidak baik. Bagaimana tidak? Mereka kerapkali mengusiliku selama di kelas. Yang paling aku ingat ketika Woojin mengambil buku catatan fisikaku dan menyalin isinya bersama Baejin. Mereka bahkan tak mengakui perbuatannya sehingga nilai fisikaku kosong karena ulah mereka. Bukankah akan sangat meyebalkan ketika kau sudah mengerjakan tugas fisika hingga larut malam, namun ujung-ujungnya nilaimu tetap kosong?


Setelah selesai mengumpul buku catatan mereka, mereka mengembalikan bukuku dengan wajah cengengesan. Wajar kan kalau aku kesal?


"Apaan lagi sih kalian?"


"Pulang sama kita kuy." Ajak Woojin dengan nada sok akrab. Aku memutar mata jengah. Ingin kupukul dia mengingat semua perbuatannya.


"Gausah. Duluan aja lo pada."


"Elah. Sok nolak lo murid baru." Sahut Daniel nimbrung. Aku muak sekali Daniel selalu mengataiku murid baru. Bukannya dia sudah tau namaku? Sepertinya anak ini juga minta dipukul.


"Eh Euigeon! Gue punya nama ya. Nama gue Karin. Bukan murid baru."


"Enakan manggil murid baru daripada Karin. Nama lo jelek banget sih. Perasaan lo mahluk asli Korea, tapi nama lo ga mencerminkan Korea sama sekali." Opininya membuatku semakin kesal. Aku banyak kesal satu hari ini. Mereka -Woojin dan Daniel- tertawa mengejek. Sedangkan Baejin hanya senyum kecil sambil menggelengkan kepala saja. Sedari tadi laki laki dengan seragam rapi itu hanya fokus pada ponselnya diatas motor. Laki laki satu ini memang lumayan pendiam dibanding dengan dua curut disampingnya itu.


"Udah deh. Gue tanya lagi, lo mau ikut ga?" Tanya Daniel lagi. Aku menggeleng. Boro boro pulang dengan mereka. Melihat mereka saja aku sudah kesal setengah mati.

__ADS_1


"Terserah deh. Awas, hati hati lo digodain sama om om. Bye murid baru." Kang Daniel dan Park Woojin memacu motor mereka terlebih dulu menyisakan Baejin di belakang.


"Jangan pikirin ucapan mereka ya. Biasanya mereka sering ganggu cewe karena mereka suka." Kata Baejin yang pendiam sebelum dia menyusul dua temannya yang tengah bereksperimen mengendarai motor tanpa tangan sambil tertawa tawa. Aku menepuk jidat melihat pemandangan ekstrem itu. Dasar Woojin! Dasar Daniel! Mereka mau mati?!


Cukup lama aku melamun hingga sadar kalau Jaehwan yang laknat tak kunjung datang. Jangan jangan dia asyik karaoke hingga lupa diri kalau dia berjanji menjemputku pukul 3 yang bahkan sudah berlalu 25 menit lalu. Astaga kesalnya. Aku ingin menangis meratapi nasibku yang selalu ditelantarkan begini. Pada akhirnya aku memutuskan berjalan sampai halte yang jauhnya kira kira 1 km dari sekolah sambil sesekali menelfon Jaehwan. Namun sepupuku yang laknat itu tak kunjung mengangkat telfonku. Satu notif membuatku berharap kalau itu Jaehwan yang mengatakan 'gue hampir sampe', ternyata tidak. Ini dari nomor tak dikenal.


From: +82.......


Mana lo? Kabur?


Ini pasti dari Guanlin. Aku baru ingat kalau dia menyuruhku pulang bersama dia. Aku waswas barangkali dia berada disekitarku dan tengah mengawasiku. Aku menoleh ke belakang. Seorang pengendara motor sedang menuju kearahku dengan menggunakan seragam yang sama. Aku tak tahu itu siapa karena dia memakai helm fullface. Aku menghilangkan gengsiku dan memberhentikan motor itu untuk nebeng. Setidaknya aku bisa jauh dari Guanlin yang psycho. Aku menyuarakan padanya kalau aku butuh tumpangan sesaat setelah ia berhenti.


