Casino School

Casino School
Episode 34


__ADS_3

Kesenangan enam anak Casino School itu tak ada habisnya. Kenji bersama pria tua itu sedang bermain slot bersama, Yuuji dan Hiro berakhir di meja bakarat sembari memperhatikan pemain lain, mengamati, dan sesekali menanyakan trik bermain. Kuro sudah meninggalkan ruang VVIP, membiarkan Fuji di dalam sana selagi dirinya berjalan-jalan untuk mencari angin katanya.


Bagaimana dengan Tama? Sejak tadi Tama belum juga kelihatan. Bagaimana tidak, Tama sendiri sudah diculik oleh trio pejabat Casino School. Ya, Tama sudah duduk di kursi blackjack bersama Paulo.


Ini terjadi beberapa menit lalu saat Paulo meninggalkan meja blackjack karena kesal dengan Emma dan Aoyama. Demi menenangkan diri, Paulo justru menemukan Tama yang terselip di antara ramainya pengunjung kasino di bagian sicbo. Dengan cepat Paulo menghampiri dan menarik Tama pergi ke meja blackjack.


Kepulangan Paulo dengan menggandeng Tama membuat kekasihnya terkejut. Aoyama sendiri tidak memasang respon sama, dia sudah tahu jika Tama dan kelima temannya yang lain datang ke kasino milik Hebihime. Tentunya berkat bekerja di sini menjadi salah satu bagian mengatur ruang VVIP, Aoyama tahu siapa saja yang membuka ruang VVIP.


"Lama tidak jumpa, Tama," sapa Aoyama dengan senyuman tipis. Tama tak menanggapi karena Paulo segera bercuit dan memaksanya duduk di kursi.


Rautnya begitu riang, Paulo lagi-lagi memulai permainan setelah putaran terakhir jatuh di Aoyama. Dengan chip yang masih tersisa, ketiganya bermain. Tama sendiri enggan mengeluarkan chip hanya untuk meladeni tiga orang gila judi di depannya.


"Kenapa tidak ikut? Ayo ikut," ajak Emma tak melepas senyumnya.


"Tidak—"


"Apa kamu takut kalah?" Aoyama tiba-tiba memotong ucapan Tama. Tama menoleh, kaget. Senyum Aoyama yang semula ramah mulai merasa tak menyenangkan.


"Aku kira mentalmu sekuat Fuji yang menendang Xia Zhu dari kursinya," lanjutnya. Paulo tak bisa menahan reaksi meledaknya, pemuda itu tertawa keras mendengar sindiran Aoyama.


Tama bukan pribadi yang mudah terprovokasi. Tapi dia bisa bertepuk tangan untuk usaha Aoyama menggoyangkan ketenangannya. Memang aneh melihat Aoyama yang tiba-tiba melakukan serangan seperti ini. Tapi jika diingat, mungkin karena amarahnya melihat kekasihnya dipermalukan membuat Aoyama berbuat sejauh ini.


Tama tertawa kecil melihat tingkah Aoyama yang masih saja melempar satirannya. Kedua tangan Tama bersedekap di depan dada. Sorot matanya mengamati meja blackjack, sesungguhnya tidak ada yang perlu dia pelajari di meja ini.


"Sayangnya aku ke sini untuk mengamati dan mempelajari permainan kasino saja," jawab Tama santai sambil melihat dealer yang membagikan kartu.

__ADS_1


"Ku kira kamu sedang menahan kencing karena ketakutan," lanjut Aoyama.


Sudah cukup. Tama ke sini bukan untuk mendatangi Aoyama dan meladeni kata-katanya. Tama beranjak dari duduk dan menatap Aoyama sinis.


"Untuk apa takut pada orang yang kalah di permainannya sendiri? Jangan angkuh. Junior terkecilku saja bisa mendorongmu dengan ujung jari kelingking, apalagi aku."


Tama lalu menunduk, memberikan salam sebelum pergi meninggalkan meja mereka.


Paulo yang sejak tadi menyimak semakin tertawa keras. Emma sudah kesal mendengar tawa kekasihnya dan berakhir menyumbat mulutnya dengan chip. Dealer sempat menertawakan mereka.


Aoyama diam menatap kepergian Tama. Rasa kesal dan dendamnya semakin menggebu-gebu. Terbakar dari dalam, kepalanya mendidih. Aoyama tak tenang dan berakhir pamit ke kamar mandi untuk menyiramnya.


