Casino School

Casino School
Episode 3


__ADS_3

"Halo. Yuuji di sekolah baik-baik aja, kok. Banyak yang dipelajari, guru-gurunya juga asik semua. Iyaa, tenang aja. Yuuji masih punya uang buat jajan, murah-murah juga kok di sini."


Kebohongan kesekian kalinya Yuuji ketika menolak kunjungan ibunya. Sudah banyak kebohongan yang ia katakan untuk menenangkan hati ibundanya.


Permulaan yang konyol. Sekolah baik-baik seperti apa yang dia maksud? Pelajaran apa yang ia dapatkan selama hari pertama sekolah sampai sekarang? Guru yang asik?


Bohong.


Yuuji menutup telepon dari ibunya setelah mengucapkan salam dan mengutarakan betapa rindunya ia dengan keluarga. Bukan omong kosong dirinya ingin pulang dan berkumpul di rumah, hanya saja dia tidak bisa pulang karena sejak awal masuk sekolah ini adalah keinginannya.


"Udah telponnya?" tanya Kenji setelah melihat sahabatnya memasukkan ponsel ke dalam saku celana seragam. Yuuji mengangguk kecil.


Mereka tengah duduk berdua di sebuah kursi taman di dekat Kelas Spade, kelas Kenji dan Hiro. Yuuji tidak bisa menikmati taman di sekitar kelasnya sendiri karena pastinya banyak murid yang mengolok-olok. Dirinya sudah terlalu malas meendengarnya.


Hiro, mendatangi mereka dengan membawa sebungkus plastik berisi makanan. Menaruhnya di tengah kursi dan masing-masing memakan onigiri. Ketiganya kembali mengobrol singkat mengenai sekolahan dan rencana Yuuji ke depan. Toh, sedekat apapun, Yuuji tetap tidak mau merepotkan kedua sahabatnya hanya perkara makan dan minum harian sampai bulan depan. Keuangan mereka sama-sama menipis akibat keperluan awal sekolah yang menyita banyak chip.


"Kayaknya sekolahan emang sengaja bikin murid-muridnya harus judi, deh," gumam Hiro disusul anggukan Kenji.


"Iya, dong. Pastinya sekolahan ga mau rugi. Percuma dia ngebuang 100 dollar per kepala tapi ujungnya ga dapet apa-apa. Tiga tahun ada di sini dengan sisa uang dari 100 dollar itu mana bisa hidup?" Hiro kembali melanjutkan dan dijawab dengan anggukan yang lebih mantap dari Kenji.


Sementara itu Yuuji hanya memperhatikan sekitar. Di mana di dekat taman ada beberapa anak yang bermain judi, pertandingan kecil-kecilan yang tentunya mendapat chip dengan jumlah sedikit pula.


Sekelibat ingatan tentang cara mendapatkan chip melintas di otaknya. Pemuda itu semakin diam, kalut dalam pikirannya.


"Btw, bukannya ada cara lain buat dapetin chip tanpa ngasih taruhan?"


Hiro ber-oh singkat, lalu mengangguk tanda mengiyakan. "Iya. Aku denger dari senior, sebulan setelah penerimaan siswa baru, sekolahan bakal ngadain kompetisi singkat buat perkenalan murid. Emang engga sebanyak kompetisi yang lain, sih. Tapi seenggaknya Yuuji dapet chip dari situ," jawab Hiro lalu menoleh ke Yuuji, diikuti Kenji yang turut menatap sahabattnya.


Tak ada respon yang bagus, Kenji dan Hiro kembali saling bertatapan. Sepertinya Yuuji sudah kalut dengan pikirannya sendiri.


Namun belum sempat memulai topik lagi, tiba-tiba Yuuji berdiri, mengalihkan atensi kedua sahabatnya yang masih asik mengobrol.


"Yuuj-"


"AKU TAHU!" Yuuji berseru, menoleh ke kedua sahabatnya. "Selagi nunggu bulan depan, aku boleh pinjem chip kalian ga buat taruhan?"


Mendengar itu, kedua temannya langsung menolak dengan tegas. Bukan perkara pelit untuk meminjami, tetapi pengetahuan Yuuji tentang bermain judi masih sangat tipis. Ia memerlukan ilmu lebih lagi untuk terjun berjudi. Selain itu, keduanya tidak mau Yuuji kembali bangkrut karena kecerobohnanya.