"Lo datang pada orang yang tepat, Kim Karin." Suara bass menyapa pendengaranku ketika pengendara motor itu berhenti. Shit! Ternyata dia si psycho. Guanlin menatapku dengan senyuman meremehkan seakan mengatakan 'mau lari lo dari gue?'. Waswas, aku melihat sekitar. Barangkali ada orang, aku akan berteriak minta tolong. Namun nihil. Hanya ada aku dan si psycho beserta rimbunnya pepohonan.


"Mau kabur dari gue lo?" Tuh, kan. Baru aja kubilang. Aku berusaha tak acuh dan berjalan santai hingga aku berlari sekuat tenaga. Guanlin tertawa. "Lari aja, lari. Toh lo ga bisa kemana mana sekarang." Teriaknya diriingi tawa riang. Benar benar mirip psycho.


Aku bersyukur melihat sebuah angkot datang melintas bersamaan dengan Guanlin yang memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Sial! Dia mengejarku. Aku panik tentu saja. Kupaksa supir angkot yang malang itu agar ngebut. Awalnya dia menolak, hingga menurut karena ongkos yang kujanjikan tinggi. Aku bersorak girang dalam hati ketika motor Guanlin hilang dibalik ribuan kendaraan ketika jalan tengah macet besar. Huh, syukurlah. Setidaknya aku dapat menghindar walau hanya sampai besok pagi.


***


AUTHOR POV


Cklekk...


Aura sepi menyapa Karin ketika dia membuka pintu mansion besarnya. Sunyi. Gelap.


"Aku pulang."


Karin mendadak teringat pada sepupunya yang laknat. Karena ulahnya, hari ini dia jadi berasa buronan negara karena terus terusan lari menghindar. Kekesalannya mengumpul jadi satu membentuk kepulan asap yang hampir keluar dari telinganya. *berasa ngiklan saos, eh.


"Jaehwann?!!! Mana lo?!! Keluar ga? Gue habisin lo sekarang!!"


Sepi. Diam. Tak ada tanda seorang pun menempati rumah ini. Karin bergegas menuju ruang karaoke dimana kemungkinan besar Jaehwan bersemayam, eh.


Dengan penuh emosi, Karin membuka pintu ruang karaoke. Namun tetap saja tak ada siapa siapa. Karin tak putus asa. Niatnya menghabisi Jaehwan harus terwujud. Karin setengah berlari menuju kamar Jaehwan dilantai dua. Membuka kamarnya, namun hasilnya tetap saja.


"Sialan. Kemana sih si kutill!!" Decaknya kesal. Karin memutuskan minum sesuatu karena saking hausnya berteriak sedari tadi. Karin mendapati sebuah sticky notes kuning tertempel di kulkas. Karin membaca tulisan rapi yang tertulis diatasnya.


'Maaf ya sepupu cantik gue. Gue ga bisa jemput lo tadi. Gue dengan setengah terpaksa harus ninggalin mansion lo ini gegara gue dipanggil sama dosen gue. Padahal gue masih pengen karaokean di rumah lo. Bukan karena gue ga modal ke tempat lain. But, kalo masih ada yang gratis, buat apa gue buang buang duit. Iya ga sih? Iyain aja deh biar gue seneng. Oke deh, salam hangat dari sepupu lo yang baiknya luar dalam, uri jjaeni yang suka nyanyi untuk karinasin yang halunya selangit:)'


Karin terbahak membaca surat Jaehwan. Apaan sih 'Karinasin'? Kalau Jaehwan disini, sudah pasti dia mengomel panjang kali lebar.


Karin melanjutkan aktivitasnya untuk berniat memasak, sebelum kemudian menyadari bahwa tak ada apapun di kulkas. Karin merasa beribu kesialan menimpanya seharian ini. Baik, mari jabarkan. Mulai dari ulangan matematika yang merepotkan, bertemu dengan Guanlin di perpustakaan, dikejar kejar Guanlin layaknya buronan, harus jalan kaki sampai rumah karena lupa bawa dompet, dimarahi supir angkot gara gara ga bisa bayar, dan kini harus menahan lapar karena tak ada apapun di kulkas.


Bisa nangis ga sih, ini?


Ting tong... Ting tong....


"Permisi...."


Tbc")

__ADS_1


__ADS_2