Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
27. I think this is the end


__ADS_3

Happy reading")


Guanlin menahan pukulannya. Ia berusaha tak memukul Karin. Walau termasuk keterlaluan, ia merasa tak pantas memukulnya. Tapi tetap saja dia marah besar pada Karin yang kini pasrah akan ia pukul.


Guanlin tak pikir panjang. Ia meraih dagu Karin menciumnya rakus sebagai ganti ia tak memukul gadis itu. Karin berontak menangis. Ia berusaha mendorong dada Guanlin agar menjauh. Tapi dia selalu gagal dalam hal itu. Guanlin malah semakin memojokkan dirinya.


Karin bahkan lebih memilih mati ketika Guanlin mulai meraba-raba sekujur tangannya. Tangannya dengan lancar bergerak membuka kancing depan seragam Karin membuatnya menangis terisak-isak. Demi Tuhan, ia merasa sangat dilecehkan. Ia merasa kotor. Ia merasa hina. Ia mendorong Guanlin menjauh dan kali ini usahanya tak gagal. Ia tak punya cukup tenaga untuk lari. Semua tenaganya seakan terkuras habis, membuat gadis itu jatuh duduk di lantai penuh debu khas laboratorium terbengkalai.


Guanlin mematung dengan nafas tersengal-sengal. Ia tak sadar kalau dia melakukan itu pada Karin. Sungguh. Emosi telah mengambil alih dirinya. Ia merasa sangat bersalah, dan juga takut.


Ia duduk perlahan. Menatap gemetar pada Karin yang terlihat berantakan. Bibir gadis itu terluka. Kancing kemejanya terbuka. Guanlin ingin mengancingkannya kembali tapi ia sadar, kancingnya tak lagi disana. Oh, Tuhan, apa yang telah ia lakukan?


Guanlin membuka jaket yang selalu ia kenakan, kemudian menutup bagian depan tubuh Karin.


"Maafin gue, Kim Karin." Ia memeluk gadis yang masih saja menangis terisak-isak. Ia mengelus lembut surai legam gadis itu. Ia jadi membenci dirinya yang sekarang. Kenapa dia harus berbuat demikian? Dia sangat menyesal.


"Gue salah. Gue tau gue keterlaluan. Tapi gue ga niat lakuin itu ke lo. Sungguh. Maafin gue." Suara Guanlin bergetar ketika mengucapkannya.


Ia mengurai pelukannya dan menatap gadis itu penuh penyesalan. Ia mendekatkan wajahnya dan menyatukan keningnya dengan Karin. Karin masih menangis walau tak sehebat tadi.


"Gue sakit hati lo selalu hina gue. Gue sakit hati. Tapi gue ga ada niat buat rusak lo, Karin. Maaf." Ujarnya pelan.


Karin merasakan itu. Karin merasakan air mata Guanlin yang jatuh di pipinya.


◐◐◐


Karin duduk di tepian ranjangnya sambil mengobati luka yang terdapat di bibirnya akibat insiden tadi sore. Karin kembali mengingat kejadian itu. Dan, hey! Kenapa jantungnya berdetak diluar batas?


Ia menutup mata sambil berbaring di ranjangnya. Tapi ia malah membayangkan bagaimana rasanya ketika laki-laki itu menciumnya.


"Wtf! Kenapa otak gue jadi kotor gini, hari sih?! Gue benci lo, Guanlin! Mati aja lo sana!" Gerutunya uring-uringan sendiri.


"Mikirin apa, hayo!"


Karin memasang wajah malas begitu melihat wajah si sepupu laknatnya, Jaehwan, muncul dari balik pintu. Ia menghela nafas kasar.


"Mau ngapain lo?"


"Idih? Lo jutek mulu deh perasaan. Entar itu muka cepat keriput loh. Ga lucu kan kalo lebih mudaan wajah gue dibanding lo."


"Bodo amat!"


"Ngomong-ngomong, Guanlin itu emang beneran pacar lo ya?" Jaehwan duduk di kursi belajar Karin sambil memakan kacang yang ia bawa. Karin memandangnya sengit. Kenapa Jaehwan harus bertanya tentang laki laki kurang ajar itu?


