Casino School

Casino School
Episode 24


__ADS_3

Sore hari telah tiba. Hari terakhir ujian disambut meriah dengan liburan. Banyak anak yang memilih pulang ke rumah, tidak sedikit juga yang tinggal di asrama. Gedung sekolahan telah ditutup, staff sekolah sedang mempersiapkan acara akhir tahun dan akan dibuka lagi pada tanggal 1 desember.


Yuuji adalah salah satu murid yang memilih pulang ke rumah untuk bertemu dengan keluarga. Kenji dan Hiro tinggal di asrama karena orang tuanya ada di kota lain dan cukup jauh. Kepergian Yuuji diantar kelima temannya. Setelah Yuuji meninggalkan asrama, Fuji dan Tama ikut pulang. Kuro sendiri malas pulang karena di rumah tidak ada yang menantikan kepulangannya.


Di kediaman keluarga Kuga.


Pulangnya anak bungsu membawa kebahagiaan. Setelah hampir setengah tahun tanpa sosok Yuuji membuat ibunya sedih dan kepikiran. Yuuji baru tahu jika selama ini ibunya selalu menahan diri untuk menelpon Yuuji karena takut mengganggu waktu belajarnya. Jika mengingat hari-hari sebelumnya, Yuuji jadi merasa bersalah karena yang dibayangkan orang tuanya sangat berbeda dengan realita.


"Yuuji, ibu sudah masak makanan favoritmu," ucap ibunya, Kuga Miwa. Bu Miwa membawakan tas ransel Yuuji ke lantai atas, tepatnya di kamar Yuuji. Ayahnya mengajak Yuuji untuk masuk ke ruang makan.


Pukul 10 pagi, ibunya sudah menyiapkan bermacam-macam masakan. Ayam goreng mentega favorit Yuuji bertengger di piring lauk, siap untuk disantap.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya kakak Yuuji dari ruang tv. Kuga Ryuuji namanya. "Mmm, lumayan," jawab Yuuji sekenanya. Pikirannya tidak fokus, sekarang dia hanya ingin makan ayam goreng menteganya.


Bu Miwa turun dan segera menyiapkan nasi untuk masing-masing anggota keluarga, begitupun yang terakhir untuk piringnya sendiri. Keempatnya menghabiskan masakan pagi ini bersama di atas meja makan. Sambil mengobrol, Yuuji hampir tak menyisakan ayam gorengnya.


"Yuuji. Pelajaran apa yang kamu pelajari?" tanya Tuan Yuuma santai, menikmati makanannya yang sisa setengah.


Walau sedikit gugup, Yuuji cukup jernih untuk mengingat materi yang ia pelajari untuk persiapan ujian kemarin. Beruntung memorinya masih bisa menampung sebagian. Setidaknya ini bisa menjadi alibi orang tuanya. Padahal selama 5 bulan di sekolah, Yuuji hanya menghabiskan waktu sekolahnya untuk berjudi.

__ADS_1


Kedua orang tua dan Ryuuji manggut-manggut mendengar penjelasan Yuuji. Materi yang dipelajari cukup untuk anak kelas 1. Meski sebenarnya mereka tidak paham takaran materi politik untuk seumuran Yuuji itu harus sampai mana. Pasalnya baru kali ini ada SMA yang mengusung jurusan seperti universitas.


Setelah menghabiskan makanannya, Yuuji bergegas kembali ke kamar tidur yang sudah ditinggalnya berbulan-bulan. Masih rapi dan wangi. Ibunya selalu membersihkan kamarnya walau Yuuji tidak pulang.


Merebahkan tubuh di kasur dan meraih ponsel di saku celana, Yuuji memeriksanya, mendapati beberapa pesan dari Kenji dan Hiro, menanyakan kabar Yuuji dan keluarga. Tidak lama ada panggilan masuk, dari Kenji. Tanpa bertanya-tanya, Yuuji memencet tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Hei. Aku baru selesai makan bersama," ucap Yuuji santai. Terdengar suara tertawa renyah di dalam ponsel. Mereka berbincang singkat untuk melepas rindu sesaat, kemudian menutup telpon saat pintu kamar diketuk. Yuuji segera membukanya.


Bu Miwa berdiri dengan membawa segelas susu hangat. "Hai, Bu. Masuklah," sapa Yuuji. Miwa mendekati meja belajar Yuuji dan meletakkan susu itu di atas meja. Lantas ia menatap lembut anaknya.


