
Orang-orang berlalu lalang, keenam bocah itu masih melenggang ke sana-sini untuk melihat permainan apa yang cocok dimainkan. Dengan chip yang dimiliki tentunya bisa menyeimbangi beberapa orang kaya di sini. Terutama Yuuji yang memiliki tumpukan chip di tasnya. Sebenarnya chip ini untuk pertandingan akhir tahun, dua sudah mengumpulkannya jauh-jauh hari demi bertanding hingga tetes darah penghabisan.
"Aneh. Kenapa ayahmu nyuruh kita pake chip ini?" tanya Hiro yang berjalan di samping Yuuji. Kedua bahu Yuuji terangkat, tak tahu.
Hingga mereka sampai di sebuah lokasi, di mana penuh dengan mesin rolet. Banyak pria berjas rapi tengah dudum sambil menaruh chip-chipnya ke dalam angka-angka taruhan. Tidak jarang juga wanita elegan duduk di tengah-tengah mereka dengan tawa dan seringai penuh kemenangan—bukan sebagai pemain, melainkan pendamping para pengusaha. Sang Dealer tersenyum ramah saat mengumpulkan chip bekas kekalahan para pemain.
Rolet kasino ini adalah jenis Rolet Prancis. Di mana terdapat 36 angka dan 0 di petak permainan. Di ruangan lain terdapat meja rolet lainnya dengan jenis Rolet Amerika. Walau berbeda, tapi keduanya sama-sama digandrungi para pengunjung.
Tama mengajak Yuuji untuk mendekat ke salah satu meja. Di mana saat itu dealer tengah memberi petunjuk aturan permainan. Salah satu aturan yang digunakan adalah En Prison. Setelah mendengar penjelasan singkat, permainan pun dimulai.
Para pemain mulai menaruh chipnya di petak angka, merah, dan hitam. Hingga dealer memutuskan untuk tidak ada taruhan, bola pun digelindingkan ke dalam roda. Sambil menunggu hasil, para pemain saling melirik dan tersenyum untuk memberi penekanan mental. Putaran roda menghabiskan waktu yang lumayan lama, sekitar 15 detik.
Baru saja permainan pertama, bola mendarat di petak 0. Pada ronde pertama ini tidak ada yang menyangka jika bola akan berhenti di sana. Dealer segera mengambil setengah taruhan mereka. Pada aturan En Prison, setengah taruhan yang tersisa di atas meja harus digunakan untuk ronde selanjutnya. Namun ada beberapa yang akhirnya menambahkan taruhannya.
Dalam permainan kedua, Yuuji sedikit lebih mendekat ke salah satu pemain. Seorang pria tua berjenggot putih dengan tangan kanan yang asik meremas paha seorang gadis muda seusia Yuuji. Pria tua itu menoleh santai, menyambut kedatangan Yuuji yang penasaran dengan rolet.
"Ohoh. Anak muda, apa yang mengganggumu sekarang?" tanya lelaki tua itu sambil mengelus-elus jangguy panjangnya dengan tangan kiri.
"Bukan apa-apa, Tuan," jawab Tama segera menyingkirkan Yuuji untuk tidak terlalu dekat. Lelaki tua itu hanya mengangguk-angguk. Seutas senyum terukir di balik ribunnya rambut jenggotnya.
"Jangan dekat-dekat," peringat Tama langsung memukul pelan bahu Yuuji.
"Kenapa, sih? Aku penasaran. Bukannya main rolet itu ga untung, ya?" tanya Yuuji. Tama kembali melempar pukulan di bahunya lagi. "Darimana sumbermu sampai kamu bilang kayak gitu?"
Yuuji diam sejenak sambil memandang putaran rolet yang kedua. Bola turun dan mendarat di angka 15. Banyak di antara mereka berseru karena menang. Kemudian Yuuji kembali melihat Tama setelah hasil kedua diumumkan.
