Casino School

Casino School
Episode 9


__ADS_3

Kehancuran kedua yang dialami Yuuji menyisakan muram di hatinya. Pemuda itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pasalnya permainan yang dimainkan bukan menggunakan trik, tapi murni keberuntungan.


Sejak saat itu, langkah Yuuji tak lagi menginjak di kantin dan lingkup sekolah. Giginya tak lagi mengunyah menu makan kantin. Otaknya tak lagi berputar mencari titik lemah lawan dan memenangkan jackpot. Jemarinya tak lagi menggenggam chip.


Yuuji hanya diam di dalam kamar asrama.


Kekalahan kali ini bukan hanya membuat Yuuji malu, tapi bangkrut. Parahnya sekarang menjadi bahan olok-olok anak Kelas Diamond lagi. Yang mana mereka menunggu lengsernya Yuuji dari kuasa karena dendam pribadi.


Pemuda itu enggan menerima dirinya sebagai target risakan anak-anak nakal. Berbekal 28 dollar, Yuuji hanya menitip makanan kepada kedua sahabatnya.


"Yuuji, akan ada kompetisi besar-besaran buat isi posisi Benteng II, lho," ucap Hiro lalu duduk di kursi belajar di kamar.


"Oh, ikut aja. Aku ga pinter pelajaran umum."


Hiro menghela napas. Ia memandang Kenji yang sebenarnya sudah kesal sejak Yuuji mengurung diri.


Kenji lalu beranjak dari kasur, mengambil tas Yuuji, memasukkan barang-barang Yuuji termasuk baju. Yuuji bergeming.


"Segini aja mentalmu? Yaudah, sana panggil ibumu dan minta pindah sekolah," ucap Kenji dengan nada dingin. Hiro mencoba untuk menenangkan Kenji, tapi pemuda itu tetap berwajah suram.


Memang benar mereka menemui kekalahan. Tapi mereka pasti sudah tahu risiko apa yang akan diterima saat bermain judi. Bahkan secara sadar mereka menantang sosok Rosalina yang berhasil menggulingkan Yuuji.


"Lupain ide dan mimpi soal jadi raja, ngalahin Jaken. Lupain aja. Kamu pengecut," tutur Kenji lalu melempar tas Yuuji di lantai.


Tatapan Yuuji perlahan melancip. Keduanya saling beradu dan Hiro menjadi penengah. Belum menerima lapang dada dengan kekalahan, justru sekarang Yuuji bertengkar dengan sahabatnya.


"Kamu gak ngerti rasanya jadi aku!" seru Yuuji.


Kenji tertawa kencang. "OH, HAHAHA. Gak ngerti mana?! Gak ngerti kamu masih gengsi karena kalah?" sindir Kenji.


Gigi Yuuji bergemertak. Kedua tangannya mengepal dan langsung melempar tinjuan di pipi Kenji. Satunya pun sama, memberi balasan yang setimpal. Keduanya bukan lagi cekcok mulut.


Setiap pukulan mewakili pembelaan. Setiap pukulan lain mewakili sarkas.


"Gengsi?! Ga gengsi, tuh! Emang kamu aja ga ngerti!" Yuuji melayangkan pukulan di pipi Kenji.


"Emang. Ga cuma gengsi, sih. Kamu pengecut, mana mau ngaku!" Pukulan Kenji mendarat di pipi Yuuji.


"Pengecat pengecut! Sok berani banget omonganmu!"


"Faktanya berani! Aku lebih berani ngadepin orang-orang di luar sana ketimbang mental cetekmu!"


Semakin tersulut, hajaran tangan Yuuji lebih keras dari sebelumnya. Memaksa Kenji harus melangkah mundur setelah menerimanya.


Kenji tertawa dan meledek. "Kenapa marah karena sifatmu yang emang pengecut itu?!" Sambil terus menghina, Kenji memukul Yuuji lagi dan lagi.


Hiro semakin panik. Di sisi dia ingin melerai tapi takut kena pukul, sisi lain dia ingin melapor ke satpam. Tapi ia ingat jika para staff di sini tidak peduli dengan kekerasan, kecuali itu untuk keperluan perjudian.


Kejadian saling pukul itu berlangsung 15 menit. Keduanya sama-sama terkulai lemas di lantai kamar.


"Hei, anjing," panggil Kenji dengan nada serak, mencoba untuk stabil dari pengap. Yuuji menoleh singkat sambil ngos-ngosan. "Apa, bangsat?"


Kenji diam sejenak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi yang tercecer.


"Kamu boleh sedih, boleh murung. Tapi jangan lupa sama tujuanmu," balas Kenji, memandang langit-langit kamar.

