
Yoneya Kyousuke. Teman masa kecil Kuga Yuuji. Mereka adalah partner in crime. Di mana ada Kyousuke yang bertingkah, di belakangnya ada Yuuji sebagai dalang. Begitu sebaliknya. Dua anak yang sulit dipisahkan meski orang tuanya sering mengomel karena mereka asik menjahili anak lain hingga menangis.
Pernah saat itu Yuuji harus dikurung seharian di rumah karena sudah membuat anak gadis di TK menangis. Mainannya disembunyikan Yuuji di atas lemari. Gadis mungil nan lugu itu mencari ke mana-mana. Yuuji menunjuk atas lemari tapi langsung meninggalkannya.
Si gadis berusaha mengambilnya dan akhirnya jatuh karena keseimbangannya runtuh saat Kyousuke mengagetkannya. Alhasil Yuuji dan Kyousuke dihukum. Tapi yang namanya bocah sulit dinasehati, keduanya kabur dan pergi ke lapangan untuk bermain bola bersama.
Gadis yang menangis itu tahu akan kehadiran mereka. Dia takut dan lari pulang. Sayangnya Yuuji mengetahui dan mengejarnya hingga gadis itu menangis lagi. Di saat itu juga Yuuji benar-benar dikurung dan tidak boleh sekolah selama seminggu.
Kemudian Yuuji dibawa ke rumah gadis yang dinakalinya, menyuruhnya minta maaf. Diketahui nama gadis itu adalah Meiko. Yang sekarang Meiko tumbuh menjadi remaja manis dan suka membuat kue. Hmm, familiar dengan ciri-ciri ini? Benar. Yuuji merasa tipenya adalah Meiko. Tapi karena kejadian masa lalu membuat Yuuji tidak berani mendekatinya.
Kilas balik singkat tentang masa nakal anak-anaknya. Kini Yuuji kembali ke masa kini. Di mana Yuuji termenung, kembali mengingat memori-memori indah bersama Kyousuke. Tidak ada hal mengganjal di sana selain jahilnya mereka. Yuuji baru menjadi anak baik-baik setelah Kyousuke pindah ke Haha-jima. Jika dipikir, ternyata titisan iblis sebenarnya Kyousuke, ya.
"Yuuji. Aku masuk, ya." Suara yang tiba-tiba terdengar dari luar kamar. Tanpa menunggu jawaban, Ryuuji membuka pintu dan masuk sambil membawa sebuah laptop bermerek apel.
Yuuji memandangnya malas. "Ketok pintu dulu," tegur Yuuju.
Ryuuji mengangguk dan kembali menutup pintu. Mengetuknya dan langsung membuka tanpa menunggu Yuuji lagi. Yuuji sudah capek dan hanya menghela napas berat.
"Kenapa?" tanya Yuuji sembari pandangannya mengikuti gerak-gerik Ryuuji yang duduk di kursi belajarnya. Meletakkan laptop, membukanya, dan memperlihatkan video latihan para idolnya.
"Mau ikut, ga? Lagi butuh trainee," tawar Ryuuji yang langsung ditolak tegas. "Gak. Makasih," jawab Yuuji bergegas merebahkan diri di kasur dan memeluk gulingnya erat.
"Yaudah. Ga usah ikut, aku males ngurus trainee kayak kamu," lanjut Ryuuji ketus sambil menonton video yang dikirim idol yang diurusnya.
Yuuji mendengus, lalu memejamkan mata. "Nanti kalo udah kelar, tutup pintunya," gumam Yuuji sebelum terlelap dalam tidurnya.
...* * *...
Tidak terasa waktu yang bergulir sangat cepat. Hari sudah menjelang sore dan Yuuji terbangun dari tidurnya. Ryuuji sudah tidak ada di kamar, tapi pintu kamar terbuka lebar. Kebiasaan, dari dulu kakaknya paling anti tutup pintu.
