
Pertandingan yang ditayangkan ke seluruh penjuru sekolah—termasuk ruang guru—menimbulkan kericuhan. Meski tahu, para guru tidak peduli. Sama seperti peraturan sekolah, permainan apapun yang bahkan mempertaruhkan nyawa dilegalkan. Seolah mereka buta dan tuli, lantas tak acuh dengan kegaduhan ini.
"Silakan Rosalina mulai," ucap Ichiro dari balik meja.
Tak ragu ataupun takut, Rosalina meraih revolver tersebut dan mengarahkan di kening kanan. Senyumnya melebar ketika ketiga pemuda di depannya was-was.
Ia tampak puas melihat lawannya ketakutan. Tak mau mengulur waktu panjang, jarinya menarik pelatuk.
CTAK!
Kosong.
Penghuni ruangan menghempaskan napas lega. Gadis itu meletakkan senjata api tersebut di meja. Kini giliran Kenji.
Walau tidak diarahkan ke kepala, tangan Kenji gemetar. Takut pelatuknya menyemburkan peluru. Ujung revolver diarahkan ke lantai. Sesaat kemudian ia menekan pelatuk.
CTAK!
DOR!
Revolver tersebut dilempar Kenji ke segala arah, seirama dengan teriakan para peserta.
Jantungnya berdetak kencang. Kenji ambruk di lantai. Ini pertama kali dirinya memegang dan menggunakan senjata api. Syok berat tentunya.
Keempat peserta tidak peduli ketika Ichiro datang untuk mengambil senjata itu. Ichiro kembali ke mejanya untuk mengisi dengan kaliber, lalu meletakkan kembali benda berbahaya itu ke meja peserta.
"Poin 1 untuk Kenji. Ronde 2 silakan dimulai dari Yuuji."
Pemuda bermarga Kuga itu diam sejenak. Ia menatap revolver. Sorot matanya seolah berteriak dan meraung mundur. Tidak bisa bohong jika tangannya gemetar.
Telapak tangannya menyentuh permukaan revolver, Yuuji berkeringat dingin setelah merasakan lekuk bentuk senjata itu. Ia menelan ludah. Gidik ngeri memikirkan permainan seperti ini mempertaruhkan nyawa.
Bukankah lucu jika berita kematiannya hanya perkara judi?
"Ga, ga bisa," tolak Yuuji menjauhkan tangannya.
"Heh? Takut, ya?" ledek Rosalina. Yuuji tak menjawab.
Tawa Rosalina memenuhi ruangan. Ia menoleh ke moderator di belakang sana yang kemudian direspon oleh Ichiro. "Jika tidak bisa, maka Yuuji langsung dianggap gugur."
Kenji yang mengerti perasaan itu langsung menggebrak meja persegi di depannya. "Apa ga bisa peraturan diganti? Bukannya ini ga adil?" seru Kenji yang hanya dijawab tawa kencang dari Rosalina.
Ichiro lalu berjalan mendekat dan mengambil revolver itu. "Peraturan hanya bisa diubah jika seluruh peserta setuju, tapi semua poin yang didapat akan direset menjadi 0."
"Aku setuju."
"Aku juga."
Kedua teman Yuuji maju lebih dulu, kemudian Yuuji ikut bersuara. Dikarenakan lebih dari setengah peserta mengiyakan, Rosalina tidak bisa menolak. Yang pada akhirnya peraturan diubah.
Di mana Yuuji dan Rosalina tidak perlu mengarahkan revolver ke kepala.
Moderator kembali menaruh revolver dan memulai permainan yang diawali Yuuji lagi.
"Ronde 1 dimulai dari Yuuji."
Kali ini Yuuji berani menarik pelatuk. Dan seperti dugaan, sebuah peluru melesat dari ujung revolver. Sontak ketiga sahabat itu berseru dan Yuuji langsung menaruh di meja.
Para penonton di luar ruangan juga ikut berseru. Bisa dibilang jika ketiganya tidak minta perubahan peraturan, nyawa Yuuji sudah melayang.
