
Happy reading")
"Hm, gimana ya?"
"Yah, gue digantungin." Guanlin berkata dengan raut pura pura sedih. Karin tertawa.
"Iya, gue mau."
"Hah, apa tadi?"
"Iya, gue mau. Gue mau jadi pacar lo."
Guanlin tersenyum senang. Entah karena dorongan apa ia menarik tangan Karin lebih dekat dan kemudian memeluknya. Gadis itu tak menolak.
"Makasih."
"Buat?"
"Udah mau nerima gue lagi."
Karin tak membalas. Ia tersenyum bahagia di pelukan laki laki jangkung yang kini adalah pacarnya itu.
"Oh iya. Pulang yuk. Gue masih banyak kerjaan nih." Pinta Karin saat ia sadar kalau sekarang hampir pukul 3 sore.
---
"Permisi."
Karin melonjak kaget saat seseorang mengetuk pintu rumahnya. Siapa juga yang bertamu di malam hari ketika turun salju begini?
Karin melangkah mendekati pintu, membukanya dan lebih bingung lagi saat mendapati seorang pria paruh baya mengenakan jaket berlogo ojek online berdiri di depan rumahnya.
"Maaf pak, bapak salah alamat. Saya ga mesan ojek loh pak."
"Saya kesini buat ngantarin kiriman."
"Hah? Kiriman? Dari siapa pak?"
"Saya gatau jelasnya. Silahkan tanda tangan disini."
Walau bingung, Karin tetap menerima kiriman tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di buku tanda penerima. Karin mengucapkan terimakasih sesaat sebelum pria itu pergi.
"Kiriman apaan sih ini?"
Ia buru buru membuka kotak yang berukuran sedang itu, kemudian menemukan secarik kertas berisi soal, secarik kertas bertajuk 'clue' , sebuah amplop, sebatang coklat, dan satu susu kotak. Karin semakin mengerutkan alisnya dalam. Tak berlama lama, Karin membuka amplop, dan menemukan sepucuk surat disana. Ia berharap kalau surat ini dapat menjelaskan kebingungannya.
Surprise!! Kaget ga? Heran ga? Kalau iya, bagus deh. Pasti sekarang tau kan ini kiriman dari siapa.
Oke bakal gue jelasin. Mudah mudahan lo ga lupa kalau test yang bakal diadain guru BK buat lo adalah lusa. Jadi, biar semua yang gue ajarin sama lo ga sia sia, gue kasih soal yang harus lo kerjain malam ini juga dan lo kasih tau gue jawabannya besok. Oh iya, gue juga ngasih clue buat lo.
Jadi simplenya, ini adalah latihan soal yang merangkap surat rahasia dari gue. Dan lo harus kerjain 8 soal itu terus cocokin sama clue yang udah gue kasih.
Terus ada coklat sama susu buat lo. Ya, persiapan siapa tau lo bosen atau pening.
Good luck, pacar:)
Loy....
Karin menutup mulut menahan tawanya. Kenapa anak itu selalu berbuat sesuatu yang diluar pemikirannya sih? Bukankah ini cara yang cukup unik untuk mengingatkannya agar ia belajar. Guanlin itu spesial. Pokoknya spesial.
Karin bergegas menuju kamarnya dan mulai mengerjakan 8 soal yang Guanlin berikan. Kalau dilihat sepintas, soal ini terdiri atas 3 mata pelajaran yang tentu saja soal hitungan yaitu matematika, fisika, dan kimia. Di sudut kanan paling bawah, Karin melihat sebuah note.
Ini soal kelas 10 btw. Pasti lo bisa jawab. Gue yakin.
Soal kelas 10? Astaga, mau ini soal anak SMP sekalipun, Karin tetap akan merasa kesulitan menjawabnya. Mana ada soal matematika, fisika, dan kimia yang mau diajak bekerja sama.
Namun, gampang putus asa bukanlah gayanya. Ia mulai mengerjakan soal soal tersebut setelah membacanya sepintas. Jadi fix, soal nomor 2 adalah soal termudah.
Jika a\={3,4,5,6} dan b\={a,b,c}
__ADS_1
Maka banyak anggota dari a x b....
Karin mencoret coret diatas kertas buram. Ia mencoba mengingat bagaimana Guanlin mengajarinya beberapa hari lalu hingga ia tersenyum cerah ketika menemukan jawabannya.
"Nomor 2 jawabannya 12. 12 itu berarti..."
Karin melihat kertas clue berisi daftar huruf dan angka yang mewakilinya.
"...L."
