
Dengan status baru setelah berhari-hari menjadi bahan gunjingan. Yuuji telah kembali ke ruang tahta sebagai Benteng I. Mengalahkan sosok Fuji yang seharusnya lebih berhati-hati.
Kemenangan Yuuji disambut hangat oleh Kuro dan Tama. Walau temannya tumbang, keduanya tetap baik pada Yuuji. Begitupun dengan Fuji yang ceroboh. Beberapa kali Tama mengomel karena perhitungan salahnya.
Kabar tentang kenaikan pangkat Yuuji langsung menyebar ke penjuru kelas termasuk kelas Kenji dan Hiro. Kedua sahabat Yuuji yang tidak ikut campur soal pertandingan ini bergegas mencari Yuuji.
Seperti di tempat sebelumnya, Yuuji tengah bersama ketiga seniornya. Dengan label Benteng I, tentunya Yuuji menjadi sorotan.
"YUUJI!" teriak Kenji sambil berjalan cepat mendekat.
Yuuji menoleh, dengan santai ia menepuk-nepuk tempat kosong di kursi sebelahnya. Seolah ia tahu akan diwawancarai dan menunggu sejak tadi.
"Kenapa?! Kapan kamu ngelawan Xia—"
Dengan cepat Yuuji menutup mulut Kenji.
Fuji yang sejak tadi masih asik dengan teka-teki silang langsung menutup buku kuis itu. "Benteng I itu aku," ucap Fuji.
Kenji dan Hiro sendiri tidak mengerti apa yang dikatakannya. Keduanya lalu duduk manis di sebelah Yuuji dan menyimak.
"Singkatnya begini. Waktu aku lihat Yuuji di hari pertama dia masuk, aku udah tertarik. Kami bertiga suka sama tingkah Yuuji. Kabar tentang Aoyama yang tumbang bikin Yuuji di mata kami semakin menarik," jelas Fuji.
Ia meletakkan bolpoin dan buku kuis lalu menautkan kedua tangannya di atas meja. Pandangannya tertuju pada Yuuji yang sejak tadi diam memperhatikannya.
"Kami bertiga punya dendam ke Jaken dan kawanannya. Aku mulai nyari tahu soal Yuuji. Rencana awal kami mau ajak Yuuji buat kerjasama, tapi karena Yuuji nolak, akhirnya kami diam dulu."
Fuji menghela napas sejenak.
"Kami lihat pertandingan Yuuji dan Rosalina. Dari situ kami punya harapan buat ngebongkar Rosalina, itu cara paling dasar buat ngehancurin struktur orang-orang Jaken. Kami rasa udah saatnya Yuuji diajak. Dan kami mulai pendekatan sama Yuuji. Tapi selama bareng Yuuji, kami ga bisa terus-terusan diam dan jadiin Yuuji boneka. Maka dari itu kami maju dulu buat mangkas beberapa anak bawahan Jaken."
Kenji lalu mengangkat tangannya. Fuji menatapnya, memberi tanda untuk mempersilakan Kenji berbicara.
"Kamu bilang ngebongkar Rosalina itu cara paling dasarnya. Rosalina ada hubungannya sama pejabat?" Pertanyaan yang membuat ketiga senior diamond itu terkejut, tapi juga tertawa.
"Iya. Rosalina itu bonekanya Jaken. Intinya dia diutus buat nurunin siapapun yang bukan bawahan Jaken. Makanya semua pertandingannya ga ada yang dipublikasi."
Mendengar itu, Kenji dan Hiro kaget. Mereka saling berpandangan, tidak ada respon lain. Meski di dalam otak mereka pernah mengira Rosalina ada hubungan khusus dengan Jaken, tapi mereka tetap tidak menduga jika tebakan mereka tepat.
"Kami ngelawan pejabat sebelumnya waktu Yuuji sibuk ngumpulin chip. Selama itu Jaken belum merilis jabatan terbaru karena ini cukup memalukan. Ada 3 anak buahnya yang langsung tumbang dalam sehari. Apa kata murid lain nanti?"
Hiro lalu menyela, menaikkan tangannya cepat. "Jadi sekarang kalian menjadi pejabat dan Yuuji malah mengalahkan Fuji. Apa itu ga rugi?" tanya Hiro.
