Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
12. The universe


__ADS_3

Happy reading")


"Berhenti lo anjing!"


Semua pasang mata di lorong sunyi ini tertuju pada 4 orang laki laki di arah utara. Lee Seon He, gadis berambut pirang yang tengah memegang gunting itu ketakutan setengah mati. Tangannya bergetar hingga membuat gunting itu terjatuh dari tangannya. Guanlin melangkah cepat dan menarik Karin dari cengkeraman gadis gadis itu. Matanya memandang tajam pada 4 gadis yang kini memandangnya takut.


"Gue pastiin ini adalah hari terakhir lo di sekolah ini. Hal ini berlaku untuk kalian semua." Ucapnya dingin kemudian menarik tangan Karin.


"Guanlin! Kenapa lo peduli banget sama dia?!" Seon He berteriak histeris membuat Guanlin menghentikan langkahnya. Tangan laki laki itu mengepal membuat buku buku tangannya memutih.


"Kim Karin, itu pacar gue!" Satu pernyataan yang membuat semua orang disana memasang raut terkejut. Karin menoleh pada laki laki dengan tinggi terpaut jauh darinya itu. Ia sama sekali tidak senang. Bukankah ini sama saja dengan menambah masalah? Karin kembali terkejut ketika Guanlin menariknya lebih dekat.


"Karin pacar gue! Dan berani beraninya lo membuat dia celaka! Lo kira hak lo apa? Sekalipun yang lo siksa bukan Karin, gue bakal tetap membuat lo dikeluarin dari sekolah! Ngerti kan lo?!" Aura mencekam lebih mendominasi lorong sepi itu kini. Seon He terdiam membisu hingga ia kembali buka suara.


"Lo tau ngga? Dari mulai SMP gue itu udah kagum sama lo. Gue berusaha masuk ke sekolah ini cuman gara gara ingin satu sekolah sama lo. Gue cinta mati sama lo Guanlin!"


Seon He menghapus kasar air matanya.


"Tapi cewe murahan ini ngerebut lo begitu mudah dari gue! Gue yang berjuang  3 tahun lebih kalah sama cewe yang baru lo kenal 3 bulan? Gue ga terima. Gue benci sama lo Kim Karin! Gue benci sama lo!"


Kim Karin menahan nafas. 3 bulan katanya? Seon He terlihat sangat menyedihkan.


"Berjuang kata lo? Berjuang apa lo buat gue?"


Seon He menghapus air matanya kembali, "Lo ga pernah peduliin gue sampe sampe lo ga sadar kalau dulu gue selalu ada buat lo. Lo mungkin ga lupa pas lo hampir tenggelam di pantai kan? Lo selamat karena gue nolongin lo Guanlin!"


Guanlin mengingat kembali saat ia hampir tenggelam ketika berlibur ke pantai 2 tahun lalu. Ia memang terbangun ketika berada di rumah sakit. Dan hingga sekarang ia tak tahu siapa yang menolongnya saat itu.


"Lo juga ga mungkin lupa pas lo naik bus dan ternyata lupa bawa dompet. Waktu itu gue bayarin ongkos lo. Lo pasti lupa sama gue kan? Ada banyak hal yang selalu gue lakuin buat lo, tapi lo ga pernah peduliin itu. Wajar kan kalo gue benci Karin? Karin itu troublemaker!"


Guanlin menghela nafas.


"Ingat Kim Karin, gue bakal benci lo sampai mati!"


Karin terdiam. Ia tak marah, ia justru kasihan pada Seon He. Jujur ia ingin menangis. Karin tau bagaimana rasanya disia siakan. Tapi sama sekali ia tak pernah berniat merebut Guanlin dari Seon He. Astaga, yang benar saja. Ia bahkan tak ingin dekat dekat dengan laki laki ini.


"Gue tetap ga peduli. Tetap aja lo berniat jahat. Kalau emang kagum sama gue, lo ga perlu sampai ngecelakain orang kaya gitu. Diluar sana pasti banyak orang yang suka sama lo. Tapi lo gatau karena asyik ngarepin gue. Udahlah. Gue tetap ga bakal ubah keputusan gue. Lo sama teman teman lo harus dikeluarin dari sekolah ini."