Dengan banyak pertimbangan dan perdebatan, keduanya memutuskan untuk tetap tidak meminjamkan chip kepada Yuuji sampai Yuuji mengerti dasar bermainnya judi di sekolahan.


"Yaudah, kita lihat di depan sana ada siapa dan gimana mainnya." Yuuji memimpin kedua sahabatnya mendekati gerombolan anak-anak yang sedang berjudi.


Tampak di raut mereka yang tegang dan sorak-sorak menjadi backsound pertandingan. Semakin lama permainan, semakin besar juga taruhannya, dan tentunya semakin banyak kerugian yang akan didapat oleh calon kalah.


Kenji, si anak yang terbilang nakal di jaman SMP cukup mengerti dasar-dasar permainan judi menggunakan kartu remi di depannya. Kenji cukup familiar dengan permainan remi yang sedang berlangsung. Tak ayal jika waktu yang dihabiskan cukup lama karena peraturan dari permainan itu sendiri.


"Ini namanya permainan kartu remi spades," jelas Kenji kepada kedua sahabatnya yang masih bingung dengan perjudian di depannya. Selama ini yang mereka tahu soal remi judi adalah blackjack dan poker.


Di depan mereka terdapat 4 orang dengan dealer di tengahnya. Di kasus kali ini, dealer bukan menjadi pemain, tetapi sebagai pengawas saja untuk mencatat jalannya permainan. Dealer telah membagikan 52 kartu ke empat pemain di depannya. Dengan nilai 500 cukup membuat jalannya permainan sangat lama.


Di mana di putaran permainan ke-5 ini, ada seorang pemain yang nilainya sudah mendekati 300. Dengan itu tandanya ia mendekati kemenangan.


Para pemain membuat penawaran berupa trik atau strategi untuk memenangkan jalannya permainan sebelum dealer menyuruh salah satu pemain menaruh kartu di tengah. Seusai memberikan beberapa penawaran, salah satu pemain yang ditunjuk dealer menyiapkan sebuah kartu di tengah meja dengan nilai terkecil.


Searah jarum jam, keempat pemain tersebut memberikan kartu-kartu mereka untuk mendapatkan nilai tertiggi. Kartu hati, wajik, sekop, dan nilai paling tinggi adalah kartu keriting atau spade—sesuai dengan nama permainannya.


Setiap trik dimainkan, maka orang itu mendapatkan nilai tertentu hingga mencapai kartu terakhir lalu menutup permainan atau lanjut jika belum ada yang menyentuh nilai 300.

__ADS_1


"Di permainan ini, kita ga boleh mainin lebih dari trik yang kita tawar. Kalo trik berhasil yang dimenangin lebih dari penawaran triknya, dia dapet poin sandbag atau overtrick," jelas Kenji sambil mengamati salah satu pemain yang tampaknya melakukan sebuah kesalahan.


Hiro mengernyitkan dahi. "Maksudnya? Berarti dia pinter, dong. Dia bisa ngalahin pake macem-macem trik."


Kenji menggeleng pelan, lalu menghela napas. Putaran permainan ke-5 sudah selesai dan sedang penghitungan poin. Pemain yang telah melakukan overtrick mendapatkan pinalti.


"Kalo sampe 10x sandbag, dia bakal kena pinalti 100 poin."


Benar, pemain tersebut memang terlihat pintar. Tapi dalam permainan Spades inilah akan membuatnya terlihat bodoh. Pemain itu mendapat pinalti yang cukup banyak, menghabiskan sebagian besar poin yang sudah dikumpulkannya.


"Aoyama, Benteng II, menjadi pemenang."


Suara keras dan sorakan menyambut kemenangan sosok yang telah menaklukan pertandingan panjangnya. Dengan nilai paling tinggi tanpa adanya overtrick serta konsistennya dalam bermain, Aoyama, berhasil mengalahkan ketiga lawannya yang terbilang pintar.


Yuuji, Kenji, dan Hiro kembali ke tempat semula setelah konvoi kemenangan dimulai. Mereka tak ingin tenggelam dalam ramainya para penggemar Aoyama.


"Aoyama, dia pegang kuasa dan jadi Benteng II. Dia ditantang 3 murid lain yang dari dulu punya dendam kesumat sama Aoyama." Hiro, si informan handal mulai bercerita panjang lebar.