Kepala Fuji, Tama, dan Kuro menggeleng santai. "Dalam hal ini aku cuma ngasih jalan buat Yuuji. Karena aku sendiri udah balas dendam ke Rosalina. Ini udah cukup. Tujuanku ke Jaken engga sebesar Tama dan Kuro," jawab Fuji.
"Aku sengaja kalah waktu di blackjack kemarin. Aku tahu Tama kesal karena aku ngubah rencana tiba-tiba, tapi aku sendiri udah malas berurusan sama Jaken dan sekawanannya. Jadi biarin Yuuji yang ngelakuin itu bareng mereka," jelas Fuji yang langsung dibalas pukulan dari Tama.
Tama mendengus, kesal.
__ADS_1
Pasalnya dia sudah sangat percaya diri jika Fuji akan menang. Perkiraan Fuji dalam card counting sangat jarang meleset. Apalagi detil yang mudah diingat dari gelagat Suzuki.
Dalam putaran kedua saat Suzuki menahan Yuuji untuk memasukkan kartu-kartu ke dealing shoe. Suzuki tidak memasukkannya ke mesin. Memang benar ada 8 deck kartu, tapi 4 deck sebelumnya tidak lengkap karena sisanya sudah terpakai dan Suzuki sembunyikan.
Dalam arti lain Suzuki memang berniat untuk mengacaukan card counting para pemain yang tidak mengamati detil gerakannya.
Setelah mendengarkan penjelasan Fuji, kedua juniornya hanya diam. Mereka tidak tahu harus merespon apa karena merasa selama ini tertinggal. Apalagi tidak tahu tentang Yuuji yang tiba-tiba mendatangi ruang tahta, melakukan pertandingan gila melawan 7 pejabat sekaligus.
"Jadi, apa rencanamu sekarang?" tanya Kenji menoleh ke Yuuji.
Dengan santainya Yuuji menunjuk Kuro. "Aku mau lawan dia," lanjut Yuuji.
Kuro yang sejak tadi diam langsung tertawa terbahak. Ia memukul-mukul meja kantin, perutnya keram. Lelucon yang bagus, Yuuji.
"HAHAHA! Jangan bercanda, Yuuji! Bukannya kamu mau ngelawan Jaken langsung?" tanya Kuro di sela menahan tawanya.
"Aku serius." Kedua mata Yuuji menatap Kuro tajam, tapi bibirnya merangkai senyuman.
Seketika Kuro terdiam. Sesaat kemudian kedua matanya menajam dengan seringai. Keduanya saling bertatapan, sorot mata yang saling melawan.
"Hehe. Candaanmu ga lucu, lho," balas Kuro.
"Aku bukan komedian, Senior Kuro. Ayo tanding."
Tidak ada jawaban. Tapi tatapan Kuro sudah dipastikan jika dirinya setuju.
Tama lalu menengahi keduanya ketika mereka tidak berhenti saling menatap.
"Aku yang bakal jadi moderatornya. Karena Ichiro sendiri belum bisa," ujar Tama berhasil mengalihkan perhatian kedua pemuda yang penuh semangat tarung itu.
Hiro lalu menyeletuk ketika Yuuji dan Kuro protes. "Aku perhatikan kok banyak moderator dari Kelas Diamond, ya?" tanya Hiro.
Tama menoleh dan tersenyum. "Karena Kelas Diamond lebih elegan dan terkesan bisa dipercaya," jawabnya santai.
Seketika ketiga adik kelasnya diam. Benar, Kelas Diamond yang berkecimpung dalam dunia politik dan bisnis, tentunya terlihat berkelas dan pantas. Memang tampak bisa dipercaya. Tetapi ketika kita mengingat kejadian lalu, rasanya mereka jadi sulit dipercaya karena reputasi Ichiro yang anjlok.
Tama sendiri juga menyadari itu. Tapi selama dirinya tidak berbuat curang, namanya akan selalu aman dan bersih seperti sekarang.
"Lalu, kalian mau main apa?" tanya Tama sambil mengambil buku kuis milik Fuji.
"Mmmm.. Yuuji, kamu mau coba sesuatu yang baru?" Kuro memandang Yuuji.
