Casino School

Casino School
Episode 21


__ADS_3

"Loh? Fuji beneran pergi?" tanya Yuuji setelah sampai di meja. Di tangannya ada bermacam brosur makanan dari berbagai stand. Diikuti Kuro dari belakang yang langsung nyelonong duduk di kursi milik Yuuji. "Woi!" seru si empu kursi sambil melayangkan pukulan di kepala Kuro.


Hiro mengangguk santai. "Katanya ada keperluan. Tapi aku lihat dia sumringah gitu," lanjutnya.


"Paling ketemu ciwik. Eh, jadi kepo, deh, tipenya Fuji gimana. Anaknya lempeng aja dari dulu," celetuk Kuro. "Gimana tipemu, Yuuji?" tanyanya sambil menatap Yuuji kepo.


Diam sejenak, Yuuji memikirkan gadis seperti apa yang dia sukai. Jika diingat, selama ini Yuuji tidak tertarik pada siapapun kecuali mainan. Pernah terjadi kejadian yang membuat Yuuji canggung bertemu dengan salah satu gadis saat SMP. Saat itu Yuuji salah masuk kamar mandi dan melakukan suatu hal pada seorang gadis menangis di dalam bilik. Karena saat itu kamar mandi sepi, Yuuji berpikir itu adalah hantu dan menyiramnya dengan air. Ternyata gadis itu murid dari kelas sebelah yang menangis karena putus dengan kakak kelasnya. Kenapa Yuuji bisa masuk sana? Tanyakan pada kejahilan Hiro dan Kenji. 🙏


Mungkin hanya itu kenangan Yuuji bersama seorang gadis. Setelahnya Yuuji membalas sakit hati si gadis dengan cara memukuli kakak kelasnya, sekaligus sebagai tanda permintaan maaf. Sejak itu Yuuji tidak berani berurusan dengannya sampai lulus.


"Wah, kenapa malah mendongeng? Padahal aku mau tahu tipemu kayak apa," ucap Kuro sambil menyeruput es serutnya. Tidak ada yang tertarik dengan cerita cinta Yuuji—karena memang tidak ada.


"Tidak spesifik. Tapi mungkin aku suka yang kalem, lembut, dan suka membuat kukis," jawab Yuuji sambil mengira-ngira gadis apa yang tepat untuk jiwa barbarnya.


"Oh, bagus. Aku punya rekomendasi untukmu," ucap Kuro, Yuuji mengeryit dan merapatkan diri. "Penjual kukis."


Sebuah bogeman menghantam pipinya, sebagai bentuk tanda terima kasih Yuuji atas bantuannya. Kenji memalingkan wajah seolah tak mendengar dan berusaha untuk menahan tawa. Hiro, memilih meninggalkan kesadarannya dan terlelap di atas meja.


...* * *...


Hari senin telah tiba. Setelah menghabiskan sehari penuh dengan bermain, Yuuji kembali pada aktivitas harian. Bersama dua sohibnya, ia melangkah keluar dari gerbang asrama putra. Di belakang, tiga senior kelas 2 Diamond menyusul. Saling bertegur sapa sebelum pergi ke gedung sekolah.


Hari ini mereka mengadakan upacara di gedung olahraga. Menyanyikan lagu nasional bersama, lalu bubar kembali ke kelas masing-masing sebelum akhirnya berpencar untuk mendatangi kantin.

__ADS_1


Sama seperti episode sebelumnya. Enam remaja kita mendekam di satu meja panjang kantin yang sudah menjadi markas pertemuan. Bukan lagi taman Spade untuk berkumpul, tapi kadang masih sering ke sana.


Kuro sudah lebih dulu membeli 5 buah tiket lotre, mengingat Nyonya Hebihime adalah donatur utama lotre minggu ini dengan hadiah yang fantastis. Tidak kapok dia bermain lotre, menghabiskan uang, dan melupakan pertandingan dengan Yuuji yang tertunda.


"YUUJI! BELI LOTRE!" perintah Kuro lalu menaruh kelima tiketnya di hadapan Tama yang tengah membaca buku politik. Walau tanpa penjelasan, Tama menerima kelima kertas itu dan menggosok setiap kolom satu per satu. Hingga seluruhnya terbuka, Kuro menyimpannya dengan hati-hati di dalam saku seragam.


"Yakin menang?" tanya Tama santai sambil membaca sederet paragraf di halaman ke 182.


"Masa pesimis, sih? Calon pemenang, nih," jawab Kuro penuh percaya diri sambil menaruh tangan yang mengepal di dadanya.


Tama enggan menjawab, sudah lelah akan keidiotan Kuro yang semakin lama berkembangbiak dengan baik.


