Casino School

Casino School
Episode 10


__ADS_3

Tidak ada hal lain selain mengikuti apa yang diminta Rosalina. Harus mengulur waktu lebih lama, Yuuji kembali mencari mangsa yang mau dilawan sekaligue mudah dikalahkan. Tentunya para preman Diamond yang selalu merundungnya.


Kedatangan Yuuji yang sendiri disambut tawa renyah mereka. Ia menaruh sebuah chip merah seharga 5 dollar sebagai taruhan. Sesama pion, nilai chip merah sudah sangat bagus dan mahal. Meski pada akhirnya saat kemenangan didapat hanya mendapat 30% dari total taruhan.


"Bocah mantan benteng ini masih berani nunjukin diri rupanya!"


Ledek dan cemooh didapat tidak menyurutkan niat Yuuji. Tidak peduli dengan hinaan setiap ia duduk di kursi pemain, pemuda itu terus bermain hingga meletakkan kartu terakhir sebagai penutup pertandingan.


Chip yang dihasilkan berangsur menambah. Dalam kantong chip yang semula kempes mulai menggemuk. Targetnya 100 dollar yang harus didapat selama seminggu. Taruhan miliknya mulai dinaikkan. Dengan kesempatan menang hampir 100%, Yuuji memupuk pundi uangnya agar lebih subur.


Tidak terasa waktu terus mengalun, chip yang dikumpulkan sudah mencapai target. Ia memegang 128 dollar, di mana 28 dollar lainnya milik Yuuji untuk bertahan di sekolah.


Sesuai yang diminta, Yuuji membawa 100 dollar itu ke depan Rosalina.


"Ayo main lagi," tantang Yuuji dengan sorot netra serius.


Rosalina tertawa di atas meja kelasnya. Ia meneriman sebuah chip hitam dan mengantonginya di saku seragam. "Oke, ayo ke ruanganku."


"Tunggu." Suara Yuuji menghentikan langkah Rosalina. Perempuan itu menoleh dengan raut merengut. "Aku mau disiarkan langsung lagi."


"Hah?! Itu bukan kesepakatan kita, ya!" seru Rosalina tak terima.


"100 dollar itu juga bukan kesepakatan bersama, kan?" Balasan Yuuji membungkam Rosalina. Melengos, lalu meninggalkan Yuuji.


Yuuji mengikuti tak jauh dari Rosalina berada. Menuju ruangan 'R' dengan nuansa pinky, mereka masuk ke dalam. Ichiro lagi-lagi dipanggil menjadi moderator permainan.


Ketiga orang itu berdiri di tengah ruangan, mengelilingi sebuah meja bundar. Di atas meja, ada 2 papan dart dan beberapa anak panah. Permainan dart. Yuuji sangat familiar meski belum pernah bermain.


"Aku belum pernah coba, sih. Tapi lemparanku bagus," ujar Yuuji sambil memegang anak panah di meja.


"Oh. Memangnya kita melempar anak panah?"


Dahi Yuuji mengernyit. Ia mengangkat pandangan ke Rosalina yang tengah tersenyum lebar. Seolah tahu apa yang dimaksud Rosalina, Yuuji langsung menolak.


Gadis itu tidak peduli. Ia mengambil chip milik Yuuji sebelumnya, mengetuk-ngetuk di meja sambil terus menatap Yuuji lekat. "Panggil orang lain untuk melempar anak panah, dan kita yang jadi papan dartnya."


"Kamu gila!" teriak Yuuji.


"Mau lanjut main atau langsung kalah?"


Pertanyaan itu membuat Yuuji tak mampu berkutik. Mau tidak mau dirinya keluar dan mencari orang lain. Yang dimaksud adalah kedua temannya. Untuk kesekian kali, Yuuji harus melibatkan Kenji dan Hiro. Padahal Yuuji ingin menyelesaikan masalah ini sendirian.