"Kamu sudah besar, ya, Yuuji," gumam Bu Miwa sambil mengelus pipi Yuuji pelan. Tampaknya ibunya masih belum percaya jika anak keduanya sudah sebesar ini.


"Padahal kemarin kamu masih bayi," lanjutnya membuat Yuuji tertawa gemas. Ibunya memang tidak biasa seperti ini, tapi dia akan nostalgia ketika melihat anaknya tumbuh dewasa. Sama seperti saat Bu Miwa memperlakukan Ryuuji dulu—bahkan hingga sekarang.


Seorang ibu yang manja dengan kedua anak laki-lakinya sekaligus suka khawatir. Bagaimana tidak, pekerjaannya membuat Bu Miwa kalut dalam kesibukan dan menanggalkan hampir seluruh kenangan masa muda anak-anaknya. Rasa menyesal memang datang di akhir. Kepergian Yuuji ke asrama membuatnya sadar dan memutuskan untuk berhenti bekerja. Toh, gaji dari Tuan Kuga sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan pokok, sekolah Yuuji, dan tabungan masa tua.


"Ibu ingin dengar kisahmu di sekolah," ucap Bu Miwa sambil duduk di bibir single bed milik Yuuji. Yuuji terperanjat, bingung juga. Bagaimana dia harus menjelaskan? Sekolah itu bukan seperti sekolah pada umumnya.


Ia takut jika ibunya tahu sekolahan itu agak menyimpang, ibunya akan memaksa Yuuji untuk keluar sekolahan. Yuuji sudah nyaman dengan sistem di sana. Apalagi jika diingat, Bu Miwa sebenarnya sangat benci dengan perjudian. Bu Miwa mulai khawatir setelah Yuuji bersekolah selama 2 bulan di sana.

__ADS_1


"Ibu tahu. Itu sekolah judi, kan?" tanya Bu Miwa pelan. "Ibu tidak marah, kok. Wajahmu mengatakan kamu bahagia bersekolah di sana, jadi ibu tidak akan protes apapun selama kamu senang," lanjutnya.


Perasaan lega menyembur ke dalam hati Yuuji. Pemuda itu tersenyum puas, kemudian duduk di sebelah ibunya sambil memegang gelas susu yang dibuatkan. Ia meneguk sedikit demi sedikit. Sambil bercerita dan ibunya tampak antusias mendengarkan dongeng Yuuji.


Hingga tak terasa sudah pukul 1 siang, cerita Yuuji yang panjang pun usai. Ibunya beranjak dari kasur dengan raut berseri. Jika didengar dari cerita Yuuji, anaknya itu terlihat baik-baik saja di sekolahan. Walau banyak melewati kericuhan, tapi Yuuji tidak terbebani. Bu Miwa merasa senang.


"Oh, ya. Yuuji. Kamu masih ingat Yoneya?" tanya Bu Miwa sambil mengambil gelas susu di tangan Yuuji.


Yuuji mengernyit dahi. Nama Yoneya tidak asing di kupingnya, tapi entah kenapa dia lupa siapa itu Yoneya.


"Kyousuke Yoneya, anak teman ayahmu yang tinggal di Haha-jima. Anak nakal dan berisik. Dulu pernah sekolah di TK yang sama denganmu," jelas Bu Miwa mencoba membantu Yuuji untuk menggali ingatannya.


Pemuda itu diam sejenak. Mengingat kembali siapa teman-teman TKnya. Hingga hap! Mendarat di sebuah wajah yang pernah mengisi hari-hari sepinya di masa kecilnya.


"Ah. Kyou, ya.. aku ingat. Dia pindah waktu aku SD, ya," ucap Yuuji dijawab anggukan kecil Bu Miwa. "Kenapa dengan Kyou?" lanjut Yuuji sambil menatap lekat ibunya.


Ibunya tersenyum lembut. "Kyousuke akan bersekolah di Casino School," jawab Bu Miwa.


Seolah tersambar petir Atta, hati Yuuji mencelos kaget. Teman masa kecilnya itu masuk ke sekolah suram seperti Casino School? Yang benar saja!

__ADS_1


"Dia masuk ke sana di awal tahun. Jadi tolong dibimbing, ya." Tanpa merasa berdosa, Bu Miwa mengelus kepala Yuuji sebentar lalu pergi keluar, meninggalkan Yuuji yang masih mematung karena kaget sekaligus bingung.


...* * * * *...


__ADS_2