Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
36. Dear you (END)


__ADS_3

🎧 [Suffocate-Hayd]


.


.


.


Happy reading")


[1] K.I.M K.A.R.I.N


Aku senang beribu kali lipat ketika melihat dia disini. Di depanku.


[2] K.I.M. K.A.R.I.N


Senyum selalu. Aku suka melihat wajah senyummu. Aku suka mata sipit dan lesung pipi yang menghiasinya.


[3] K.I.M K.A.R.I.N


Hobi baru Guanlin: mengganggu Karin.


[4] K.I.M K.A.R.I.N


Kalau kelak kau tahu, aku minta maaf. Tolong, maafkan aku.


[5] K.I.M K.A.R.I.N


Berhasil! Selamat ulang tahun, Kim Karin. Terimakasih sudah menerimaku kembali.


[6] K.I.M K.A.R.I.N


Apa tadi mereka menyebutnya? EXO? Apa-apaan itu? Kukira aku lebih tampan dibanding mereka semua. Bagaimana bisa Karin lebih menyukainya? Siapa Xiumin? Sehun? Baekhyun? Chanyeol? Suho? Tao? Kai? Chen? Kyungsoo? Lay? Siapa mereka?!


[7] K.I.M K.A.R.I.N


Karin suka merchandise EXO, ya? Sepertinya aku harus mencari tahu benda apa itu. Aku juga mungkin harus ikut berburu tiket konser dan fanmeet mereka.


[8] K.I.M K.A.R.I.N


Andai dia tahu, aku tak suka dia dekat dengan Daniel!


[9] K.I.M K.A.R.I.N


Karin mirip ibu, ya. Aku senang. Aku juga menjadi guru privatnya sekarang.


[10] K.I.M K.A.R.I.N


Selamat natal, Kim Karin. Selamat natal, Ong yang jahil. Selamat natal Jihoon. Selamat natal, Daehwi. Selamat natal, Daniel. Selamat natal, Jinyoung. Selamat natal, Woojin happy virus. Selamat natal, teman sekelas. Selamat natal, mama. Selamat natal, papa. Selamat natal, semua. Dan selamat tahun baru juga.


[11] K.I.M K.A.R.I.N


Sial. Kenapa hidungku terus-terusan berdarah?


[12] K.I.M K.A.R.I.N


Kanker darah, ya? Astaga. Bagaimana bisa dia menyukai tubuhku?


[13] K.I.M K.A.R.I.N


Hari ini kami berjalan-jalan lagi. Waktu rasanya cepat berlalu kalau bersama dia. Sialnya, aku mimisan lagi. Untung Karin tak sempat melihatnya.

__ADS_1


[14] K.I.M K.A.R.I.N


Tolong, maafkan aku. Aku tak bermaksud sama sekali. Maaf.


[15] K.I.M K.A.R.I.N


Kosong. Dia semakin jauh.


[16] K.I.M K.A.R.I.N


Sepertinya aku rindu. Rindu. Rindu.


[17] K.I.M K.A.R.I.N


Stadium 3. Tak hanya kanker itu, tapi rinduku juga.


[18] K.I.M K.A.R.I.N


Aku tak menyangka. Kenapa papa begitu tega? Aku merasa hancur lebur.


[19] K.I.M K.A.R.I.N


Hari ini aku seakan seperti paparazzi. Aku mengikuti Karin dan Airish seharian. Dia sempat melihatku. Mudah-mudahan dia tak mengenaliku.


[20] K.I.M K.A.R.I.N


Kami semua lulus. Aku bangga pada teman-temanku. Kalau kelak kalian membaca ini, aku harap kalian rindu padaku. Aku juga bangga pada Kim Karin. Selamat, aku senang kau berada 7 tingkat di bawahku. Itu luar biasa.


[21] K.I.M K.A.R.I.N


Aku insomnia karena terus memikirkan dirinya. Astaga, apa aku terlalu berlebihan.


[22] K.I.M K.A.R.I.N


[23] K.I.M K.A.R.I.N


Aku ragu apakah harus mengajaknya sebagai pasangan di farewell party nanti sore.


[24] K.I.M K.A.R.I.N


Kenapa rasanya akan ada hal yang buruk? Apakah ini hanya perasaanku saja.


[25] K.I.M K.A.R.I.N


Hai!! Ini mungkin akan menjadi tulisan terakhirku. Kanker itu. Ia sangat mencintai tubuhku hingga membuatku terbaring dengan stadium 4. Tapi dokter memujiku. Ia tak menyangka aku bisa bertahan hidup hampir 5 bulan setelah didiagnosis stadium 3. Aku terbaring di brankar saat ini. Ruangan putih ini sangat pekat dengan bau obat-obatan. Aku tak menyukainya. Namun lama kelamaan penciumanku mulai hilang. Aku juga susah untuk berjalan. Tanganku juga sebenarnya susah menulis. Maaf ya, kalau tulisanku kali ini sangat jelek. Apa kau dapat membacanya? Tolong usahakan ya. Oh iya, kalau Kim Karin membacanya aku ingin bilang aku sangat mencintaimu. Mungkin akan begini sampai seterusnya. Aku harap kau segera sembuh setelah hari itu.


