
Happy reading")
Guanlin mendecih, "Jangan buat keinginan gue untuk bunuh lo makin besar Daniel! Lo udah janji bakal kasih tau sama gue siapa pembunuh nyokap gue sebenernya kalau gue bisa taklukin Karin! Sekarang gue udah berhasil! Jangan ngingkarin janji lo, atau lo bakal mati!!" Suara dengan aura menyeramkan yang mendominasi.
Jderrr....
Bagai disetrum oleh listrik jutaan volt, tangan Karin bergetar hebat setelah mendengar pernyataan langsung dari mulut Guanlin. Itu semua seakan sudah dapat menjawab kedatangannya kemari. Namun ini tak cukup, Karin membuka pintu dengan keras menimbulkan suara ribut. Semua pasang mata menoleh ke arah pintu. Terkejut. Guanlin spontan berdiri dengan wajah pucat begitu sadar kalau yang membuka pintu dengan keras itu adalah Kim Karin!
Gadis itu, Kim Karin, mati-matian menahan tangis karena tak ingin terlihat lemah. Ia menghampiri 3 orang yang kini membeku itu dengan sorot penuh amarah. Guanlin berharap besar kalau Karin tak mendengar semua pembicaraannya tadi. Ia berusaha tersenyum menyapa Karin seperti biasa.
"Hai, Kim Kar—"
"Jelasin sama gue apa maksud ucapan lo barusan!!" Karin berucap marah, namun suaranya yang bergetar tak dapat membohongi kalau saat ini ingin menangis. Guanlin menelan saliva kasar melihat gadis yang berstatus pacarnya itu. Ia bingung tak tahu harus menjawab apa. Daniel mematung di tempat. Saat ini ia bagai orang yang akan memakan buah simalakama.
"Kenapa lo diem?!! Lo nembak gue cuman buat cari tahu siapa pembunuh nyokap lo?!" Suaranya masih tetap sama, dingin dan bergetar.
Guanlin tetap diam. Ia menunduk. Tak punya nyali barang untuk menatap mata gadis itu. Sungguh, ini diluar ekspetasinya. Namun, ia juga memang masih bingung pada perasaannya sekarang. Demi Tuhan, bukan ini yang dia inginkan.
"AYO JAWAB!!"
Cukup lama hingga akhirnya Guanlin menganggukkan kepalanya dua kali dengan tempo lambat. Karin menggelengkan kepala tak menyangka.
Plakk...
Hingga ia menampar laki laki itu keras membuatnya menoleh ke kiri. Semua yang menyaksikan merasa ngilu karena suara tamparan yang bahkan memenuhi ruangan luas ini. Air mata Karin menetes. Ia tak dapat membohongi perasaannya yang kecewa terlalu dalam.
"Ternyata perasan tulus gue cuman buat mainan lo?!" Karin mendecih sebelum lanjut bicara, "Gue ga nyangka!"
Gadis itu menghapus air mata kasar namun tetap saja air matanya turun, "Gue kira lo beneran berubah. Gue kira semua perbuatan lo tulus buat gue. Ternyata lo sama aja kaya dulu! Ga ada bedanya!"
"Gausah banyak drama, Kim Karin. Guanlin emang ga pernah cinta sama lo! Lo aja kali yang kebaperan!" Jennie semakin memperburuk suasana.
"Udah sejak lama Guan pengen mutusin lo! Dia cuman ga berani ngomong aja!" Lanjutnya kemudian.
"Diem lo!" Karin menunjuk wajah gadis seumurannya itu tak sopan. Kembali ia menatap Guanlin yang sampai kini masih mematung, "Gue ga akan pernah percaya lagi sama lo, dasar brengsek! KITA PUTUS!! Mulai sekarang, jangan pernah ganggu hidup gue lagi!"
Karin berlari pergi darisana setelah menghapus kembali air matanya yang jatuh semakin deras. Airish kembali mengomeli mereka berdua. Kecewa dengan perbuatan Guanlin yang tanpa perasaan. Jennie tertawa mengejek. Ia merasa 1000 kali menang hari ini. Hubungan Guanlin dan Karin yang kini telah rusak membuatnya bahagia luar biasa. Ia merasa kalau kesempatan emas itu kini berbalik padanya.
"Lo ga berhak buat ngatur-ngatur mereka Airish! Harusnya lo sadar diri lo itu siapa disini!" Gadis tinggi semampai itu berucap angkuh.