__ADS_1


Yuuji tidak menjawab. Selagi kedua 'peserta' adu tinju tadi istirahat, Hiro mencari botol air besar dan memberikan ke mereka. Air mineral yang biasanya ia beli untuk jaga-jaga jika haus di malam hari.


Dalam diamnya, Yuuji mulai memproses ucapan Kenji. Benar katanya. Sulut emosinya berasal dari kata-kata yang sebenarnya benar. Yuuji gengsi. Meski dia mengelak hal itu, tapi Yuuji akui dia malu dengan kekalahan kali ini. Belum bisa menerima walau permainan ini mengandalkan kehokian.


"Nah, Yuuji, Kenji. Udah berantemnya, kan?" tanya Hiro ketika keduanya mulai bangkit dari rebahan.


Kenji meraih botol air dan menegaknya, diikuti Yuuji setelahnya. Keduanya tidak menjawab, hanya saling tatap lalu membuanh muka.


"Aku berangkat dulu," ucap Kenji lalu berdiri. Membenarkan seragam sekolahnya, menenteng tas, dan pergi keluar kamar. Disusul Hiro setelah memastikan Yuuji baik-baik saja.


...* * *...


"Uwaah. Mukanya bonyok."


"Habis dihajar siapa, ya?"


"Berantem lagi, tuh? Ga punya malu ya. Udah kalah, masih berantem. Ga anak Diamond banget."


Bisik-bisik yang perlahan menjadi cemooh didapat Yuuji ketika dirinya masuk ke gerbang Kelas Diamond. Mereka mulai bersorak meremehkan dan menghinanya.


Wajah lebam dan biru-biru tidak ia tutupi dengan apapun. Lempeng saja, bodo amat akan komentar orang lain. Yuuji tidak peduli dan tetap pergi ke kelasnya berada.


Di dalam ruang kelas, murid lain mulai bergosip tepat di depannya. Tak jarang mereka menyindir mental Yuuji.


"Dah berani ke permukaan, nih, Tuan Benteng kita- ehh, mantan benteng maksudnya~"


Gelak tawa menyambut suara lantang dari meja paling belakang. Yuuji tak merespon dan hanya duduk di kursinya.


Rasa kesal mulai tumbuh ketika mereka tak henti-henti menghinanya. Kedua tangan Yuuji mengepal. Hal itu menarik atensi murid lain dan menjadikan sebagai bahan bully-an lagi.


Suara keras itu menghentikan sorakan para murid di dalam kelas. Seluruh pandangan terpusat ke sebuah titik, di mana itu adalah pintu geser kelas.


"Permisi. Kuga Yuuji dah dateng belom, ya?" seorang pemuda menyebar pandangan ke dalam kelas. Beberapa murid langsung menunjuk Yuuji.


"Kak Fuji, ada masalah apa?" tanya salah satu murid kelas Yuuji.


Fuji menatapnya datar, lalu melengos begitu saja. Tak menanggapi dan langsung berjalan ke meja Yuuji. Yuuji tak berkutik.


"Parah banget, si. Padahal pengen lihat kamu menangin itu. Ayo sini ikut," ajak Fuji lalu menarik tangan Yuuji pergi.


Menjauh dari lorong kelas 1, keluar dari gedung, dan pergi ke kantin bersama. Bedanya saat bersama Fuji, para murid yang semula menghinanya sama sekali tidak bersuara. Hanya tatapan yang ia dapat selama perjalanan.


Fuji tak banyak bicara. Hingga ia sampai di meja kantin. Di sana ada 2 murid lain. Yaitu Tama dan Kuro. Keduanya adalah teman Fuji.


"Halo, Yuuji. Aku Tama, permainanmu sama Rosalina keren. Untung bukan di kepala, ya," ujar Tama dihiasi eyesmile-nya.


Yuuji hanya mengangguk, bingung membalas dengan apa. Bahkan ia tidak tahu tujuan Fuji membawanya ke sini kenapa.


"Aku Kuro. Btw, Rosalina cantik, kan? Imut-imut, kan?" Kuro mulai memperkenalkan diri dan kalimat selanjutnya cukup membuat Yuuji agak takut. Ada apa dengan orang ini? Kok aneh banget bahasan yang ia mulai sama orang baru?


"Well, to the point aja. Aku sebenernya ga kepikiran kamu bakal ngelawan Rosalina. Karena ku pikir kamu bakal ngalahin Xia Zhu. Kenapa bisa ganti target, sih?" tanya Tama lalu menyeruput milkshake.


