Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
16. I'm here for you


__ADS_3

Happy reading")


Karin terbangun ketika hari ini pukul 07.10 di Korea Selatan. Hari yang cukup dingin karena suhu hampir mendekati 0 derajat celsius. Ia segera menambah suhu penghangat ruangan dan mengambil handuk. Lalu mandi untuk mengawali pagi pertamanya di usia 17 tahun.


Acara ulang tahunnya tadi malam adalah ulang tahun paling memorable seumur hidupnya walau itu adalah ulang tahun pertamanya tanpa sang papa. Mereka semua sepakat tidak sekolah hari ini. Jelas saja, mereka baru pulang pukul 3 pagi bahkan lewat beberapa menit. Karin yakin diantara mereka semua, hanya dirinyalah yang sudah terbangun pagi ini.


Setelah mandi dan mengenakan pakaian tebal. Karin naik ke tempat tidurnya dan berdoa. Ia berterimakasih kepada Tuhan untuk umurnya yang semakin bertambah. Ia berterimakasih untuk mamanya yang sudah semakin membaik. Ia berterimakasih untuk teman temannya yang selalu ada untuknya. Dan, ia berharap kebahagiaan akan bersamanya selalu.


Karin mengakhiri doanya dan mulai membersihkan tempat tidurnya. Ia keluar kamar dan menyapa sang mama yang tengah berbaring sambil membaca buku di tempat tidurnya.


"Pagi, ma." Sapanya ceria kemudian mencium pipi sang mama.


"Pagi, sayang." Karin tersenyum senang. Ia juga menambah suhu penghangat ruangan agar mama tidak kedinginan.


"Karin bawain mama bubur ya."


"Serius? Emang kamu bisa buat bubur?" Tiffany meledek.


"Yahh, bubur doang kok."


Karin bergegas keluar dan menuruni tangga. Ia nampak semangat untuk membuat bubur pagi ini. 35 menit kemudian, Karin selesai. Ia membawa semangkuk bubur yang ia buat dan segelas air hangat dan menaruhnya diatas nampan.


"Ta-da." Karin tersenyum ceria mengundang senyum Tiffany juga. Ia menyuapi mamanya dengan telaten. Membantu sang mama minum. Ia berjanji akan selalu merawat mamanya sepenuh hati.


"Karin seneng banget mama udah bisa pulang ke rumah. Soalnya di rumah sakit itu ga asik banget. Bau obat dimana-mana."


"Iya iya."


Percakapan itu terhenti ketika dering ponsel Karin terdengar dari kamar di sebelahnya. Karin izin untuk mengambil ponselnya.


My prince💕


Karin melongo melihat nama kontak yang kini menghiasi layar ponselnya. Siapa my prince? Ia merasa tak pernah membuat nama kontak seseorang seperti demikian. Tak berlama lama ia segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan.


"Halo?"


"Pagi, Kim Karin. Eh, ralat. Pagi, Pacar."


"Guanlin?!"


"Kok kaget?"


"Lo kan yang ganti nama kontak lo di HP gue?"


"Yah, ketauan."


"Alay banget btw."


Guanlin tertawa.


"Siap siap ya. Gue jemput lo jam 9. Ada yang mau gue sampaiin sama lo."


"Yaudah sampaiin aj—"


"Sampai ketemu nanti, pacar."


Panggilan terputus sepihak. Karin menggeleng kepalanya sambil menahan senyuman. Guanlin itu benar benar berefek sekuat ini pada dirinya.


Karin segera kembali ke kamar mamanya, masih dengan senyuman di wajahnya. Hal itu membuat Tiffany keheranan.


"Lah kok senyum begitu? Kesambet kamu?"


"Mama ih. Emang salah kalo senyum?"


Tiffany hanya tersenyum sebagai jawaban. Karin melirik jam tangannya. Sekarang pukul 08.45. Ia hanya punya 15 menit sebelum laki laki itu datang menjemputnya.


"Oh iya, Ma. Jam 9 nanti Karin mau pergi keluar sama temen ya."


"Temen apa pacar?"


"Ih, mama ih. Temen kok."


"Yaudah, iya. Jangan lupa pake mantel. Diluar dingin tuh. Terus pulangnya jangan kelamaan. Oke?"


"Oke, mah. Mama mau nitip sesuatu atau apa gitu?"

__ADS_1


"Gausah. Buruan siap siap gih."


