Casino School

Casino School
Episode 13


__ADS_3

Tidak bisa berbuat lebih, Rosalina hanya tertawa. Ia menatap ketiga pemuda yang berhasil membocorkan rahasianya selama ini. Kini tidak ada tempat lagi untuknya berlari. Ichiro sendiri sudah mengakui kecurangannya.


Jaken? Jangan harap Jaken akan membantu dirinya untuk keluar dari lubang kuburan yang sudah digalinya sejak lama. Kini Jaken hanya akan membantu Rosalina untuk menimbun tubuhnya di dalam agar tidak bisa menunjukkan diri lagi.


Pemuda itu, tidak, pejabat licik itu. Rosalina tidak bisa mengemis bantuannya lagi.


"Sudah cukup, Rosalina. Bisakah kamu umumkan ke publik soal ini?" tanya Tama sambil membantu Fuji membereskan barang-barang yang sudah dibongkar.


Rosalina mendesis pelan. "Tanpa kamu suruh juga aku bakal ngomong."


Gadis itu beranjak dan mendekati salah satu kamera. Berdiri di depannya dengan tatapan datar. Sudah tak ada lagi harapan untuk bertengger di posisi ini.


"Aku Rosalina, murid kelas 3 Heart, mengaku selama ini menggunakan cara curang untuk memenangkan pertandingan dan mendapat popularitas."


Kenji dan Hiro langsung memeluk Yuuji. Ketiganya bersorak merayakan kemenangan. Di setiap kamera yang menyala, memamerkan betapa hebatnya mereka. Sampai staff streaming harus ke sana untuk mematikan kamera.


Setelah itu, para guru dan staff segera meringkus dirinya, Ichiro, dan Yu Zi. Mereka dibawa ke kantor kepala sekolah. Peringkusan mereka disaksikan seluruh murid. Di mana Rosalina langsung dikeluarkan, sementata Ichiro dan Yu Zi mendapat hukuman denda dan skors 3 bulan.


Kejadian itu membuat Yuuji terlepas dari belenggu bullying. Meski ada beberapa yang menyindirnya, tapi tidak separah dulu. Apalagi kabar tentang FujiTamaKuro yang menjadi komplotannya membuat orang lain berpikir ulang untuk merundung Yuuji.


Begitu juga dengan Fuji yang senantiasa membimbing Yuuji. Ketiga kakak kelas Yuuji itu membantunya untuk mengalahkan Benteng I yang sudah menjadi target Yuuji sejak lama. Dengan penuh kesabaran, mereka membeberkan apapun yang mereka tahu.


Mengingat mereka dulu pernah duduk di pejabat catur dan bisa mengulik lebih banyak informasi detil. Data pribadi Wu Xia Zhu memang tidak banyak yang tahu. Fuji adalah salah satu dari sekian pejabat yang mengetahuinya. Hal ini semakin mempermudah Yuuji.


Di sisi lain, di ruangan tahta. Jaken tengah dipojokkan. Meski tidak secara gamblang mereka menyindir, tapi Jaken bisa merasakan kepercayaan para anggota sedikit berkurang. Jaken tidak peduli, karena Rosalina hanyalah satu di antara semua bonekanya.


"Wahahaha! Suzuki, lihat pacarmu itu! Untung Rosalina ga bocorin, ya~" ledek Xia Zhu. Suzuki hanya melirik, lalu mendekat Jaken dan mengelus lengan kekarnya.


Jaken menghela napas berat. Ia menatap sekitar, melihat para anggota yang masih asik dengan urusannya sendiri. Lalu dirinya menatap tajam ke arah pintu, di mana sebuah ketukan mengheningkan bisingnya ruang tahta.


"Siapa, sih? Ganggu aja," gerutu Xia Zhu. Kedua kaki yang berada di atas meja langsung ia turunkan demi menjaga imej yang sudah dibangunnya sejak lama.


Suzuki mendekat ke arah pintu dan mengintipnya dari peephole. Namun gadis itu buru-buru mundur dan menoleh ke arah Jaken. Kedua matanya melebar, terkejut, seolah baru melihat kematian yang bersiap mencabut nyawanya.


