
Pada akhirnya slot dianggap sebagai mimpi buruk. Yuuji dan Kuro mencari cara untuk mendapatkan uang lebih banyak tanpa bermain permainan kasino—walau sebenarnya ini termasuk judi. Apalagi kalau bukan.. bingo!
Benar. Bingo. Permainan yang selalu diadakan setiap minggu dari sekolahan untuk membantu para murid miskin seperti mereka berdua—atau termasuk Fuji yang bokek setelah melawan Yuuji.
Hari ini, keenam pemuda tampan nan berani itu mendatangi spot bingo yang selalu diselenggarakan di sana. Kebetulan ini hari rabu, peminat bingo tidak terlalu banyak. Hal ini menambah peluang kemenangan. Semakin sedikit pemain, semakin banyak persenan kemenangan. Tetapi lebih kecil pula uang yang didapat.
Tapi.. apa sih yang sebenarnya dicari saat bermain slot atau bingo selain uang? Kemenangan. Rasa puas itu akan hadir saat piala pemenang didapat. Bukan hanya soal uang, tetapi title sebagai orang hoki juga menjadi suatu kebanggaan. Apalagi jika memenangkan lebih dari 1 kartu bingo. Wah.. pasti selama seminggu akan digadang-gadang sebagai si beruntung!
Yuuji dan Kuro segera membeli tiket. Mereka memilih-milih kartu yang diinginkan dan segera membawanya masuk. Yang lain juga sama. Begitupun dengan Tama. Meski dia enggan bergabung dengan manusia-manusia bodoh ini, tapi dia tidak bisa menolak.
Ketika melihat kartu yang diberikan, Tama memperhatikan beberapa angka di atasnya. Kemudian kembali memeriksa beberapa kartu. Pada akhirnya ia membeli 2 tiket dan membawanya masuk.
Di dalam, kedua bocah ambisius pencari duit itu sudah duduk di dekat meja caller, yaitu orang yang menyebutkan angka yang keluar. Hal ini berfungsi untuk mendengarkan lebih jelas angka apa yang disebut. Karena caller akan menyebutkan per angka dengan cepat, para peserta harus menyiapkan kuping dengan pendengaran tajam.
Tama duduk di kursi belakang Yuuji. Ia meletakkan bingo dabber, selotip, dan sebotol air mineral untuk permainan ini. Tama sudah mempersiapkan diri. Jelas, dia tidak mau melewatkan hal yang penting ini.
Sementara kedua teman di depannya malah asik beradu mulut dan menebak siapa yang mencapai bingo lebih dulu. Tanpa ada peralatan penting di atas meja, mereka terlihat masa bodoh.
"Wah, Senior Tama mempersiapkan semuanya. Aku lupa beli minum," celetuk Hiro yang duduk di sebelah kirinya. Diikuti Kenji yang duduk di samping Hiro.
"Beli keluar sana. Permainan masih ada 10 menit lagi. Kalau bisa sekalian beliin dua anak di depan ini," balas Tama sambil menunjuk Yuuji dan Kuro.
"Oke! Kenji, ayo keluar dulu," ajak Hiro yang dijawab anggukan oleh Kenji. Keduanya beranjak dan keluar dari ruangan untuk membeli minuman kaleng di dekat pintu masuk.
Fuji sendiri baru masuk setelah membeli tiket. Dia datang terlambat karena harus mengurus namanya di daftar pasien UKS. Luka-luka bonyoknya sudah mulai memudar meski masih sakit.
Kedua tangannya membawa 2 pucuk kartu bingo, kaleng minuman kopi, dan dabber. Ia melihat Yuuji dan Kuro yang diam memandangnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, dua anak dakjal itu tersenyum lebar sambil memberikan tempat di tengah-tengah mereka.
"Ayo duduk sini! Sini, sini!"
Mendapati sinyal yang kurang beres, Fuji melengos dan bergegas duduk di sebelah kanan Tama. Di situlah Yuuji dan Kuro menoleh ke belakang dan mendapati Tama dengan persiapan lengkap.
"Keren! Aku pinjem capnya, dong, Tama," rengek Kuro. Dengan secepat kilat Tama mengambil dabbernya dan menyimpan di saku seragam.
"Ih? Pelit banget!" seru Kuro ngambek.
"YA ELU SENDIRI UDAH IKUT BINGO MALAH GA BAWA CAP?!" balas Tama kesal. Kuro yang marah makin ngambek, dan dia memalingkan muka ke arah depan.
Yuuji hanya mengelus dadanya lalu beralih pada Kuro. "Kita ga bawa dabber. Gimana, dong?" tanya Yuuji perlahan mulai cemas. Bukan cuma tidak bawa, tapi sebenarnya Yuuji tidak punya. Sebelumnya dia jarang bermain bingo, sekalinya ikut ke ruang bingo, Yuuji langsung keluar karena bosan.