"Aku baca katanya ini tergantung keberuntungan aja. Taktik yang dipakai juga ga sepenuhnya berhasil. Lebih enak blackjack, ada itungan menang dan kalahnya, kan," jawab Yuuji lalu menyingkirkan Tama dari pandangan.
Pemuda itu kembali mendekat kepada lelaki tua yang memenangkan taruhan kedua tersebut. Sambil menaruh chip kembali, pria tua yang dipanggil sebagai Tuan Lawrence tertawa hingga batuk-batuk karena senang melihat seorang pemuda tertarik dengan rolet.
__ADS_1
Kenji, Hiro, dan Kuro pergi ke bagian slot. Fuji sendiri pergi ke rolet Amerika, yang kemudian disusul Tama yang tidak mau mengurusi tingkah Yuuji.
"Kamu mengingatkanku pada aku waktu muda, Nak," ucap Tuan Lawrence menyudahi taruhannya saat bola hendak digelindingkan. Yuuji tersenyum tipis dan mengamati dealer yang menaruh bola di roda.
Beberapa angka telah dilewati, dan akhirnya turun di sebuah angka. Tuan Lawrence tertawa melihat taruhannya kembali menang. Untuk ronde-ronde berikutnya, Tuan Lawrence lagi-lagi memupuk uangnya. Hal ini jelas membuat Yuuji semakin tertarik.
"Tuan. Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Yuuji saat sesi taruhan. Lawrence kembali menaruh taruhannya sambil terus tertawa meledek. Pemain lain di depannya ikut membalas dan sesekali memberikan kata-kata pedas untuk membakar suasana di meja.
"Tanyakan," balas Tuan Lawrence santai.
"Kenapa Tuan bisa menang beberapa kali? Padahal rolet permainan dengan mengandalkan keuntungan, bukan?" koreksi Yuuji. Tuan Lawrence mengangguk-angguk setuju.
"Benar. Memang tidak ada taktik atau strategi untuk menang. Rolet sepenuhnya mengandalkan keberuntungan. Bahaha!" Jawaban Tuan Lawrence tidak memuaskan Yuuji. Pemuda itu hanya tersenyum masam. Entah apakah Tuan Lawrence tahu maksud pertanyaan Yuuji atau menjawab sekenanya.
Perbincangan mereka berhenti sejenak sambil menunggu bola berhenti berputar. Untuk ronde kali ini, Tuan Lawrence tidak mendapat cuan. Tetapi bukannya marah, pria tua itu tertawa lagi. Gadis di sebelahnya hanya tersenyum sambil sesekali mencubit manja lengan Tuan Lawrence.
"Lihat? Tidak ada strategi! Bhahaha! Kamu akan tahu kalau kamu sering bermain rolet, anak muda. Siapa namamu?" tanya Tuan Lawrence sambil menaruh chip warna merahnya. Dalam permainan rolet, chip yang digunakan bukan seperti chip pada umumnya. Pemain harus menukarnya dengan chip khsusus untuk mempermudah membedakan pemilik chip. Dan pemain bisa kembali menukarnya dengan chip kasino umum jika berhenti bermain.
Mendadak, tangan Tuan Lawrence berhenti bergerak. Ia menatap Yuuji dengan mata menyipit. Setelahnya dia menghentikan taruhannya dan memperhatikan Yuuji dari atas sampai bawah, kemudian kembali ke atas untuk melihat bagian-bagian wajah Yuuji yang ia kenali.
Seolah mendapat jackpot, Tuan Lawrence tersenyum lebar. Ia beranjak dari kursi, melapangkan kedua lengannya, lalu memeluk Yuuji penuh kebahagiaan. "Oh! Kamu anak Tuan Kuga!" seru Tuan Lawrence disusul tatapan orang-orang sekitar.
Beberapa di antaranya tersenyum untuk memberi salam pada Yuuji sebelum kembali ke aktivitas perjudian. Tuan Lawrence melepas pelukannya dan kembali duduk.
"Aku tahu.. pasti cepat atau lambat pria itu akan membawa anaknya untuk terjun ke dunia judi! Bahaha!" tawa Tuan Lawrence.
