Casino School

Casino School
Episode 27


__ADS_3

Esok hari, Yuuji dan sekeluarga makan bersama di ruang makan. Tidak banyak yang dibahas. Hanya mengenai pekerjaan Ryuuji dan sekolah Yuuji. Ayahnya memiliki koneksi yang luas, dirinya tahu tentang Sekolah Kasino dari awal, tetapi membiarkan Yuuji untuk belajar di sana. Toh, Yuuji bisa handle semua masalah yang terjadi.


"Ayah, bulan depan aku ada pertandingan akhir tahun," ucap Yuuji sambil melahap sop miso buatan ibunya. Tuan Kuga ber-oh kecil, terus menyantap sarapannya.


"Mau coba latihan di kasino asli?" tanya Tuan Kuga. Yuuji mengeryit. Sebenarnya dia ingin bermain kasino, tapi karena banyak hal membuat Yuuji harus mengurungkan keinginannya.


Sang Ayah terlihat santai. Tidak terlihat serius menanyakannya, tapi tidak bercanda juga. Sebesit rasa ragu, tapi akhirnya kepala Yuuji mengangguk setuju.


"Oke. Nanti sore ke kasino," lanjut Tuan Kuga. Keempatnya kembali berbincang sejenak sampai sarapannya habis. Yuuji segera kembali ke kamar, Ryuuji bersiap untuk pergi bekerja. Walau waktu-waktu libur, tapi para idolnya tidak mengenal weekend.


Bu Miwa menyiapkan bekal untuk Ryuuji, kemudian mengantarnya keluar sebelum Ryuuji pergi mengendarai mobilnya. Tak lupa sebelum meninggalkan rumah, Ryuuji memberikan nomor rekeningnya pada Yuuji untuk mengganti uang yang ia gunakan sebelumnya.


"Jadi kakak pelit banget," gerutu Yuuji di balik meja belajar. Ia bermain ponsel lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya


saat di asrama. Menghubungi kelima temannya di grup chat tentang kunjungannya nanti ke kasino.


Berita itu menarik perhatian kelimanya. Dengan rasa menggebu-gebu mereka mengantri untuk ikut, bahkan sudah bersiap-siap jikalau dijemput ayahnya Yuuji. Tak ayal mereka langsung menelpon Yuuji, memasukkannya di panggilan grup.


"Aku belum bilang kalau kalian bisa ikut," ujar Yuuji saat ditekan lebih. Eluhan kecewa terdengar dari dalam ponsel, Yuuji hanya tersenyum tipis.


"Aku coba tanya ke ayahku dulu," lanjutnya, mencoba untuk memberi harapan lebih pada teman-temannya.


Yuuji meletakkan ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan di meja kerja, lalu ia pergi ke lantai bawah untuk menemui ayahnya. Tuan Kuga tengah melihat berita di televisi. Tampaknya ia sudah tahu jika Yuuji akan mengajak kelima teman-temannya.

__ADS_1


"Kita jemput mereka di gerbang sekolahmu," kata Tuan Kuga sebelum mendengar permintaan Yuuji. Mendengar itu, Yuuji langsung ngabrit ke atas dan memberi kabar gembira tersebut. Dengan cepat kelimanya bergegas membereskan barang-barangnya.


Tama dan Fuji yang sedang pulang kampung bersiap untuk pergi ke stasiun kereta. Masih ada waktu panjang sebelum Yuuji berangkat bersama ayahnya. Keduanya memilih mematikan panggilan dan segera pergi. Tinggallah keempat lainnya yang asik mengobrol.


"Kamu tahu kasinonya mana?" tanya Kuro sambil membawa barang-barangnya menuju lantai kamar milik Kenji dan Hiro. Karena tidak mau suaranya bertabrakan, Kenji dan Hiro mematikan panggilan dan mengandalkan ponsel Kuro.


"Hmm, belum. Aku ga nanya. Oh, ya, coba kalian cairin chip kalian buat ke kasino nanti. Kita ga mungkin cuma lihat-lihat doang, kan?" perintah Yuuji disetujui ketiganya.


Mereka lantas menyiapkan beberapa chip untuk ditukar sejumlah 100 dollar. Nilai ini sudah sangat besar bagi mereka yang masih pelajar. "Tolong bawain chipku juga, dong. Di brankas. Nanti aku mampir buat nuker juga," lanjut Yuuji.


Kemudian ketiganya membawa chip masing-masing ke bagian penukaran. Tetapi sesuatu yang tak mengenakan terjadi. Karena hari ini hari libur, staff penukaran tidak masuk. Artinya mereka tidak akan mendapat dollarnya untuk bermain di kasino.