Mendapati tatapan Suzuki, Jaken langsung melihat laptop di samping yang menunjukkan cctv di depan pintu.


Para anggota lain mulai resah. Melihat respon Suzuki yang tidak biasa membuat mereka penasaran, tapi di sisi lain takut jika hal yang tidak diinginkan terjadi.


Ketukan kedua terdengar dan sedikit keras. Jaken segera beranjak dan menyingkirkan Suzuki dari sana. Berniat menghadapinya sendiri, Jaken membuka daun pintu tersebut. Menyambut tamu tak diundang mereka.


"Wah, sebuah penghormatan besar seorang Raja sendiri yang menghadapi aku."


"As you wish."


...* * *...


Dengan bimbingan ketiga kakak kelas, Yuuji semakin sibuk dibuatnya. Selain untuk mengetahui beberapa cara permainan Xia Zhu, Yuuji juga belajar untuk menggunakan strategi dalam bermain kartu remi.

__ADS_1


"Kamu mau tahu cara bermain blackjack?" tanya Fuji sambil melempar kartu yang ada di tangannya. Mereka berenam tengah bermain remi di kantin sambil menunggu jam pelajaran selanjutnya dimulai—meski mereka sering bolos.


Kenji melirik Yuuji yang masih fokus dengan angka-angka kartu di meja. Tampaknya pemuda itu tidak peduli dengan Fuji, membuat kakak kelasnya tertawa kecil.


"Yuuji, responmu yang kayak gitu bikin lawanmu tahu kalo kamu udah di ambang kalah," lanjut Fuji. Kali ini Yuuji menoleh padanya dan melirik beberapa kartu di tangannya.


Fuji meletakkan kartunya terbuka di atas meja, menghentikan permainan yang langsung disambut eluhan Kuro dan Tama. Kedua temannya itu sedang bertaruh dan Fuji merusak permainan lagi.


"Fuji ga usah ikutan!" seru Kuro lalu menarik kartu di tangan Yuuji dan mengumpulkannya untuk dikocok kembali. Fuji tertawa dan membawa Yuuji untuk menyingkir.


Di sisi meja lain, Fuji memberi arahan pada Yuuji mengenai permainan remi, terutama blackjack yang digandrungi banyak siswa-siswi di sini. Permainan individual melawan dealer. Namun dalam kasus di sekolah ini, dealer dalam blackjack biasanya orang yang dilawan.


"Biasanya Ichiro sebagai dealer. Tapi kalo kamu ngelawan Xia Zhu, Xia Zhu-lah yang jadi dealernya," jelas Fuji sambil membawa sebuah deck kartu remi.


Ia mengeluarkan kartu-kartu itu dan menumpuknya di depan Yuuji. Adik kelasnya menatap Fuji, lalu beralih ke kartu.


"Trus, Ichiro sebagai apa? Tapi kalo blackjack biasanha 7 orang, kan?" tanya Yuuji sambil mengambil sebuah kartu paling atas.


Fuji mengangguk mantap. "Ichiro jadi pengawas aja sambil nyatat chip siapa yang paling banyak dalam 1 ronde. Permainan blackjack di sini seperti blackjack umumnya, kok. Bedanya buat menang di sini, kamu harus dapetin chip lebih besar dari total chip taruhanmu."


"Contohnya, lawan beteng itu perlu 200 dollar. Buat menangin dealer, chipmu harus lebih dari 200 dollarmu atau sampai di 7 putaran, chip yang tersisa lebih banyak dari yang lain. Ada 7 giliran di setiap rondenya. Untuk 6 orang lain biasanya harus nunggu 6 lawan lain, jadi total chip di atas meja ada 1.600 dollar. Ini berlaku buat nantang pejabat di atas pion. Kalo sama-sama pion, itu terserah aturan pion."


Yuuji mengernyit, ia menatap Fuji bingung. "Tapi bakal lama banget kalo harus nunggu 6 orang, kan?"


"Sangat lama. Makanya blackjack bukan pilihan tepat buat yang pengen cepet duduk di tahta. Tapi pilihan yang bagus buat nyari chip banyak," jawab Fuji.