Aku bahkan masih dapat membayangkan bagaimana dinginnya air laut ketika aku terjun untuk menyusulmu. Aku bahkan hampir tenggelam saking sakitnya luka tembakan itu. Namun ketika aku melihatmu, semangatku tumbuh kembali. Aku sangat tidak tega melihatmu tenggelam karena ikatan tali itu. Tapi aku juga susah membawamu kembali ke daratan. Untung Daniel datang. Daniel, terimakasih. Kau memang saudara yang baik. Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya. Terimakasih sudah menolong Karin. Terimakasih banyak. Kalau boleh, tolong menjaganya kalau suatu saat aku pergi. Lama kelamaan, aku merasa sangat sakit. Aku tak dapat merasakan apa-apa. Tapi begitu sadar aku berada di sini. Dengan banyak peralatan kesehatan di tubuhku.


Karena ini tulisan terakhirku, aku ingin mengucapkan banyak maaf untuk mereka yang hatinya pernah terluka karenaku. Maafkan aku, agar aku bisa pergi dengan tenang.


Jung Airish, kau mendapat gelar the best cousin ever dariku. Apa kau bangga? Aku sangat berterimakasih banyak padamu. Tolong tetap bersama Karin kalau aku sudah pergi.


Ong Seong woo, Jihoon, Daehwi. Hey, bung. Terimakasih telah menjadi temanku selama 6 tahun lebih. Harus kubalas apa kalian? Aku tak dapat mentraktir kalian lebih lama lagi. Sungguh kalian adalah bestfriend ever untukku. Aku akan merasa sangat kurang kalau kalian tidak ada. Kuharap kalian akan selalu merindukanku setelah ini. Tolong jaga Karin juga ya. Aku khawatir padanya.


Woojin dan Jinyoung. Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku selama 3 tahun lebih. Kuharap Park Woojin akan selalu seperti Park Woojin yang kukenal. Aku suka selera humormu, bung. Aku kagum pada Jinyoung. Bagaimana bisa kau kalem dan bijak di satu waktu. Aku ingin berguru padamu, tapi waktuku tak banyak. Tolong jaga Karin juga ya.


Mama Taeyeon, maaf untuk semua perbuatanku yang menyakiti hatimu. Aku menyesal pernah menolak kasih sayang yang kau berikan. Aku menyayangimu, ma.


Jihyo dan Seon Yoo. Aku memang tak terlalu akrab dengan kalian. Tapi aku juga berterimakasih pada kalian. Tanpa kalian mungkin aku akan sangat membenci diriku sendiri. Terimakasih.


Dan untuk gadis yang sangat kucintai. Kusayangi. Kim Karin. Maaf aku pernah membuatmu sangat terluka. Maafkan teman-temanku yang mungkin setelah ini akan berbohong padamu. Aku yang menyuruhnya. Jangan marah pada mereka, ya. Aku senang kau selamat dari kejadian itu. Kalau aku benar-benar pergi, jangan menangis terlalu lama. Juga jangan berpikir kalau aku meninggalkanmu. Bagian diriku ada padamu. Bagian diriku selalu bersamamu setiap saat. Aku senang bisa berguna sebelum pergi. I'll be back one day. I luv u.

__ADS_1


Astaga, tulisan ini makin tidak jelas. Kertasnya juga jadi berkerut karena jejak air mataku. Kalian jangan menertawakanku karena suka menulis diary. Jangan.


Sudah, ya. Setelah ini aku akan pergi menjalani operasi donor mata. Doakan agar ini berhasil.


Jangan pernah lupa padaku. Aku mencintai kalian semua. Jangan menangisiku terlalu lama. Selamat tinggal.


 


Lai Guanlin. Seoul, April 2015♥*





 


Aku menutup buku diary tebal berwarna navy yang Airish berikan padaku tadi. Aku menutup mulutku dalam-dalam agar tangisku tidak kedengaran keluar kamar. 2 hari aku masih tidak bisa berhenti menangis. Tulisan terakhir dalam diary nya itu benar-benar menohok hatiku. Bagaimana dia tak bosan menulis namaku di setiap awal tulisannya?


K.I.M K.A.R.I.N


Bagaimana dia juga tak bosan menulis diary? Setahuku, laki-laki sangat tidak menyukai menulis diary.