Kabar mengecewakan itu cukup membuat keempatnya sedikit putus asa. Walau pada akhirnya mereka mengandalkan uang dollar yang tersisa di dompet. Sebenarnya mereka mungkin bisa menggunakan chip itu untuk bermain di kasino. Tapi mereka takut jika chip-chip tersebut tidak akan diterima di kasino yang akan mereka kunjungi karena chip dari luar.


Tak terasa waktu terus bergulir. Cahaya matahari sudah mulai redup. Tuan Kuga dan Yuuji naik ke mobil, pergi ke gedung Sekolah Kasino. Di depan gerbang besar tersebut, kelima anak lain sudah menanti dengan raut agak masam. Perihal mereka tidak akan bisa bermain dengan bebas di kasino karena keuangan yang menipis.


"Kenapa? Bawa aja chipnya. Yuuji, ambil chipmu juga."


Perintah Tuan Kuga segera dilaksanakan keenam anak itu. Mereka masuk ke area sekolah dan pergi ke asrama. Bergegas membawa chip yang dimiliki dan dimasukkan ke tas, kemudian kembali ke mobil. Berdempetan Hiro dan Kenji duduk di kursi tengah, ketiga senior mereka duduk di paling belakang sambil bercengkrama.


Mobil segera disetir menuju suatu daerah berada di tengah kota. Gedung megah dan mewah, tembok keramik warna hitam dan emas. Sepasang gerbang masuk menjulang tinggi, dengan gagahnya menyambut pengunjung berdasi rapi.


Mobil Tuan Kuga memasuki pintu masuk setelah memberi kartu identitas. Dengan lancarnya mereka berjajar menunggu giliran untuk sampai di pintu depan gedung kasino tersebut. Seorang staff mendekati pintu mobil dan membukanya untuk Tuan Kuga, Yuuji, dan kelima teman lainnya. Setelah itu staff lain membawa mobil tersebut ke area parkir.

__ADS_1


"Ayo masuk," ajak Tuan Kuga sambil berjalan lebih dahulu. Anak-anak mudanya mengekor, mengikuti Tuan Kuga pergi.


Ketika kaki mereka menginjak lantai marmer, keenam remaja itu baru merasakan betapa besar tekanan di setiap sudut ruangan besar itu. Banyak pria maupun wanita berjalan ke sana-sini, duduk di kursi pemain bersama para dealer, atau sekadar berbincang di sofa tamu sambil menenggak wine.


Bukan kaleng-kaleng. Perhiasan yang mengikat di jemari, menggantung di leher jenjang, dan suara kerincing dari ujung lengan, semuanya bermaterial permata dan emas murni. Bahan kain yang membalut badan juga bukan bahan pasaran. Busana premium dirancang oleh desainer terkenal, perlu merogoh kocek lebih untuk meminang sebuah gaun saja. Tidak ada seorangpun di sini berpakaian kaos oblong dan raut melas karena bangkrut, tidak ada orang yang mengamuk karena kekalahan. Mereka di sini terlihat anggun dan elegan.


"A, a, a. Tuan Kuga. Selamat datang." Suara lembut itu menarik atensi 6 remaja yang masih plonga-plongo, belum percaya pemandangan di depannya adalah nyata. Bukan lagi adegan di film-film judi yang biasa dimainkan Andy Lau atau aktor papan atas Hollywood lain.


Tuan Kuga menyambut wanita itu dengan senyum ramah. Aroma apricot dan white musk mengalir di udara, membelai hidung lembut. Miss Dior Blooming Bouquet ini sangat cocok dengan pakaian elegan nan tatanan rambut menjuntai di dada kiri. Mengekspos anting berlian di kuping kanan, lebih menarik perhatian ketika semerbak aroma bunga-bunga tercium dari lehernya.


Netra biru wanita tersebut beralih ke sosok yang cukup mirip dengan Tuan Kuga. Hanya warna rambut dan mata yang berbeda. Kuga Yuuji, sebagai pelaku pencuri atensi.


"Ini Yuuji, ya?" koreksi Nyonya Elegan tersebut sembari memegang bahu kanan Yuuji. Tuan Kuga mengangguk santai.


"Yuuji ingin bermain bersama teman-temannya di sini," ucap Tuan Kuga.


Wanita itu tak pernah menghapus lengkungan senyum di bibirnya, dan semakin bertambah lebar saat mendengar ucapan Tuan Kuga. Ia tertawa kecil, terlihat senang.


"Tidak bagus kalau orang tua ini mengganggu anak-anak bermain, bukan?" tanya nyonya itu memberi kode.


Tuan Kuga kembali mengangguk, kemudian menatap Yuuji lekat.


"Bermain saja sana. Pakai chipmu. Ayah tunggu di sofa sana." Setelah itu Tuan Kuga dan nyonya tadi pergi ke sofa di pinggir ruangan, di mana sudah banyak pengusaha maupun politikus yang asik duduk sambil menikmati whiskey.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2