Walau tidak mengerti, Yuuji hanya tersenyum sambil menggaruk pipinya pelan sebagai bentuk mengurangi rasa canggung dan bingungnya. Sambil menunggu bola bergulir, Tuan Lawrence menceritakan banyak hal tentang dirinya dan Kuga Yuuma, ayah Yuuji.
Di mana mereka adalah teman seperjuangan di kasino. Wajah Tuan Lawrence terlihat sangat tua karena pada saat labil, Tuan Lawrence tidak bisa menahan hasrat untuk berjudi. Ketagihan, dia pun mengalami kehancuran. Namun sebagai teman, Tuan Kuga membantu sedikit demi sedikit untuk bangkit dan berakhir menjadi seseorang tajir melintir seperti saat ini.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, umurmu berapa, nak?" tanyanya.
"Mmm, 16," jawab Yuuji. Tuan Lawrence lagi-lagi mengangguk. "Usia semuda ini sudah tertarik judi. Kamu sekolah di mana? Aku punya rekomendasi sekolahan kalau kamu tertarik judi," lanjut Tuan Lawrence.
"Aku sekolah di Sekolah Kasino."
Sesaat setelah mendengar jawaban itu, Tuan Lawrence tertawa, terbahak-bahak, tak karuan, dan hampir meninggoy //eh engga.
Gadis pendampingnya bahkan kewalahan menghadapi Tuan Lawrence, di mana akhirnya Tuan Lawrence harus mundur setelah menguangkan chip warnanya. Pria itu mengajak Yuuji untuk pergi ke kursi VVIP yang biasa ia tempati dengan Tuan Kuga dulu—yang sekarang sudah ramai dengan teman-teman ayah Yuuji.
Tuan Lawrence terlihat bahagia melihat Tuan Kuga yang datang menghampiri. Keduanya saling berpelukan, lalu melepas rindu sejenak dengan basa-basi. Tuan Kuga menoleh ke anaknya yang mengekori Tuan Lawrence.
"Ada apa?" tanya Tuan Kuga.
"Yuuma sialan! Anakmu sudah sekolah di Sekolah Kasino rupanya! Sudah menjabat apa anakmu di sana?" Tuan Lawrence menggiring Tuan Kuga untuk duduk, diikuti Yuuji dan gadis pendamping Tuan Lawrence.
Tuan Kuga hanya tersenyum. "Jawab aja, Yuuji."
Yuuji agak bingung. Kenapa pria tua ini tahu soal jabatan di sekolahan itu? Meski ragu, tapi Yuuji menjawab seadanya.
"Bhahaha! Kamu pasti sudah kenal Emma! Dia anak angkatku!" seru Tuan Lawrence. Kemudian Tuan Lawrence kembali menceritakan tentang Emma yang menjabat di sekolahan, lalu diakhiri dengan cerita soal kasino yang sedang dikunjungi mereka.
"Lihat, Emma di bagian blackjack sekarang untuk persiapan pertandingan akhir tahun. Beberapa anak lain juga bakal dateng nanti," jelas Tuan Lawrence sambil menunjuk jalan menuju ruangan blackjack.
Kedua alis Yuuji menajam, dahinya mengerut. "Maaf. Tapi kenapa.. di sini semua?" tanya Yuuji, melirik ayahnya dan berharap ada penjelasan.
"Bahahahahaa! Yuuma kurang ajar! Anakmu bingung banget, tuh!" tawa Tuan Lawrence.
Belum sempat menjelaskan, wanita yang menemui Tuan Kuga tadi mendekat. Ia tersenyum kepada Yuuji. Tangan kanannya terulur, dibalas dengan jabatan Yuuji. Kembali mengulang perkenalannya. "Kuga Yuuji," ucap Yuuji ramah.
__ADS_1
Wanita itu mengangguk kecil sambil tersenyum. "Aku Hebihime. Selamat datang di kasinoku."
...* * * * *...