
Kuga Yuuji. Dia seorang remaja yang biasa saja. Tentunya tidak ada hal yang begitu spesial. Tentang sekolahnya? Masuk peringkat 15 besar sudah termasuk baik baginya. Sungguh, bukan seorang karakter utama dengan IQ tinggi bak Albert Einstein atau Newton. Kehidupannya seperti pemuda normal kebanyakan. Bersekolah, bertemu teman-teman sebaya, bermain game.
Yuuji bukan sosok remaja nakal yang suka bermain dengan perempuan atau pergi ke klub malam demi memanjakan hasratnya. Tempat paling nakal yang dia datangi hingga malam dan harus dicari ibunya adalah teras minimarket dan gamezone. Bukan, dia di teras minimarket tidak ditemani botol kaca alkohol atau bekas putung rokok.
Benar. Ponsel yang miring dan suara 'Welcome to Mobile Legend' bersama teman-teman sekolahnya.
Yuuji tinggal bersama orang tua dan kakaknya. Tetapi karena kesibukan ayah dan ibunya, Yuuji memilih bermain hingga larut meski ujungnya dicari ibu. Yuuji tidak benci dengan sulitnya kebersamaan mereka setiap hari, ia memang tipikal remaja yang tidak bisa diam di rumah. Sementara kakaknya bekerja di salah satu agensi idol, sebagai manajer grup idol pria.
Karena tidak adanya teman di sekolah, ketika nantinya dia lulus SMP, Yuuji ingin tinggal di sekolah yang berasrama. Hal ini tidak ditentang kedua orang tuanya. Namun pastinya sang ibu tetap khawatir dan akan menjenguk setiap minggunya.
Kehidupan SMPnya yang terbilang normal bukanlah awal cerita ini. Tetapi, ketika Yuuji berada di teras minimarket. Seperti biasa, Yuuji dan teman-temannya asik push rank. Demi mythic, gais!
"Udah dapet sekolah yang cocok?" Kenji, pengguna Angela yang selalu mendampingi Yuuji.
Yuuji tak membalas. Temannya yang lain menjawab sekenanya karena posisi saat itu mereka sedang di tengah pertarungan sengit.
"AAAAHH! GA DAPET!" seru Yuuji ketika Sang Lord dicuri karena terlambat memencet retribution miliknya.
"Belum dapet? Aku ada rekomen sekolah yang kamu mau," jawab Kenji, menganggap Yuuji menanggapinya.
Yuuji melirik sinis, kemudian menatap layar miringnya lagi. Hiro, terkekeh melihat kesalahpahaman di depan mereka. Ketiganya kembali memokusnya diri di pertandingan hingga suara 'defeat' menyelesaikan match kesekian kalinya di malam ini.
Ponsel diletakkan di atas meja putih bundar, Yuuji lalu meraih botol kola miliknya dan meneguk hingga habis. Ia beranjak dan masuk ke minimarket untuk membeli camilan lagi.
Ujian sudah selesai. Kini dia perlu mencari rekomendasi sekolah untuk SMA. Tidak sulit untuk mendapat daftar sekolah di kota metropolitan ini. Tetapi, sekolah yang cocok dengannya itu sulit dicari. Bisa dibilang selama seminggu ini Yuuji bergulat dengan nama-nama SMA di tangannya.
Ketika mengantri, seorang pemuda berdiri di belakang. Menunggu giliran untuk dilayani kasir. Bukan hal yang wah atau penuh dengan blink-blink, pemuda itu tampak biasa dengan seragam sekolahnya.
Tapi justru seragamnya yang menjadi pusat perhatian Yuuji. Seragam yang tak pernah dilihatnya. Ia memandangi dari bawah hingga atas, mengamati setiap detil seragam unik tersebut. Bukan terbuat dari berlian dan aksesoris menyilaukan mata. Detil seperti logo dan lambang spade di kerah serta celana, sekolah macam apa ini?
"Kenapa?"
Tentu saja perilaku Yuuji mencurigakan. Si Pelajar balik menatapnya, seolah mengintrogasi. Tapi dia terlihat tahu apa yang dilihat Yuuji sejak tadi.