Pandangan Yuuji meluas, mengarah ke meja belajar. Di atas sana ada laptop yang masih menyala dan segelas kopi penuh, masih panas. Yuuji menggaruk kepala bingung, lalu mencoba duduk dan bersandar di dinding kamar penuh poster band One Ok Rock.
"Oh, udah bangun." Dari pintu Ryuuji masuk sambil membawa sepiring roti panggang selai cokelat kacang.
"Ngapain, sih? Ga bisa kerja di kamarmu, ya?" tanya Yuuji sedikit kesal. Sepertinya dari siang sampai sekarang kakaknya di sini.
__ADS_1
"Bosen," jawab Ryuuji singkat.
Tak tahu lagi harus merespon apa, Yuuji akhirnya beranjak dari kasur dan pergi keluar kamar. Berniat ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Di lantai bawah, ada ayah dan ibunya yang sedang mengobrol di ruang tv.
"Yuuji. Mau makan?" Bu Miwa segera berdiri dan mendekati anaknya.
"Mau ke kamar mandi. Tapi nanti mau ke minimarket," jawab Yuuji tersenyum tipis.
"Kamu lapar? Ibu masakin, ya."
"Engga. Mau cari camilan aja, kok. Bentaran," cegah Yuuji sambil memegangi kedua bahu Bu Miwa. Ibunya diam sejenak menatap kedua netranya, lalu mengangguk kecil, dan kembali ke kursi dekat Tuan Kuga.
Yuuji memandang keduanya sebentar, lalu pergi ke kamar mandi. Selesai dengan urusannya, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil dompetnya. Tetapi dia baru sadar jika dirinya tidak punya uang cash lebih—karena uang-uangnya hanya berupa chip dan belum sempat menukarnya.
Ryuuji yang sejak tadi menatap layar pun terdistraksi. "Belum tukar uangnya?"
Yuuji langsung menoleh dengan tatapan kaget. Kenapa bisa tahu? Hanya anggukan kecil menjadi jawaban. Senyum Ryuuji mengembang kecil, lalu merogoh saku kemejanya dan memberikan kartu debit.
"Pelit. Traktir dikit, lah. Uangmu banyak, kan," protes Yuuji sambil meraih kartu berwarna kuning milik Ryuuji.
"Tapi lebih banyak kamu, tuh," sindir kakaknya membuat Yuuji terdiam. Menyindir soal chip-chip yang ia punya di brankas asrama. Sebenarnya Yuuji ingin menanyakan banyak hal, tapi ia memilih diam karena Ryuuji sudah mengaktifkan mode 'Do Not Disturb' di wajahnya. Yah. Yuuji akhirnya meninggalkan kamar. Tak lupa berpamitan dengan kedua orang tua sebelum pergi ke minimarket.
Hawa yang mulai dingin ini membuat Yuuji harus membalut diri dengan jaket tebal. Jalanan masih ramai, beberapa tetangga masih asik duduk-duduk di teras sambil menyeruput teh hangat. Sesekali Yuuji menyapa mereka yang ditemui.
Langkahnya membawa Yuuji ke sebuah minimarket terdekat. Ia masuk ke dalam dan mencari-cari camilan. Minuman dingin di dalam freezer cukup memikat, lantas Yuuji mengambil beberapa botol. Bungkus snack mengeram di keranjang belanjanya bersama macam-macam jenis minuman botol plastik dan kalengan.
Tidak berhenti di sana, Yuuji menaruh cup mi instan. Berbagai rasa dan jenis, tapi kebanyakan dia ambil ramyeon pedas. Sekotak plastik berisi nori tak luput menjadi mangsanya.
Merasa sudah cukup, Yuuji membawa keranjangnya ke meja kasir. Hanya ada dia dan pegawai perempuan yang menjumlah total harga barangnya. Sambil menunggu, Yuuji merogoh ponsel dan memeriksa pesan-pesan yang masuk.
"Kamu baru pulang, ya."