Tatapan Yuuji berubah menajam. Ia menoleh ke arah Rosalina yang tersenyum lebar. Hidupnya terselamatkan. Apa jadinya jika dia melepas pelatuk di kepalanya? Hanya tinggal nama seusai keluar ruangan Rosalina.
"Poin 1 untuk Yuuji."
Kekesalan Yuuji sedikit menurun saat sadar dirinya mencetak poin. Hoki tapi tidak sepenuhnya hoki.
Ichiro kembali membawa revolver itu untuk diisi peluru dan menaruhnya di tengah meja.
"Ronde 2 dari Rosalina."
Dikarenakan aturan baru, Rosalina semakin barbar. Ia mengarahkan senjata ke lantai dan langsung menembaknya tanpa aba-aba. Tanpa keraguran sedikitpun, ia meletakkan revolver itu ke meja dikarenakan tidak ada peluru yang keluar.
Kini giliran Hiro. Sama halnya dengan Rosalina, tidak ada peluru yang keluar. Di tembakan ketiga, di mana Rosalina yang menjadi penembak, peluru tidak keluar lagi.
Lantas disusul Kenji yang lagi-lagi tidak ada peluru yang keluar. Di bagian Rosalina selanjutnya, gadis itu semakin semangat menembakkan revolver ke arah standee di dekat pintu.
__ADS_1
Seketika standee milik Rosalina berlubang di bagian dada. Peluru melaju kencang hingga menabrak tembok di belakang standee. Peluru itu mencetak poin untuknya.
"Poin 1 untuk Rosalina."
Seri.
Lagi-lagi seri. Yuuji menatap Rosalina sejenak. Permainan ini tidak menggunakan trik atau rumus, ini murni kehokian. Yuuji sudah hoki sejak tadi, ia sedikit pesimis jika hokinya terkuras karena permainan ini.
"Ronde 3 dimulai dari Hiro."
Permainan berjalan sudah cukup lama, tapi Hiro masih saja gugup ketika gilirannya. Tangannya masih sedikit gemetar. Ia hanya kaget dengan suara tembakan.
Pelatuk ia lepaskan dan tidak mencetak poin. Saat giliran Rosalina, hal sama juga terjadi. Giliran Yuuji sudah tiba. Pemuda itu menembakkan revolver ke arah yang sama dengan sebelumnya. Hanya angin yang keluar.
Kembali lagi di giliran Rosalina. Dan ronde ke-3 berakhir di giliran selanjutnya, yaitu Kenji.
"Poin 1 untuk Kenji. Ronde 4 dimulai dari Rosalina."
Revolver kembali diisi dan ditaruh di atas meja. Rosalina menembak ke segala arah. Tidak ada peluru yang keluar. Dilanjut Hiro yang mencetak poin karena kaliber melaju menabrak lantai.
Baru 2 giliran.
"Poin 1 untuk Hiro."
Seluruh peserta memiliki poin yang sama, yakni 1 poin. Mereka harus menambah 2 poin secepatnya demi meraih kemenangan.
Ichiro tak lelah mengisi revolver dengan kaliber sembari terus bolak-balik untuk mencatat poin di papan tulis dekat mejanya.
"Ronde 5 dari Kenji."
Sekali tembakan. Kosong untuk Kenji. Tembakan kedua zonk yang diterima Rosalina. Ketika giliran Yuuji, peluru tidak juga keluar.
Raut Yuuji sedikit kecewa, ia ingin segera menyelesaikan permainan gila ini. Selain tidak ingin berlama-lama di hadapan Rosalina, ia juga tidak tahan mendengar suara tembakan yang selalu didengar setiap ada yang mencetak poin.
Rosalina kembali menarik pelatuk, ujungnya kosong. Hiro sudah bersiap. Ketika mengarahkan ke lantai dan menembaknya, peluru tidak keluar.
DOR!
Tembakan ke-6 peluru, berasal dari peserta perempuan di antara mereka.
Hal ini membuat Yuuji kaget. Kini Rosalina berada 1 poin di depannya.
"Hehehe, hoki, nih," ledek Rosalina. Tidak ada jawaban lain selain tatapan bingung. Rosalina puas melihat pemandangan di depannya.