Karin lagi lagi mendengus saat Guanlin menarik tangannya tanpa perasaan. Jihoon, Ong, dan Daehwi masih mematung di tempat mendengar pernyataan yang Guanlin kemukakan. Apa tadi katanya? Pacar? Terdengar wtf banget ga tuh? Dan ditambah lagi dengan Seon He. Astaga memusingkan.


"Lepasin woi! Sakit banget tangan gue!" Guanlin melepas cengkeraman tangannya dan sedikit terkejut karena hal itu meninggalkan bekas merah. Karin mengerucut sebal kemudian segera pergi darisana tanpa berucap apa apa. Guanlin mengerjap. Ia menarik tangan gadis itu sebelum ia pergi jauh.


"Ucapin makasih kek, udah ditolongin sama gue juga."


"Makasih apanya?! Lo liat ga tuh? Gue jadi dibenci sama fans lo. Makanya Guan, jangan dekat dekat lagi sama gue. Gue serba bahaya kalau dekat sama lo!"


Emosi Guanlin terpancing, "Maksud lo apaan? Maksud lo gue bawa sial sama lo gitu?"


"Kalau gue bilang iya, gimana?" Jawab Karin dengan emosi pula. Guanlin marah, namun berusaha ia tahan. Alhasil ia memukul dinding untuk melampiaskan marahnya. Karin menutup mata karena terkejut.


"Gatau terimakasih lo, Kim Karin!" Lanjutnya menggeram. Guanlin dikuasai emosi.


"Harusnya gue biarin lo mati tadi!"

__ADS_1


Guanlin pergi. Langkah laki laki itu terbilang cepat. Karin menetralkan degup jantungnya hingga tanpa ia sadari air matanya menetes. Ia tak tahu kenapa hatinya begitu sakit seakan ditusuk tusuk.


"Woi, Loy!"


Guanlin menepuk kepalanya pelan, ia kelupaan bahwa teman temannya masih tertinggal di belakang. Ia berusaha menetralkan wajah marahnya. Mendapati wajah kesal Ong, Guanlin cengengesan.


"Lupdar ya lo ***!"


"Maapkeun daku, bang."


"Lagian apaan lo pake segala ngeklaim Karin pacar lo? Fakboy banget *****." Jihoon memasang wajah geli.


"Ya biar yang kaya di novel novel gitu. Keren kan gue?" Balasnya sambil menyugar rambut. Daehwi bergaya mual.


"Lo suka baca novel?" Jihoon menyadari kejanggalan.


"*****, mending juga game kemana mana."


Daehwi tak sengaja melirik jam tangannya dan berlari tergopoh gopoh tiba tiba.


"*****! Wi, lo mau kemana *****!"


"Kelas udah mulai ogeb!" Teriak Deahwi dari kejauhan.


"Kaya kesurupan itu bocah!" Sambung Jihoon disusul tawa laki laki itu.


"Lagian ngapain masuk kelas lagi sih? Kelas udah mulai 35 menit lalu. Pak Shindong ga bakal kasih masuk, gue yakin."


"Amit amit banget ga sih kalau harus bersihin WC?"


"S7"


Bukankah Guanlin bipolar?


***


"Eh Rin, sadar ga sih, Daniel ga masuk sekolah 4 hari ini?"


Karin menghentikan meracik kopinya sejenak. Saat ini dua akrab itu tengah berada di kafe tempat Karin bekerja partime. Iya, Karin sudah memutuskan memberi tahu Airish tentang keadaanya sekarang. Karena ia tak bisa terus terusan berbohong. Gadis ini selalu ingin mengikutinya kemana pun dengan alasan kesepian di rumah.


"Gue baru inget, masa?"


Airish mendecak sebal, "Makanya jangan mikirin Guanlin mulu lo!" Raut Karin berubah seketika. Entah, dia pun tak tahu mendefenisikan perasaannya saat ini. Ia merasa bersalah, tapi ia juga ingin bersikap bodo amat.


"Gausah bahas dialah. Eneg."


"Omo, kalian lagi marahan ya?" Airish tersenyum jahil. Karin menggeleng, "Emang gue pernah baikan sama dia?"


"Yaudah kembali ke topik Daniel. Lo pernah chat sama dia ga?"


Karin mengangkat bahu tanda tak pernah. "Terakhir kali dia sekolah itu sejak lo pingsan Rin. Lo tau ga? Pas lo udah pingsan, Guanlin nonjok Daniel loh, sampai dia jatuh. Guanlin keknya emosi banget."