Selagi Yuuji tidak ada, Rosalina menghubungi Jaken. Tanpa mendengar pembelaan Rosalina, Jaken menyemprotnya bertubi-tubi. Memberi peringatan jika ini permainan terakhir yang akan disiarkan Rosalina. Pasalnya, beberapa anak yang sudah dikalahkan Rosalina masih bersekolah di sini dan tahu pertandingan sebelumnya.


"Jangan sampai kalah. Aku punya firasat buruk," ucap Jaken sebelum menutup panggilan.


Rosalina memandang nama Jaken di layar ponsel. Ia berdecak remeh. "Heheh, aku buktikan firasatmu kali ini salah, Jaken."


Beberapa menit selebihnya, Rosalina mengundang para petugas untuk mempersiapkan siaran langsungnya. Yang mana di layar-layar sekolah menampilkan sosok Rosalina, Ichiro, dan seorang anak Diamond di ruangan tersebut. Setelah memeriksa tak ada kendala, para staff siaran sekolahan langsung pergi keluar. Rosalina tak ingin ada orang lain di sini selain para peserta dan moderator.


Yuuji telah datang membawa Kenji dan Hiro. Tatapan Rosalina tampak remeh. "Bawa temenmu? Padahal aku bawa orang random, lho. Ya sudah, lah. Pengecut cuma bisa bawa orang bawaannya," ledek Rosalina lalu mempersiapkan diri di sisi ruangan.


Para pelempar berdiri sejauh 237cm dari dart berada—alias Yuuji dan Rosalina. Karena jarak papan dart dengan lantai harus 173cm, maka Rosalina dan Yuuji menggunakan balok kayu untuk menambah tinggi badan sehingga papan berada di dada mereka.

__ADS_1


Dikarenakan hanya menggunakan 1 pelempar, Yuuji hanya boleh memilih salah satu. Kenji yang menjadi pelempar, sementara Hiro mengamati dari jauh untuk melihat permainan.


Setelah semua siap, Ichiro berada di tengah mereka untuk menjelaskan permainan kali ini.


"Pertandingan kali ini bermain zero one, 501. Siapapun yang mencetak poin 501 lebih cepat, dia yang menang. Angka harus habis sampai 0, tidak boleh kurang atau lebih. Jika melebihi angka sisa, maka terjadi busted atau gagal. Dengan begitu pelempar harus mengulang ke poin di round sebelumnya."


"Ada pertanyaan sebelum aku bagi anak panahnya?"


Kenji mengangkat tangan. "Jadi kita berlomba dapat poin 501 secepat mungkin?"


"Ya, bergantian setiap roundnya."


Tak ada pertanyaan lagi, Ichiro memberikan beberapa anak panah ke Kenji dan pelempar tim Rosalina, Yu Zi.


"Kenji, jangan sampai kena Yuuji!" seru Hiro yang justru membuat Kenji semakin grogi. Pasalnya setiap bermain dart, Kenji sering meleset. Dalam batin ia menggerutu, permainan yang selalu dipakai Rosalina suka mengancam nyawa.


"Pertandingan Yuuji VS Rosalina, 501, dimulai!"


...***...


Seperti sebelumnya, para murid berkumpul untuk menonton pertandingan yang disiarkan. Kedua kalinya mereka menyiapkan popcorn dan camilan untuk menikmati tontonan seru ini. Tukang taruhan juga tidak luput.


Untuk saat ini, suara tertinggi berada di pihak Rosalina. Mengingat sebelumnya Rosalina memenangkan pertandingan. Jika dipikir, jenis permainan mereka sama. Yaitu mengandalkan kehokian. Tapi apakah Dewi Fortuna memeluk Rosalina lagi?


Di ruang tahta, seluruh petinggi sudah disiapkan layar lebar. Mereka dapat melihat pertandingan itu di setiap sisi. Walau Jaken mempercayakan kemenangan pada Rosalina, tapi perasaan was-was tak henti mendobrak setiap segel ketenangannya.


Sorot mata Jaken terlihat serius ketika Yu Zi melempar anak panah yang hampir mengenai badan Rosalina yang otomatis di luar dari lingkaran angka.