Airish tertawa sarkas, "Eh, cewe dugem! Maunya lo sadar, omongan lo itu buat diri lo sendiri! Emangnya lo siapa yang berhak ngatur-ngatur Guanlin? Lo itu bukan siapa-siapa dia!"
"Beraninya lo ngatain gue cewe dugem!"
"Kenapa? Ga terima?! Apa perlu gue share video lo yang lagi di *****-***** sama cowo di bar?! Dasar ******!"
__ADS_1
Airish segera berlalu darisana, kalau tidak, ia bisa saja menjambak rambut perempuan sialan itu.
"Guanlin, harusnya lo ngebelain gue dong! Dia udah ngatain gue!" Tuntut Jennie merengek dengan nada menyebalkan membuat Guanlin mengepalkan tangan. Ia benar-benar diambang kemarahan.
"Guan—"
"DIAM LO!" Ia membentak gadis yang sangat ia benci itu. Jennie bahkan Daniel terkejut.
"Lo pikir gue ga ngebantah omongan Karin karena gue cinta sama lo?! Najis, Jen! Najis! Gausah GR gue cinta sama lo! Gue bahkan ga pernah nerima perjodohan sialan ini! Dasar murahan!" Wajah Guanlin benar benar memerah. Ia kemudian menatap Daniel penuh dendam.
"Bilangin ke nyokap lo, jangan pernah ngatur-ngatur hidup gue! Dan ingat, Kang Daniel, gue bakal balas perbuatan lo!"
"Guanlin, jangan tinggalin gue! Gue ga bisa tanpa lo! Tolong jangan ting—" Guanlin melepaskan pelukan Jennie di punggungnya kasar, hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Ia menahan tangis. Padahal ia pikir ia sudah menang.
"Ga sudi gue hidup sama lo, murahan!"
Berniat mengejar Karin, namun ia tak melihat gadis itu lagi. Segera ia mengeluarkan motornya dari garasi, namun kembali ia merutuk karena motornya kehabisan bensin.
"Karin, lo dimana?!" Teriaknya menjambak rambut frustasi. Laki laki itu nampak putus asa bersamaan dengan cairan bening yang mulai menempati sudut matanya.
◐◐◐
Karin POV
Langit bahkan seakan tahu perasaanku saat ini. Hujan turun begitu deras membasahi kota Seoul dan tubuh kecilku tanpa jeda. Aku tetap berjalan walau kedinginan dan pusing menjalari tubuhku. Aku bahkan tak tahu harus pergi kemana lagi. Sangat tak mungkin kembali ke rumah dalam kondisi seperti ini. Bisa-bisa mama cemas dan kemungkinan besar membuatnya drop kembali. Aku menangis dalam diam di tengah derasnya hujan.
Semua kata kata Guanlin kembali terngiang dalam benakku. Aku jelas tak baik-baik saja saat ini. Aku bodoh dengan mengira kalau ia benar-benar sudah berubah dari 3 tahun lalu. Bisa-bisanya ia hanya memanfaatkanku untuk mengetahui siapa pembunuh ibunya. Aku tahu, siapa saja pasti sangat menyayangi ibu mereka masing-masing, tapi kenapa harus perasaanku yang ia korbankan? Aku menyesal bisa kembali jatuh cinta padanya. Langkahku terhenti ketika kurasa air hujan tak memerangiku lagi. Aku menyadari kalau seseorang tengah memayungiku dari belakang.
"Jangan pergi, Kim Karin."
Sialan! Suara itu lagi! Aku berbalik dan langsung saja mataku bertemu dengan dada Guanlin. Aku mundur menjauh. Melihat wajahnya membuatku ingin membunuhnya saat ini.
"Ngapain lo kejar gue?! Pergi lo sialan!"
"Gue minta maaf. Gue tau gue salah."
"Diam lo! Lo kira gue bakal percaya lagi sama lo?! Gue benci lo Guanlin! Sampai kapanpun gue bakal benci lo!" Aku menekankan setiap kata-kataku. Aku tak berbohong dengan ucapanku barusan. Meski aku pernah sangat mencintainya, sekarang aku malah sangat membencinya. Sudah kukatakan, kalau aku bisa membunuhnya saat ini, akan kubunuh saja dia.
"Karin, tolong maafin gue."
"Lo budeg apa *****, hah?! Gue benci lihat muka lo! Dasar munafik! Kalau sekarang lo mati, karena ketabrak, gue ga bakal nangis saking bencinya gue sama lo! Gue bakal tertawa lihat mayat lo! Pergi lo dari hadapan gue! Pergi!"