Setelah mengetahui fakta bahwa ternyata Guanlin sudah tidak ada, aku pingsan beberapa jam. Setelah sadar, aku memaksa mereka membawaku ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Mereka awalnya menolak, tapi mungkin tak tega melihat keadaanku yang kacau, mereka membawaku kesana, ke tempat pemakaman umum Seoul.


Ketika melihat makamnya yang berada di bawah pohon dan tertutup salju bulan Desember, aku kembali menangis histeris. Kalian tahu apa yang kurasakan? Hancur. Hatiku sangat sakit. Semua kenangan ketika bersamanya kembali melintas di benakku. Semuanya.


Di pemakaman sepi, tangisku terdengar. Aku terlihat sangat menyedihkan. Aku memeluk batu yang menuliskan namanya. Aku tak menyangka kalau Guanlinku pergi secepat ini. Bahkan aku mengetahuinya setelah waktu berlalu 8 bulan. Berjam-jam aku disana bersama teman-temanku yang menangis dalam diamnya.


Ini sangat mendadak. Padahal banyak yang sudah kurencanakan ketika tahu dia akan kembali di liburan musim dingin dari London. Ternyata itu akan menjadi rencana selamanya. Guanlinku sudah pergi selamanya dan dia tak akan kembali lagi.


Dia menyembunyikan penyakit mematikan itu dengan baik. Dia tak mau membagi penderitaannya denganku. Dia selalu menolongku ketika aku dalam bahaya. Dia pernah mengajariku sehingga hasil ujian akhirku sangat memuaskan. Dia juga pernah membawaku menonton konser. Membelikanku banyak merchandise. Membelikanku novel. Membayari setiap kami jalan-jalan. Mengantarkanku dengan motornya. Rela berkelahi dengan Daniel demiku. Rela dihukum karena memberikan baju olahraganya untukku. Bahkan dia mendonorkan matanya untukku.


Aku menyentuh mataku yang dibasahi air mata. Aku juga pernah berpikir bagaimana bisa aku tetap melihat dengan baik karena ketika jatuh kelautan mataku menghantam karang.


Dalam hatiku aku memanggil namanya berkali-kali. Barangkali dia akan muncul secara ajaib di hadapanku. Dadaku semakin sesak.


....Juga jangan berpikir kalau aku meninggalkanmu. Bagian diriku ada padamu. Bagian diriku selalu bersamamu setiap saat...


Yang ia maksudkan adalah mata, bukan? Guanlin benar. Ia tetap bersamaku. Aku dapat melihat segala hal karena dirinya. Guanlinku yang sangat kusayangi. Aku bahkan tak bisa memeluk dirinya untuk terakhir kali. Aku tak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Senyumnya. Canda tawanya. Suaranya. Semua hal tentang dirinya. Aku sangat rindu.


.


.


.


April 2016


Aku ke pantai seperti biasanya setelah mengunjungi makam Guanlin. Dua hal itu adalah kegiatan yang selalu kulakukan sejak beberapa bulan lalu. Hari ini aku membawa bunga yang kubeli dari toko bunga dan menaruhnya di makam Guanlin. Tanah itu telah ditutupi rumput khas pemakaman karena bahkan sudah setahun berlalu.


Aku memang tak menangis sesering dulu. Tapi, aku benar-benar berubah. Aku menjalani kuliah tanpa pernah bergaul dengan teman-teman kampusku. Hanya Airish yang selalu bersamaku akhir-akhir ini. Aku menjadi lebih pendiam dibanding ketika SHS dulu. Aku jarang bicara dan jarang senyum.


Setengah kebahagiaan dalam diriku ikut hilang semenjak kejadian itu. Aku benar-benar tak bisa menyukai orang lain lagi. Tidak tertarik pada laki-laki manapun karena seluruh bagian hatiku diisi oleh Guanlin seorang.


Kalian tahu? Aku tak akan pernah bisa berhenti mencintainya. Aku tak peduli kalau aku akan tetap seorang diri hingga maut menjemput. Aku sering berdoa pada Tuhan meminta kalau suatu saat aku akan terlahir kembali dan bertemu Guanlin lagi.


Deburan ombak sore dan suara-suara burung yang melintas menambah indahnya senja di pantai. Angin semilir menyapa rambutku, menerbangkan tiap helainya dengan lembut. Lagu suffocate milik Hayd dan universe milik EXO mengalun berulang kali dari earphone yang menyumpal telingaku. Aku selalu menyukai suasana ini. Aku akan menunggu hingga mentari benar-benar hilang di ufuk barat. Di saat yang sama, aku akan merasakan kalau Guanlin tengah senyum padaku dari langit yang mulai menggelap. Aku tersenyum samar.


Guanlin, aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Dan akan tetap begitu.

__ADS_1


T A M A T


__ADS_2