Keenam anak itu kembali pada kegiatannya masing-masing. Meski kabar ujian pertengahan semester sudah diumumkan, tampaknya yang antusias dengan nilai bagus hanyalah Tama—atau ini hanya formalitas supaya dia dianggap anak rajin dan pintar. Bahkan Hiro sendiri memilih nonton konser AKB48. Kali ini Fuji melewatkan agenda wotanya demi mengirim pesan pada seseorang, yang mana itu menaruh perhatian Kenji untuk penasaran.


Bukan nama yang asing dan foto profil yang familiar. Ingatan Kenji sedikit memudar dengan paras manis di pojok kiri atas kolom chatting. Sudah jelas, dari surai cerah bagai baju cewek kue, itu adalah gadis yang pernah berbuat curang dalam permainan judi di sekolah.


Rosalina.


Aha. Tidak tahu apa yang terjadi, otak Kenji hanya suka menebak. "Pacar barumu?" Nenot! Salah besar. Fuji melirik dan membalas dengan senyuman yang lebih lebar, seolah sedang mendapat 1 poin kemenangan.


"PDKT, ya?" sekali lagi Kenji menjawab dan kembali tak digubris. Kenji sudah lelah dan beralih pada Yuuji yang sedang berbincang dengan Kuro mengenai perjudian.


Rutinitas yang membosankan, Kenji menyebar pandangannya ke seluruh kantin. Mengulik setiap sisi, siapa tahu ada hal menarik yang bisa ia bicarakan bersama. Tidak ada, kedua bola mata tak menangkap apapun yang seru. Tapi samar-samar indera pendengar menyaring beberapa kalimat dan pembicaraan orang lain. Tak sengaja menguping dan berakhir membuat semakin penasaran, Kenji semakin memperjelas pendengarannya demi mengetahui hal yang sepertinya penting.

__ADS_1


Pertandingan akhir tahun. Perjudian besar-besaran. Tamu VVIP. Dan ada yang menyebut kelompok Jaken. Itu artinya.. para pejabat? Apa ini berita besar?


Kenji meraih ponselnya dan membuka beranda berita sekolah. Sebuah postingan rilis beberapa menit lalu tentang pertandingan akhir tahun yang akan diadakan bulan Desember. Tampaknya sekolah judi ini tidak membiarkan anak didiknya untuk menikmati liburan musim dingin bersama keluarga di rumah, ya.


Dalam sekejap saja, beberapa orang di kantin mulai membicarakannya. Kehebohan mulai terjadi. Apa ini sangat dinanti? Sungguh? Bukankah ini pertandingan biasa?


Kenji membaca hingga kalimat terakhir di kolom berita tersebut. Memang tidak rinci pertandingan seperti apa. Yang jelas, pertandingan ini sama seperti pertandingan besar sebelumnya. Setiap murid boleh ikut dan siapapun yang mendapat kekayaan terbanyak, dialah pemenangnya. Wah, orang bodoh dalam judi tentu memilih untuk pulang kampung.


"Bukankah itu sebentar lagi?" celetuk Hiro sambil menutup layar utubnya, dia baru menyelesaikan konser terbaru dari generasi tahun lalu. Kenji tak tahu pasti dan hanya mengangguk sebagai jawaban seadanya.


Tama menutup bukunya, lalu menatap teman-temannya yang mulai menaruh atensi pada kabar besar ini.


"Itu diadakan setelah ujian. Semua murid memang bisa ikut, tapi ada tamu VVIP yang punya privilege untuk menduduki peringkat atas," jelas Tama sambil memandangi satu per satu manusia di depannya.


"Apa bedanya tamu VVIP dan murid biasa?" tanya Kenji.


"Tamu VVIP bisa mendapat poin tambahan. Biasanya dimulai dari 0 poin, tapi tamu VVIP dimulai dari 7 poin. Perbedaan ini lumayan besar karena setiap kemenangan akan ditambah 2 poin, seri 1 poin, kalah dikurang 3 poin," jawab Tama enteng.


"Heh! Bisa-bisanya dikurang 3 poin?! Lagian.. bukannya dinilai dari uang yang didapat?" seru Kuro sambil menggebrak meja.


Tama melirik singkat, lalu menatap arah lain, tepatnya di anak-anak lain yang berada di kantin. "Mereka juga menilai dari poin, kok. Hasil akhirnya adalah uang yang didapat dibagi jumlah poin, dan itulah pemenangnya," jelas Tama lalu menghela napas.


"Kenapa begitu?" Yuuji akhirnya angkat tangan. Yuuji menggelengkan kepala pelan. "Entah. Katanya biar adil," jawab Tama singkat, pasalnya dia tidak tahu betul alasan di baliknya.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2