"Kalau kedatangan lo kesini cuman buat bahas dia, mending lo pergi!"


Jaehwan mendecak, "Emang kenapa deh? Sensi banget. Gue kan cuman nanya."


"Gue malas ngejawab. Gimana dong?"


"Oke. Gapapa. Tapi dong kalau gue laporin lo bolos kemarin lusa ke tante Tiffany?"


Damn! Karin heran kenapa Guanlin bisa tahu.


"Kaget ya?"


"Lo, lo tau dari siapa?"


"Pacar lo itulah."


"Gue ga punya pacar! Ngerti ga sih?"


"Terus Guanlin itu siapa?"


"Musuh!"


"Lihat mata gue sekarang."


Karin melirik Jaehwan, "Apa?!"


"Lo cinta kan sama dia?"


Karin membuang pandangannya, "Ya ngga lah, Jjaeni! Gue udah bilang berulang kali loh!"


"Kan gue nyuruh lo jawab sambil lihat mata gue. Kenapa ga bisa?"


Karin bungkam. Bagaimana mungkin dia masih cinta pada laki-laki sekurang ajar Guanlin? Itu sama sekali tidak benar.


Jaehwam terseny jahil. Ia mengerti kok. Dia mengerti sepupunya itu. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang janggal di bibir Karin. Luka? Ia kembali tersenyum penuh arti. Tapi Jaehwan tak berniat membahasnya.

__ADS_1


"Oke deh. Gue mau aransemen lagu. Pesan gue sih, jangan bohong sama perasaan lo sendiri. Terus," Jaehwan sedikit menunduk ketika ia berbisik.


"Bilangin sama Guanlin tuh. Jangan terlalu agresif. Masa iya bibir lo sampai luka gitu. Ngeri gue."


Jaehwan tertawa sarat dengan keusilan mengerjai sepupunya itu. Karin berteriak kesal. Agresif apanya?!


"Jjaeni sialan!"


◐◐◐


Karin diantar Jaehwan ketika berangkat sekolah hari ini. Sungguh, kalau tidak mengingat ujian kelulusan yang tinggal 2 minggu lagi, ia lebih memilih diam di rumah. Ia malas bertemu Guanlin lagi. Sungguh.


"Baik-baik belajarnya. Nanti gue ga janji bisa jemput. Jadi saran gue, mending lo pulang sama Guanlin. Lebih aman."


Cih! Aman katanya?


"Malas! Lebih baik gue naik bus umum. Udah sana buruan pergi. Makasih udah dianter."


Ia melangkah malas-malasan memasuki area sekolah. Sudah cukup ramai mengingat 20 menit lagi sudah bel. Karin menghentikan langkahnya ketika melihat Guanlin menuju ke arah yang berlawanan dengannya. Mereka saling menatap cukup lama. Hingga akhirnya Guanlin memutuskan kontak mata dan ia berbalik ke arah kelas. Karin pun demikian. Ia mau bersikap bodo amat.


Hubungan Karin dan Daniel berjalan seperti biasanya. Mereka tak banyak berbicara walau sesekali Daniel menunjukkan kepeduliannya. Tapi, Karin sadar. Akhir-akhir ini ia jadi lebih dekat dengan laki laki bermarga Kang yang adalah saudara tiri Guanlin itu. Karin tak berniat balas dendam pada Guanlin. Atau beniat menjadikan Daniel pelampiasan. Tak lebih Karin hanya menganggap Daniel itu teman dekat. Itu saja. Bagaimana laki-laki itu menyikapinya, itu urusannya.


Jennie masih tetap dengan sikap lamanya. Ia muak dengan sifat sok baik Karin. Ia mencap Karin itu munafik dan perusak. Dendamnya kian hari bertambah ketika ia malah terlihat dekat dengan Daniel.


