Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
29. The killer part 1


__ADS_3

Happy reading")


Ujian kelulusan akhirnya tiba. Karin berangkat sepagi mungkin untuk menghindari kemungkinan yang tidak dia inginkan. Sesampai di kelas, gadis itu bahkan menyempatkan belajar. Dia berterimakasih pada Guanlin dalam hati karena trik khusus yang laki-laki itu berikan sangat membantu ia mengerjakan pelajaran hitungan.


Suasana di ruang ujian berjalan sebagaimana biasanya. Termasuk bagaimana siswa saling meminta tolong dan memberi pertolongan dengan syarat tak ketahuan pada pengawas ujian.


Mereka diberi waktu 45 menit untuk mengerjakan 50 soal. Dan itu bukanlah hal sulit bagi Guanlin. Malah saat ini kertas jawabannya tengah berkelana menyusuri penjuru kelas. Ia bahkan masih fokus dengan Karin yang terlihat bekerja keras. Namun, ia tak mau mengganggu gadis itu. Ia tak mau semakin dibenci.


Guanlin memutuskan membawa komik detektif yang ia bawa secara sembunyi-sembunyi ke ruang ujian. Hal itu memang sangat tidak wajar dan tidak diperbolehkan, tapi ia terima semua resiko termasuk kalau kertasnya harus diminta paksa atau mungkin dia akan dikeluarkan dari ruang ujian. Toh, dia sudah selesai kok. Bodo amat dengan Jihoon yang kini mencapnya seperti anak-anak.


Bukan tanpa alasan ia membawa komik itu hari ini. Sungguh, ia tak segabut itu. Ia hanya mencari sedikit ide yang mungkin bisa cocok dengan kematian ibunya. Hanya itu saja.


Pikirannya berkelana pada 4 tahun lalu. Ketika ia baru pulang dari wahana bermain bersama Airish karena salju mulai turun dengan lebat. Ia memanggil-manggil sang ibu karena ingin menceritakan sesuatu, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Mereka mencari keberadaannya. Hingga akhirnya matanya melihat ibunya tergeletak diatas salju yang bahkan hampir mengubur dirinya. Mungkin karena salju turun sangat lebat.


Hatinya berdenyut nyeri ketika mengingat hari itu. Ibunya mati mengenaskan dengan mata terbuka dan lidah keluar. Tubuhnya yang kurus membeku dan sedikit membiru karena dinginnya suhu Seoul saat itu. Guanlin memang masih kecil. Masih 13 tahun. Tapi ia dapat menangkap kalau itu bukan bunuh diri. Bagaimana mungkin ibunya yang susah berjalan karena kecelakaan itu pergi ke luar rumah dan meninggal disana? Tidak mungkin!


Ia juga kesal dengan polisi-polisi yang hanya diam mengiyakan itu bunuh diri. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan tali tambang mencurigakan yang tejatuh tak jauh dari pohon di dekat sana.


Konsentrasi Guanlin buyar ketika ponselnya berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


"Datang ke pohon itu nanti sore. Gue bakal kasih tau siapa pembunuh nyokap lo."


Kang Daniel. Ia tahu itu pesan dari saudara tirinya itu. Karena Daniel juga tengah melihat ke arahnya. Ya, walau hanya sekilas sebelum kemudian dia kembali mengerjakan soal ujiannya.


"Waktu kalian tinggal 10 menit lagi. Bagi yang sudah merasa ujiannya benar, bisa dikumpulkan." Pandu pengawas ujian dari depan, yang malah membuat suasana berisik karena panik.


Guanlin melirik Karin. Perempuan itu sepertinya sudah selesai. Guanlin tersenyum kecil. Ia rasa ia sedikit ada manfaatnya untuk gadis itu. Guanlin kembali mencek ponsel karena ada pesan masuk. Itu dari papanya.


"Nanti sore papa pulang. Kamu pulang ke rumah. Kita makan malam bareng."


Guanlin sebenarnya malas. Terlebih karena dia harus satu rumah dengan ibu dan saudara tirinya itu. Tapi, karena ia menghormati sang papa, maka ia akan datang.


◐◐◐


Daniel tersenyum kecil ketika melihat sosok tinggi Guanlin datang mendekat ke arahnya. Guanlin tetap memasang wajah dingin.


"Gue kirain lo ga datang."


"Ga usah basa-basi. Gue mau to the point!"


"Ck! Santai, bro. Ga usah terburu-buru. Ada baiknya lo mempersiapkan mental lo sebelum gue jelasin."


"Cih! Lo cari mati?"

__ADS_1


"Oke-oke! Ga sabaran banget sih lo!"