Tampaknya blackjack cukup menggiurkan. Tapi di sisi lain waktunya tidak banyak untuk mengalahkan Jaken sebelum Sang Raja itu lulus sekolah. Menunggu 6 orang lain untuk mengalahkan Xia Zhu itu percuma, orang akan memilih posisi lebih atas jika memang harus menunggu selama itu.


Fuji terlihat senang ketika melihat Yuuji yang sedikitnya tertarik dengan blackjack. Ia mengambil sebuah kartu di atas tumpukan itu dan meletakkannya di sisi kanan badannya.


"Kamu bisa daftar buat ngelawan pejabat selagi nunggu 6 orang. Pihak pejabat akan mempercepat waktu permainan kalau ada di beberapa kondisi. Yang pertama, pejabat yang kamu lawan emang mau main 1 vs 1 dengan blackjack, tapi ini sangat jarang terjadi karena kerugian yang didapat sangat besar. Orang pertama yang ngelakuin ini adalah Jaken."


Pemuda itu kembali menarik kartu dan meletakkannya di sebelah kiri kartu pertama.


"Kedua, 6 peserta lain adalah pejabat semua. Itu artinya kamu yang bakal jadi dealer. Posisinya dibalik. Ini pernah terjadi beberapa kali dan pihak penantang kalah."


Yuuji menghentikan Fuji, ia menarik kartu kedua yang diambilnya. "Yang kedua kenapa kelihatan lebih serem daripada yang pertama, sih," gerutu Yuuji.


Tidak ada tanggapan, Fuji menarik kartu ketiga dan menunjukkannya pada Yuuji. Sebuah kartu AS hati.


"Terakhir, pejabat yang kamu tantang ini lengser sebelum memenuhi tantanganmu dan pejabat baru bisa menentukan mau lanjut main blackjack atau permainan lain. Tantangan yang dikirim ga bisa dibatalin. Mau ga mau, kamu bakal ngelawan pejabat baru."


Mendengar penjelasan Fuji, opsi menunggu 6 orang lain adalah hal yang paling aman. Tapi ini bisa menjadi bumerang karena Yuuji adalah lawan dari para pejabat. Tentunya mereka tidak sebodoh itu, mereka pasti tahu tujuan awal Yuuji seperti apa. Dan tidak segan mereka akan membalikkan posisi seperti kondisi kedua.


Tapi chip yang didapat cukup menggiurkan. Yuuji berpikir selama ini dirinya sudah beruntung dan memang hoki. Hanya karena kasus Rosalina kemarin yang membuatnya tersendat.


"Kayaknya.. kayaknya aku bakal pake cara lain aja, deh. Ini terlalu nanggung risiko. Toh, aku masih ngumpulin chip buat ngelawan Xia Zhu. Informasi darimu udah cukup, sekarang tinggal nyari buat taruhannya," jelas Yuuji sambil meletakkan kartu kedua Fuji di meja.

__ADS_1


Fuji hanya mengangkat kedua alisnya dan mengumpulkan kartu-kartu itu. "Oke, aku bakal bantuin kamu buat latihan kartu mana aja yang biasa Xia Zhu pakai."


Lantas, keduanya kembali bergabung dengan rekan lainnya yang sudah bermain 5 ronde. Di ronde kali ini mereka ikut bertaruh, termasuk Yuuji. Mengingat dirinya harus berlatih untuk mempersiapkan mental melawan pejabat lagi, Yuuji harus melawan seseorang yang sekiranya sepadan. Dan FujiTamaKuro-lah yang pantas.


Levelnya bukan pion asal-asalan lagi, tapi pion yang berotak pejabat. Kini Yuuji tahu kenapa banyak orang secerdas FujiTamaKuro yang memilih diam di bawah daripada duduk di tahta, karena mereka sudah cukup lelah dengan tugas pejabat dan malas menggubris orang-orang bodoh yang menantangnya.


Ternyata mengamati orang atas lebih menyenangkan daripada berada di sana. Meski begitu, tekad Yuuji untuk mengalahkan Jaken tidak padam. Maka dari itu FujiTamaKuro yang sebagai pengamat terus mendukungnya.