Karin kembali mengerjakan soal soal lain. Kadangkala ia melirik sudah pukul berapa sekarang. Ia mulai mengantuk ketika jam hampir menunujukkan tengah malam. Soal yang ia belum kerjakan tersisa satu. Karin berusaha tetap melek.
Ia mengingat kalau Guanlin memberinya coklat dan susu. Tentu saja ia akan menghabiskannya.
"Duh, kenapa jawabannya ga dapet sih. Kesel banget ih!" Karin menggerutu kembali saat ia tak dapat menemukan jawaban soal terakhir. Ia kembali menatap selembar kertas yang sudah ia isi sesuai dengan clue yang Guanlin berikan.
"Guanlin bilang ini juga adalah pesan rahasia buat gue."
Gadis itu menjentikkan jemarinya.
"Kalau disusun dan dibaca biasa berarti tulisannya I LOVE YO..."
Karin mengatupkan mulut. Kenapa ia tak menyadari kalau jawaban soal terakhir begitu mudah? Oke, maksudnya, ia memang tak tahu cara mengerjakannya, tapi dengan melihat dereran huruf sebelumnya ia bisa tahu apa jawabannya. Ia tak bisa menahan senyumnya ketika soal yang Guanlin bilang adalah pesan rahasia untuknya ini mulai dapat ia tebak. Kenapa laki laki itu selalu memiliki cara unik? Darimana coba dia mendapat ide begini.
Ya, walau ini termasuk menyusahkan tapi Karin senang. Senang ribuan kali lipat.
"Berarti jawaban soal terakhir itu..."
"...U." Karin tersenyum lagi. Duh, kenapa dia banyak senyum sih hari ini? Ia melompat ke ranjangnya dan berguling guling senang sambil memeluk kertas itu.
"Karin, kamu belum tidur?"
Karin terkejut setengah mati mendengar suara Tiffany yang tiba tiba. Ia menghembuskan nafas meminimalisir rasa kagetnya. Segera ia memperbaiki posisinya dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Mama, ngagetin banget ih."
Karin tersenyum cerah, "Aku lagi ngerjain soal yang dikasih sama Guanlin, ma. Soalnya aku mau ulangan harian besok lusa." Jawabnya. Karin berbohong tentang ulangan harian. Ayolah, Karin hanya tidak mau membuat kondisi mamanya drop kalau ia berkata ia terancam keluar dari beasiswa. Itu saja tak lebih.
Cukup lama Tiffany terdiam, "Mama ga suka kamu deket deket sama Guan."
Senyum Karin perlahan memudar. Ia menatap lekat wajah yang hampir mirip dengannya itu. Entah kenapa suhu disekitarnya jadi berubah lebih dingin.
"Kok, kok mama ngomong gitu?" Jawabnya sedikit terbata. Entah sejak kapan mata gadis manis itu mulai berkaca kaca.
"Kamu ga lupa kan, Karin. Kalau dia adalah orang dibalik trauma kamu 3 tahun lalu? Mama harap kamu ngga lupa."
"Tapi Guanlin udah berubah, ma. Dia udah ga kaya dulu lagi. Dia juga jan—"
"Laki laki itu memang gampang berubah, Karin. Mama ngerti perasan kamu. Tapi kamu juga harus ngertiin perasaan mama dong. Kamu itu masih muda. Cinta yang kamu rasain sekarang itu cinta monyet. Kamu ga boleh percaya sama laki laki secepat itu."
Karin diam. Ia menghapus air matanya kasar. Dia ingin marah, juga ingin memukul sesuatu, tapi juga bingung kepada siapa dia akan melakukan itu.
"Mama harap kamu ngerti kenapa mama ngomong gini. Cuman kamu yang mama punya. Cuman kamu harapan mama. Mama ga mau kamu disakitin sama dia lagi."
"Mama harap kamu ngerti ya, Karin. Mama pergi dulu. Good night, dear."
Tiffany keluar dan kemudian menutup pintu kamar Karin.
"Mama kok jadi berubah ngeselin, sih?"
Cicitnya sambil kembali menghapus air matanya.
***
"Hai, Karin." Ong menyapa Karin ketika ia baru saja akan meletakkan tasnya di kursi. Karin tersenyum kemudian balas menyapa. Ngomong ngomong kenapa hanya Ong yang berada disini? Biasanya dia datang bersama Guanlin cs.
"Loy mana?"
"Iya iya ngerti sama yang baru jadian."
__ADS_1
"Apaan sih. Gue kan nanya doang Loy dimana."
"Yaelah, cerewet amat sih, karinun. Mereka bertiga lagi di kantin tuh. Sarapan. Paling bentar lagi juga balik."