"Lihat. Dia suka memprovokasi, tapi tidak bisa menahan diri dari provokator lain," ucap Paulo setelah mengeluarkan chip milik Emma. Emma ber-ewh geli dan memberikan chip tersebut padanya, demi kenyamanan diri.


"Kamu menolak chip bekas liurku? Yang benar saja. Kita sudah sering bertukar liur, lho—"


Tidak ada respon lain dari Paulo selain tawa kemenangan. Keduanya kembali melanjutkan permainan tanpa Aoyama. Mereka terlihat menikmati alur blackjack. Saling memupuk uang—atau tepatnya hanya Emma karena Paulo terus busted.


Tak terasa waktu bergulir begitu lama. Aoyama tak kunjung kembali. Justru yang datang menemui mereka adalah raja dan ratu. Jaken dan Suzuki sedang mengelilingi kasino, dia baru mendengar kabar jika anak Kuga dan kawan-kawannya datang ke sini.


"Apa kalian melihat—"


"Iya, aku bertemu Tama dan dia sempat duduk di sini. Pastinya Tama tidak ke sini sendirian, kan?" potong Paulo sambil menaruh taruhan di atas meja.


Jaken diam, mengamati meja blackjack Paulo. Ada chip di kursi ketiga yang kemungkinan itu milik Tama, begitu pikir Jaken. Itu artinya Tama akan kembali ke sini untuk mengambil uangnya. Tak mungkin Tama pelupa seperti Jaken, apalagi tentang uang.

__ADS_1


Dikarenakan tahu Tama akan kembali, Jaken lebih memilih menaruh bokongnya di kursi sebelah kursi Aoyama tadi untuk ikut bermain.


Suatu pemandangan langka melihat rajanya turun ke medan perang seperti ini. Sebuah kehormatan bagi Paulo dan Emma menerima Jaken bermain di mejanya. Karena selama menjabat, keduanya tidak pernah bermain bersama walau berada di ruang tahta setiap hari. Tentu dengan senang hati mereka meladeni Jaken untuk bermain.


Sementara Suzuki hanya berdiri di sebelah Jaken, mengelus bahu Jaken lembut. Matanya terlihat sayu, sedih. Pertengkaran mereka sebelumnya belum usai dan Jaken memilih diam karena lelah meributkan hal sepele.


Permainan berjalan lumayan lama. Beberapa kali Jaken mendapat tambahan chip dari meja tersebut, hampir setiap rondenya. Bahkan hingga deck di dealing shoe habis dan harus diisi kembali, Jaken masih anteng duduk di sana.


Suzuki tahu ada kesalahpahaman antara kekasihnya dan Paulo. Suzuki sangat tahu kalau Jaken ingin melihat Tama menemuinya dan memasang raut terkejut, itu sebagai tanda jika Jaken sudah melangkah lebih jauh dari Tama.


Tetapi sampai detik inipun Tama tidak kunjung kembali. Suzuki sendiri tidak yakin apakah Tama benar-benar bermain dan duduk di kursi sebelah Jaken. Jika diingat, Tama memang bukan orang yang gampang menaruh tangannya di atas meja permainan demi orang-orang sepele—kecuali ada tujuan tertentu.


"Emma," panggil Suzuki. Emma menoleh, "kenapa?"


Jari Suzuki menunjuk kursi kosong sebelah Jaken. "Apa chip di sini milik Tama?" tanya Suzuki. Jaken mengernyitkan dahi, melirik ke Suzuki, seolah memberi tatapan untuk menyuruhnya berhenti.


Emma menggelengkan kepala. "Itu punya Aoyama."


Jawaban itu membuat Jaken terkejut dan hampir bereaksi lebih. Tetapi elusan bahu Suzuki bisa menyadarkan dirinya untuk tidak memperlihatkan kekecewaannya.


"Aoyama?" tanya Suzuki mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik Tama.


"Iya, ternyata dia kerja di sini," balas Paulo dengan bangga. Suzuki hanya mengangguk-angguk sambil menoleh ke Jaken.


Tak ada yang diperlukan di sini. Setelah putaran yang terakhir, Jaken segera menarik diri dari kursi. "Aku ingat harus menemui Nyonya Hebihime," pamit Jaken sambil beranjak dan berlalu, meninggalkan Suzuki di tempatnya.

__ADS_1


Paulo dan Emma sendiri bingung dengan perubahan sikap Jaken yang tiba-tiba. Mereka menatap Suzuki, meminta penjelasan. Tetapi gadis itu hanya tersenyum kecut dan mengikuti Jaken.


...* * * * *...


__ADS_2