Casino School

Casino School
Episode 22


__ADS_3

Dalam keheningan, Tama memecah mereka dari kalut pikiran. Menarik kelima temannya ke permukaan kesadaran dengan menunjukkan 6 tiket VVIP yang didapat dari Jaken sebelumnya. Setiap kartu mengkilap bak dipoles glitter, glowing seperti wajah model skincare.


Kelima temannya menatap 6 kartu bertulis setiap nama mereka. Sangat indah! Masing anak mengambil kartu dengan namanya, memandanginya dengan saksama. Memeriksa apakah ini prank dari Tama? Tapi sepertinya bukan. Ini benar-benar asli, nyata. Apa yang terjadi dengan Tama? Kenapa nama mereka tertera sebagai tamu undangan?


"Kenapa?" tanya Yuuji. Walau sebenarnya dia ingin mengagumi betapa kerennya kartu di tangan, tapi ia harus menahan diri demi mengetahui kebenaran.


Tama menghela napas untuk kedua kalinya. Pemuda itu mengeluarkan secarik kertas dari Jaken kemarin, menunjukkan pada mereka. Tidak ada kalimat yang aneh. Seharusnya begitu. Tapi setelah Tama menelaah lebih di sore harinya, Tama menemukan sebuah keganjilan pada kartu mereka.


Kecil, tapi detil. Setiap kartu memiliki sebuah simbol. Pada awalnya Tama berpikir ini simbol dari jabatan. Tetapi Kenji dan Hiro juga punya, yang mana mereka bukan pejabat. Itu artinya ada hal aneh yang sedang disusun Jaken. Rencana yang tak terduga.


"Aku masih belum yakin. Tapi kemungkinan kita akan berhadapan dengan orang penting di pertandingan akhir tahun," jawab Tama, sedikitnya ragu dengan tebakannya. Tapi ia tidak mau ceroboh seperti kemarin yang menganggap ini hanya undangan sepele. Jaken selalu memberikan hal yang mengejutkan.


Ditambah, jika Tama pernah mendengar kalau kartu VVIP berjumlah 7. Sekarang di depannya ada 6 kartu, sisa sebuah kartu lagi dan entah di mana empunya. Tama hanya berharap alurnya tidak semakin ribet dan membuat dirinya pusing untuk menempatkan diri.


"Kamu tahu aturan pertandingan akhir tahun?" tanya Hiro sambil menyimpan kartu VVIPnya di dalam saku jas. Tama mengangguk mantap, lalu menarik kertas milik Jaken sebelumnya dan memasukkannya ke kantong lagi.


"Kita bisa menantang siapapun dengan taruhan harga pion. Selama bulan Desember, acara ini berlangsung. Tanggal 30 Desember acara usai dan 31 Desember pengumuman sekaligus pesta tahun baru bersama di sekolahan," jelas Tama.


"Tidak banyak yang tahu soal ini karena acara seperti ini baru berlangsung setelah Jaken menjabat. Beberapa informasi detil lain belum dipublikasi, aku sendiri sulit menemukan celah informasinya. Tapi yang pasti, selama 30 hari berturut acara ini berlangsung. Di hari minggu, kita bisa berjudi dan poinnya tetap dihitung," lanjutnya membuat kelima anak lain tertegun.

__ADS_1


"Wah, gila, ya. Selama 30 hari berturut tanpa istirahat. Apa Jaken berniat membuat murid-murid stress dan melakukan blunder?" gumam Hiro.


Kenji meliriknya, lalu membalas, "ga mungkin, dong. Orang gila mana yang mau judi 30 hari berturut?"


"Oh, sepertinya ada aturan tak tertulis," potong Tama. Kelimanya kembali menatapnya lekat, menyimak dengan baik. "Aku belum yakin benar atau tidak. Tapi jika selama 24 jam kalian tidak berjudi, maka nilai kalian akan dihapus dan harus mengulang dari awal."


"Pernah terjadi di beberapa orang. Karena merasa uangnya sudah banyak, mereka leha-leha dan menunggu pengumuman. Tapi saat pengumuman, nilai mereka 0. Jadi sebisa mungkin, kalian harus bermain setidaknya 1x dalam sehari."