Aoyama adalah murid kelas 2. Di mana sejak awal masuk, Aoyama sudah menghancurkan awal kehidupan para murid dari angkatannya maupun kakak kelas. Dengan kecerdasan dan segala taktik, hanya selang 3 bulan sekolah, Aoyama sudah menduduki tahta sebagai Benteng II.


Selain itu, Aoyama tetap melawan beberapa murid yang sekiranya memiliki chip banyak tapi tak bersedia duduk di tahta catur. Aoyama terkenal dengan mata uangnya. Apapun akan ia lakukan demi mendapatkan chip-chip tersebut. Toh, selama ini Aoyama tidak pernah kalah melawan mereka yang bukan dari jejeran petinggi.


Yuuji mendengar hal itu dengan seksama. Ia menyadari ada hal yang kurang darinya. Membandingan dirinya sekarang dan Aoyama yang dulu menjadi sebuah gamparan keras di pipi. Yuuji hanya diam ketika Hiro asik mendongeng.


Tapi tampaknya kedua sahabat Yuuji sudah mengerti apa yang dipikirkannya. Tak ada yang bisa mereka lakukan ketika Yuuji membuat keputusan jika dirinya ingin melawan Aoyama. Lelucon murid ambis, Hiro dan Kenji tak yakin. Karena selain itu, Hiro harus menyiapkan chip yang tidak sedikit untuk bertaruh tahta Benteng II.


"Kamu harus mulai dari yang kecil, baru ngelawan Aoyama. Lihat itu, kamu paham ga soal permainannya?" tanya Kenji sambil menunjuk Aoyama yang berjalan bersama teman-temannya.


"Paham. Tapi aku harus nyari chip gimana? Aku aja ga punya chip buat nawar."


"Tunggu bulan depan, bakal ada kompetisi buat murid baru. Tanpa taruhan sama sekali, ga perlu bid buat lawan. Mungkin kamu harus sering menang buat dapetin chip banyak, karena hadiahnya engga nyampe 100 dollar."


"Trus? Mau sekarang? Chipnya siapa?"


"Pinjem, lah."


Kenji menghela napas, Hiro hanya diam menatap malas sahabatnya. Keduanya kemudian mengeluarkan masing-masing chip senilai 10 dollar.


"Ini modal dari kita, ga bisa lebih. Tapi buat sementara, kamu pahami cara main orang-orang. Biar aku yang bimbing permainan apa yang cocok buat pemula," Kenji menjelaskan dengan tegas dan rinci.


Dengan hal itu, Yuuji memiliki pegangan untuk bertaruh atau menunggu sebulan ke depan.


...* * *...


Untuk posisi benteng dengan harga 2 chip hitam atau setara dengan 200 dollar adalah tantangan untuk Yuuji. Chip yang ia miliki hanya berharga 20 dollar. Itupun jika dirinya kalah melawan Benteng II, maka chip yang dia kumpulkan nanti akan hangus.


Kini Yuuji sibuk melakukan riset di beberapa perjudian, ia mengikuti perkembangan Aoyama sekaligus mencari trik untuk mengalahkannya. Aoyama adalah pemain kartu remi yang cukup handal. Saat ini bukan tandingannya.


Dalam kurun kurang dari sebulan, Yuuji mulai melatih dirinya untuk berjudi dengan murid lain. Menang dan kalah sudah menjadi makanan hariannya. Bermacam-macam permainan umum di kasino sudah ia pelajari.


Di dalam sekolahan, sekolahan menyiapkan beberapa mesin permainan. Mesin slot dan pachinko. Selain itu, ada beberapa staff sekolah yang membuat bingo setiap minggunya. Seluruh murid diperbolehkan ikut, tapi hasil yang didapatkan tidak begitu besar. Yah, itung-itung untuk membantu murid lain untuk mencari tambahan.


Yang semula hanya memiliki 4 chip merah, Yuuji kini sudah mengantongi hampir 50 dollar selama 2 minggu menginjakkan diri untuk fokus berjudi. Hiro dan Kenji mendampinginya, menjelaskan judi macam apa yang akan Yuuji hadapi. Hal itu terus berlanjut hingga di bulan selanjutnya. Di mana kompetisi yang ditunggu-tunggu Yuuji datang.