Karin hanya beroh-ria menanggapi. Ia duduk di kursinya kemudian membuka buku bahasa inggris karena jampel pertama adalah bahasa inggris. Perempuan itu terusik ketika Ong mencolek lengannya.
"Apalagi sih Ong?"
"Contek PR lo dong karinun." Pintanya cengengesan. Karin berdecak namun tak urung memberikan buku PR nya pada Ong.
"Awas ya kalo kusut!" Ancamnya. Sungguh, buku yang bahkan ia sampuli dengan rapi menggunakan sampul limited edition dari fanmeet EXO itu, akan terasa sayang kalau kusut dan berlipat.
"Iya iya, tau kok."
Beberapa saat kemudian, Guanlin cs datang bersama dengan Airish. Guanlin tersenyum kemudian membisikkan sesuatu pada Airish membuat gadis itu mengerucutkan bibir sebal. Karin tahu apa yang Guanlin bisikkan pada Airish karena setelahnya gadis itu duduk di bangku Guanlin bersama dengan Jihoon. Sementara Guanlin duduk di kursi Airish.
"Hai, Kim Karin."
Karin tersenyum malu. Jantungnya berdebar kencang ketika laki laki itu duduk di sampingnya. Aroma parfum khas Guanlin menyeruak hingga memenuhi penciuman Karin. Wangi yang sungguh menenangkan menurut pendapat Karin.
"Gue harap lo udah nemu jawaban dari soal yang gue kasih."
Karin teringat pada soal itu kemudian mengambilnya dari tasnya.
"Udah dong."
"Jadi udah tau juga kan pesan rahasianya?"
"Udah juga."
"Apa coba?"
"I love you." Jawabnya polos. Masih baik gadis itu berucap pelan, kalau tidak si jahil Woojin dan si berisik Ong pasti akan menyoraki dirinya.
"I love you, too." Balas Guanlin sambil mengerling jahil. Wajah Karin bersemu merah. Ia mencubit tangan Guanlin hingga laki laki itu merintih tertahan.
"Sakit tau."
"Lo sih. Usil banget!"
"Cie blushing, cie."
Karin memegangi pipinya berharap agar pipinya kembali normal.
"Udahlah, gausah ditutupin. Gue suka liatnya kalau lo blushing gitu."
Percakapan mereka terhenti begitu Kang Daniel memasuki ruangan kelas dengan satu tangan di saku dan tas yang ia jinjing di pundak. Matanya bertemu dengan Karin namun laki laki itu segera memutus kontak mata mereka.
"Hai, Daniel." Jihyo menyapa laki laki bongsor itu dengan wajah bahagia. Daniel hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tak ada yang tau kalau Jihyo begitu senang, Daniel merespon sapaannya walau hanya dengan senyum tipis.
"Guys ada kabar buruk!!" Choi Soo Bin si ketua kelas datang dengan nafas terengah-engah. Sekelas langsung menatap serius, penasaran akan apa yang akan diucapkan si ketua kelas tinggi itu selanjutnya.
"Apaan woi?! Jangan gantungin gue napa? Cukup doi aja yang gantungi gue, tolong." Woojin berucap dengan nada lirih membuat sekelas menertawainya.
"Kita disuruh ngerjain soal halaman 156-162 karena madam Soo Ra ga datang." Ucapnya setelah gerahnya mulai hilang.
Detik berikutnya adalah sorak sorai dari warga kelas karena jampel bahasa inggris free. Siapapun tak akan ada yang menyia-nyiakan kesempatan ini karena madam Soo Ra adalah tipe guru yang selalu masuk kelas.
Sebagian siswa lebih memilih bermain basket atau makan di kantin atau membaca di perpustakaan dan bahkan tinggal di kelas. Daniel melangkah ke ke kantin diikuti oleh Jihyo. Nampaknya gadis dengan rambut dikepang itu benar benar rindu dengan Daniel setelah laki laki itu tak masuk selama 8 hari.
Sementara Guanlin cs beserta Karin dan Airish lebih memilih berada di kelas sama seperti siswa lain.
"Ada sesuatu diantara Guanlin dan Karin. Gue yakin." Seon Yoo berbisik pada Jennie ketika mereka memergoki dua orang itu seringkali tersenyum satu sama lain. Jennie meremas kertas ditangannya penuh emosi.
"Gue bakal buat perhitungan sama Karin! Liat aja nanti!"
Guanlin menghentikan kegiatan mengajari Karin ketika ponselnya berdering pertanda ada pesan masuk.
Gue tunggu lo di kantin. Ada hal penting yang mau gue omongin sama lo. Gut tunggu. Ga pake lama.
TBC")
__ADS_1