Penjelasan yang membagongkan itu membuat kelima anak pemegang kartu VVIP pening. Itu hanya masalah sepele di permukaan acara. Apa kabar dengan mereka yang duduk di kursi tamu spesial? Mungkinkah mereka mendapat keuntungan? Atau ada syarat tertentu yang lebih menekan dibanding murid biasa yang lain? Entahlah, hanya Jaken dan Tuhan yang tahu.


...* * * ...


Aktivitas judi tak pernah redup. Bahkan di jam pulang sekolah, beberapa ruangan masih penuh dengan seruan anak-anak berjudi. Kecanduan, mereka tidak peduli dengan ujian yang sebentar lagi tiba.


Tama mengarahkan kelima temannya untuk belajar di perpustakaan. Selama itu juga mereka menghentikan aktivitas judi. Bukan untuk menjadi pelajar ambis, hanya saja mereka ingin buku rapot tidak tertoreh tinta merah. Alasan klasik demi menghindari sabetan sabuk dari ayah.


Hiro dan Tama bertugas sebagai pengajar abal-abal. Selama jam yang seharusnya dihabiskan untuk di kantin mereka alih fungsikan sebagai jam belajar tambahan. Di jam pelajaran tertentu, mereka mengikuti kelas dan kembali mengulang materi di perjalanan pulang.


"Hehe, selamat pagi, bu," sapa Yuuji saat masuk ke ruang perpus. Menyapa penjaga perpus yang dulu sempat mengusirnya. Dengan raut sewot, perempuan tua berkacamata bulat bak professor itu melengos, cuek akan kehadiran murid Kelas Diamond. Dia tidak peduli anak itu berasal dari kelas unggulan atau bukan. Selama itu mengganggu ketentraman, dia tidak sudi berbasa-basi.

__ADS_1


Perempuan berusia 35 tahun. Rambutnya sudah beruban sejak umur 20an karena stress dengan skripsi dan lainnya. Lulusan di salah satu universitas terbaik di ibukota. Sayangnya dia harus meleburkan impian untuk melanjutkan studi karena sebuah kecelakaan saat pacaran. MBA, married by accident. Itulah kenapa wajahnya lebih keriput dibanding teman-teman seumurannya. Kadang orang sulit memanggilnya apa karena sifat sensitifnya sangat mengganggu jika salah bicara.


Baik, lupakan soal penjaga perpustakaan. Mari kembali pada Yuuji yang berjalan pelan ke meja teman-temannya. Mengapit buku tebal tentang politik di ketiak, lalu menaruhnya di atas meja.


"Aku baru selesai di halaman 5," ucap Yuuji sebelum dicecar pertanyaan oleh Hiro. Tidak ada harapan di sorot matanya. Hal ini sudah bisa dia tebak dengan mudah. Selama seminggu Yuuji hanya menyelesaikan 2 setengah lembar halaman untuk dibaca, itupun entah Yuuji paham atau tidak.


Walau dari kelas berbeda, tapi Hiro berusaha membantu. Tama sendiri sudah kualahan dengan Kuro. Pemuda itu sudah menghancurkan fokus Tama sejak hari pertama belajar bersama. Kuro, memilih tidur di atas halaman tengah buku paket politik karena kelelahan menonton film.


"Aku bingung metode apa yang harus dilakukan untuk membuat otak kalian encer." Keluhan Tama akhirnya keluar. Pemuda tampan itu duduk di kursi sambil memandang keempat sahabatnya yang lola. Terutama Kuro yang ogah-ogahan belajar.


"Kayaknya kita perlu belajar pakai cara yang mereka suka, deh," celetuk Hiro sambil membuka sebuah channel di utub. Menunjukkannya pada Tama. Sebuah video, tata cara untuk membuat anak kecil tertarik belajar.


Tama sempat menganggap Hiro gila karena membandingan anak SMA dengan anak playground. Tapi setelah menatap keempat temannya, akhirnya ia setuju.


Untuk hari ini, Hiro dan Tama berdiskusi untuk membuat cara belajar yang berbeda. Walau belum yakin ini berhasil atau tidak, tapi mereka tetap mencoba.


Hingga di sore tiba, mereka melewatkan kelas-kelas demi membaca buku di perpustakaan. Perempuan penjaga sudab berdehem dari depan sana, memberi tanda jika ruangan akan ditutup. Bergegaslah mereka membereskan barang-barang dan keluar. Tak lupa memberi absensi checkout di buku pengunjung.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2