Karin terkejut, "Hah? Masa?"

__ADS_1


"Yaelah, ga percaya lo sama gue. Semenjak itu Daniel ga datang sekolah. Dan lo juga sadar kan, gaada satu guru pun yang nanyain dia."


"Duh, gue ga peduli gimana dong?" Jawab Karin cuek. Tolong ya, laki laki bongsor itu nyaris membuatnya mati beberapa hari lalu. Lantas, kenapa dia harus peduli?


"Jahat bener kamu Rinn!"


"Terserah daku esmeralda."


***


Dua gadis sepantaran itu akhirnya berpisah ketika sampai di persimpangan jalan. Senyuman masih tercetak di wajah gadis itu karena humor receh Airish. Karin semakin mengetatkan mantelnya karena suhu terasa semakin dingin. Oke, ini pukul 11 malam di Seoul pada bulan Desember. Jadi wajar kan? Ia yakin jam segini bus sudah jarang sehingga Karin memutuskan untuk jalan kaki saja. Lagian jarak kafe dan rumahnya tidak terlalu jauh. Tak sampai 500 meter kok.


Ketika melewati taman, tak sengaja Karin melihat seorang laki laki sedang duduk melamun di salah satu kursi disana. Satu satunya hal yang menarik perhatiannya adalah karena itu terlihat seperti Kang Daniel dan dia sedang minum alkohol. Karin mau tak mau pergi kesana. Mendatangi laki laki kesepian yang membuatnya nyaris mati beberapa hari lalu.


"Kang Daniel?"


Dan memang ternyata benar. Itu adalah Kang Daniel bersama dengan 3 kaleng alkohol di dekatnya dan 1 alkohol di tangannya. Wajahnya memerah. Oke, Karin yakin kalau laki laki itu mulai mabuk.


"Ngapain lo malam malam gini masih diluar? Pake acara mabuk mabukan lagi."


Kang Daniel diam saja. Matanya menatap kosong pada tanah. Karin yang merasa diacuhkan mendengus kesal. Gadis itu merebut sekaleng alkohol yang barangkali baru habis sedikit dari tangan Daniel, mengambil botol kosong dan membuangnya ke tempat sampah.


"Apa apaan sih lo?!" Daniel membentak tak terima Karin membuang minumannya.


"Lo yang apa apaan! Ngapain coba lo minum alkohol? Lo itu belum legal! Kalo pihak sekolah tau, lo bakal dikeluarin."


Daniel tersenyum kemudian mendecih.


"Lo pikir bakal ada yang peduliin gue?"


"....Dan lo juga sadar kan, gaada satu guru pun yang nanyain dia?"


Karin tiba tiba membisu. Dia seakan tahu apa yang menjadi masalah Daniel saat ini ketika mengingat ucapan Airish.


"Lo tau ga Kim Karin? Gaada yang benar benar peduli sama gue di dunia ini? Termasuk orang tua gue sendiri."


"Gue sendiri. Pas ketemu seseorang yang membuat gue nyaman, gue ujung ujungnya pasti ga bisa dapatin. Gue juga selalu dipaksa ngalah. Gue kesal. Gue pengen marah, tapi gatau sama siapa."


"Gue ga dipeduliin, Kim Karin." Kang Daniel menarik Karin ke pelukannya dan laki laki itu menangis dalam diam. Karin tak tahu harus berbuat apa. Sangat jahat rasanya kalau dia melepaskan pelukan Daniel. Laki laki ini terlihat sedang terpuruk.


---


"Kata lo kalian pisah di persimpangan, tapi dia gaada."


"Lo kok oon sih. Udah selang 15 menit sejak kita ketemu. Pasti dia udah cukup jauh lah. Coba lo ke rumahnya aja deh."


"Sialan lo Rish! Tau gini mending tadi gue bawa mobil."


"Ya itung itung hemat BBM ogeb!"


Guanlin mematikan panggilan sepihak dan dengan setengah berlari menuju jalan yang mengarah ke rumah Karin. Demi Tuhan, laki laki jangkung itu merasa sangat khwatir sekarang. Bagaimana bisa Karin berani berjalan sendirian di malam hari? Bagaimana kalau ada pria perut buncit bau alkohol yang menganggunya?


Mata Guanlin mencari ke seluruh arah, hingga ia melihat Karin dan... Dan Daniel?

__ADS_1


TBC")


__ADS_2