
Hari yang dinanti telah tiba. Membawa 3 buah kartu lotre di tangan, Yuuji dan Kuro berjalan tegap menuju papan pengumuman. Dengan jantung yang berdebar, langkah mereka berhenti tepat di belakang kerumunan murid yang mengantri. Mereka sama seperti kedua bocah tengil kita, yaitu memeriksa kehokian mingguan di lotre.
"Sana, sana. Kamu duluan," perintah Kuro tampak belum siap melihat nasib lotrenya.
Yuuji menelan ludah, lalu menyelinap di antara para murid yang enggan pergi meski sudah tahu kartunya kalah. Setelah mendapat posisi enak, Yuuji memeriksa satu per satu kartunya. Mencocokkan angka di papan dan kartu pertama.
"Tidak cocok," gumam Yuuji lalu membuang kartu pertamanya. Melanjutkan di kartu kedua yang lagi-lagi tidak ada yang tepat. Di sini dia mulai putus asa, tapi sedikit secercah harapan di hati meski mungkin sia-sia.
Kedua matanya mengamati dengan serius angka yang ada di papan, berpindah pada kartu. Berulang sampai di digit terakhir. Yuuji tertegun, lalu kembali mengulanginya. Dan ketika sudah yakin, Yuuji bergegas keluar dari gerombolan itu dan menemui Kuro.
"Ayo!" Tangan Yuuji menarik Kuro cepat, berlari ke arah ruang bingo untuk menemui tukang loket yang menjual tiket lotrenya.
"Ada apโ"
"AKU MENANG LOTREEEE!" Seruan Yuuji menarik perhatian murid lain. Penjuru mata melihat arah Yuuji berlari. Tidak, ini adalah kesalahan. Yuuji tidak boleh berteriak seperti itu jika menang lotre.
Peraturan dasar memenangkan lotre, jangan memperlihatkan kemenanganmu pada orang lain. Karena mereka akan memanfaatkan keadaan tersebut untuk merebut apa yang kamu dapat!
"Oh! Lihat! Kuga Yuuji menang lotre!"
"Ayo cepat dekati! Siapa tahu dapat bagian!"
"Rampas saja kartunya!"
"Dia cuma sendiri! Ayo cepat!"
Seketika itu yang semula hanya Kuro yang mengikuti, kini gerombolan siswa tak tahu diri ikut mengejar. Yuuji yang sebelumnya dipenuhi euforia harus berlari mengitari lapangan demi menjauhkan diri dari manusia-manusia serakah itu.
__ADS_1
Genggaman tangan pada Kuro dilepas karena pemuda itu memilih berhenti dari permainan kejar-kejaran. "Selamat tinggal, Yuuji. Semoga kali ini kamu beruntung," gumam Kuro sambil berjalan ke salah satu bangku pinggir lapangan.
Di sana ia mengamati Yuuji yang mulai kewalahan. Tetapi anak muda itu masih kekeh untuk mempertahankan lotre di tangannya. Tak ayal akhirnya Yuuji memilih jalan lain untuk bertahan, yaitu bertarung. Benar. Adu jotos dan baku hantam. Yuuji yang dikenal barbar di hari pertama sekolah akhirnya menampakkan diri. Betapa kuat dan berandalnya dia saat SMP akhirnya terlihat lagi setelah sekian lama bergelut dengan judi di atas meja.
"Hiaat! Ciat! Wacaau!"
Seolah sedang menampilkan pentas seni bersama, varian bela diri ditunjukkan di tengah lapangan. Yuuji berhadapan satu per satu dengan para preman serakah itu.
Kuro yang semula diam di pinggir akhirnya menghubungi teman-temannya. Tapi belum sempat mengirim ke grup chat, Kenji dan Hiro sudah berlari ke tengah lapangan untuk membantu Yuuji. Dari belakang Kuro, ada Tama dan Fuji dengan tangan membawa tongkat baseball.
"Astaga- kalian mau ikut berantem?!" tanya Kuro dijawab anggukan mantap oleh Fuji. Tama memberikan tongkatnya pada Kuro. "Nih, maju," perintahnya.
"APAAN SIH?! GA MAU, AH!" tolak Kuro menepis tongkat tersebut.
"Eh, kamu belum tahu hadiah di tangan Yuuji berapa?" tanya Fuji sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku. Kuro menggeleng pelan sembari menatap takjub. Di balik jas dan kemeja sekolah, ternyata tangan Fuji lumayan juga.
"Berapโ"
"Banyak banget! Pantesan mereka semua ngejar Yuuji. Perasaan dulu cuma 200 dollar," balas Kuro sambil menggulung lengan kemejanya juga. Tampaknya Kuro sudah berniat untuk membantu Yuuji.
"Kabarnya Nyonya Hebihime ikut donasi di hari terakhir penjualan tiket lotre," jelas Fuji lalu berlari masuk ke lapangan dan mendekati kerumunan itu. Kuro hanya diam melihatnya, kemudian beranjak dari kursi.
Dengan cepat, Kuro mengikuti Fuji dan mulai main pukul untuk menyingkirkan para kroco-kroco. Tama sendiri memilih duduk di kursinya. Menonton pertandingan antara temannya versus preman sekolah. Dari badan saja sudah mengalami kesenjangan, tapi untuk kekuatan mungkin bisa diadu, lah.