"Yaudah deh. Mama kalo butuh sesuatu panggil suster Ga Young ya."


---


"Kita mau kemana nih?" Tanya Karin sambil menatap pada Guanlin yang sedang fokus mengendarai mobilnya. Laki laki itu tersenyum.


"Gue pernah baca buku diary lo. Lo pengen wisata kuliner kan?"


Pipi Karin memerah. Kalau Guanlin membaca diary miliknya, berarti Guanlin membaca semua yang ia tulis disana bukan? Pantas saja Karin tak pernah melihat buku itu. Ternyata anak ini yang mencurinya?


"Ga sopan banget sih baca diary orang!"


"Dih, salah siapa ninggalin?"


"Ninggalin gimana?"


"Lo ninggalin diary lo pas kita belajar di perpustakan sekolah Kim Karin. Ya ga sengajalah kebawa sama gue. Pas di rumah gue liat terus gue kepo deh. Ya gue baca aja semua."


"Hah? Berarti lo—"


"Ga semua sih. Kalo lo nulis panjang kali lebar, gue males bacanya. Ada tuh yang sampai 3 lembaran. Gue males baca."


Karin menghela lega. Ada kemungkinan Guanlin tak membaca tulisan isi hatinya, karena itu agak memalukan. Oke, lupakan sajalah.


"Jadi fix dong, hari ini wisata kuliner?" Tanya Guanlin memastikan. Karin mengangguk sambil tersenyum cerah.


"Tapi kita pulang sebelum jam 3 sore ya. Gue banyak kerjaan soalnya."


"Padahal gue pikir kita pulang sebelum tengah hari. Cie, yang mau lama lama dekat sama gue."


Wajah Karin memerah bak kepiting rebus. Ia merasa bahwa wajahnya juga panas. Ini sungguh memalukan. Guanlin ini benar benar!!


"A,apaan sih?"


"Cie malu malu ciee!!"


"Udah deh Guan! Mending lo fokus nyetir. Gue ga mau mati muda ya!"


"Iya. Gue juga. Gue ga mau mati kalo belum nikah sama lo."


"Oh iya, nanti gue temenin lo ke toko buku juga. Beli novel yang lo mau sebanyak mungkin juga ada di list hope lo kan?"


"Seriusan?" Mata gadis itu berbinar. Guanlin mengacak rambutnya saking gemas dengan wajah lucu gadis itu.


"Iya, Kim Karin."


"Makasihh, Lai Guanlin." Balasnya tersenyum manis.


Guanlin terpana. Hatinya merasa sangat tersentuh melihat senyum tulus Karin saat menyebut namanya dengan lengkap.


"Tunggu tunggu! Tanggal berapa sekarang?"


"Tanggal 15. Emang kenapa?" Tanyanya dengan sorot bingung.


"Gue harus catat dan ingat. Ini adalah hari dimana lo kali pertama nyebut nama lengkap gue sambil senyum."


Karin tersenyum, "Ada ada aja lo!"


"Gue serius."


---


Karin tersenyum puas menikmati wisata kulinernya bersama laki laki yang tetap setia menggenggam tangannya. Mulai dari jajanan pasar hingga makanan restoran terkenal, sudah Karin datangi. Kini mereka berada di toko buku sebagai destinasi wisata terakhir. Wajar saja, ini sudah pukul 2 siang.


"Gapapa kan kalo gue tinggal bentar?" Tanya Guanlin ketika gadis itu tengah asyik memilih-milih novel yang berada di list hope miliknya.


"Mau kemana?"


"Gue mau lihat komik kesukaan gue."


Karin tertawa, "Iya. Sana. Gausah masang muka kaya anak kecil pamit ke ibunya juga dong."


"Ya nggalah. Itu mah suatu saat nanti ketika kita bawa anak anak kita kesini."

__ADS_1


"Guanlin! Sejak kapan sih lo pintar ngereceh?"


Guanlin tertawa, "Sejak gue bener bener jatuh cinta sama lo, Kim Karin."


"Udah sana, buruan cari komiknya." Karin mendorong laki laki itu menjauh. Tolong, Karin benar benar tak sanggup kalau harus menerima gombalan receh Guanlin. Ya walaupun receh, sialnya jantungnya tetap berdebar kencang. Dasar jantung tak tahu keadaan. Akan sangat gawat kalau Guanlin dapat mendengar detak jantungnya saking kerasnya.