"Casino School, kalau kamu tertarik, daftar saja," ucapnya tanpa menunggu penjelasan Yuuji yang tak perlu dia dengarkan. Memberikan brosur sekolah dan segera menyerobot antrian Yuuji, pemuda itu pergi meninggalkan Yuuji yang masih terpukau dengan brosur sekolahnya.
Bergeming di tempat hingga kasir memanggilnya, Yuuji menyelesaikan transaksi dan menemui kedua temannya. Ia menunjukkan brosur tersebut dengan raut berseri. Seolah mendapat jackpot, keduanya mengiyakan ajakan Yuuji untuk bersekolah di sana setelah membaca fasilitas dan keunggulan sekolah tersebut.
Apalagi seragam sekolah yang unik dan tersedianya asrama di sana.
...*****...
Yuuji sudah bertekat untuk masuk ke Casino School. Ayahnya yang bekerja di bidang politik tak banyak berkomentar, ia hanya memberi arahan singkat tentang sekolah tersebut yang diiringi guyonan kecil. Sementara ibunya sudah sibuk dengan persiapan untuk tinggalnya anak bungsu di asrama, pertama kali lepasnya anak dari rumah membuat dirinya cukup cemas. Bahkan jadwal berkunjung sudah ditentukan.
"Yakin ke situ?" tanya kakak Yuuji dengan senyum jahilnya. Yuuji dengan mantap meyakinkan kakak dan ayahnya.
Bukan perkara sekolahnya yang tertutup dan tidak banyak informasi di media, tetapi ada sesuatu yang disembunyikan dari ayahnya. Tentunya Kuga Yuuma—ayah Yuuji—tahu seluk beluk sekolah yang akan dijadikan tujuan pertama anaknya.
"Kamu harus hati-hati, lho," peringat Yuuma sambil menyeruput susu buatan istrinya.
"Tenang aja, Ayah! Aku bisa sendiri kok! Apalagi di sini ada 4 kelas. Beda banget dari sekolah lain. Unik, ya. Pantes ada lambang kartu remi, ternyata itu kelas-kelas di sana. Keren banget!"
Girangnya Yuuji menyusutkan niat Yuuma untuk menjelaskan semua yang ia tahu. Ah, biarkan. Toh, Yuuji akan tahu nantinya.
Bukankah ini sebuah hiburan untuknya?
...*****...
Hari di mana ujian masuk tiba. Sejak semalam, ayahnya menghabiskan waktu untuk mendampingi Yuuji belajar. Bukan hal aneh, ayahnya memang suka membantu Yuuji belajar saat pekerjaannya lebih sedikit.
Kenji dan Hiro sudah lebih dulu datang. Mereka menunggu Yuuji di gerbang masuk. Ketiganya lantas masuk ke ruang ujian bersama setelah menerima kartu untuk ujian masuk.
__ADS_1
Kesulitan di setiap soal termasuk gampang. Bahkan seperti dasar pelajaran SMP. Yuuji pikir akan sesulit semalam, tapi ini tidak ada apa-apanya dibanding pertanyaan Yuuma semalam.
Yuuma memilih kelas diamond, yaitu politik dan ilmu sosial. Jurusan yang sama dengan orang tuanya. Hanya saja mereka tidak bersekolah di sekolah ini. Mungkin sekolah semacam ini yang mereka enyam.
"Sepuluh menit lagi." Pengawas ujian memberi peringatan sebelum waktu ujian benar-benar habis.
Ketika Yuuji membalikkan kertas soalnya, ia tertegun dengan lembar terakhir.
Daftar soal-soal yang dikiranya mudah, ternyata kesulitannya ada di halaman terakhir. Terkejut bukan main. Hampir 2 jam berlalu, Yuuji terlalu menyepelekan dan terlena dengan 50 biji soal dasar.
Bukan hanya Yuuji saja, banyak anak juga ikut kaget dengan soal di lembar terakhirnya. Ada rasa senang karena dia tidak sendiri, tapi tetap saja tidak bisa menutup kecerobohannya.
Pertanyaan sulit dan sedikit aneh. Yuuji tak bisa mencerna keseluruhan pertanyaan dan terbilang ganjal. Ingin rasanya menjawab seadanya, tapi keinginan untuk masuk ke sekolah ini kembali muncul. Seolah tak mengizinkan dirinya untuk seenaknya seperti ujian masuk SMP dulu.