Memperhatikan teman-temannya yang asik gelut, Tama bahkan tidak menaruh atensi pada sosok yang duduk di sampingnya. Pemuda dengan badan kekar dan rambut panjang acak-acakan, serta ada bekas codet ala preman di wajah. Walau Tama tahu pemuda itu ada di dekatnya, tapi Tama sama sekali tidak mengajaknya bicara.
Jika perlu, Tama memilih untuk diam daripada menanggapi setiap ucapan pemuda tersebut. Si Raja. Benar, Jaken sekarang duduk di sebelahnya. Di sisi Jaken ada Suzuki yang membawa payung untuk menutupi kepala Jaken dari sinar matahari. Benar-benar raja.
__ADS_1
Jaken melihat ke arah Yuuji dan kawanannya yang beradu demi sepucuk kartu lotre. Menggelikan. Tetapi melihat nominal yang dimenangkan, ia rasa itu cukup seimbang dengan luka-luka yang didapat mereka.
"Tidak ikut merebutkan lotre?" Basa-basi Jaken yang hanya ditanggapi singkat. Tama yakin Jaken tidak akan rela panas-panasan atau bahkan mendekati area penuh debu seperti ini jika tidak ada hal penting untuk dibicarakan. Apalagi Jaken memilih datang sendiri, itu artinya hal ini tidak boleh diketahui para pejabat lainnya.
Sesuatu yang rahasia seperti jaman dulu Tama dan Jaken bersama. Tama kembali melambungkan ingatannya pada masa SMP. Di mana ia begitu dekat dengan Jaken. Tetapi sifat ambisius Jaken membuatnya menjauh. Jaken pernah menemuinya secara rahasia seperti ini untuk mengusir Tama dari urusannya. Dengan hal itu, Tama memiliki dendam pada Jaken karena pemuda itu melupakan masa-masa indah sekolah dulu dan memilih mengejar kesenangan sesaat.
Jaken tahu mantan sahabatnya tidak akan melanggati ucapan formalitas sebagai 'teman akrab', maka dari itu Jaken langsung memberikan sebuah amplop tipis pada Tama. Ia segera beranjak pergi setelah Tama menerimanya tanpa mengucap sepatah kata.
Dalam diamnya, Tama memandangi amplop itu. Lalu melipatnya dan memasukkan ke dalam saku. Perhatiannya kembali pada pertarungan Yuuji di depan sana. Tidak kunjung usai. Bahkan kini para preman mengirim bala bantuan untuk mendapatkan kartu lotre milik Yuuji. Benar-benar manusia tidak tahu diri.
Meskipun kedua mata melihat ke arah kericuhan, tapi pikiran Tama melayang tak tenang. Hatinya menebak-nebak isi amplop tersebut. Penasaran. Tapi Tama enggan membukanya sekarang karena dia tidak siap untuk tergoncang. Dia yakin di dalamnya ada surat. Surat yang diberikan Jaken bukanlah surat sepele. Pasti akan ada kaitannya dengan dirinya dan kemungkinan besar itu membuatnya syok.
Di lain sisi, Yuuji dan lainnya sudah kelelahan. Pada akhirnya mereka melepas lotre itu. Jika saja bantuan tidak datang, Yuuji pasti sudah menginjak-injak kepala preman itu.
"Anak manis, terima kasih kadonya," ucap si preman lalu berjalan meninggalkan kelima pemuda yang lemas di tengah lapangan.
Setelah kepergian preman-preman, Tama masuk dan membawa beberapa botol minuman untuk mereka. Senyum Tama tidak lepas meskipun teman-temannya sudah diambang kehidupan. Napas mereka tak beraturan, luka-luka di sekujur tubuh tidak bisa disembunyikan, kenapa mereka malah seperti bersekolah di Suzuran?
Terik semakin angkuh berdiri di angkasa. Tama harus segera membawa mereka ke pinggir lapangan dan berteduh di bawah pohon besar. Dengan langkah gontai dan rasa sakit di mana-mana, mereka merebahkan diri di sekitar pohon tua itu. Rimbunnya dedaunan melindungi tubuh mereka dari panasnya matahari.
"Sial. Seribu dollarku..," keluh Yuuji. Mereka sudah pasrah walau hatinya bergejolak ingin membalas. Andai saja tidak ada gelombang kedua, pasti mereka sudah makan-makan sekarang.
Tama yang sejak tadi diam lalu menunjukkan ponselnya. Menunjukkan video preman-preman tadi mengobrak-abrik loket lotre. Mereka protes karena uang yang didapat hanya 200 dollar. Marah-marah dan mengancam pihak lotre untuk memberikan seribu dollarnya.
"๐-๐ฎ๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ.. ๐ต๐ข-๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ๐ช๐ฎ๐ฆ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ญ๐ฐ๐ต๐ณ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช."
Mendengar penjelasan si penjual tiket, kelima anak yang dihajar preman itu menghela napas lega. Mereka puas karena para berandal itu tidak mendapat seribu dollar. Ini membuat mereka senang karena secara tidak langsung, Nyonya Hebihime sudah membalas dendamnya.
__ADS_1
"Hehe! Ayo ikut lotre minggu depan!" ajak Yuuji kembali sumringah.
...* * * * *...