Bekal dari pertandingan tanpa henti sebelumnya membuat Yuuji lebih percaya diri. Beberapa kali ia melibas lawannya dan mengeruk chip lebih banyak. Kompetisi kali ini untuk para siswa-siswi baru. Sebenarnya murid lama diperbolehkan ikut, tetapi dianjurkan untuk tidak ikut. Seperti tujuan kompetisi diadakan, yaitu untuk perkenalan.


Kompetisi kecil-kecilan, di mana para murid berlomba untuk saling melawan. Mengumpulkan poin-poin untuk menduduki peringkat atas dengan hadiah yang tidak mencapai 100 dollar. Meski begitu, hal ini cukup menggiurkan bagi para murid yang sudah kolaps.

__ADS_1


Yuuji terus bertanding ke sana-sini. Dalam waktu seminggu kompetisi diadakan, Yuuji setidaknya harus bisa masuk ke 3 besar untuk mendapatkan 50 dollar.


Hiro sebagai informan dan Kenji sebagai pembimbing Yuuji dalam bertanding. Keduanya selalu berada di samping Yuuji. Poin yang didapat naik-turun, Yuuji memang belum sepenuhnya jago berjudi, tetapi kali ini poin kemenangannya lebih sering didapat. Beberapa trik yang ia kumpulkan dari lawan-lawannya menjadi referensi untuk melawan orang lain, terutama Aoyama.


Hingga di hari penentu. Di mana Jaken, selaku raja sekolah, mengumumkan hasil akhir dari kompetisi perkenalan murid baru. Beberapa nama asing disebutkan dari urutan terbawah hingga paling tinggi. Nama Yuuji disebut menduduki peringkat 7. Itu sudah termasuk kemajuan yang bagus. Tidak sepesat MC pada umumnya, ingatlah, Yuuji baru benar-benar mengerti soal dunia perjudian. Otaknya tidak seencer Albert Einstein, tetapi setidaknya dia mudah menangkap ilmu baru.


Chip yang didapat tidak banyak, seharga 25 dollar. Itu sudah lebih dari cukup. Uang itu ia kembalikan ke Hiro dan Kenji, sisanya untuk traktir karena sudah membantu Yuuji.


"Bukannya ini agak sulit?" tanya Hiro sambil memakan salad buah yang dibelikan Yuuji dari kantin. Ia menatap Yuuji dan Kenji yang masih asik bermain catur dari ponsel Yuuji.


"Sulit gimana, ya?" Yuuji kembali bertanya tanpa menoleh padanya. Tangannya asik menggeser bidak-bidak catur di layar ponsel selagi Kenji kembali memutar otak untuk membuat Yuuji kalah.


Hiro menghela napas, ia merasa hanya dirinya yang berpikir terlalu berat. "Tujuanmu sebenernya apa, sih, Yuuji?"


Pertanyaan itu membuat Yuuji berhenti menatap bidak milik Kenji. Hiro berhasil mengambil atensinya. Yuuji diam sejenak, memikirkan sesuatu.


Ingatannya melambung ke waktu di mana keinginan balas dendamnya kepada anak Kelas Diamond. Mengingat apa yang ia ingin gapai sebelumnya hingga membuat Yuuji bangkrut dan mati-matian mencari chip. Ketika kembali ke saat ini, Yuuji merasa dirinya mulai santai dan cukup jauh dari tujuan awalnya. Seolah ia lupa dengan semua yang terjadi.


Yuuji hanya lupa dengan cemooh mereka karena sibuk dengan judi dan mencari chip. Ia jarang berada di daerah kelasnya karena sibuk berkeliling melawan anak-anak lain. Menurutnya, Yuuji ingin 'hilang' meninggalkan kelemahan dan 'kembali' membawa kekuatan. Memang benar selama sebulan sebelumnya anak-anak sekelasnya juga mempersiapkan diri untuk kompetisi atau menginjak-injak kelas lain. Tetapi entah kenapa Yuuji tampak buta dan tuli.


Ia menatap sekitar. Di kantin ini, kegiatan bullying masih terjadi. Pelaku dari itu mayoritas—atau bahkan 98%—dari kelasnya sendiri. Di mana isi Kelas Diamond adalah orang-orang sombong akan keunggulan kelasnya. Yuuji diam cukup lama, mengamati apa yang terjadi di sekeliling. Ia menyadari jika selama ini dirinya mulai tidak peduli dan hanya fokus untuk tujuannya. Yang bahkan Yuuji sendiri mulai melupakan tujuannya ini sebenarnya untuk apa.