...* * *...


Hari-hari terus berlanjut. Di mana Yuuji telah mengumpulkan 200 dollar untuk melawan Xia Zhu. Berkat bantuan teman-temannya, Yuuji berhasil mendapatkan taruhan selama seminggu. Mereka menggunakan blackjack sebagai aliran dana untuk Yuuji.


Dengan membawa 2 chip hitam, Yuuji melangkah santai ke ruang tahta. Sudah sangat jelas Xia Zhu tidak akan keluar dari ruangan ini selain untuk tidur di perpustakaan atau pulang ke asrama.


Jantung Yuuji berdetak kencang. Grogi dan takut, tentu saja. Sudah lama dirinya tidak mendekati ruangan ini. Mengingat terakhir kali dia di dalam ketika melihat Xia Zhu dan Suzuki beradu argumen.


Setelah mengetuk pintu dan menunggu cukup lama, akhirnya seseorang membukanya. Itu adalah Suzuki, perempuan cantik milik Jaken.


"Silakan masuk. Kami sudah menunggu," ucap Suzuki.


Yuuji semakin tak karuan mendengar Suzuki. Itu artinya para pejabat memang tahu dia akan datang, kan?!


Sambil mempersiapkan hatinya, Yuuji melangkah mengikuti Suzuki. Sesampainya di dalam, para pejabat lain sudah duduk di kursinya masing-masing sambil melihatnya. Suzuki menunjuk ke salah satu spot, di sebelah kursi yang pernah ia duduki sebelumnya.


Namun hal yang dilihatnya membuat pemuda itu mematung. Ia melangkah mundur dan hampir ambruk ke belakang karena saking kagetnya. Sosok yang dia lawan sudah duduk di sana. Tapi bukan Xia Zhu.


"Wahahaha! Apa lawanmu ini bikin kaget, Kuga Yuuji?" tanya salah satu petinggi di sana, Paulo, Sang Kuda I. Pertanyaan itu disambut gelak tawa para pejabat lain.


Yuuji melihat sekitar, ke arah para pejabat yang beberapa masih sama dan lainnya sudah berbeda. Yang mana itu semakin membuat Yuuji bingung sekaligus terkejut.


Suzuki membawa Yuuji mendekati meja Benteng I yang akan ia lawan. Tapi tampak langkah Yuuji sangat berat dan hampir tak mau bergerak. Namun dengar dorongan lembut Suzuki, Yuuji akhirnya mengikutinya.


"Apa 2 chip hitamnya sudah siap?" tanya Suzuki. Yuuji mengangguk, wajahnya sudah sangat pucat saat melihat sosok yang duduk di kursi Xia Zhu dulu.


"Kayaknya kamu tertarik main blackjack. Kita bisa langsung main blackjack kalau kamu mau." Mendengar itu, Yuuji langsung menoleh ke arah Suzuki, lalu berpindah ke tempat Benteng I.


Ia sudah sangat yakin jika Fuji membocorkannya dan memang merencanakan ini. Pantas saja Fuji sangat ingin Yuuji menggunakan permainan tersebut untuk melawan Xia Zhu.


"Fuji! Aku ga pernah bilang tertarik!" seru Yuuji kepada Benteng I, yaitu Fujiyama. Tawa pejabat lain menutup elakan Yuuji. Lantas dengan santainya mereka mengeluarkan 2 buah chip hitam di atas meja.


Ada 6 pejabat yang sudah siap untuk mengisi slot kosong. Yang mana artinya kini posisi Yuuji dibalik. Dialah yang akan dilawan 7 pejabat demi posisi Benteng I.


"Kumpulkan chipnya di tengah," perintah Suzuki yang langsung diikuti para pejabat yang ikut. Di mana ketiga di antara 7 orang itu adalah Fuji, Tama, dan Kuro.


Benar. Ketiga pemuda itu kembali masuk ke dalam jajaran para pejabat, yang entah sejak kapan mereka duduk di tahta ini. Yang jelas ketiganya kini berniat untuk melawannya dalam permainan blackjack.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2