Kini Yuuji tidak lagi bersantai. Ia kembali takut. Bukan takut dengan tembakan, tapi takut jika peluru tidak keluar dari pelatuknya. Sekarang pelurulah yang ia cari saat ini.
"Poin 1 untuk Rosalina. Rosalina memimpin 2 poin."
Ichiro kembali mengisi revolver dengan kaliber tersisa.
"Ronde 6 dimulai dari Rosalina."
Yuuji mulai was-was. Dalam benaknya ia meronta, berdoa agar Rosalina tidak menoreh poin lagi di tembakan ini. Karena jika dipikir, kesempatan Rosalina untuk mendapat poin lebih banyak daripada dirinya.
Ada 7 tembakan, Rosalina setiap rondenya bisa menembak 3x sampai 4x. Sementara dirinya 1x sampai 2x dalam seronde. Kemenangan untuk Rosalina lebih besar, tapi tidak menutup kemungkinan kedua temannya bisa mengulur waktu selagi Yuuji berharap akan keberuntungan Dewi Fortuna.
Tembakan pertama Rosalina kosong. Yuuji masih belum menghela napas lega. Ia menatap Kenji yang akan menembak. Tepat setelah menarik pelatuk, suara tembakan kencang beserta pelurunya mengenai lantai.
"Poin 1 untuk Kenji. Kenji menyusul Rosalina dengan 2 poin."
Yuuji menghembuskan napas panjang. Ada secercah harapan untuk kembali percaya diri. Di sisi kesempatan tembak yang kecil, masih ada kedua temannya yang juga punya persenan untuk mendapat poin. Ia tidak tahu sampai mana kehokiannya, tapi Yuuji masih berusaha optimis.
"Ronde 7 dari Yuuji."
Yuuji mengambil revolver itu setelah Ichiro meletakkan di meja. Ia mengamatinya sejenak, memandang setiap lekuk benda tersebut. Pandangannya fokus ke ujung revolver.
Tembakan pertama dari dirinya, di mana kali ini ia punya 2x kesempatan untuk menembak. Di awal dan paling akhir. Jika dirinya tidak bisa mencetak poin, masih ada kesempatan lain untuk kedua temannya.
Ia menarik pelatuk dan hasilnya kosong. Dalam diam, Yuuji menatap tangan Rosalina yang memegang revolver itu. Hasil sama didapat Rosalina. Sedikit demi sedikit Yuuji kembali berharap.
Ia menoleh ke Kenji yang mengarahkan senjata ke lantai. Tapi keadaan sama, hasilnya zonk.
Dada Yuuji berdetak, ia kembali was-was. Giliran Rosalina beraksi. Tak henti Yuuji memanjatkan harapan. Kebetulan yang bagus, Tuhan mengabulkan doanya. Kekosongan tembakan Rosalina melegakan Yuuji.
Pandangannya beralih ke Hiro. Yuuji maupun Kenji saling berpandang, lalu menatap tajam jari telunjuk Hiro.
__ADS_1
CTAK!
"Ah-"
Rosalina bergegas meraih revolver di tangan Hiro begitu peluru tak keluar di giliran pemuda itu.
Perlahan senyum Rosalina merekah. Ia menatap Yuuji dengan ukiran lebar di bibirnya. Tatapannya mulai menajam, sorot mata remeh, serta tawa kecil meledek.
Dia sangat tahu Yuuji kali ini khawatir dan takut dengan kekalahan. Perbandingan 1:1 yang sekarang dihadapinya. Seperti yang diharapkan Rosalina, pemuda itu was-was. Tatapannya tidak bisa menipu. Walau Yuuji diam dan tidak banyak bicara, tapi dalam senyap, dia terlihat frustrasi dan cemas.
"Yuu~ Ji. Ini giliranku, kaan?"
Yuuji tidak menanggapi. Ia hanya berharap kali ini tembakan Rosalina zonk.
Kedua tangannya mengepal hebat di samping tubuhnya. Matanya tak pernah melepas pandangan dari ujung revolver itu.
Rosalina mulai mengarahkannya ke lantai. Ia menatap ketiga pemuda di depannya yang berharap kaliber itu tidak berada di posisi giliran Rosalina. Perempuan itu akhirnya menarik pelatuk.