Tangan Yuuji menggaruk bagian belakang kepala, bingung. Ia bahkan tidak mengerti harus menjelaskannya dari mana karena semua terjadi tiba-tiba. Dan alasan lain karena Yuuji tidak percaya dengan Fuji. Ya kali bilang gitu?


"Maaf, ya, kalo cara Fuji kemarin ngedesak kamu buat ngelakuin hal ini," lanjut Tama.

__ADS_1


Baru saja selesai membatin, Yuuji tak lagi heran kenapa Fuji membawanya kemari. Yaitu mengulik alasannya. Rasanya Yuuji ingin segera pergi, toh mereka bisa dibilang bukan teman. Ada indikasi menjadi musuh karena sebelum ini Fuji menantang dirinya.


"Yah, ya udah. Ga usah dijawab. Toh kita ke sini mau minta tolong ke kamu." Yuuji mengernyit mendengarnya.


Lantas keempat orang itu mulai berdiskusi. Cukup lama, namun Yuuji semakin mengerti ke arah mana dia harus berjalan. Setelah itu Yuuji beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan kantin.


Pemuda itu tak berhenti berjalan, yang perlahan mulai berlari. Langkah cepat Yuuji menyusur setiap rumput yang tumbuh. Pemuda itu tak mengerem larinya dan terus melaju menuju taman spade.


"KEEEENNNJJJIIIII!! HIIIIRRROOOOO!!"


Seruan itu menyita perhatian kedua sahabatnya yang asik ngobrol di kursi taman. Keduanya berdiri dari duduknya.


"TEMANI AKU KE KELAS DIAMOND!" teriak Yuuji yang masih agak jauh dari tempat keduanya berada.


"Ngapain?! Itu kan kelasmu!!" balas Hiro berteriak.


"AYO CEPETAAAAANN!!" Yuuji berhenti berlari dan malah teriak-teriak di tempat dia berdiri sekarang, menunggu keduanya menyusul.


"KE SINI DULU WOI!"


...* * *...


"Ichiro! Di mana Rosalina?!"


Ichiro diam, menatap Yuuji yang menghampirinya di perpustakaan. Suara kencang itu membuat penjaga perpus langsung berdehem, memberinya sebuah peringatan.


"Yuuji, jangan keras-keras, dong," bisik Hiro sambil menarik Yuuji menjauh dari tempat Ichiro duduk.


"Aku ga tahu. Coba ke kelasnya aja," jawab Ichiro cuek dan kembali membaca buku politik di tangannya.


"Aku mau nantang dia lagi! 28 dollar!"


"ITU YANG DI SANA JANGAN BERISIK!"


Yuuji langsung kicep saat penjaga perpustakaan menegurnya.


Ichiro menghela napas, lalu menoleh untuk melihat Yuuji. "28 dollar? Yakin? Apa kamu sebangkrut itu?" remeh Ichiro.


Ketiga adik kelas Ichiro kaget mendengarnya. Pasalnya mereka tidak pernah melihat Ichiro yang meremehkan orang lain—atau mungkin karena dia adalah moderator jadi harus bisa bersikap senetral mungkin.


Pemuda berkacamata itu meraih ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang. Tak lama ia mematikan panggilan dan menatap Yuuji. "Bawa 100 dollar, Rosalina akan menerimanya."


"Hah?! 100 dollar?! Pion macam apa minta 100 dollar?!" teriak Kenji.


"YANG DI SANA CEPAT KELUAR!"


Karena berisik, ketiganya langsung diusir dan diblacklist dari perpustakaan selama seminggu sebelum sempat protes pada Ichiro lagi.


Mau tidak mau, Yuuji harus kembali mencari chip untuk mengalahkan Rosalina. Dengan rencana yang dibuat bersama 3 kakak kelasnya, Yuuji kembali bersemangat.


"Kenapa mau ngelawan Rosalina lagi, sih?" tanya Hiro di tengah perjalanan mereka yang sedang mencari mangsa untuk dilawan. Kenji hanya mengangkat bahu tak tahu.


Yuuji sengaja tidak memberitahu rencananya. Bukan masalah tidak percaya pada kedua temannya, tapi ini perintah FujiTamaKuro. Lagian ini juga menyangkut tujuan Yuuji, tak lain tak bukan jalan untuk mengalahkan Jaken.


Benar. Ketiga orang itu membeberkan informasi tentang kelompok yang dipimpin Jaken dan Rosalina yang menjadi boneka. Mereka tahu seluk beluk kebusukan Jaken. Maka dari itu Yuuji tidak ragu untuk memperjuangkan rencana ini.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2