"Ah, anak bawaan Rosalina kenapa payah, sih?" gerutu Suzuki sambil mengetuk-ngetuk jari di meja kayu. Pejabat lain menimpali.


Dalam diam, Jaken mendengarkan pembicaraan mereka sekaligus mengamati setiap angka yang didapat Yuuji maupun Rosalina. Ia menghitung setiap angka yang berhasil dicetak.


Sama halnya dengan Ichiro dan Hiro di ruangan Rosalina yang mencatat poin. Mari kembali mendekat ke tempat mereka bertanding.


Poin yang didapat Kenji adalah 9 dalam 4 ronde. Sementara Yu Zi sudah mencetak 20 poin dengan panah menyentuh angka single ring di 13 dan 3, double ring di angka 2 dalam 3 ronde dan 1 ronde pertama 0 karena out.


"Yuuji, maaf kalau nanti kena badanmu," ucap Kenji di setiap gilirannya sehingga Yuuji sudah bosan menjawab. Ya, karena Kenji sudah mengenai lengan Yuuji di 2 ronde.


"Fokus ke single ring poin gede aja!" seru Hiro di dekat Ichiro.


"Hah?! Nyuruh doang gampang!" balas Kenji kesal.


Ichiro berdehem sebagai peringatan agar Kenji segera melempar. Pada akhirnya Kenji menargetkan single ring yang lebih lebar, setidaknya di angka terbesar. Jika menancap di double ring atau triple ring, anggap saja hoki.


Yu Zi dan Kenji terus melempar. Entah ada angin apa, tangan Kenji kali ini wangi dan menancap di angka 20 triple ring. Ichiro segera mencatat 60 poin sebagai nilai baru Ichiro setelah 7 ronde berlangsung.


Greget melihatnya, Rosalina meneriaki Yu Zi untuk melempar lebih benar. "Cari bullseye!" seru Rosalina mulai takut. Yuuji kaget mendengarnya, mengingat ia tidak pernah melihat Rosalina semarah ini selama permainan.


Apa ketenangan Rosalina terganggu?


Yu Zi sendiri agak panik saat dibentak. Pemuda itu mulai keringat dingin dan beberapa kali lemparannya meleset. Tak henti Rosalina melempar makian.


"Oi, Rosalina. Ga usah sekasar itu, kan?" tegur Yuuji. Rosalina menoleh dengan tatapan sinis. "Urus pelempar aja, Kuga Yuuji."

__ADS_1


Setelah itu, Yuuji tak ikut mengomentari sikap kasar Rosalina. Ia kembali fokus pada Kenji dan memberi arahan sembari menghitung kekurangan poin mereka.


Namun tak lama setelah beberapa ronde, Yu Zi berhasil mengenai bullseye hijau, otomatis mendapat 25 poin di ronde ke-9. Sedikit wajah sumringah Rosalina kembali. Senyum angkuhnya mulai terukir lagi.


Berdecih, Kenji tak merespon lebih karena permainan ini memerlukan kefokusannya. Namun ia tidak bisa terlalu berpusat pada bidikan karena setiap mendengar poin yang di dapat Yu Zi cukup mengganggu. Faktanya, Yu Zi bisa membalap poin tertingginya.


Hiro yang diam mulai berpikir dengan aksi Yu Zi. Dahinya mengerut bingung. Jika dilihat seragam Yu Zi, anak itu adalah anak kelas 2 Diamond.


Merasa mengerti apa yang diherankan, Ichiro angkat tangan. "Yu Zi sering bermain dart sebagai tantangan judi sejak kelas 1."


"Oh. Pantas dia kelihatan jago. Ga heran, sih. Tapi kadang dia cuma ngenain single target di bagian atas dart. Apa emang sengaja?" gumam Hiro semakin kalut dalam overthinking-nya.


Ichiro menghela napas sambil menulis poin-poin yang didapat para peserta. "Kamu ga ngerti soal strategi? Papan dart bagian atas lebih gampang digapai buat seukuran Yu Zi yang tinggi."


