
Empat belas peserta telah hadir di ruang pertemuan. Duduk di kursi masing-masing dengan kartu VVIP di atas meja. Jaken duduk sendiri di kursi paling depan dan kekasihnya membagikan selembar kertas berisi daftar pemilik kartu undangan Jaken. Total dari mereka bukan semua adalah pejabat dan murid Casino School. Entah apa yang akan Jaken lakukan, mereka masih menerawang.
"Perhatikan."
Suzuki menyalakan proyektor. Di layar belakang Jaken terdapat nama-nama para peserta.
"Selamat datang. Sebelumnya terima kasih sudah memenuhi undangan yang kami berikan. Tidak perlu banyak penjelasan, kalian pasti sudah tahu tujuan pertandingan akhir tahun ini seperti apa."
Suzuki melihat peserta, tidak ada yang merespon lebih.
"Pada intinya, kalian akan bertanding di kasino ini. Tapi ada sistem yang berbeda untuk peserta VVIP."
Layar menunjukkan kursi-kursi tahta yang kosong.
"Peserta VVIP kali ini harus bertanding dan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Tetapi lawannya bukan hanya peserta VVIP, melainkan para penjudi yang ada di kasino. Kalian bisa menantang mereka atau sebaliknya demi mendapat poin."
"Soal chip, kasino akan menyediakan chip pinjaman untuk bermain. Cukup tunjukkan kartu VVIP dan kalian bisa mendapatkan chip."
Mendengar penjelasan itu, para peserta sedikit was-was. Begitu juga dengan Yuuji yang tidak nyaman dengan sistem ini.
"Hasil akhir akan diumumkan pada tanggal 30 Desember. Apa kalian tahu apa hadiah untuk peserta dengan poin tinggi?" Suzuki menunjuk ke arah Emma, memintanya menjawab.
"Eum, jalan-jalan?" Jawaban Emma dibalas gelengan kepala Suzuki.
Jari Suzuki kembali menunjuk ke arab Aoyama. "Uang?" koreksi Aoyama yang salah. Suzuki beralih ke Hiro. Hiro hanya menggeleng tak tahu sebagai jawaban.
"Kami hanya akan memilih tujuh peserta dengan poin tertinggi. Di mana hadiahnya adalah jabatan," jelas Suzuki yang semakin membuat yang lainnya bingung.
"Apa maksudnya?" tanya Paulo.
"Peringkat 2 sampai 7 akan otomatis diangkat menjadi pejabat di sini. Mulai dari benteng hingga menteri. Dan peringkat pertama akan lanjut ke babak final di tanggal 31 Desember. Jika peringkat pertama adalah perempuan, maka dia akan melawan ratu, yaitu aku."
"Dan jika laki-laki, dia akan melawan raja, yaitu Jaken."
Paulo segera berdiri dan menggebrak meja. Matanya melotot.
"Apa maksudmu?! Lalu bagaimana dengan kami yang sudah menjabat?!" teriak Paulo. Emma segera berdiri dan menarik Paulo untuk kembali duduk, tetapi pemuda itu enggan menuruti pacarnya dan masih berdiri sambil melempar tatapan tajam.
__ADS_1
Suzuki tersenyum, lalu berjalan mendekati Jaken dan mengelus bahu prianya.
"Yang tidak masuk dalam tujuh besar akan dicopot jabatannya dan dikeluarkan dari sekolah."
...* * *...
Pertemuan itu membuat mental para peserta tergoncang. Merasa tidak aman dan dipermainkan, terlebih mereka harus berhadapan dengan orang-orang dari luar sekolahan. Mungkin untuk sebagian murid yang sering berjudi lumayan hafal siapa saja yang jago bermain judi dan bisa menghindarinya.
Tapi di kasino? Di kasino yang super megah dan terkenal di kalangan atas. Sekelas Tama yang bermain judi sana-sini pun tidak banyak mengenal para pengunjung.
Orang-orang dengan bermacam kepribadian dan keahlian, belum pernah mereka temui di meja judi. Kalaupun pernah, seperti yang kita tahu sebelumnya, mayoritas para penjudi di kasino ini hanya mencari kesenangan dan tidak serius bermain. Mereka belum menunjukkan taringnya.
"Kita mulai darimana?" tanya Yuuji kepada Kyousuke. Sejak tadi Kyousuke mengikuti Yuuji, di belakangnya baru ada teman-teman Yuuji yang lain.
