
Kuga Yuuma, ayah Yuuji yang menggeluti bidang politik. Tentunya sebagai salah satu bagian di dunia tersebut harus mempunyai koneksi luas nan tinggi. Bergabung dengan para politikus dan antek-anteknya, berkenalan dengan orang banyak yang memiliki pengaruh besar terhadap keamanannya.
Salah satu yang dikenal adalah Hebihime, pemilik kasino besar yang akhirnya membangun Sekolah Kasino beberapa tahun lalu. Hebihime adalah temannya saat pertama kalo berkecimpung di dunia politik. Menyelami dunia gelap ini, mendapat harta karun, dan akhirnya benar-benar pergi ke permukaan dengan hasil memuaskan.
Berkat memiliki relasi baik dengan Hebihime, Tuan Kuga mendapat jalan yang lebih lancar untuk menggunakan aksi-aksi terbaik demi memenangi perang politik dengan partai lain serta mempunyai backing-an kuat.
Walau tahu ayahnya berada dan hidup di medan berbahaya, tapi Yuuji sama sekali tidak berpikir jika Hebihime adalah salah satu rekan kerjanya. Selama ini Yuuji belum pernah melihat sosok Hebihime. Simpang siur dengan potret yang tersebar di mading sekolah. Di mana wajah 'Hebihime' itu lebih mirip seperti asisten pribadi Hebihime yang asli. Arti lainnya foto yang berada di gedung sekolahan adalah palsu. Semua telah tertipu.
"Tenang saja. Aku Hebihime yang asli," jelas Hebihime ketika menyadari keraguan di sorot mata Yuuji. Yuuji tersenyum kikuk. Ayahnya memberikan segelas susu padanya sebelum Yuuji kembali bergabung dengan teman-temannya.
Yuuji telah kembali, menemui Kuro yang asik dengan sebuah mesin slot. Di belakangnya ada Kenji dan Hiro yang menagih taktik slot Kuro. Mengingat sebelumnya Kuro mendapat jackpot, mereka ingin tahu apakah Dewi Fortuna menyertai keberuntungan Kuro sekarang. Kini 50 dollar sudah ludes demi slot. Tidak banyak yang kembali, yang jelas boncos sudah.
"Ayo ke rolet Amerika dulu," ajak Yuuji disambung anggukan ketiga temannya. Mereka berjalan masuk ke ruang rolet lagi. Tampak di sana Fuji dan Tama asik mengamati permainan para orang dewasa bersama wanita simpanannya.
Tak jarang Tama menulis di buku catatan kecil yang selalu ia bawa untuk mempelajari hal-hal baru yang spontan. Fuji sendiri memperhatikan roda rolet yang berputar, sesekali membisikkan sesuatu pada Tama yang kemudian dicatat.
Kedatangan Yuuji dan lainnya mengusik perhatian keduanya. Senyum tipis menjadi sambutan kembalinya Yuuji yang mengganggu pria tua pemain rolet Prancis.
"Sudah selesai mengamatinya?" tanya Tama menyindir. Yuuji hanya cengar-cengir, tak bersalah.
"Hehe. Aku punya berita bagus," ucap Yuuji. Masih belum ada yang menaruh perhatian pada ucapannya dan berakhir tak diacuhkan. Ketiga teman lainnya malah berpencar untuk menonton permainan di meja lain, begitu juga Kuro yang asik memandangi dealer cantik pembawa bola.
__ADS_1
Tidak ada cara lain untuk mengabari hal mengejutkan ini. Yuuji segera membisikkan sesuatu pada Tama. Dan ini berhasil mengalihkan perhatian pemuda yang dikenal dengan keseriusannya dalam belajar. Dengan sigap ia menarik Fuji dan lainnya untuk keluar dari ruang rolet tersebut.
Bukan lagi waktu untuk bersantai. Memang benar mereka mempelajari banyak taktik dan permainan baru di kasino, tapi berita yang dibawakan Yuuji kali ini tak kalah penting.
"Ini adalah kasino milik Hebihime. Dan yang paling penting.. anak-anak pejabat Sekolah Kasino lagi ada di ruang blackjack," jelas Yuuji ketika berhasil mendapat tempat yang tepat untuk menjadi seorang wartaberita.
Tentunya kabar ini membuat keenamnya was-was. Jika mereka baru tahu sekarang tentang Kasino Hebihime di sini, maka dari itu mereka sudah kalah langkah dari para pejabat di sekolahan. Buktinya anak-anak lain akan segera datang ke sini. Pantas mereka memiliki wawasan yang luas, tidak heran kalau tempat bermain mereka di kasino elit dan bukan gamezone seperti Yuuji dulu.
