Casino School

Casino School
Episode 12


__ADS_3

Tatapam Rosalina tak lepas sedikitpun dari ketiga pemuda di depannya. Langkah Rosalina terus mundur, namun Yuuji langsung menahan tubuhnya. Gadis itu menoleh dengan pandangan tajam, tentunya Yuuji tak kalah mengasah sorot matanya. Lebih menusuk, membuat Rosalina tertegun.


"Kami FujiTamaKuro, mengatakan bahwa Rosalina bermain curang dan dianggap kalah dalam setiap permainan melawan Yuuji!"


Rosalina mendorong Yuuji yang semula menahan dirinya. Ia meneriaki ketiga teman Yuuji di sana. "Apa maksudmu?! Jangan bikin gosip!" seru Rosalina sambil melepas papan dart di dada dan memberikannya pada Ichiro.


Tama tertawa. Ia lalu mengeluarkan sebuah revolver yang sama dengan revolver Rosalina dalam permainan Russian Roulette. Rosalina menatap Tama dalam diam.


Dari belakang, Kuro menunjukkan tabletnya dan menyalakan video saat pertandingan Yuuji dan Rosalina sebelumnya. Namun ini berfokus pada meja yang digunakan Ichiro.


"Kenapa moderator harus disiapin meja di belakang sana? Tugas Ichiro cuma ngisi peluru dan catat poin aja, kan?" tanya Tama. Rosalina melirik meja yang digunakan Ichiro dulu.


"Di dalamnya ada peluru. Dia perlu isi pelurunya," jawab Rosalina ketus. Tapi sangat terasa nada yang gemetar takut di setiap kata angkuhnya.


"Yakin cuma peluru? Fuji."


Fuji segera ke meja yang dimaksud dan menggeledah isi laci. Mengeluarkan beberapa revolver yang sama dengan sebuah kertas yang menempel di bagian ujung revolver. Di mana ada angka-angka di sana yang diyakini adalah tempat peluru berada.


Pemuda itu membawa seluruh senjata api itu ke meja yang semula digunakan untuk meletakkan papan dart.


"Mari kita lihat!"


Fuji mengambil salah satu, memeriksa angka yang ada di ujungnya. "Angka 5. Ayo kita hitung," ajak Fuji sambil mengarahkan revolver ke lantai.


Jarinya menarik pelatuk. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.


DOR!


Lima kali pelatuk diluncurkan, sebuah timah panas melesat menabrak lantai. Senyum Fuji melebar, sorot mata penuh kemenangan menghiasi paras tampannya.


"Ayo coba satunya. Ini angka 2."


Rosalina mulai geram, ia melangkah untuk mendekati Fuji. Tapi Yuuji segera menahannya. Kenji juga membantu Yuuji untuk menghentikan Rosalina.


"Hiro, tahan Yu Zi!" seru Kuro yang masih memegang tablet miliknya. Hiro langsung menahan pemuda itu dan membawanya ke dekat Rosalina untuk menyaksikan pertunjukan Fuji.


Tembakan pertama kosong dan yang kedua sama seperti angka itu, peluru ada di slot kedua. Masih belum puas, Fuji melakukan hal yang sama dan hasilnya? Benar, mengikuti angka yang berada di ujung revolver.

__ADS_1


"Aku ga tahu kenapa kamu bisa tahu di mana aja peluru itu berada. Tapi pastinya kamu udah jago pake cara licik ini, kan, Rosalina?" Pertanyaan Tama yang terkesan satir hanya ditanggapi diam oleh Rosalina.


Tama menunjuk tablet milik Kuro dan memperhatikan lebih gelagat Ichiro. Seluruh mata pasti berfokus pada para pemain dan tidak peduli dengan Ichiro. Toh Ichiro cukup jauh dan hanya ada sedikit spot kamera yang bisa menangkap Ichiro di belakang meja.


Tapi secerdik apapun, gerakan tangan Ichiro tidak bisa menipu. Apalagi setiap menyiapkan revolver, Ichiro terus melihat ke bawah dengan kepala yang lurus ke depan. Dalam hal ini ia bermaksud mengelabui. Jika orang yang tidak teliti, ini bukan jadi masalah.


"Cara Ichiro nunjukin kalo peluru itu buat kamu atau bukan dari setiap ucapan Ichiro di awal permainan."


Tama memutar bagian Ichiro memulai babak permainan.


"๐˜™๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ 1 ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช."


"๐˜™๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ 2 ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜™๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข."


"Setiap kalimat tanpa kata 'dimulai', itu artinya poin untuk Rosalina, kan? Revolver kalian terbatas dan harus pintar untuk berotasi siapa saja penembak supaya Rosalina dapat poinnya. Di permainan ini, Ichiro harus pintar menempatkan Rosalina agar tidak blunder. Bukankah begitu, Ichiro?"


Ichiro tertegun, lalu tersenyum dan mengangguk dengan sangat elegan. "Sangat benar. Terima kasih atas penjelasannya."


Sorakan di luar yang semula sangat keras mulai meredup, bahkan seperti tidak ada tanda kehidupan lagi. Mereka mendengarkan penjelasan Tama dengan seksama.


"Sialan! Kalian hampir bunuh Yuuji cuma karena permainan curang jni!" teriak Hiro meremas lengan Yu Zi, membuat pemuda itu merintih sakit.


Fuji lalu mengambil papan dart milik Rosalina dan Yuuji. Ia memberikan Yuuji papan Rosalina selagi Kenji menjaga gadis itu dari kaburnya. Agak sedikit berat, kemudian Fuji melempar papan itu ke lantai. Menginjak-injaknya hingga retak dan hancur.