Jika diamati lagi, Yu Zi memang memiliki tinggi yang lumayan. Lemparannya bisa mendarat di angka bagian atas dart daripada yang bawah. Hiro beralih ke angka-angka yang didapat Yu Zi, lalu melihat dart milik Rosalina. Masuk akal karena angka-angka itu kebanyakan dari bagian atas dart.


Pandangannya beralih pada dart di dada Yuuji. Angka bernilai rendah lebih banyak di atas, tapi tinggi Kenji termasuk normal. Seharusnya dia bisa meraih angka tinggi di bagian bawah, kan? Atau mungkin karena Kenji tidak terbiasa bermain dart? Bahkan sejak tadi Yuuji selalu ditancap anak panah. Keberuntungan Yuuji terpakai karena benda itu tidak setajam pisau.


"Kenji! Agak pendek gitu badanmu bisa gak?"


"Hah?! Ngomong apaan kamu tuh?! Tiba-tiba nyuruh orang jadi pendek!" balas Kenji yang membuatnya meleset dan mencetak angka 0 karena out dari lingkaran dart.


"Lihat angka-angkanya! Yang angka tinggi kebanyakan di bawah, kan? Coba capai itu! Kalo bisa dapetin triple ring!"


Kenji mendengus lalu mengamati dart di badan Yuuji. Memang benar. Untuk mendapat itu, Kenji harus merunduk, dong?


Mengikuti cara itu, Kenji tetap tidak dapat nilai yang memuaskan.


"Hah! Sesat banget saranmu!" protes Kenji.


"Yee! Kamunya payah!" seru Hiro yang membuat Kenji pencak-pencak.


Tapi di tengah gemuruhnya mereka, sebuah poin tinggi berhasil dicetak Yu Zi. Bullseye merah tertancap anak panahnya di ronde ke-11 ini.


Rosalina semakin bangga. Kenji semakin kesal dan tidak tenang. Walau begitu ia memaksa untuk fokus ke dart di depan. Di gilirannya, ia berhasil mendapat angka 18 single ring.


Yu Zi, merasa senang dirinya berguna lantas grogi dan meleset sehingga mengenai bagian luar ring. Untuk kesekian kalinya Rosalina melempar makian.


Tak terasa 20 ronde berakhir. Ichiro memberi waktu istirahat 10 menit. Tak lupa Ichiro menghitung poin yang di dapat setiap tim sebagai pengingat.


"Tim Yuuji mendapat 97 poin. Tim Rosalina mendapat 205 poin. Tim unggul sementata adalah Tim Rosalina."


Hiro berdecak kesal. Ia menggoyang-goyangkan Kenji. Keduanya malah bertengkar masalah poin yang tertinggal sangat jauh. Tapi Yuuji hanya diam sambil meminum minuman botolnya.


Matanya mengarah pada papan tulis yang bercoret setiap poin mereka. Ia mengamati dengan saksama nilai milik Yu Zi.


"Heh, lihatin apa kamu? Masih ga percaya, ya?" ledek Rosalina membuyarkan atensi Yuuji. Keduanya saling bertatapan.


Yuuji tersenyum tipis. Kemudian melirik sekilas ke salah satu kamera yang menyiarkan pertandingan dan kembali menatap Rosalina. Senyumannya semakin lebar.


"Puas-puasin kamu sombong hari ini, karena ke depannya kamu ga akan bisa lagi," ujar Yuuji sambil mengetuk-ngetuk dart di dadanya.


Rosalina merengut, alisnya menyatu karena kesal. Lalu ia berbalik dan bersiap di tempat semula. "Yu Zi, kelarin secepatnya biar orang ini ga banyak tingkah!" perintah Rosalina yang hanya dijawab anggukan kecil Yu Zi.

__ADS_1


Setelah 10 menit terlewat, para peserta berdiri di tempat masing-masing dan Ichiro kembali memulai pertandingannya.


...*****...


__ADS_2