Apa yang kamu lakukan dan bagaimana kamu mengatur posisimu dengan 100 dollar di sekolah ini?
Seratus dollar bukan nominal yang kecil. Itu sangat besar bagi pelajar sepertinya. Tapi uang sebanyak itu bukan hal sulit untuk dihabiskan. Sayangnya pertanyaan itu bukan perihal bagaimana Yuuji membuang 100 dollar itu.
Tidak mengerti dengan posisi yang dimaksud, Yuuji menganggap sebagai jurusan yang ia pilih. Tentu, ini pasti jebakan politik untuknya. Menjadikan uang sebesar 100 dollar untuk melihat seberapa dia mampu mengatur.
Ayahnya pernah bilang, terjun ke dunia politik sama dengan siap menginjak ranjau. Ini jebakan.
Akan aku simpan sebagian, sisanya aku gunakan untuk keperluan di sekolah. Sebisa mungkin aku akan menambah jumlahnya lebih dari sekian dollar.
"Waktu habis, silakan tinggalkan kertas jawaban di meja dan keluar kelas berurutan."
Yuuji meninggalkan kelas dengan perasaan bangga. Jawaban terakhir yang dianggapnya bijak di antara yang lain. Seharusnya dirinya ingat, di atas langit masih ada langit. Bahkan jawaban seperti itu akan menjadi bumerang baginya ketika diterima di sekolah ini.
...*****...
Tiga hari setelah ujian masuk ditutup, daftar murid diterima sudah terpampang jelas di papan pengumuman. Bergerombol remaja yang baru saja 'mentas' dari masa SMPnya harus kembali menyelam ke masa SMA yang entah akan menjadi apa nantinya.
"Papan kelas diamond udah senggang, tuh," ucap Hiro menunjuk papan pengumuman. Yuuji bergegas ke sana, memeriksa namanya.
Tidak sulit mencari marga Kuga di sana. Namanya sudah tertulis dengan jelas. Girangnya Yuuji menjadi jawaban mereka yang was-was.
Keberhasilan Yuuji dan teman-temannya dirayakan di PizzaHut pusat kota. Sembari membahas sekolah yang unik dan fasilitas yang disediakan, 2 kotak pizza ludes dengan cepat.
...*****...
Hari pertama masuk sekolah. Yuuji sudah didaftarkan di asrama bersama kedua temannya. Sebuah keberuntungan kamar asrama mereka tidak dipisah. Dengan 3 orang sekamar. Mengira asrama akan terpisah seperti kelas, kecemasannya berkurang 1.
Bak tumbang satu tumbuh seribu, kekhawatirannya beranakpinak. Acara penerimaan murid baru menjadi hari di mana Yuuji memulai kehidupan aneh di sekolah unik ini.
"Selamat datang di Sekolah Kasino. Selamat untuk siswa-siswi yang berhasil melewati ujian masuk. Kami menyortir dengan teliti. Dan murid di depan sekarang adalah murid-murid terbaik yang kami dapat dari beberapa kali penyaringan. Uhm, bukankah seperti adonan kue? Mm, itu perlu penyaringan, kan?"
Pembukaan yang aneh dari kepala sekolah yang terlihat tidak professional. Beberapa kali wakil kepala sekolah membisikkan sesuatu untuk kalimat yang harus dijelaskan. Hingga akhirnya ia ditarik turun dari panggung demi kebaikan bersama.
Sebuah cuplikan film ditayangkan di layar lebar yang sudah disediakan. Di mana di dalamnya banyak penjelasan mengenai sistem sekolah dan peraturan lainnya. Sistem yang tidak pernah ada di sekolah lainnya dan baru Casino School yang memilikinya.
Seperti namanya, Sekolah Kasino. Perjudian. Oh, tunggu. Apakah mereka diajarkan untuk berjudi? A, a. Secara tidak langsung mengharuskan mereka belajar secara otodidak tentang perjudian dan bertahan hidup.