"Yuuji, lempar itu ke lantai."


Menurut. Yuuji melemparnya. Tapi bukan suara seperti kayu yang terjauh, melainkan seperti pecahan barang yang rapuh. Seperti kaca menurut Yuuji.


Dengan cepat Fuji membongkar papan dart tersebut. Di dalamnya ada lapisan lain di mana ada banyak magnet dengan kutub yang sama berada di titik-titik angka tertentu. Termasuk ada di bullseye.


Fuji menatap Hiro. "Geledah jaket Yu Zi!" Lagi-lagi perintah Fuji dituruti Hiro. Yu Zi tak berkutik dan memberikan apapun yang ada di dalam saku jaket.


Ada banyak anak panah yang disimpan. Hiro memberikan itu ke Fuji. Dengan santai Fuji membongkar setiap anak panah dari saku Yu Zi. Di dalamnya ada magnet yang belawanan kutub, ini akan menempel di setiap magnet yang ada di dalam papan dart.


Di belakang anak panah, ada angka kecil yang merujuk pada panah mana ini harus berada. "Kalaupun Yu Zi meleset dan berubah dari hitungan awal, dia bisa pakai angka-angka yang aman buat pangkas 501 tanpa busted," ucap Fuji sambil menunjuk 3 buah anak panah.


"Angka 1, double ring 2, dan 5. Seperti yang kita tahu, permainan 501 tidak semudah itu. Habisin angka tanpa lebih poin, sekalipun itu hanya 1 poin akan dianggap busted. Dan angka-angka ini yang bisa menyelamatkan Yu Zi. Kamu sendiri udah banyak latihan sama Rosalina, kan, Yu Zi?"

__ADS_1


Yu Zi tak menjawab ketika Fuji masih asik mengutak-atik anak panahnya.


Fuji mengangkat papan dart Rosalina dan menunjukkan tata letak magnet. "Jarak antar magnet sangat jauh. Tidak semua angka nilai besar ada di atas. Mereka ada di bawah, tapi jarang tersentuh. Hal ini menghindari magnet yang 'menolak' magnet lain sekaligus membuat Yu Zi lebih leluasa. Dengan jarak yang agak jauh, Yu Zi bisa menargetkan lemparannya dengan mudah."


"Meski ada bantuan magnet, Yu Zi sendiri harus tahu taktik bermain dart. Karena itu Yu Zi selalu main dart di setiap judinya demi mengelabui kita, kan? Hari ini dan permainanmu yang lain sangat beda, lho, Yu Zi," sindir Fuji sambil meletakkan papan dan anak panah di lantai.


Yu Zi tak menjawab. Pemuda itu mematung, tidak ada pemberontakan. Bahkan saat Hiro sudah melepasnya, Yu Zi masih berdiri di tempat.


"Bukan hanya itu, coba perhatikan angka-angka yang didapat Yu Zi sebelumnya."


"13, 3, 4, 5, 15, 1, 25, 18, 50, 5, 1, 13, 4, 5, 25, 18, 5, 13, 4, 1, 15, 60, 1, 5, 4, 13, 5, 25, 13, 4, 3, 60, 4, 1, 30, 25, dan 5. Coba dilihat, banyak angka yang diulang dan hanya itu-itu saja selama lebih dari 40 babak. Apa tidak aneh?" Fuji melihat sekitar.


Yuuji tersenyum bangga seolah sudah menyadari itu sebelumnya. Fuji menatap Yu Zi yang menundukkan kepala. Lalu ia beralih ke Rosalina yang tak berbuat apa-apa di dalam cengkraman Kenji.


"Aku tahu mungkin Yu Zi hanya bisa mencapai angka itu. Tapi apa yakin? Kalau hanya bisa itu, kenapa bisa dapat bullseye dan triple ring beberapa kali? Apa sehoki itu tangannya? Mari kita lihat magnet di papannya."


Fuji memperlihatkan papan dan menunjukkan bullseye dan triple ring yang selalu didapat Yu Zi. Kuro memperlihatkan rekaman yang semula ia rekam di kantin. Di mana anak panah Yu Zi selalu menancap tepat di 1 spot saja. Sesuai dengan magnet yang bersemayam di bawahnya.


"Semua selesai. Kamu kalah telak, Rosalina."


Fuji, Tama, dan Kuro berhenti bersamaan dengan ambruknya lutut Rosalina ke lantai. Gadis itu terduduk di bawah sambil menunduk. Rasa iba menyambar hati Yuuji, tapi Fuji segera memberikan kode.


Tidak ada hati lagi, Yuuji.


"Selain Russian Roulette dan dart, kamu ingin membuat kecurangan macam apalagi, Rosalina?" tanya Fuji sambil jongkok di depan Rosalina. Gadis itu hanya diam, menggelengkan kepala.


"Selama ini Rosalina digadang-gadang sebagai pembunuh para pejabat. Melakukan pertandingan kotor tanpa penonton agar publik tidak tahu trik apa yang ia gunakan. Aku tidak tahu nasib pejabat lain setelah lengser bagaimana, kecuali kami, FujiTamaKuro."


Lantangnya Tama membungkam setiap mulut yang terbuka.


"Sedikit cerita, kami dulu pernah menjabat sementara. Tapi entah kenapa Rosalina mendatangi kami dengan cara yang sama, dia memukul mundur kami. Kami mencari informasi dan mengumpulkan semua, hingga di detik inilah kami menyelesaikan akar masalah sebelumnya."


Tama menoleh pada Fuji. Fuji tersenyum dan membelai kepala Rosalina.


"Lain kali pakai trik yang lebih bagus. Oke?"


......* * * * *......

__ADS_1


__ADS_2