Aku mendorong tubuh tinggi itu menjauh. Entah karena pengaruh apa, aku bisa sekuat ini ketika mendorongnya, hingga laki laki itu terjatuh ke jalanan. Aku pergi darisana hingga suaranya kembali menghentikan langkahku.
"Berhenti lo murahan!"
__ADS_1
Aku benci dikatai murahan, karena aku tak pernah seperti itu. Kecuali kalau memang aku adalah seperti itu, maka pasti aku akan bersikap biasa saja. Aku berbalik menatapnya yang kini berusaha berdiri. Demi Tuhan, kalau aku adalah laki-laki aku akan memukulnya tanpa ampun.
"Lo kira gue minta maaf karena gue cinta sama lo gitu? Atau karena gue nyesal?"
Suaranya yang pelan hampir hilang karena ributnya hujan ini. Tapi aku dapat mendengar kata-katanya dengan jelas. Ia tersenyum meremehkan. Aku merutuki diriku yang sedikit takut. Terlebih ketika ia maju melangkah mendekatiku. Ia menunduk untuk menyamai tinggiku sambil memandangku menusuk.
"Gue emang ga pernah cinta sama lo selama ini. Iya, gue ngaku kalau gue jadiin lo pacar gue hanya buat tahu siapa pembunuh nyokap gue."
Ia menjeda sebentar.
"Gue tahu lo tersakiti. Tapi apa lo juga ngerti perasaan gue?! Gue lihat mayat nyokap gue, Kim Karin! Mayatnya beku di tengah salju! Apa lo ngerti seberapa hancur perasaan gue saat itu?!"
Ia berteriak padaku sambil mencengkram bahuku kasar. Aku sadar kalau ia saat ini menangis, sama sepertiku.
"Jelas gue lebih sayang sama nyokap gue! Bahkan kalau taruhannya nyawa gue, gue bakal kasih asal gue tahu siapa pembunuh nyokap gue!"
Air mataku semakin deras.
"Gue emang ga sayang sedikit pun sama lo, tapi gue juga ga rela kalau lo ninggalin gue! Gue ngerasa nyokap gue hadir, tiap gue deket sama lo!"
Aku takut dengan tatapannya saat ini. Sungguh, aku takut melihatnya seemosional ini. Terlebih saat pandangannya semakin sayu dan menatap bibirku dalam.
"Gue akan lakuin hal apapun itu, asal lo tetap di sisi gue. Termasuk hal salah. Gue ga peduli!"
Aku semakin merasa seperti mayat hidup karena tak berbuat apa-apa saat laki laki tinggi itu mencium bibirku untuk kesekian kalinya. Ia tak berbuat apa-apa kecuali hanya menempelkan bibirnya saja. Aku mati rasa bahkan di tengah hujan yang dinginnya kian menusuk.
Jiwaku kembali pada tubuhku begitu aku kehabisan nafas. Aku mendorong tubuh tinggi itu menjauh. Kemudian menamparnya. Guanlin memegangi sudut bibirnya yang kini terluka. Ia tersenyum mendecih.
"Brengsek! Gue ga peduli sama lo! Persetan sama usaha-usaha lo itu, gue ga peduli sama sekali! Jangan usik hidup gue lagi setelah ini!"
Aku berbalik, kemudian berlari meninggalkannya yang tetap bungkam. Aku berharap ia tak lagi mengusik hidupku. Biar semua kembali seakan aku sedang berada di sekolah lamaku. Lagian kelulusan hanya tinggal 1 bulan lebih lagi. Aku tak perlu lagi melihat wajahnya setelah ini semua.
◐◐◐
"Gue udah bilang ke nyokap lo kalau lo nginap di rumah gue karena hujan."
Airish kembali duduk disampingku setelah ia selesai menelfon mama. Aku tersenyum. Aku beruntung memiliki Airish di tengah tengah kesulitan seperti ini.
"Maaf ya Karin, gara gara gue jadinya gini deh."
"Kok minta maaf sih? Justru gue mau ngucapin makasih sama lo. Kalau lo ga maksa-maksa gue, gue ga bakal tahu kalo gue cuman jadi bahan perjanjian dia sama Daniel."
Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca kemudian memelukku erat.
"Eh tapi, lo hutang penjelasan gue."
__ADS_1
TBC")