Yuuji sedikitnya perhatian dengan Kyousuke. Dilihat dari tampangnya saja Kyousuke seperti bocah ingusan yang tidak tahu perjudian. Bagaimana bisa dia masuk ke sekolah ini? Terlebih Ryuuji memberitahu jika Kyousuke mengikuti audisi dan menjadi seorang trainee di agensi idol.
Selain itu atensinya beralih pada Meiko yang dikenalnya sangat pendiam—atau hampir disebut cuek. Bagaimana bisa seorang gadis kue ini bergabung dengan situasi dan kelompok seperti ini. Apa korelasi Meiko dengan Casino School? Bukannya gadis itu bersekolah di SMA biasa?
"Meiko, kenapa Jaken bisa memberimu undangan?" tanya Yuuji.
"Soal seratus dollar?"
"Iya."
"Lalu bagaimana caranya kamu dapat undangan?" tanya Yuuji lagi.
"Waktu aku bekerja, seorang pembeli memberikanku amplop berisi undangan dan kartu VVIP. Katanya dari Casino School dan bilang ini kesempatan untuk diterima di sekolahan itu."
Yuuji hanya mengangguk mengerti. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih kepada Meiko, tapi sekarang kondisinya sedang tidak memungkinkan karena di depannya ada Aoyama yang menghadang.
"Selamat, kamu adalah lawan pertamaku," ucap Aoyama, menatap mata Yuuji lekat.
Meski sebenarnya belum sepenuhnya siap, tapi mau tidak mau Yuuji harus menerimanya. Ia harus cepat-cepat menambah poin. Selain itu dia juga menghindar dari para tamu VVIP Kasino yang tampak sedang mencari mangsa di antara peserta ppertandingan. Akan lebih baik jika Yuuji melawan orang yang dikenalnya dulu sebagai batu loncatan.
"Oke. Kamu mau bermain apa?" tanya Yuuji.
Kyousuke yang sejak tadi mendampinginya segera menghadang Aoyama, menatapnya tajam. "Kamu ga lihat aku?"
__ADS_1
Aoyama mengernyit dahi, begitupun Yuuji.
"Penghinaan. Harusnya kamu lawan aku dulu, dong!" lanjut Kyousuke.
"Ga penting," jawab Aoyama.
Kyousuke terperanjat, lalu tersenyum. "Kalau begitu aku tantang kamu main blackjack!"
Kepala Aoyama menggeleng, dia menolak. Tatapannya tajam menatap Kyousuke, begitupun sebaliknya.
"Aku lebih dulu menantang Yuuji. Jangan buang-buang wak—"
"Aku lebih dulu mengatakan tantangannya dibanding kamu. Jadi ayo bertanding," Kyousuke berhasil memotong kalimat Aoyama. Ia segera pergi, melewati Aoyama dan berjalan santai menuju tempat blackjack berada.
Yuuji cukup heran dengan tingkah Kyousuke yang tahu di mana letak ruang blackjack berada. Meski bisa saja dia tahu karena sebelumnya mengunjungi kasino untuk observasi.
Pemuda mantan benteng itu akhirnya mengikuti Kyousuke setelah melempar tatapan kesal pada Yuuji.
"Apa-apaan, sih. Kan yang nantang si Kyou," gumam Yuuji ikutan kesal.
Lantas pandangannya beralih pada Meiko yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Tampak gadis itu bingung dan cemas. Yuuji agaknya mengerti, ini perasaan yang wajar untuk gadis yang belum pernah nyemplung ke dunia seperti ini.
"Meiko, mau coba bermain?" tanya Yuuji.
"Apa kamu sedang menantangku?" Meiko menatap Yuuji bingung. Jawaban Yuuji hanya anggukan kecil.
Meiko terlihat tidak suka, tapi pada akhirnya dia menurut. "Ya, oke. Daripada aku melawan orang yang tidak aku kenal," gumam Meiko pelan.
Kemudian jari Meiko menunjuk ke salah satu tempat, di mana meja Uno berada.
"Aku ingin bermain itu," jelas Meiko sambil menurunkan jarinya. Ia menatap Yuuji yang tersenyum.
Permainan judi dasar yang biasa dimainkan para pemula. Yuuji sekali lagi mengangguk setuju dan berjalan ke arah meja Uno, diikuti Meiko dari belakang.
...* * * * *...
Makasih udah baca! Season 1 sudah selesai dan Season 2 akan dilanjut di waktu mendatang! 🙌
__ADS_1