"Dia jago banget ya manfaatin keadaan. Baru aja putus sama Guanlin. Sekarang udah deketin Daniel. Dasar cewe gatal! Murahan!" Ia berbisik sambil meremas kertas di tangannya. Seon yoo dan Jihyo bergidik ngeri. Mereka tahu seberapa besar murka Jennie pada Karin. Amat besar.


"Gausah dipikirin deh, Jen. Nanti lo stress gimana?" Jihyo berucap dengan raut polos seperti biasa.


Jennie dan Seon yoo menatapnya tajam. Tak suka.


"Lo belain Karin?" Tanya Seon yoo menelisik. Jihyo menggeleng.


"Ngga kok."


"Awas ya, kalo lo belain dia!" Jennie mengancam membuat gadis polos itu manggut-manggut.


"Lagian lo ga cemburu apa? Lihat tuh, Karin bakal rebut Daniel dari lo!" Jennie semakin berapi-api mengotori otak Jihyo. Gadis itu diam saja. Dia tahu kok. Dia tahu Daniel menyukai Karin. Bukan sebaliknya seperti yang Jennie katakan.


"Dia juga sering ngintilin Ong sama yang lain. Jijik gue lama lama liat dia." Kali ini Seon yoo mengutarakan isi hatinya.


"Lo suka sama Ong?" Jihyo memasang wajah penuh tanya.


"Ya menurut lo?"


"Gue juga jadi ga mood!" Seon yoo menyusul Jennie. Ia baru menghabiskan setengah jatah makan siangnya.


"Kok pada pergi, sih?" Jihyo menggerutu kesal karena ia ditinggal sendiri. Tapi ia lebih memilih menghabiskan makan siangnya terlebih dahulu sebelum menyusul teman-temannya, karena ia merasa sangat lapar. Gadis itu makan terburu-buru.


◐◐◐


"Loh, Airish sama yang lain kemana?" Karin mencari keberadaan Airish, Ong, Jihoon, Daehwi, Woojin, dan Jinyoung. Pasalnya, selepas kembali dari toilet ia tak lagi melihat teman-temannya itu di gerbang. Daniel malah menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Canggung.


"Mereka izin pulang duluan."


Karin beroh-ria tanpa curiga. Mereka berdua kembali berjalan bersama menyusuri trotoar jalanan yang tetap sejuk walau panas menyengat. Tentu saja karena banyaknya pepohonan.


"Em, Karin." Daniel memanggil gadis di sampingnya ragu-ragu. Karin menoleh pada Daniel. Menunggu akan apa yang ingin Daniel katakan setelahnya.


"Sebenarnya gue, sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo." Daniel jadi gagu ketika berbicara. Karena penasaran, Karin menghentikan langkahnya.


"Apa? Kayanya serius banget."


"Ini tentang perasaan gue. Gue mau jujur tentang perasan gue buat lo."


Karin tercekat.


"Sebenarnya, gue udah suka sama lo dari lama. Ya, semenjak lo pindah ke SMA ini. Gue lihat lo, dan gue jadi suka sama lo. Tapi, gue sadar. Gue sadar banget kalau hati lo bukan buat gue."


"Mak,maksudnya?"


Daniel tersenyum palsu, "Gue ga berharap perasaan gue lo balas. Ga sama sekali. Gue cuman pengen bebas, karena semakin gue takut ngungkapinnya, gue merasa tersiksa dan ga nyaman dekat sama lo. Jadi sekarang gue plong. Ga punya beban sama sekali. Lagian, gue tahu hati lo buat siapa."


Karin masih tetap diam.


"Lo cinta sama Guanlin kan?"


Telinga Karin terasa memanas. Kenapa.banyak sekali orang yang mengatakan demikian? Apa terlihat seperti itu? Karin heran.


"Ngawur! Yang ada gue benci setengah mati sama dia." Elaknya.

__ADS_1


"Karin, Karin. Lo tau ga sih? Lo nutupin fakta bahwa lo cinta sama dia dengan dalih lo benci sama dia. Lo lucu deh."


"Ap, apaan deh? Itu bohong. Gue ga cinta sama dia. Pulang, yuk. Gue cape nih." Karin melangkah terlebih dulu. Ia benar benar akan skakmat bila terus berbicara dengan Daniel. Laki-laki itu mengejarnya.