CTAK!
Kedua mata Yuuji membelak lebar.
DOR!
"Poin 1 untuk Rosalina. Rosalina memimpin dengan 3 poin. Pemenangnya Rosalina!"
Pandangan Yuuji perlahan memudar, blur. Ia diam, terkejut bukan main. Langkahnya mundur perlahan. Tak kuasa menahan beratnya tubuh, lantas terhuyung ke belakanh dan ambruk.
Terduduk di lantai sambil memandang timah panas yang baru saja melesat di lantai. Sorak-sorai pendukung Rosalina di luar ruangan tak mampu menyadarkan Yuuji. Seolah di dalam kepalanya, seluruhnya terbisukan.
Telinganya terus menangkap suara tembakan terakhir yang diciptakan Rosalina. Looping, terus berputar tak henti meski kedua sahabatnya berusaha menggoyang tubuhnya untuk bangkit.
Tidak bisa.
Tatapan Yuuji naik, menemui sosok Rosalina yang menatapnya remeh dengan senyum lebarnya.
...* * *...
Pertunjukan hebat di hari itu menyebar sangat pesat. Seluruh murid berseru, bersorak, merayakan kemenangan Rosalina. Di luar ruangan, Rosalina masih sibuk dengan kehadiran para murid yang mengucapkan selamat.
Di sisi lain, UKS menjadi tempat merenungnya Yuuji. Kenji dan Hiro menunggu di luar ruang UKS. Kali ini Yuuji tak ingin siapapun berada di dekatnya.
Dalam diamnya Yuuji memikirkan kekalahan dan habisnya chip yang ia kumpulkan selama ini. Mengingat chip, Yuuji seketika teringat jabatannya sebagai Benteng II. Sebenarnya ia tak begitu menghiraukan karena Rosalina tak mau mengambil posisinya dan Yuuji masih bisa duduk di sana.
Yuuji hanya syok akan status kalah dan kembali bangkrut. Toh, Jaken bisa mengerti soal ini. Meski Yuuji masih abu-abu apa Jaken bisa menerima atau tidak.
"Ah, gapapa, lah. Besok juga aku kasih tahu."
Namun baru saja mengenyahkan pikiran itu, pintu UKS terbuka. Yuuji melirik. Seketika Yuuji merinding. Ia langsung bangkit dari rebahannya dan duduk di atas ranjang.
Jaken.
Di depannya ada Jaken yang menghampiri.
"Ada apa?" Yuuji berharap Jaken khawatir akan keadaannya. Karena bagaimanapun Yuuji masuk di bawah kuasanya, anak buahnya. Jaken pasti berpihak padanya, kan?
Jaken memandang Yuuji, lalu tersenyum tipis.
"Aku memberhentikanmu sebagai Benteng II karena insiden ini."
Makdeg, maktratap.
Yuuji mematung. Tak dapat berkata-kata.
Pemecatan? Yang benar saja? Bukannya Yuuji masih boleh bertahan selama lawannya tidak menerima tawaran posisinya?!
"Dikarenakan pertandingan ini publik merusak citra pejabat. Dengan ini aku mengeluarkanmu dari benteng," lanjut Jaken lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Sebelum Jaken memegang gagang pintu itu, Yuuji meneriakinya. "Bukannya aku masih bisa di benteng selama Rosalina menolak posisiku?!"
Tak berbalik maupun menoleh. Jaken tertawa kecil.
"Di mana mukamu setelah kamu menantangnya, disiarkan publik, lalu kalah? Apa pantas tetap bertahta? Tolong punya sedikit malu, Kuga Yuuji."
Tak ingin terlalu panjang, Jaken langsung keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal. Yuuji tak bergerak sedikitpun dengan kedua mata melebar, saking kaget dengan hal yang menimpa bertubi-tubi.
__ADS_1
Yuuji, dikeluarkan secara paksa oleh Jaken dan turun ke pion. Menghabiskan 300 dollar demi kekalahan. Kekayaan saat ini? 28 dollar.
...* * * * *...