"Siapa pembunuh nyokap gue, Kang Daniel?"


Tak berlama-lama lagi, Daniel mulai menceritakan semua yang ia tahu.


Flashback ON


*Daniel yang masih berusia 13 tahun menekan bel rumah Guanlin karena ingin mengajak temannya itu ke taman bermain yang baru buka beberapa hari lalu. Tanpa ia tahu kalau sebenarnya laki-laki itu telah pergi lebih dulu bersama Airish.


Pintu tak kunjung terbuka, akhirnya Daniel memberanikan diri membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia masuk pelan-pelan karena sedikit takut. Wajar saja, ruangan ini sangat gelap. Ia memanggil Guanlin namun tetap tak mendapat jawaban.


Daniel naik ke lantai 2, karena ia pikir Guanlin mungkin masih tidur. Lagipula, ia berani karena biasanya orangtua Guanlin jarang di rumah. Ia mencek kamar Guanlin yang letaknya paling dekat dengan tangga, namun nihil. Tak ia dapati seorang pun disana. Daniel berniat namun tak jadi karena ia merasa ada sesuatu di kamar paling sudut yang langsung mengarah pada jendela luar.


Dengan langkah pelan dan takut-takut, Daniel maju sedikit demi sedikit mendekati kamar yang menurutnya mencurigakan itu. Perlahan ia membuka pintu.


Jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat melihat sesuatu di dalam sana. Ruangan itu memang cukup gelap. Tapi ia bisa lihat semuanya tanpa terkecuali. Ibunya terbaring tak sadarkan diri di sofa dekat balkon yang dimana kau bisa melihat pemandangan luar darisana.


Pria berbadan tinggi besar tengah mencekik wanita yang ia tebak seumuran ibunya, hingga wanita itu meronta-ronta. Daniel gemetar hebat. Terlebih saat melihat wanita itu tak lagi bergerak. Pria berbadan tinggi besar itu mengambil bow gun dan panahnya. Ia terlihat sibuk mengikat dan membuat simpul yang Daniel tak tahu apa itu. Lalu ia menembakkannya ke arah pohon yang berada cukup jauh dari rumah ini. Daniel melihat kalau panah bow gun itu telah diikat dengan tali tambang. 2 kali pria itu melakukannya. Daniel juga tak tahu apa yang ia lakukan. Ia malah seakan membeku di tempat bak patung.


Pria itu kembali ke kamar dan membopong mayat wanita yang telah ia bunuh, kemudian sibuk melakukan sesuatu yang membuat Daniel bingung. Kemudian ia menjatuhkan mayat itu ke bawah dengan perlahan. Daniel tak tahu bagaimana kondisi mayat wanita itu diluar sana. Yang ia tahu diluar tengah turun hujan salju yang lumayan lebat.


Pria itu selesai dengan aksinya, dan ia melakukan sesuatu yang membuat tali tali tadi kembali ke tempatnya. Daniel yang dilanda kebingungan masih berdiri di tempat dimana ia mengintip. Sekarang pria itu mendekati mamanya dam mengangkatnya ke ranjang, kemudian menyelimuti mamanya.


Tapi pria itu sadar kalau ada yang tengah berlari menuruni tangga. Dengan sigap ia keluar berlari dari kamar dan mendapati seorang anak laki-laki tengah berlari keluar dari rumahnya. Sayangnya, ia terpeleset di tangga sehingga harus kehilangan jejak anak itu.


Sementara Daniel kecil yang merasa takut luar biasa, tak berpikir 2 kali ketika ia harus melompat masuk ke sebuah mobil pengangkut barang yang berjalan lambat. Disana ia menenangkan diri. Berusaha menepis pemikiran kalau pria itu mengenalinya.


Ketika ia rasa cukup jauh, ia kembali melompat dari mobil. Ia yakin pria itu tak akan mengenalinya. Ia mengenakan mantel tebal. Lagipula rambutnya cukup tebal saat ini. Daniel bahkan tak berpikir banyak ketika dia melihat tempat cukur rambut dan mencukur rambutnya hingga tipis sekali. Apapun akan ia lakukan asal pria itu tak mengenalinya.


Satu hal yang hingga hari ini selalu membuat dirinya memiliki trauma ketika melihat orang sesak nafas atau terluka, ia sadar kalau wanita itu adalah ibu temannya, Guanlin. Dan pria berbadan tinggi besar itu adalah ayah kandung Guanlin, Lai Hyun Bin*.


Flashback Off


Guanlin merasa sangat lemas. Bahkan kakinya tak dapat menahan berat tubuhnya hingga laki-laki itu jatuh tersungkur di atas rerumputan. Air matanya jatuh menetes, bersamaan dengan jantungnya yang terasa ditusuk-tusuk.