Seorang pemuda berbadan tinggi, jas putih dengan lambang diamond. Paras tampan dan tatapan tajamnya menghunus para kaum hawa, seolah panah cupid membius mereka untuk jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Aku Jaken, kelas diamond tahun ketiga. Akan aku jelaskan mengenai kelas-kelas di sini. Dimulai dari kelasku. Diamond Class adalah kelas dengan jurusan politik dan ilmu sosial. Kami menduduki peringkat teratas dalam keunggulan kelas. Tentunya keelitan kami dinilai di mana sulit menemukannya di kelas lain."
Sebuah penjelasan dengan sarkas kecil membuat sebagian murid kelas lain tak nyaman. Tetapi ia tidak mengacuhkannya dan terus menjelaskan dengan keangkuhan.
"Kedua, Spade Class. Jurusan olahraga dan bela diri sebagai keunggulan. Kelas ini melahirkan banyak atlet berbakat dan pencetak piala tahunan. Sebuah kebanggaan kami memiliki kelas dengan para atlet hebat."
"Ketiga, Heart Class. Koki dan peseni luar biasa menjadi penyeimbang kesenjangan sosial di sini. Kelahiran bakat-bakat mereka menjadi prestasi baru bagi sekolah. Jurusan tata boga dan kesenian menjadi ikon kelas ini."
__ADS_1
"Terakhir, Clover Class. Seperti namanya. Pertanian adalah jalan karir mereka. Petani hebat dan unggulnya hasil panen menjadi penghasilan lain dari sekolah. Panen mereka menjadi konsumsi sehari-hari kami. Berterima kasihlah kepada jasa kelas klover."
Layar yang semula menampilkan lambang-lambang kelas dan potret setiap murid berubah menjadi susunan catur. Catur, benar. Raja, ratu, mentri, kuda, benteng, dan pion. Apa maksudnya?
"Di sini ada pangkat untuk mengatur sekolahan. Tidak ada OSIS atau semacamnya. Kami, para pemilik pangkat yang mengatur jalannya sekolahan. Dengan persetujuan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, kami bisa merilis peraturan baru tanpa mengubah peraturan tetapnya. Ini peraturan sekolah yang menjadi ciri khas. Sistem pangkat dalam catur."
Layar menampilkan lambang pion.
"Pion adalah paling bawah dan tidak punya kuasa apapun. Murid baru maupun lama bisa tetap menjadi pion. Kami tidak menuntut kalian untuk naik pangkat. Karena jumlah pion tidak terbatas, berbeda dengan benteng."
"Benteng, kuda, dan mentri hanya bisa diisi 2 murid setiap posisi. Semakin mengerucut, hanya ada 1 orang untuk posisi teratas. Raja dan ratu."
Setelah lambang-lambang itu habis, gambar chip untuk bermain di kasino muncul di layar. Ada 6 jenis chip yang ditampilkan. Terdapat penjelasan nominal setiap warna chip yang berbeda.
"Kalian masih ingat soal terakhir di ujian masuk? Yap. Setiap murid akan dimodali 1 chip hitam untuk kehidupan di sekolah. Dollar biasa bukan mata uang di sekolah ini, tapi koin-koin ini yang menjadi mata uangnya. Apa kalian bisa menambah uang? Tentu bisa. Bagaimana caranya?"
Berbagai macam cuplikan permainan judi ditampilkan. Bahkan siswa-siswi sekolah yang berjudi menjadi contoh di sini.
"Kalian bisa menambah uang dari berjudi atau ikut kompetisi yang diadakan sekolah setiap bulannya. Tentu kalian tahu judi itu seperti apa. Kami tidak membatasi jenis judi apapun di sini. Russian Roulette misalnya, kami tidak melarangnya sama sekali. Selama menghasilkan uang, bukan masalah bagi kami."
"Uang yang kalian hasilkan bisa digunakan untuk membeli makan atau keperluan sekolah di lingkungan sekolahan. Chip yang kalian dapat bisa ditukar menjadi dollar dan digunakan di luar sekolah. Tapi jangan harap kalian bisa menukarnya dengan chip lagi. Karena dollar tidak akan bisa ditukar menjadi chip lagi di sini. Dalam artian di dalam game, kalian tidak bisa topup chip seenaknya."