Suara itu menghentikan kegiatan asik Yuuji. Pemuda tersebut menoleh ke sumber suara dan mengamati sosok kasir di depannya. Gadis itu mendongakkan kepala, menatapnya, dan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Halo, Kuga Yuuji," sapa kasir itu. Walau sudah lama tidak bertemu, tapi dari struktur wajah dan senyuman, Yuuji masih mengingatnya. Itu Meiko.
"Meiko?" Yuuji mencoba mengoreksi, Meiko mengangguk membenarkan. "Ah, lama ga ketemu, ya," ucap Yuuji basa-basi.
"Iya."
Hanya jawaban singkat itu menjadi pemutus pembicaraan mereka. Yuuji sendiri enggan melanjutkan obrolan karena masih canggung dan teringat masa lalunya. Sementara Meiko sendiri terlihat tidak menaruh atensi pada topik mereka.
"Kamu sekolah di Casino School, ya?" tanya Meiko tiba-tiba.
"Iya. Kamu sendiri?" Yuuji bertanya balik.
"SMA biasa," jawab Meiko singkat, kembali mengakhiri obrolan kaku mereka.
Bunyi mesin kasir menyelimuti mereka dalam keheningan. Hingga di camilan terakhir, Meiko baru berbicara lagi. Tak lupa sebagai pegawai professional, Meiko menawarkan promo minimarket yang langsung ditolak ramah oleh Yuuji. Setelahnya Yuuji keluar dari minimarket, kemudian duduk sebentar di kursi depan untuk beristirahat.
Diam termenung. Apa yang sebenarnya terjadi di hari pertama dia pulang? Ini membuat Yuuji tidak tenang. Pertama kabar Kyousuke yang akan sekolah di Casino School. Kedua.. dia bertemu dengan gadis yang dirundungnya dulu.
Cukup lama dia berada di sana, Yuuji beranjak dari kursi dan kembali berjalan pulang. Matahari sudah mulai tenggelam, dirinya harus segera sampai rumah atau ibunya akan mencarinya lagi.
Sampainya di rumah, Yuuji bergegas masuk ke kamar. Di dalam masih ada Ryuuji yang memandangi laptopnya. Sebesit rasa kesal dengan kehadiran Ryuuji di kamar, Yuuji sedikit membanting jajanannya ke kasur. Hal itu berhasil menarik perhatian kakaknya.
"Aku cuma sebentar," jelas Ryuuji mencoba menenangkan Yuuji yang mulai marah.
"Sebentar darimananya? Kamu di sini dari siang, lho! Lihat jam berapa ini?" sergah Yuuji. Ryuuji menghela napas lalu memutar kursinya untuk menghadap Yuuji.
Jemari Ryuuji berusaha mencari sesuatu di laptopnya, lalu memutar sebuah video para trainee miliknya yang sedang berlatih menari. Lagi-lagi menunjukkannya pada Yuuji, yang mana Yuuji tidak tertarik.
Tetapi belum sempat Yuuji protes dan lebih marah, Ryuuji sudah menjeda pemutarannya, dan menunjuk ke salah satu trainee yang sedang menari di posisi depan. Tepatnya di center. Wajahnya asing, tapi Ryuuji masih terus menunjuknya. Menaruh harapan jika Yuuji mengenalinya tapi pemuda itu sama sekali tidak mengerti.
"Dia ini Yoneya," jelas Ryuuji lalu menarik jarinya dari permukaan layar laptop, memposisikan diri untuk bersedekap.
Yuuji yang mendengar nama teman masa kecilnya tentu tidak percaya. Mana mungkin seorang Yoneya Kyousuke mempunyai keinginan menjadi idol? Padahal sejak kecil mereka sudah melakukan gerakan anti-boygroup.
"Jangan bercanda, dong. Sana pergi bisa ga, sih?" tanya Yuuji sedikitnya membentak. Melihat respon adiknya yang sudah tidak ramah, Ryuuji akhirnya beranjak sambil membawa laptop. Ia menatap adiknya sebentar, kemudian melengos dan pergi.
__ADS_1
...* * * * *...