"Sebenarnya gue ga ikhlas sih. Gue jadi sedih sendiri kenapa harus Guanlin yang dapat cinta lo."


"Kang Daniel, bisa ga kita ga usah bahas dia? Bikin unmood tau ngga!"


Daniel tertawa, "Jadi kita masih tetap temanan kan?" Tanyanya.


"Ya iyalah. Kenapa harus musuhan, coba?"


"Gue jadi makin sayang sama Karin nuna."


Karin tertawa mendengar gaya bicara Daniel. Apa katanya? Nuna?


◐◐◐


"Gue mau ngomong sama lo!"


Daniel terkejut setengah mati begitu suara dingin Guanlin menyapa telinganya. Tumben sekali Guanlin mampir ke rumah orangtuanya. Biasanya ia yang datang ke rumah laki laki itu. Tentu saja Guanlin tak mau serumah dengan dirinya dan ibunya. Hingga ia lebih memilih membeli rumah sendiri.


"Bisa ga, ga buat kaget?!"


"Jangan dekat-dekat sama Karin!" Guanlin berucap langsung pada intinya. Ia terlalu malas untuk basa-basi dengan seorang Kang Daniel.


Daniel mendecih, "Lo cemburu?"


"Harusnya lo tahu!"


"Tapi kan lo bilang kalau lo ga pernah jatuh cinta sama dia. Wajar dong kalau gue punya kesempatan." Daniel memanas-manasi. Ia semangat sekali ketika Guanlin mulai mengepalkan tangannya.


"Lo kayaknya lebih milih war!"


"Lah, kok gitu? Lo jatuh cinta sama dia? Iya?"


"Ngga! Dia itu punya gue. Jadi musuh gue tolong jangan dekat-dekat sama dia." Guanlin bersedekap dada.


"Heran gue sama lo! Apa susahnya bilang kalau lo cinta sama dia?"


"Gue ga peduli. Pokoknya jangan dekat-dekatin dia lagi!"


"Gue juga ga peduli. Bodo amat sama lo!"


Guanlin membanting meja di hadapannya hingga menimbulkan suara keras. Hal itu membuat Kim Taeyeon —Ibu mereka— terkejut dan turun dari kamarnya. Ia tersenyum bahagia, dan melupakan emosinya begitu melihat Guanlin disana.


"Guanlin! Mama senang kamu disini."


Guanlin mendecih, "Maaf, tante. Saya ga datang buat bertemu sama tante."


"Sopan dikit lo!" Daniel memperingati.


Taeyeon memandangnya kesal, "Jangan pernah bentak Guanlin, Daniel! Atau mama bakal hukum kamu!"


"Salah Daniel apa sih? Daniel itu belain mama karena dia ga sopan."


Plakk...


Taeyeon selalu saja tak bisa menahan emosi ketika berhadapan dengan Daniel yang adalah anak kandungnya. Ia bahkan kelepasan menampar Daniel. Daniel tak heran. Ini selalu terjadi kalau bersangkutan dengan Guanlin. Wajar saja kalau dia membenci saudara tirinta itu.


"Kamu udah makan? Makan dulu gih, biar mama masak."


"Gausah, tante. Saya cuman pengen kasih anak tante peringatan."


Tante? Lagi?


Guanlin langsung pergi darisana.


"Gue bebas lakuin hal apapun, Guanlin! Termasuk buat dekat sama dia!"


"Oh terserah. Gue tunggu gank motor lo di tempat biasa hari Selasa! Kita buktiin siapa yang lebih tangguh!"


"Oke! Lo pikir gue takut?"


"Kalian mau ngapain?"


"Saya bakal kasih anak tante perhitungan!" Guanlin berniat pergi darisana.


"Guanlin berhenti, nak."

__ADS_1


Daniel makin benci pada Guanlin. Dia adalah anak kandung, tapi kenapa justru dirinya yang mendapat perlakuan bak anak tiri? Ini sangat tidak adil.


TBC")


__ADS_2