Pemuda itu mulai tersadar ketika anak kelasnya mulai arogan di depan sana. Dengan slogan Kelas Diamond yang sombong, mereka mengejek lawan judi yang kalah. Hal itu membuat ingatan Yuuji terlempar di waktu upacara penerimaan murid baru.


Sosok Jaken dan jajarannya yang memiliki aura elegan namun ngeri dan angkuh. Ia kembali merasakan bulu kuduknya merinding ketika Jaken melewati dan tak sengaja bertaut mata dengannya. Yuuji kembali bertanya-tanya. Apa karena sifat Jaken yang demikian membuat anak Kelas Diamond seperti ini? Apa karena aura diskriminasi mereka mendorong murid baru untuk melakukan ini? Apa mungkin karena jejeran bidak catur sekolah yang mayoritas dari Kelas Diamond?


Namun dalam benak Yuuji masih beranggapan jika Jakenlah biangkeroknya. Ia memang belum pernah berkomunikasi secara langsung, tetapi ketika melihat Jaken yang tak acuh dengan bullying di depan mata membuatnya berpikir demikian. Ketika Yuuji diinjak-injak di kelas dan Jaken melihatnya, tak ada aksi apapun untuk melindungi. Bahkan seolah tatapan Jaken mengatakan, 'rasakan itu'.


Benar, Yuuji mulai yakin. Jaken adalah petinggi yang memegang kendali dari seluruh jajaran kelas. Jaken memimpin semuanya. Bullying tak akan terjadi jika pemimpinnya diganti, jika Jaken dilengserkan.


"Tujuanku.. aku hampir lupa tujuanku sebelumnya. Tapi aku sekarang punya tujuan pasti! Aku bakal ngalahin Jaken!" jawab Yuuji lantang, menatap tajam Hiro.


Hiro dan Kenji memandangnya heran, dan kemudian melempar tatapan remeh. Keduanya tertawa kecil, seolah Yuuji sedang melucu.


"Ngalahin raja? Yakin? Sama kemampuanmu sekarang? Duit darimana?" pertanyaan itu membuat Yuuji kembali bergulat dengan tanda tanya. Ia memutar otaknya, berharap mendapat jawaban.


Tidak ada.


Chip miliknya hanya 55 dollar. Biaya menantang raja sangat besar, yaitu 3 chip oranye atau 3.000 dollar. Itupun jika dia kalah, dia akan menerima bullying dan uangnya tidak kembali.


"Mending kalo mau ngalahin pejabat catur, mending paling yang terkecil, deh. Misalnya benteng dulu," ucap Kenji sambil mendorong ponsel yang semula dipakai untuk main catur. Yuuji mulai tidak minat dengan catur dan hanya asal-asalan memindahkan bidak.


"Benteng II? Aoyama?"


"Iya, lah. Siapa lagi?" Hiro membalas dengan tatapan pasrahnya. Ia tahu Yuuji akan kecewa dengan kenyataan, pahit memang, tapi ia harus menelannya. Bahkan biaya untuk menantang benteng yang paling rendah saja cukup banyak.


Yuuji tak menjawab. Ia hanya menghela napas. Ketiganya mulai asik dengan keheningan meski di sekitar sangat bising. Bahkan saking asiknya, ketiganya tidak sadar jika sekelompok orang mendatangi mejanya.


"Denger nama Jaken sama Aoyama, nih. Mau ngalahin Aoyama, kah?"


Ketiga sekawan itu menoleh, kaget. Dan lebih kagetnya melihat Aoyama tersenyum di ujung meja mereka, menatap mereka remeh. Seolah sedang menatap makhluk sepele.


"Yuuji yang mau lawa—"


"Oh, peringkat 7 ini, ya? Pede banget, ya, mau ngelawan Jaken tapi peringkat kompetisi kecil ini aja cuma segitu. Yakin?" Pertanyaan yang sangat meremehkan itu menarik perhatian lebih dari Yuuji. Kata-kata Aoyama seolah menjadi api di atas sumbu emosinya.


Yuuji beranjak dari duduk. Ia menatap tajam Aoyama, berbanding terbalik dengan yang ia tatap. Aoyama tersenyum, menyeringai.

__ADS_1


"Ayo duel kalo berani."


...* * * * *...


__ADS_2