Setelah membayar semua tagihan novel dan komik yang mereka beli, dua remaja itu tak langsung memutuskan pulang. Oh iya, cukup lama mereka berdebat tentang masalah bayar membayar. Karin bersikeras ingin membayar sendiri tagihan novel yang ia beli. Namun Guanlin melarangnya. Bukan apa. Laki laki itu juga membayar semua makanannya ketika wisata kuliner tadi. Jadinya ia merasa tidak enak kalau laki laki itu harus membayar novel yang ia beli saat ini.


"Gue jadi berasa kaya cowo ga bermodal kalo lo sendiri yang bayarin diri lo pas gue ajak jalan."  Jawabnya ketika Karin bertanya alasan.


Guanlin berkata ia ingin ke toko barang antik. Karin menurut saja ketika Guanlin menyuruhnya menemani dirinya. Lagian, apa ada gunanya kalau dia menolak? Guanlin ini kan pemaksa akut. Tapi tak apalah. Hitung hitung, ini adalah rasa terimakasihnya pada Guanlin karena laki laki itu membayarinya seharian penuh.


"Lo mau beli apa di toko barang antik?"


"Gue mau beli lukisan kuno yang udah lama gue incer." Jawabnya sambil melihat-lihat sekeliling. Guanlin nampak semangat menjelaskan satu per satu lukisan yang mereka temui.


"Lo tau banyak ya tentang lukisan. Lo suka ngelukis ya?"


Guanlin berhenti, "Ngga. Gue benci melukis."


"Hah? Tapi lo tau banyak tentang lukisan."


"Gue banyak baca buku seni."


Karin mengangguk-angguk walau ia curiga. Alasan Guanlin tidak masuk akal. Tapi ia berusaha untuk tidak bertanya lagi. Lalu ia terpana melihat sebuah piano di sudut ruangan. Oke, Karin sangat menyukai piano walau ia tak tahu cara memainkannya.


"Gue pernah liat ada piano di gudang rumah lo. Berarti lo tau main piano dong?"


Raut ceria Guanlin berubah pucat seketika. Karin mengernyit heran.


"Lo, lo kenapa Loy?"


Guanlin menundukkan kepala. Wajahnya berubah sendu. Mata laki laki jangkung itu sedikit berkaca kaca.


"Gue benci ngelukis, tapi gue lebih benci sama piano. Gue benci sama orang yang suka main piano."


"Hah? Ke, kenapa?"


"Ya, karena gue benci." Laki laki itu tersenyum palsu. Karin menghela nafas sebal.


"Lo punya masalah apa sih, Loy? Lo itu penuh rahasia banget deh. Lo juga ga pernah mau cerita sama gue."


"Lo ga perlu tau, Rin. Biar gue aja yang hadepin masalah gue sendiri."


Karin diam. Ia tak mau bertanya lagi. Ia akan mencari tau semua hal tentang Guanlin pada Airish nanti. Lihat saja.


"Iya deh iya. Udah ketemu sama yang lo cari?"


"Udah. Ini. Bagus ga?"


Karin menatap berbinar pada lukisan yang Guanlin tunjukkan. Lukisan itu nampak abstrak, namun Karin seakan tahu apa arti lukisan itu. Sulit mengutarakannya.


"Lukisan ini spesial. Abstrak, tapi penuh makna mendalam. Makanya gue suka."


"Selera lo mah bagus bagus semua."


Dua remaja itu keluar dari toko barang antik setelah membayar lukisan yang Guanlin cari. Sungguh, harga lukisan itu selangit. Karin bahkan tak habis pikir pada Guanlin yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk lukisan.


"Oh iya, ada yang mau gue omongin ke lo. Makanya gue ajak lo ketemu hari ini."


"Apaan?"


Guanlin diam sejenak sebelum ia lanjut berbicara.


"Gue ga mau kehilangan lo lagi, Kim Karin."


Karin membeku di tempat ketika Guanlin menggenggam tangannya. Wajah laki laki itu terlihat serius.


"Lo mau kan jadi pacar gue?"


Degg.....


Tolong! Siapapun tolong Karin agar ia sampai tak pingsan hari ini. Jantungnya berdebar kencang. Ia bahkan sulit mengucap sepatah katapun. Anggap saja ia terlalu berlebihan. Namun ini adalah kenyataan.


"Karin? Gimana?"

__ADS_1


"Hmm, gimana ya?" Tanya Karin sambil tersenyum usil.


TBC")


__ADS_2