Seorang murid baru mengangkat tangan. Jaken dengan santai memberikan waktu untuknya bertanya. "Kenapa nominalnya sangat besar? Seratus dollar itu besar untuk kami. Apa sekolahan tidak rugi? Kalau hanya untuk keperluan sekolah dan makan, kenapa sampai sebanyak itu? Apa makanan di sini mahal-mahal?"
Jaken terkekeh, ia mengangguk-angguk kecil. Layar di belakang masih menampilkan perjudian yang dilakukan para murid sekolah.
"Aku ingin menjelaskannya tadi, tapi kamu tidak sabaran, ya."
Pemuda itu berdehem sebentar, lalu pandangannya menjadi serius.
"Kenapa nominalnya sangat besar? Kamu tidak akan berpikir seperti itu setelah tahu keperluan sekolah yang dimaksud seperti apa. Ujian praktik, buku, dan lainnya harus kalian beli dengan uang itu. Selain itu, pangkat catur bisa kalian beli dengan chip juga."
Seolah mendapat pencerahan dan kesempatan untuk menjadi yang paling teratas, anak-anak berandal dengan niat menguasai tampak sumringah. Banyak bayangan menjadi raja dan memiliki pangkat tinggi.
Namun semangat itu langsung dipatahkan Jaken setelah nominal setiap pangkat yang harus dibayar muncul di layar.
"Menjadi pion tidak perlu mengeluarkan chip untuk merebut posisi. Benteng bermodal 2 chip hitam, kuda 5 chip hitam, mentri 1 chip oranye, ratu 2 chip oranye dan 8 chip hitam, dan raja 3 chip oranye. Sementara modal kalian 1 chip hitam yang masih dipotong untuk keperluan sekolah lain."
"Bagaimana cara merebut tahta yang sudah diisi dan mendapatkan chip dengan cepat? Caranya mudah. Tantang pengisi posisi itu dengan membayar sesuai harga yang tertera. Jika kalian menang, uang taruhan menjadi milik kalian dan kalian bisa menduduki posisi itu, tapi uang lawan hanya masuk 30% ke kantong kalian, sisanya masuk uang sekolah. Jika kalah? Kalian akan kembali ke pion meskipun posisi awal kalian bukan di pion dan chip taruhan bukan milik kalian lagi."
"Tantangan tidak melulu soal judi. Jika yang ditantang 1 jurusan, kalian bisa memilih judi atau adu pengetahuan di jurusan kelas. Jika beda kelas, otomatis judi menjadi jalan satu-satunya."
Jaken menunjukkan gambar kursi kosong. Tahta kosong.
"Apa jadinya jika tahta kosong? Sekolah akan mengadakan kompetisi besar-besaran secepatnya untuk mengisi posisi itu. Dengan ujian pengetahuan umum di seluruh jurusan dan poin kemenangan judi. Semakin bagus nilai ujian dan tinggi rasio menang, kesempatan diangkat menjadi pengisi posisi lebih tinggi. Seluruh murid tanpa terkecuali bisa tetap ikut tanpa takut jabatan sebelumnya dilepas. Ini di luar tantangan pribadi."
Penjelasan itu membuat seluruh murid baru tertegun. Banyak yang bingung, ragu, dan tak sedikit pula yang semangat untuk merebut tahta yang terisi.
Beberapa murid naik ke atas, di mana semua berjejer dengan rapi seperti bidak catur. Jaken berdiri di sana dan tersenyum sinis, lalu menutup acara pagi ini. Seorang raja dari seluruh tahta, Jaken, seolah mendeklarasikan diskriminasi di dalam sorot matanya ke seluruh murid yang ada.
Tekanan berat membuat sebagian besar murid baru merasa tertindas. Apalagi turunnya para penguasa dari panggung dan melewati mereka untuk keluar dari gedung. Aura ngeri sangat terasa ketika mereka berkontak mata. Tidak sedikit yang bergidik. Hingga 8 orang itu benar-benar keluar, perasaan takut itu masih saja ada.
...***...
P.S
Author terinspirasi tentang perjudian sekolah dari anime Kakegurui. Sistem kelas spade, diamond, heart, dan clover terinspirasi dari manga Love Text (mangaka Mitsubachi Miyuki).
Selebihnya author mengembangkannya sendiri.
Terima kasih!
__ADS_1