Pandangan mereka menyebar, siapa tahu ada pejabat lain yang terselip di antara kerumun orang dewasa. Benar saja. Seseorang yang sangat dikenal Tama sudah datang bersama Sang Kekasih, Suzuki.
Dengan balutan jas formal hitam, rambut panjang yang terurai, dan aroma kopi di spot tertentu. Suzuki sendiri memiliki model rambut gelung dengan sebuah manik manis berbentuk bunga di belakang, sedikit helaian rambut sengaja dibiarkan menggantung di depan telinga, polesan lipstik merah serta riasan mata yang tajam menambah kesan dewasa pada sosok perempuan kelas 3 tersebut.
Mereka terlihat serasi. Seorang staff membawa keduanya ke meja VVIP yang sudah dihuni beberapa orang termasuk Paulo. Pemuda berdarah Spanyol tersebut menyambut kedatangan raja dan ratunya. Dua gelas koktail berdiri manis di atas meja kaca tersebut, siap untuk disantap Ratu Suzuki sebagai persembahan menjadi tamu undangan VVIP.
Tidak salah lagi. Selain kecerdasan dan jabatan, dalam masalah relasi pun Jaken masih unggul. Hal ini semakin mempersempit kesempatan Yuuji untuk mengkudeta dan mengambil alih posisi Jaken sebagai raja.
"Guys. Kalian lihat ga?" celetuk Kenji sambil melihat kelima temannya yang sudah memasang raut tertekan—tidak beda juga dengan dirinya sendiri.
"Apa?" tanya Hiro sekenanya sembari mencoba mengembalikan kesadaran yang hampir hilang terhempas udara. Syok dan tegang, Hiro masih belum bisa mengendalikan diri.
"Itu ruang VVIP," jawab Kenji. "Iya, kita ga buta. Aku bisa lihat," balas Kuro ketus, tampaknya mulai kesal melihat kebenaran jarak antara dirinya dan Jaken yang semakin jauh.
__ADS_1
Merasa tidak ada kata yang tepat untuk diucapkan, Kenji kembali diam. "Tunggu sini, aku balik nemuin ayahku dulu," pamit Yuuji bergegas menemui ayahnya yang masih di tempat yang sama.
Seolah tahu apa yang diinginkan anaknya, Tuan Kuga berdiri dan memberikan sebuah kartu berwarna hitam dan merah dengan nama 𝓚𝓾𝓰𝓪 𝓨𝓾𝓾𝓶𝓪 di atasnya.
"Pakai ini dan buat ruangan VVIP. Kasih ke staff yang jaga. Ayah masih ada keperluan," jelas Tuan Kuga lalu kembali menemui teman-temannya untuk membicarakan bisnis.
Yuuji hanya kembali ke tempat teman-temannya sambil membawa kartu tersebut. Namun memiliki mata elang yang jeli membuat Tama gatal. Ia segera mengambil kartu itu ketika Yuuji menunjukkannya.
Mengamati setiap detil kartu. Mulai dari nama dan ornamen lain. Tampak familiar. Sama-sama mengkilap dengan ketebalan yang mirip. Ini sama seperti kartu VVIP yang diberikan Jaken dulu.
"Ada yang bawa kartu VVIP kita?" tanya Tama. Semua menggeleng kecuali Kuro. "Aku bawa. Bentar." Kuro segera merogoh tas berisi chip dan beberapa lembar uang kertas. Di dalam sana ada kartu VVIP yang ia bawa ke mana-mana demi flexing.
Tama segera mengambilnya dan mencocokkannya dengan kartu milik Tuan Kuga. Mirip. Mulai dari warna, ketebalan, dan ukiran. Tetapi ada beberapa spot seperti letak nama dan ada tambahan logo Sekolah Kasino di pojok kanan atas. Seolah kartu ini didesain khusus untuk Sekolah Kasino saja.
"Kira-kira kartunya bisa dipakai ga, ya?" tanya Hiro.
"Ayo kita coba," ajak Kuro langsung mengambil kartunya. Keenamnya bergegas pergi mendekati staff yang bertugas untuk mengurus ruang VVIP.
Petugas itu memeriksa kartu Kuro. Tak lama kemudian ia kembali dan memberikan kartu itu kembali. "Maaf, kartunya belum bisa digunakan."
"Kenapa belum bisa? Bukannya desainnya sama?" tanya Tama mencoba menekan staff tersebut. Dengan tenangnya staff itu membalas, "maaf, Tuan. Tapi acara pertandingan akhir tahunnya masih tanggal 1 Desember, jadi saat ini belum bisa digunakan."
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat keenamnya paham dengan kondisi saat ini. Yuuji segera memberikan kartu milik ayahnya. Tak lama kemudian staff tersebut membuka ruang VVIP untuk mereka.
...* * * * *...