"Beli, yuk. Sekalian cari minuman. Pada bawa minuman, tuh," ajak Kuro sambil menunjuk ke belakang. Yuuji menoleh ke arah meja Fuji dan Tama. Di atas sana sudah ada minuman. Sepertinya permainan bingo membuang waktu yang banyak.
Akhirnya kedua anak penuh masalah itu berdiri dari kursi dan menitipkan tempatnya pada temannya. Mereka pergi keluar untuk mencari minuman sekaliam membeli dabber. Tak lama kemudian, Hiro dan Kenji kembali sambil membawa beberapa botol minuman.
__ADS_1
Keduanya cengo karena meja depan kosong. "Mereka nyari dabber. Biarin aja. Masih ada 5 menit, ga akan lama, kok," jelas Tama. Hiro meletakkan 2 botol air mineral di meja depan dan kembali duduk di kursinya.
Sembari menunggu waktu permainan dimulai, Tama memperhatikan kartu bingonya dengan saksama. Ia membeli 2 kartu. Kombinasi-kombinasi angka di atasnya acak, tapi Tama menghindari angka yang sama di 1 kartu.
"Senior.. ada yang salah dengan kartunya?" tanya Hiro sambil melihat kartu yang dimilikinya. Tama menoleh dan tersenyum.
"Tidak. Aku hanya memeriksa angka-angkaku. Aku kasih tips. Pilih kartu yang tidak punya banyak angka sama. Itu bisa mencakupi lebih banyak angka. Kalau kita bermain beberapa kartu sekaligus, hal ini memperbesar peluang untuk menang," jelas Tama santai sambil menyelotip kartunya di atas meja supaya nanti tidak kabur.
Hiro mengangguk-angguk dan ikut memasang selotip di meja. Sementara Kenji sudah lebih dulu menempelkannya dan menaruh sebuah cip kuning kecil di kotak bertuliskan 'free' di dalam kartu. Di mana kotak itu adalah kotak pertama untuk memulai bingo.
"Emangnya di sini ga disediain cap?" tanya Kenji sambil melihat dabber mereka masing-masing.
Fuji menoleh dan menatap Kenji datar. "Ini dikasih waktu habis beli kartu, kok," jawab Fuji, membuat kedua adik kelasnya terkejut.
"LAH?! Trus.. mereka berdua kenapa ga dapet?" lanjut Kenji syok. Fuji maupun Tama hanya mengangkat bahu tidak tahu. Kenji semakin panik dan bingung, kenapa temannya semakin ke sini semakin bodoh. Apa ini karena terlalu dekat berteman dengan Kuro?!
Selagi sibuk menenangkan diri, tiba-tiba dari pihak bingo sudah masuk ke ruangan dan duduk di kursi caller. Di mana permainan akan segera dimulai dan kedua bocah bodoh itu belum kembali.
"Selamat siang. Terima kasih atas partisipasinya. Aku akan memberitahu pola apa yang bisa dimenangkan, yaitu five in a row, blackout, X, dan 4 corners," jelas pria tersebut sembari menunjukkan pola yang disebut.
Five in a row adalah pola di mana angka bingo membuat pola miring dari ujung atas kiri ke ujung kanan atau cerminannya. Blackout di mana seluruh angka di atas kertas menjadi bingo—persenan untuk mendapatkan ini sangat sulit. Pola X yaitu membentuk huruf X. Sementara 4 corners adalah angka bingo di setiap pojokan kartu.
"Baik. Akan aku mulai sekarang, ya. Mohon perhatikan baik-baik," lanjut caller kemudian mulai memutar spinner bola bingo. Sebuah bola kecil menggelinding dan menunjukkan angka.
Yuuji dan Kuro tengah sibuk mencari dabber atau cip bingo di toko sekolah. Di mana tidak ada yang menyediakan. Kuro sendiri tidak memilikinya karena seumur-umur dia sekolah di sini, dia tidak pernah bermain bingo.
"Gimana, dong?" tanya Yuuji sambil meremas sekotak susu yang ia beli tadi. Kuro sendiri juga bingung karena tidak tahu solusinya apa.
Keduanya bergulat dengan pikiran sendiri, dan pada akhirnya berjalan kembali ke ruangan bingo.
Tetapi saat di jalan, keduanya bertemu dengan Paulo dan Emma. Mereka berhenti dan saling berhadapan. Paulo menatap Kuro dan Yuuji bingung.
"Kalian mau ke mana?" tanya Emma sambil memperhatikan kartu bingo di tangan Yuuji.