Yuuji diam untuk berpikir. Jika diingat dirinya selalu berjudi dengan kartu dan permainan kasino lain. Rasanya sedikit bosan. Seolah hanya itu-itu saja. Mengandalkan keberuntungan dan taktik.
"Mau, sih. Menurutmu apa?" tanya Yuuji balik.
"Taruhan sepak bola, mau?" tawar Kuro yang langsung ditolak Yuuji.
__ADS_1
Keduanya kembali memutar otak. Memikirkan permainan apa yang bisa dijadikan pertandingan. Momen yang langka, berdiskusi dengan lawan sendiri.
Dikarenakan sudah hampir 15 menit tidak ada hasil, akhirnya Tama menyerah dan membuat keputusan sendiri.
"Oke. Karena aku moderator dan otak kalian terlalu lelet—prosessor otakmu apa, sih? Oke, aku yang akan memutuskan kalian main apa."
Kuro dan Yuuji berseru, mereka kembali menolak.
"Emang mau mikir sampai berapa lama lagi?" tanya Tama ketus. Keduanya tidak bisa menjawab.
Tama menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. Buku kuis yang ada di tangannya ia letakkan di meja. Telunjuknya menunjuk buku tersebut.
"Kalian ga suka taruhan bola, udah bosen sama kasino, dan malas ngandelin kehokian. Maka teka-teki silang-lah solusinya!" seru Tama percaya diri.
"Enggak mau," jawab Kuro dan Yuuji bersamaan.
"HAH?! Trus kalian mau apa?! Otak lemot kalian ini bisa menjadi tes kesabaran untuk orang pintar sepertiku ini!" Tama memukul-mukul buku kuis Fuji karena kesal dengan penolakan.
Fuji langsung menarik buku kesayangannya yang kemudian menjadi rebutan dengan Tama. Sementara Yuuji dan Kuro kembali bergelut dengan diskusi permainan untuk pertandingan.
Tinggallah Kenji dan Hiro yang masih waras. Hiro mengamati buku milik Fuji, lalu beralih ke kedua calon peserta useless itu. Otaknya yang lumayan encer mulai bekerja.
"Ah! Main sudoku aja!"
Seruan Hiro berhasil menghentikan keempat pemuda ribet itu. Mereka menatap Hiro datar, seolah tak percaya dengan ide Hiro barusan. Tapi Hiro tahu jika pasti ada penolakan, dengan cepat ia merebut buku Fuji dan menunjuk salah satu halaman berisi teka-teki silang.
"Lihat, kalau teka-teki silang itu ada clue di bagian bawah kolom. Mungkin tidak cocok untuk para penjudi yang suka pakai taktik dan keberuntungan. Kalau sudoku sendiri, permainan itu bisa pakai strategi perhitungan dan kehokian."
"Aku pernah baca, di semua kolom sudoku ada hitungan dan strateginya. Aku rasa itu lebih menantang daripada teka-teki silang yang udah ada clue-nya, kan?"
Keempatnya diam sejenak. Yuuji dan Kuro saling berpandang dan mengangguk-angguk kecil, seolah setuju. Kemudian mereka berdiri dan menatap Tama.
"Ayo, kita main sudoku!"
Tama terkejut, namun kembali memasang ekspresi datar. "Oh, yakin, nih?"
"YAKIN! Meski otak kami ga seencer cinta kami pada cewek-cewek cantik, tapi selama ada taktik dan hoki, pasti bisa!" jawab Kuro lantang.
"Engga, aku ga semesum itu, jadi jangan sebut aku sebagai 'kami'." Koreksi Yuuji tidak digubris oleh Kuro dan langsung menggenggam tangannya.
"Ayo, Yuuji! Kita tanding!"
Tama segera menahan keduanya. "Hei, hei. Kalian udah bukan pion lagi, lho. Yuuji kalau mau ngelawan harus punya chip dulu. Yakin udah ada?"
Kuro menoleh ke Yuuji. "Ada, kan? Ada, dong. Masa ga ada, sih. Ya, kan? Langsung gas ga, si?" tanya Kuro enteng.
"YA GA ADA, LAH! Chipku abis buat ngelawan Fuji!"
__ADS_1
...* * * * *...