Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
37. Extra part


__ADS_3

Happy reading")


"Besok mama sama papa bakal terbang ke Tokyo. Tante Jihyo minta kamu buat jagain Karin karena kita bakal tinggal sementara disana. Kamu harus mau. Ga boleh nolak."


Aku menghentikan suapanku begitu mama selesai berbicara. Apa-apaan? Mereka menyuruhku menjaga anak manja itu lagi? Tidak akan kubiarkan penjajahan ini! Aku ingin bersenang-senang ketika mereka pergi nanti. Sudah laa aku tak berkumpul dengan mereka.


"Apaan sih, ma. Ga mau. Loy ga mau pokoknya. Kalian kira Loy ini babysitter?"


Aku menolak dengan tegas agar mama bisa mengerti akan mauku. Tapi respon mama sebaliknya. Ia melotot tajam padaku seakan ingin memukulku.


"Rekening kamu mau mama putus? Atau mobil kamu mau mama tarik?" Ancaman yang sangat sering kudengar.


"Ma, tolong deh. Anak itu ngerepotin banget, ma. Amit-amit deh dekat sama dia." Tolakku sekali lagi.


Kali ini papa yang menatapku tajam.


"Loy, kamu tinggal nurut apa susahnya? Lagian kamu udah biasa jagain Karin. Makanya om Daniel sama tante Jihyo percaya sama kamu."


Kalau sudah papa yang bicara aku tidak akan bisa berkutik. Aura bijaksana dan tegasnya yang mendominasi membuatku tak bisa mengelak. Selalu begitu. Aku hanya bisa menghela nafas kesal dan akhirnya mengangguk.


"Buruan habisin sarapan kamu. Jangan lupa susunya diminum. Biar kamu tinggi. Nanti kalau sekolah jangan ngebut. Belajar baik-baik. Awas kalo mama sampai dengar kamu bolos lagi."


Seperti biasa mama akan cerewet di meja makan.


"Apa maksudnya biar tinggi? Aku 184 cm, ma. Kelas 2 SMU. Kurang tinggi apa coba?"


"Ya setidaknya kamu bisa setinggi Park Chanyeol. Iya tidak, pa?" Mama menyikut lengan papa mencari dukungan. Papa hanya akan berdehem kalau mama sudah berbicara tentang dunia fangirlnya. Mama selalu membanding-bandingkanku dengan member EXO. Aku cukup mengenal mereka. Tapi mereka sekarang sudah berumur 50an bahkan nyaris 60an. Mereka hidup bahagia bersama dengan keluarga mereka. Aku jadi penasaran dengan wajah mereka ketika mereka muda dulu. Wajar saja, mama sangat bangga pada para mantan idol itu.

__ADS_1


"Yaudah deh, Loy berangkat dulu." Ucapku sambil meraih tas dan menyalim tangan mereka. Mama akan mengecup pipiku sebelum pergi. Selalu. Kasih sayang mereka padaku semakin bertambah sejak Joy nuna menikah awal tahun ini.


"Hati-hati. Jangan ngebut. Dan jangan pacaran dulu." Mama kembali cerewet.


"Iya, ma."


๏๏๏


"Hai, Loy! Ih Karin seneng deh ketemu lagi."


Baru saja aku berdoa agar gadis itu berubah dewasa sedikit saja. Tapi ternyata tidak terkabul. Aku memasang senyum palsu karena tante Jihyo dan om Daniel tengah disini.


"Yaudah, Loy. Kami berangkat dulu ya. Karin, kamu jangan nakal. Patuh sama Loy. Oke?" Tante Jihyo mengingatkan. Gadis itu mengangguk. Aku mengejek dalam hati. Dasar muka dua. Lalu, mereka berangkat. Meninggalkanku yang kini harus menghadapi gadis bermarga Kang itu sendirian.


"Sudah munafiknya?" Aku memasang wajah tak suka. Gadis itu tertawa bak penyihir. Puas.


Nah, kan. Dia memang penyihir. Dia selalu menjadikanku budak setiap dia harus menginap di rumahku. Bagaimana aku bisa bebas bermain dengan teman-temanku kalau begini?


"Hey, penyihir! Aku tidak mau menjadi budakmu terus. Kalau kau mau, buat saja sendiri. Aku tak mau repot."


Dia menatapku santai kemudian mulai sibuk mencari sesuatu dengan membongkar tasnya, "Apa kau melihat ponselku? Aku ingin melaporkan ini."


"Dasar tukang lapor! Baiklah aku akan membuatkan bolunya!"


Pada akhirnya aku lebih memilih mengalah sebelum ia menelfon mama. Maaf saja, aku lebih sayang asetku. Aku tak rela kehilangan para pacarku itu.


Hampir lupa, namaku Park Guanlin tapi biasa dipanggil Loy. Kelas 2 SMU. Ayahku Park Jihoon dan ibuku Jung Airish. Aku memiliki saudara perempuan yang umurnya terpaut 7 tahun dariku, Park Soo Young. Tapi temannya lebih suka memanggilnya Joy. Aku juga jadi tertular memanggilnya demikian. Dia sudah menikah di usia ke 24 di awal tahun ini dan tinggal di Selandia Baru.

__ADS_1


Dan gadis menyebalkan tadi namanya Kang Yoo Shin. Tapi ia biasa dipanggil Karin. Bukankah itu sangat melenceng jauh? Dia kelas 3 sekolah menengah pertama. Hampir beda 2 tahun dariku, tapi sifatnya sangat tidak sopan. Dia memiliki seorang saudara laki-laki yang tengah kuliah di Jerman. Makanya orangtuanya sering menitipnya padaku ketika melakukan perjalanan bisnis. Hal itu sudah dimulai sejak aku duduk di bangku kelas 3 JHS.


Aku dengan tenang mulai mengaduk adonan sampai suara teriakan gadis itu dari kamarnya di lantai atas membuatku terlonjak kaget.


"GUANLIN! SIAPA YANG MERUSAK POSTER TIWAYKU, HAH?!"


.


.


.


.



*And, really. I'll be back*.



.


.


.


__ADS_1


**T H E E N D**👋


__ADS_2