"Ke ruang bingo. Kita habis cari dabber tapi ga ada yang jual," jawab Yuuji sambil tersenyum tipis.
Dahi Emma mengernyit. Ia melirik ke arah Kuro yang sepertinya juga tidak tahu. Kemudian gadis bule itu menghela napas.
"Gini, ya. Dari pihak bingo pasti nyiapin dabber atau cip. Jadi kalian ga perlu repot beli di toko sekolah," jelas Emma sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Yahaha! Bodoh! Aku sudah tahu mereka menyiapkan itu! Bisa-bisanya kalian tidak melihatnya?" ledek Paulo tertawa keras. Emma menoleh ke arahnya dengan tatapan malas.
"Orang yang lupa ambil dabber mending diem aja," balas Emma langsung membuat Paulo kicep.
__ADS_1
Yuuji dan Kuro yang baru tahu bergegas pergi ke ruang bingo. Tetapi sebelum itu mereka harus membeli minuman lagi karena minuman mereka sudah habis saat berjalan ke sana-sini untuk mencari dabber.
Setelah membelinya, mereka masuk ke dalam dan mengambil dabber. Di dalam ada suara orang menyebut bingo. Yang mana kemungkinan permainan sudah berjalan cukup lama. Mereka segera duduk di kursi semula, di depan caller tepatnya. Buru-buru mereka memasang diri dan mendengar angka yang disebut.
"61."
Yuuji dan Kuro segera mencari angka 61 di kartunya. Yuuji mendapatkan di paling pojok, Kuro sendiri kosong.
"83."
Lagi-lagi Yuuji mendapat di pojok bawah kanan. Apakah akan menjadi 4 corners?
"12."
"Bingo!" seru Tama dari belakang Yuuji.
Caller menghentikan permainan sejenak dan mengambil kartu yang dimiliki Tama untuk memeriksa. Pola yang didapat adalah five in a row.
"Oke. Untuk bingo kali ini sudah selesai. Terima kasih untuk para peserta yang ikut. Silakan keluar dari ruangan. Untuk pemenang silakan ambil uangnya di ruang depan, ya. Terima kasih."
Caller menutup permainan. Para peserta lain beranjak dari kursi dan keluar ruangan satu per satu. Tama, membawa 2 kartunya yang semua adalah bingo.
"Senior Tama keren. Dapet 2 bingo!" puji Hiro kesemsem dengan kehokian Tama. Tama hanya mengangguk-angguk bangga. Ia menoleh ke arah Yuuji dan Kuro yang syok karena mereka baru duduk dan permainan sudah selesai.
Tetapi Tama langsung keluar dan pergi ke ruang depan untuk mengambil uangnya.
Di meja dalam, Kenji membantu Yuuji berdiri dan Fuji membantu Kuro. Walau dia sudah dipukuli, tapi Fuji tetap setia kawan. Setidaknya teman mereka mendapat bingo 2x dalam sehari. Itu artinya ada traktiran makanan.
Kedua orang itu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Melewatkan kesempatan emas demi mencari dabber bodong! Mereka sudah putus asa. Bahkan enggan pergi dari ruang bingo meski sudah ditarik sekuat tenaga.
Mereka dibawa ke taman dan didudukkan di sana. Diberi minum air mineral untuk menenangkan rapuhnya hati mereka. Tersendu, tidak menyangka hal ini cepat terjadi. Rasanya sakit sekali, mengsedih.
Tidak lama kemudian Tama mendatangi mereka dan membawa 2 kotak pizza di tangan. Kelima temannya melihat dirinya, melongo.
"Buat rayain kehokianku. Nih, ga usah sedih lagi," ucap Tama sambil memberikan kotak itu pada Kenji.
Fuji ikut membantu membawakan kotak pizza dan membukanya. Terlihat bentuk bulat padat, penuh dengan topping keju dan sosis serta jamur. Aroma yang menggoda menampar hidung mereka. Menarik gairah perut untuk segera melahapnya.
"MMMMM—MAKASIH BANYAK TAMAAA!" Kuro dan Yuuji langsung memeluk Tama erat. Keduanya menangis haru. Ternyata dalam cueknya, Tama masih perhatian. Malu rasanya pernah berpikir buruk pada Tama, meski faktanya Tama memang agak buruk.
Merasa pelukannya semakin tak terkendali, Tama mulai menggeliat. Ditambah kedua temannya semakin bringas menangisnya. Dan yang paling buruk akhirnya terjadi.
"Iya— bisa lepasin ga- ITU INGUS KALIAN NEMPEL DI SERAGAM! JIJIK!!"
__ADS_1
...* * * * *...