Ia jadi semakin sadar, kenapa papanya selalu melarangnya membaca komik detektif itu. Bahkan pernah papanya marah hebat karena ia membeli banyak komik karena diskon hingga ia membakar semuanya di halaman belakang. Kenapa papa melakukan itu? Jelas, karena trik yang ia gunakan berasal dari adegan komik. Guanlin 1000% yakin karena ia baru saja membacanya di kelas siang tadi. Sama persis!


Tapi, ini semua terdengar tidak mungkin! Bagaimana bisa papa yang ia amat banggakan itu tega membunuh mama kandungnya sendiri. Pria itu bahkan selalu mengatakan ia menikah lagi karena sangat menyayangi dirinya dan mamanya. Ia bahkan berpikir kalau pembunuh mamanya adalah Kim Taeyeon. Ibu Daniel. Tidak, Daniel pasti berbohong untuk melindungi ibunya!


"Bilang kalo lo lagi berbohong sama gue!" Bentaknya tak terima. Daniel mencebik, "Apa untungnya buat gue kalau gue bohong?"


Guanlin menatap wajah itu lekat. Ia sadar kalau Daniel sedang tak berbohong. Wajah laki-laki itu sangat serius. Ia juga ingat dengan jelas, ketika dirinya dan Airish menertawai penampilan Daniel. Pasalnya ia mencukur rambutnya sangat tipis. Padahal, laki-laki itu pernah bilang kalau ia merasa sangat tampan ketika rambutnya lebat. Itu pasti karena ia tak ingin ketahuan telah mengintip. Hal itu semakin mendukung pengakuan Daniel tadi.

__ADS_1


Guanlin marah besar. Ia tak terima. Ia meninju pohon di belakangnya berkali-kali untuk menetralkan amarahnya, membuat tangan itu terluka berdarah. Daniel memandang iba pada saudara tirinya. Ia berlutut. Menyamakan tingginya dengan Guanlin yang nampak menyedihkan.


"Sore ini papa pulang. Gue udah ngumpulin semua bukti untuk masukin dia ke penjara."


Guanlin menatapnya tajam, "Lo punya bukti darimana?!"


Daniel tak menjawab. Ia justru menatap ke belakang Guanlin. Guanlin mengikuti arah pandang laki-laki itu.


Jung Airish?


"Kenapa lo disini?" Tanya Guanlin langsung. Airish menunjukkan sebuah flashdisk yang bahkan terlihat sangat ketinggalan zaman. Lusuh.


"Lo inget kan, kita pernah sangat terobsesi jadi detektif? Pas gue sama Daniel datang ke rumah lo, kita pasang kamera CCTV sederhana sama alat penyadap di kamar itu tanpa lo tahu.


"CCTV sederhana?"


"Iya. Daniel yang rancang. Gue juga gatau dia dapat ide darimana."


"Gue lihat di youtube." Aku Daniel jujur.


"Awalnya kita cuman pengen tahu apa benar di kamar itu ada tikusnya. Pas gue ambil kembali beberapa hari setelah pemakaman tante, Daniel malah ngambil paksa dari gue. Gue gatau mau dia apain."


"Gue pindahin semuanya ke flashdisk ini. Semuanya. Gue yakin ini bakal berguna suatu saat."


Guanlin masih tak menyangka semuanya sangat kebetulan. Ia akan menjebloskan papanya ke penjara. Ia tak peduli sekalipun itu adalah papa kandungnya sendiri. Sungguh.


"Kita bakal bantuin lo kok." Daniel dan Airish berucap mantap.


◐◐◐


Suasana meja makan nampak ramai karena papa Guanlin benar-benar pulang tadi sore. Airish dan keluarganya juga ikut dalam acara makan malam kecil-kecilan itu. Hanya mereka bertiga yang tahu —Guanlin, Daniel, dan Airish— kalau rumah mereka kini telah dikepung kepolisian Seoul.


Seperti yang telah mereka rencanakan, Daniel berbicara terlebih dahulu.


"Andai, nyokap lo masih hidup ya, Guan. Pasti bakal lebih rame." Ucapnya membuat tawa orang disana berhenti. Membeku.


Guanlin tertawa palsu, "Iya nih. Gue masih penasaran dengan siapa pembunuh mama gue."


Taeyeon terbatuk-batuk.


"Papa kan udah bilang kalau itu bunuh diri, Guanlin! Makanya kamu jangan kebanyakan baca komik detektif!" Papa Guanlin, Hyun Bin langsung menyela dengan nada marah.


TBC")

__ADS_1


__ADS_2